
Alarm di kamar Ammar berdering, lelaki itu terbangun di sepertiga malam. Pandangannya beralih pada jam dinding di kamarnya, sudah jam dua malam. Ammar mematikan alarm nya lalu bangkit ke kamar mandi. Lelaki itu mengambil wudhu untuk sholat malamnya. Ada yang bilang apa yang di pinta dalam sholat malam akan di kabulkan. Ammar hanya berharap mendapat jawaban dari kegundahannya selama dua minggu ini.
Ando pun terbangun saat mendengar suara dari kamar mandi. Lelaki 25 tahun tersebut melihat ranjang kakaknya kosong. Dia langsung menebak kalau kakaknya masih merenungkan nasib.
Baru saja Ando akan menyusul Ammar keluar. Suara decitan pintu kamar mandi terdengar. Ando melihat kakaknya sedang mengeringkan rambut. Aroma shampoo yang dipakai Ammar semerbak wangi.
"Kenapa, Do?" Ammar heran melihat adiknya masih terpaku di depan kamar mandi.
"Abang kenapa malam-malam gini mandi?"
"Abang mau sholat malam, do." jawab Ammar.
"Bang Ammar ... bang Ammar ... pas gundah gini baru ingat sholat. Lah kemarin kemanan saja, bang? Aku beberapa kali minta sama Abang. Sholat malam, akan ada jawaban dalam setiap kegundahan yang kita rasakan. Tapi kalau lagi galau saja Abang baru nyari Tuhan, percuma. Nggak ada yang instan, doa itu diiringi dengan sholat dan usaha." omel Ando.
"Kamu pikir aku tidak usaha meyakinkan mama untuk menerima Mila. Tidak, do. Aku sudah berusaha meyakinkan mama, mendekatkan mama pada Mila. Tapi mama masih bandingkan Mila dan Vika. Ya Abang tahu kalau Vika yang banyak bantu keluarga kita. Tapi bukan untuk di paksa nikah juga, kan."
"Lalu mau Abang apa? membatalkan pernikahan itu. Kawin lari? bang jangan gila. Jika Mila cinta sama Abang dia juga akan mendekati mama. Nyatanya, Mila malah melawan restu. Itu tandanya dia yang tidak siap dengan semua ini." Ando meninggalkan Ammar di kamar.
Setelah sholat malam, Ammar duduk merenung sebelum dia mempersiapkan diri untuk pernikahannya dengan Vika. Diana melihat putranya merenung di kamar. Wanita itu mendekati putra sulungnya.
"Nak," Diana duduk disamping Ammar.
"Iya, Ma." Ammar mengusap wajahnya yang sudah basah.
"Apa kamu masih memikirkan Mila?"
"Tidak, Ma." Kilah Ammar.
__ADS_1
"Apa kamu sangat mencintai Mila?" Ammar mengangguk kecil.
"Mama minta maaf kalau harus menentang kalian berdua. Mama hanya menjalankan amanat ayahmu."
"Mila itu perempuan yang baik sebenarnya. Dan mama yakin dia juga akan menemukan lelaki yang tepat."
"Ma, izinkan Ammar untuk tidak melanjutkan pernikahan ini. Ammar sangat mencintai Mila. Mama tahu itu kan. Hidup Ammar selama ini hampa setelah Fera menolak lamaran Ammar lima tahun yang lalu. Dan Mila yang membangkitkan hatiku yang sempat mati."
"Mar, apa jawaban dari sholat malam tadi. Apakah Mila? atau Vika?"
Ammar menggelengkan kepalanya. Dia belum menemukan jawaban dari doa nya. Bisa jadi karena dia sholat hanya berdasarkan kekalutan hatinya. Bukan karena lilahi taala.
"Kamu siap-siap, Mar. Mama mau bangunkan etek Rubiah dulu. Semalam dia dapat kabar kalau anaknya bekerja di sebuah rumah sakit di Bengkulu. Itu juga yang membuat dia susah tidur karena kepikiran soal anaknya."
"Kalau boleh tahu kenapa anaknya bisa hilang, Ma?"
"Nanti mama ceritakan. Kamu siap-siap. Sebentar lagi kita ke tempat Vika." Mama Diana meninggalkan Ammar sendiri di kamar.
Pukul enam pagi, Ammar sudah berdiri di depan cermin kamarnya. Dengan jas putih yang di pesan mama calon mertuanya. Ammar tampak begitu tampan. Sebentar lagi dia akan menikah dengan Vika. Memang berat rasanya melepaskan orang yang dicintai. Tapi dia tidak bisa apa-apa. Hanya bisa pasrah pada pilihan mamanya. Bukan dia tak mau berjuang. Seandainya Mila mau bertahan dan membiarkan dia memperjuangkan. Endingnya tidak akan seperti ini.
Ammar mengamati dirinya di kaca, ia takjub dengan setelan jas putih."Ternyata aku tampan juga" pujinya dalam hati
Ammar memeriksa atribut pengantin seperti peci,sepatu dan sapu tangan. Serta dia berdoa semoga di beri kelancaran untuk ijab Kabul nanti.
Resepsi dan akad akan di laksanakan di rumah Vika. Akad akan dilaksanakan di kediaman Vika. Sementara resepsi akan diadakan di gedung serbaguna Balai Buntar.
"Dah siap belum?" suara Ando dari luar
__ADS_1
"Sudah" jawab Ammar keluar dari kamar
"Kan ganteng anak mama" Mama datang dengan kebaya warna merah darah
"Mama kok pake baju ini, kan dress code nya putih" protes Amar
"Baju mama yang putih nggak ada yang muat nak"
"Kenapa nggak bilang, kan bisa Amar cariin"
"Eh, ini malah ngobrol. Kasian pengantin ceweknya menunggu" protes Ando.
"Do, aku pake moge mu ya"
Ando kaget kok mau pake motor, nggak biasanya.
"Ngapain? Mobil ada kok malah motor"
Ammar tidak peduli diambilnya kunci motor Harley punya Ando, terus dia melaju kencang meninggalkan rumahnya. Dia mau mengajak Mila kawin lari. Membawa Mila menikah di KUA, impian mau arak pengantin pake motor gede. Dan sekarang keinginannya terwujud.
Aku akan ke rumah Mila. Aku yakin Mila akan menungguku di rumah.
"Eh, motor nya jangan di bawa! Itu motornya ...." Teriak Ando.
"Ah, moga nggak papa" Ando langsung masuk ke mobil dan mengiringi amar.
"Tapi, ya Allah. Itu rem nya rusak! bagaimana ini!" Ando panik.
__ADS_1
"Do, kok belum berangkat?" etek Rubiah dan mama Diana mendekati Ando yang kacau sendiri.
"Apa aku kasih tahu sama mama, ya soal kak Ammar. Ah, tidak, mama baru sehat jangan sampai dia drop lagi. Semoga kak Ammar selamat."