Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 106


__ADS_3

Vika yang rencananya akan pulang ke Bengkulu, tiba tiba diminta untuk menemani Revo. ke acara demo masak di Bandung. Awalnya Vika keberatan karena memikirkan mamanya yang masih was-was sama hubungan mereka. Apakah mereka pacaran? entahlah Vika enggan mengartikan seperti apa hubungan mereka. Dia merasa nyaman bersama Revo.


Tubuhnya merebah ke kasur kecil di kamarnya. Kamar kecil yang hanya muat untuk satu orang. Kamar yang banyak menyimpan kenangan selama tinggal disini.


Malam ini bisa terhitung menjadi momen terakhir di Jakarta. Walaupun dia masih enggan pulang. Vika yakin Ammar dan Mila sudah menikah serta hidup bahagia. Bahagia diatas air matanya. Seketika tangannya menggenggam erat ujung baju tidurnya.


Vika meninggalkan kamarnya mencari mama Ida.


"Vika, kamu belum tidur?" mama Ida mendapati anaknya berdiri di dapur.


"Ma, aku tidak mau pulang. Aku mau disini menata hidup yang baru. Kalau aku pulang yang ada sakit melihat mereka bahagia,"


"Mama rasa kamu harus pulang, Vika. Karena kamu harus membalaskan apa yang mereka lakukan dulu. Mila akan merasakan bagaimana di posisi kamu. Tapi kalau kamu seperti ini, mereka yang akan besar kepala,"


"Tapi, Ma...."


"Tidak ada tapi tapi, besok pagi kita berangkat,"


Layaknya anak yang kesal karena permintaannya tidak di turuti, Vika pun masuk ke kamar masih mode ngambek. Jujur dia belum siap bertemu Ammar dan Mila.


"Entah sampai saat ini aku masih terasa sakit kalau ingat mereka," kata Vika.


Berusaha memejamkan matanya. Melupakan semua yang terjadi di masa lalu. Tapi rasa sakit masih terasa. Soal yang dikatakan mamanya, Vika malas berpikir lebih jauh. Netranya beralih pada pesan dari Revo.


"Vika, kamu mau kan menemani aku di acara demo masak."


"Boleh"


"Sekalian aku ajak ke tempat saudara aku, di Sukabumi. Aku juga punya surprise buat kamu."


"Itu kayaknya aku mau diajak kabur. Surprise Apa itu?"


"Nanti dong. Kalo di bilang sekarang nggak surprise lagi."


"Jam berapa acaranya?"


"Besok pagi jam 9"


"Tapi aku bilang sama mama dulu, ya,"


"Boleh? dan bantu aku berdoa juga,"


"Doa? untuk?"


"Untuk mama kamu di beri hidayah supaya mengizinkan anaknya yang cantik jadi suporter aku di Bandung,"


"Kamu kira penonton bola," suara Vika tergelak dari seberang sana.


"Nah kan enak dengarnya,"


"Terimakasih, ya, adek Revolusi,"


"Berasa muda di panggil adek, Kak Vika,"


"Berasa tua kalau di panggil sebutan kakak,"


Pagi ini Vika terbangun, membuka matanya karena silaunya cahaya menembus retinanya. Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi. Dia baru ingat ada janji dengan Revo.


Namun pemandangan di rumahnya membuat dia kaget bukan kepalang. Barang-barang sudah kosong semua. Dia bingung apa yang terjadi di rumahnya.


"Non," mbak Yuni muncul dengan wajah sendu.


"Ini kenapa Mbak Yuni,"


"Hari ini kita pulang ke Bengkulu. Ibu sudah pesan tiket jam sembilan pesawatnya. Sekarang non siap-siap. Sudah di tunggu sama ibu,"


"Lalu barang kita dimana, Mbak?"

__ADS_1


"Sudah di dalam mobil angkutan," kata mbak Yuni.


"Ya Allah aku sudah janji sama Revo, bagaimana ini!"


...*****...


Sudah satu minggu Lala pulang dari rumah sakit. Sekarang gadis kecil itu kembali beraktivitas seperti biasanya. Biasanya pergi sekolah diantar kakak iparnya. Tapi sejak Rohim pulang, lelaki paruh baya itu mengantar jemput putri bungsunya.


Sementara Danu juga kembali beraktivitas seperti biasanya. Kembali kerja di rumah sakit, Sementara ibu Dahlia dan Fera tinggal di tempat Eva. Karena tulang Boro masih di Medan.


Mila senang seluruh keluarganya kumpul kembali di bulan Ramadhan. Ibu dan ayah kandungnya memilih menetap di Bengkulu. Fera dan Intan pun juga ikut pindah ke Bengkulu.


Mila sudah mendengar alasan Fera untuk membawa intan pindah ke Bengkulu. Untuk menjauhkan Intan dari ayah kandungnya yang tidak bertanggung-jawab. Bukan bermaksud kejam, tapi selama ini Fadel tidak pernah mau tahu keadaan Dian dan Intan. Dan itu yang membuat kesehatan Dian sempat menurun setelah melahirkan Intan.


Danu masih mengontrol kesehatan Ammar. Seminggu sudah tiga kali dia datang ke tempat sepupunya. Siang ini Danu sudah berada di rumah Ammar. Lelaki usia 29 tahun tersebut menyambut kakak sepupunya datang.


"Kok sepi?" Danu mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan.


"Ando ikut touring bareng temannya. Makwo masih di resto,"


"Touring kemana?"


"Ke Jawa katanya,"


"Yasudah, kamu mau ikut ke rumah. Sekalian mengasah ingatan. Aku merasa ada kunci terbesar yang bisa membuat kamu ingat kembali,"


Danu mengajak Ammar ke rumahnya. Paling tidak untuk beristirahat sejenak. Walaupun nanti harus di pertemukan sama Mila. Danu yakin istrinya tidak akan goyah.


Sesampainya di rumah, Danu mengetuk pintu sambil mengucapkan salam pertanda dia pulang. Tampak Lala membuka pintu menyambut kepulangan kakak Iparnya. Akan tetapi dia kaget melihat siapa yang di bawa kakaknya.


"Kak Ammar!"


"Ini Lala, adik iparku," Danu memperkenalkan Lala.


"Oh," Ammar kembali diam.


"Itu ...." Lala tidak bisa berkata-kata.


"Oh, Ammar. Tumben di bawa kesini," sapa Mila.


"Ibu Bia sedang sibuk sama resto nya. Ando juga sedang ikut acara di luar kota. Tidak apa kan dia disini,"


"Tidak apa, Mas, Aku kebelakang duluan. Lagi masak buat kita buka puasa. Mas ajak Ammar ngobrol di depan saja," kata Mila.


Lala masih terpaku dengan kemunculan Ammar. Sudah pasti dia takut akan perang dunia kalau kakaknya tahu.


Tapi yang lebih kaget lagi, reaksi Mila biasa saja. Seakan sudah tahu tentang Ammar. Dia bahkan masih bingung kenapa Ammar tidak mengenali dirinya.


"Kak, nggak risih apa suami kakak dekat dengan mantan.


Dia kan lagi sakit. Itu yang selama ini di rawat mas Danu ya si Ammar," jelas Mila.


"Hati hati kak. Entar dia nyari kesempatan"


Mila yakin selama Ammar masih amnesia, rumah tangganya akan aman. Kecuali kalau tiba tiba ingatannya kembali. Mila berharap Ammar tidak aneh-aneh setelah ingatannya kembali.


" Aku nggak takut. Mungkin nanti aku bisa jelasin ke Ammar kalau aku dan mas Danu sudah menikah. Dia harus bertanggungjawab sama Vika.


Lala pamit mau ikut buka bersama di mushola terdekat. Beberapa saat kemudian Mila kembali sibuk sama dapur. Ketika Mila berbalik, dia di kagetkan dengan kemunculan Ammar di belakangnya.


"Kamu ini, Untung saya nggak jantungan"


"Maaf mbak, saya juga kaget sama kayak situ,"


"Kayaknya enak, bikin lapar"


"Mbak mau masak apa? Ada Indomie nggak?"

__ADS_1


"Ada, cabe rawit nya 10,kan"


"Wuih, mbak hapal kesukaanku."


"Itu favorit Danu."


"Oh, kirain. Danu banyak juga kesamaan denganku."


" Oh,iya. Apa kesamaannya?" n


"Sama sama  pedas level dewa. Sama sama suka masakan Minang" jawab Ammar


Mila mendengarkan ocehan ammar sambil masak mie. Amar menanyakan apa Mila sekarang sudah bisa makan pedas.


"Kok kamu ingat?"  Mila kaget dengan ucapan amar.


"Maaf, aku nggak tahu tiba tiba bicara begini."


"Teruskan! Siapa tahu bisa mengasah ingatanmu."


Amar terdiam. Dia merasa sudah lancang kelepasan bicara begitu. Amar kembali ke kamar.


" Mau kemana? sebentar lagi buka puasa. Aku panggil mas Danu dulu."


Mila beranjak meninggalkan Amar, tapi tangannya di tahan oleh amar.


"Temenin."


"Aku panggil Danu dulu!" Mila menepis tangan ammar dengan kasar.


Tapi ternyata Ammar tidak melepas tangannya dari Mila. Genggamannya semakin erat, seperti saat Ammar menggenggam tangannya waktu menyatakan cintanya pada Mila.


Jantung Mila berdegup kencang. Dia takut rasa itu timbul lagi.


"Aku kangen kamu Sarmila"


PLAAAAAK!


"Dasar mesum"


"Mi . .Mila !!!"


"Apa? Kamu pikir aku Mila yang dulu. Yang lembek dengan rayuan kamu. Ingat aku ini istri orang."


"Seandainya aku tidak kecelakaan dulu, mungkin kita sudah menikah."


"Diam! Seharusnya kamu bilang begitu sama Vika!!! Bukan sama aku. Kamu tahu kalau Vika mengalami depresi, sampai berobat ke Jakarta,"


"Dari dulu aku cuma cinta satu orang yaitu kamu Mila. Setelah aku masih memperjuangkan kamu, kenapa malah menikah dengan lelaki lain,"


"Keluar!"


Danu mendengar suara keributan dari dapur. Dia melihat istrinya sudah menangis seperti ketakutan.


"Ini ada apa?" tanya Danu.


"Ammar mencoba kurang ajar sama aku, Mas. Aku mohon bawa dia pergi dari sini. Aku tidak mau melihatnya," Mila sudah berlindung di balik dada suaminya.


"Danu, aku sebenarnya.... sudah ingat semuanya,"


...*****...


Sarah berjalan di area kampus, melewati mata-mata yang menatap sinis kepadanya. Melewati bisikan bisikan tajam kepada dirinya. Seantaro kampus prodinya sudah berhembus kabar tentang dirinya sudah di talak satu sama Anjas.


"Baru nikah empat bulan udah jadi janda,"


"Iyalah, mana berkah. Nikah sama kakak pacarnya. Malah hasil rampasan pula,"

__ADS_1


Sarah mengepalkan tangannya, serasa tersulut emosi karena ucapan dari teman kampusnya. Namun di urungkannya, sekarang dia sedang puasa. Buang-buang energi buat meladeni mereka. Dadanya terasa sesak, tak tahu dia mau tumpahkan kemana.


__ADS_2