Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 105


__ADS_3

Waktu terus bergulir, langit terang kini berganti dengan warna merah kekuningan. Perputaran waktu di tambah alunan suara dari mesjid sekitar daerah Sawah Lebar. Udara kota Raflesia yang biasa panas kini terasa sejuk. Efek hujan yang terus membasahi kota kelahiran ibu Fatmawati Soekarno.


Di sudut pintu masuk tampak seorang wanita yang sedang duduk. Kursi berbahan besi tak lagi kosong. Tangannya tak henti berkelana di layar pipih tersebut. Guratan kecemasan melanda wajah cantiknya. Sekali benda pipih itu menempel di daun telinganya. Lalu kembali di turunkan masuk ke kantong gaunnya.


"Jadi mas Danu sudah pulang?" ucapnya pada si penerima telepon.


"Iya, kak Mila. Dia sudah dari tadi pulang. Emang kenapa, kak? dia belum sampai di rumah sakit. Mungkin pulang ke rumah," kata Wisnu.


"Mungkin juga, soalnya sejak menginap di panti beberapa hari ini. Kami belum ada pulang ke rumah sepakat. Yasudah Wisnu, terimakasih informasinya. Maaf saya mengganggu,"


"Nggak ganggu kok. Aku sekarang sudah di rumah soalnya. Kak Mila tenang saja, abangku nggak akan macam-macam. Kalau dia macam-macam jewer aja, kak. Dia orangnya setia," kata Wisnu.


"Iya, aku tahu dia nggak akan macam-macam. Aku hanya takut terjadi sesuatu sama dia. Takut jangan drop di tengah jalan. Nggak biasanya dia susah di hubungi,"


"Coba telepon ibu Rubiah, mungkin dia ada disana," usul Wisnu.


"Astaga, kenapa nggak kepikiran kesana, ya. Kalau memang iya dia di sana nggak masalah. Yang penting bukan nyangkut ke yang lain,"


Terdengar suara tawa renyah dari sana.


"Kak Mila lagi hamil,nggak baik suudzon," kata Wisnu.


"Ya Allah, maaf ya, Nak. Ibu sudah suudzon sama ayahmu. Wisnu kakak tutup dulu ya teleponnya. Kasihan adikku sendirian di kamar,"


"Iya, kak. Nggak apa-apa. Semoga adiknya cepat sembuh, ya. Aku minta maaf belum sempat jenguk kesana,"


"Nggak apa-apa, Wisnu. Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam," sapa Wisnu sebagai penutup teleponnya.


Baik Mila maupun Wisnu sudah menutup komunikasi mereka. Mila kembali menghubungi ibu mertuanya untuk memastikan keberadaan suaminya. Tidak masalah kalau memang berada di sana. Mila tidak akan mengekang suaminya kalau lebih banyak waktu pada Bu Rubiah.


Satu hal yang dia takutkan, ketika dalam perjalanan suaminya tiba-tiba drop dan mengalami kecelakaan. Beberapa kali menemukan suaminya pingsan sudah membuat dia diliputi rasa was-was.


Ingatannya beralih pada perempuan yang menangis tadi. Dimana sedang hamil besar dan suaminya meninggal dunia. Serasa dia pun akan mengalami hal yang sama. Serasa mereka senasib, karena yang namanya kanker susah dapat obatnya. Karena yang namanya leukimia jarang bertahan lama. Rasa takut yang menyelimuti Mila akan nasibnya jika suaminya meninggal dunia, terus menghantuinya. Tapi sebisa mungkin dia akan mendampingi Danu sampai akhir hayatnya.


Ceklek!


Mila membuka pintu kamar rawat Lala. Sebuah pemandangan yang mengejutkan dirinya. Dimana Lala sudah tidak sendirian, dimana orang-orang yang dia rindukan sudah ada di depan mata.


"Ibu ... Ayah!"

__ADS_1


Dahlia dan Rohim langsung berdiri menyambut kemunculan Mila. Dahlia membentang tangannya menerima tubuh putrinya, tubuh kecil itu kini sudah berada di balik dadanya. Isakan kecil dan suara hidung menyusut terdengar walaupun Mila menutup wajahnya dalam pelukan seorang ibu.


"Mila anakku, ibu rindu sama kamu, Nak," suara Dahlia lembut.


"Mila juga rindu sama ibu. Kenapa ibu tidak bisa di hubungi?"


"Handphone ibu hilang, Nak. Ibu belum sempat membelinya. Ibu sering kepikiran kamu, bagaimana kamu menjalani hidup. Apakah rumah tanggamu baik-baik saja. Pikiran itu terus membelenggu ibu. Walaupun ibu tahu kalau Danu pasti menjaga kamu dengan baik,"


"Mas Danu sangat menjagaku,Bu. Dia benar-benar membuktikan sebagai suami yang siaga. Dia juga sudah menjadi kepala keluarga selain ayah. Aku beruntung punya suami yang sabar seperti dia,"


"Sekarang Danu mana? sejak ibu sampai belum ada melihat dia. Tadi ibu pikir dia pergi sama kamu,"


"Mas, Danu kerumah ibu kandungnya. Dia sudah di pertemukan sama keluarga aslinya. Sejak beberapa hari ini kami sibuk di panti. Jadi dia baru sempat nengokin ibunya. Mungkin dia buka bersama di rumah ibunya,"


"Alhamdulillah kalau Danu sudah bertemu keluarga aslinya. Kamu punya dua ibu sekarang,"


"Bukan dua tapi empat,bu. ibu Aminah, Ibu Dahlia, ibu Nurmala dan Bu Rubiah," kata Mila.


"Rubiah?" Dahlia merasa tidak asing dengan nama itu.


"Dari tadi ibu mulu, apakah kamu tidak merindukan ayah?" Mila mendengar suara bariton di belakang Dahlia. Kepalanya menyembul di balik punggung Dahlia.


Rohim menangkup wajah anaknya. Di matanya Mila seperti lumayan berisi. Tak ada kesedihan lagi terpancar di wajah putrinya. Tidak seperti pertama kali dia pulang mendapati anaknya seperti menahan beban.


"Kamu lumayan chubby sekarang?" tanya Rohim.


"Iya, Alhamdulillah, yah, Bu," Mila menarik tangan Rohim dan Dahlia menempel di perut yang masih rata.


"Kamu hamil, Nak," Mila menggangguk kecil.


Dahlia dan Rohim berbarengan memeluk putri semata wayang mereka. Ada rasa haru ketika pulang di hadiahkan kabar bahagia yaitu kehamilan Mila.


"Nak, ini Datuk sama nenek datang mau kenalan sama kamu," kata Mila mencoba berkomunikasi dengan anaknya.


Fera, intan dan Sarah melihat pemandangan di depan mata. Ikut terhanyut dalam momen bahagia ini.


"Kak Sarah," sapa Lala.


"Kak Sarah bagaimana keadaannya, katanya sempat terjebak banjir. Kakak tidak apa-apa kan. Lala senang kakak bisa ikut berkumpul di sini. Kata kak Danu, kakak sendirian di tempat banjir,


Kakak harus jaga kesehatan. Kasihan kak Anjas, dia sayang sekali sama kak Sarah. Bahkan tidak pernah marah sama kak Sarah"

__ADS_1


Sarah terdiam mendengar celotehan adiknya. Selama ini dia tidak pernah suka kehadiran Lala, karena gagal jadi bungsu. Kehamilan sang ibu saat membuat perhatian orang-orang menjadi fokus dengan ibunya. Bahkan neneknya ikut heboh memanjakan kehamilan ibu. Di tambah saat itu ayah mereka pergi dari rumah, orang-orang banyak yang bersimpati pada ibunya.


Kakak dan adik memang ditakdirkan untuk selalu bersama-sama, saling menyayangi, dan saling menghormati. Tapi seringkali pada kenyataannya, tak jarang mereka terlibat adu mulut karena muncul rasa iri.


Saat Lala lahir diberi nama Sahila, kata ibunya dia suka sama sosok artis yang bernama sama. Dimana harapan ibunya, anaknya bisa secantik seperti artis tersebut. Semua yang ada disana sangat menyayangi Lala.


Sarah menyayangi Lala ala kadarnya saja. Bukan berarti dia benci, hanya saja sudah banyak perhatian yang di dapat adik bungsunya. Sampai-sampai ibunya menyekolahkan Lala di SD yang lumayan favorit di dekat tempat mereka.


Tapi lambat laun semua kembali seperti semula. Sarah kembali menjadi kesayangan sang nenek saat beranjak remaja. Apalagi Sarah baru menyadari kalau neneknya tak pernah suka sama sang kakak. Walaupun begitu, Sarah tidak ikut membenci kakaknya.


"La, maafkan kakak. Selama ini belum menjadi kakak yang baik buat kamu. Maaf jika aku tak sempat menemanimu belajar, membantu membuatkan PR, bahkan terkadang aku marah tanpa alasan. Aku sibuk dengan semua urusan-urusanku.


Maafkan, jika aku belum bisa menjadi kakak yang teladan untukmu. Maaf aku yang terkadang mengacuhkanmu. Ketahuilah sesungguhnya aku ingin kamu menjadi anak kuat. Karena tidak selamanya kami bisa selalu ada di dekatmu. Suatu saat kamu akan mandiri jauh dari kami. Itu yang aku harapkan selama kamu tinggal di rumah.


La, kakak tahu sikap kakak sering keterlaluan sama kamu. Itu yang membuat kamu pergi dari rumah. Maafkan kakak,La. Maafkan, kakak," Sarah bersujud.


Mila kaget mendengar penuturan Sarah. Apakah yang dialami Lala ada sangkut pautnya dengan Sarah dan Anjas. Seketika dia berjalan mendekati Sarah.


"Sebenarnya apa yang kamu lakukan pada Lala, Sarah?"


Sarah terdiam. Sangat terasa aura Mila seperti akan menerkam dirinya.


"JAWAB!"


Dahlia mencoba menenangkan Mila. Mengingat putrinya sedang hamil muda. Dia pun meminta Mila untuk tenangkan diri. Mila mengusap perut sambil menyebut astaghfirullah berkali-kali.


"Ibu tahu perasaan kamu, Nak. Tapi ibu harap kamu menjaga emosi karena kamu sedang hamil muda. Ingat, Nak. kehamilan kamu masih rentan. Jadi bawa dengan kepala dingin,"


"Ya Allah, maafkan ibu,Nak"


Suara sirine pertanda waktu berbuka puasa telah tiba. Dahlia, Fera dan Sarah membuka rantang yang sudah mereka siapkan dari rumah.


"Lala katanya kamu suka oseng tempe kecap. Ini buatkan untuk kamu, Nak,"


"Terimakasih,Bu," Lala senang makan kesukaannya ada di depan mata.


"Eyang, Intan juga mau kayak punya kak Lala,"


"Intan sekarang panggilnya jangan kak. Tapi bucik, karena dia adik mama," jelas Fera.


"Nah, kalau ini panggilnya buknga Sarah, dan yang Bukdang Mila," Intan mengangguk tanda mengerti penjelasan mama Fera-Nya.

__ADS_1


__ADS_2