
Satu Minggu kemudian
Sudah satu minggu Sarah - Anjas dan Mila - Danu menjalani status mereka sebagai suami istri. Danu sudah satu minggu tinggal di rumah keluarga Mila. Sama dengan Sarah dan Anjas yang masih tinggal di rumah neneknya.
Pagi ini sebelum ke kantor, Anjas mengajak Sarah bicara empat mata. Sebelum Sarah mau berangkat kuliah. Wanita usia 20 tahun itu, duduk di kursi meja rias menunggu apa yang akan di bahas suaminya.
"Sebelumnya aku minta maaf kalau pembahasan ini agak sensitif. Tapi aku tidak enak membicarakan hal ini pada ayah." Anjas membuka pembicaraan.
"Apa ada sih, bang? apa abang mau minjam uang sama ayah. Kan abang tahu sendiri penghasilan ayah tidak sebesar penghasilan kamu. Jangan gitulah, bang."
Sarah bicara seperti itu bukan tanpa alasan. Dua hari yang lalu ibu Melani mengeluh karena tidak bisa membayar pajak kendaraan. Uang nya banyak habis untuk perbaikan Kost-kostan. Makanya dia sempat minta sama Anjas. Sayangnya Anjas juga ada masalah di tempat kerjanya. Uang kas kantor hilang sebanyak 20 juta. Tentu saja itu bukan uang yang sedikit untuk bos ojek pengkolan seperti Anjas.
"Bukan soal uang, sayang. Tapi soal tempat tinggal. Jujur sejak awal bukannya kita sudah sepakat untuk tinggal dirumah orangtuaku. Tapi aku merasa ayah melarang kita untuk pindah. Kita ini sudah berkeluarga, harus punya tempat sendiri."
"Tapi apa bedanya, Bang. Jatuhnya sama saja kalau di rumah kamu. Sama-sama numpang. Aku juga pengen, bang. Punya kehidupan sendiri tanpa campur sama orangtua. Tapi saat ini keadaan kita tidak memungkinkan. Kak Mila juga mau pindah tinggal di panti. Masa kita meninggalkan ayah dan Lala tinggal berdua. Nggak bagus, bang."
"Kita harus rundingkan sama kak Mila dan kak Danu. Biar punya titik terangnya. Kalau bisa kak Mila sebagai anak tertua ngalah untuk tetap tinggal disini." usul Anjas.
Sarah berpikir sejenak. Ada benarnya apa yang dikatakan suaminya. Mila kan di sayang sama ayah Rohim. Apalagi Mila ada usaha bersama Eva jualan nasi uduk dan lotek. Sarah yakin Mila mau mengalah untuk tetap tinggal menemani Lala di rumah. Danu pun sepertinya bukan lelaki yang banyak tingkah.
Sarah sudah lama ingin mandiri dan meninggalkan rumah itu. Apalagi dia merasa tidak cocok dengan lingkungan keluarganya. Penuh masalah dan terlihat pilih kasih. Selama ini dia bahagia saat nenek Seruni memberikan apa yang dia mau. Ibu Aminah lebih berpihak ke Mila. Begitu juga dengan Eva dan tulang Boro. Sekarang saat nenek Seruni sudah tiada, tidak ada lagi yang perhatian padanya.
"Kamu benar, Bang. Kita harus desak kak Mila untuk tetap disini menjaga Lala. Walaupun ayah dan Lala adalah anak ayah kandung. Tapi tidak bagus kalau tinggal berdua. Aku yakin kak Mila mau nurut permintaan kita.Tapi dengan satu syarat, Bang."
Tangan Anjas menggenggam erat jemari Sarah. Dia akan lakukan apapun permintaan istrinya.
__ADS_1
"Apa sayang? apapun aku lakukan untuk kamu."
"Aku tidaok mau satu rumah dengan mertua. Aku mau kita punya rumah sendiri. Harus rumah bukan kontrakan. Bagaimana?"
"Kalau kontrakan aku masih bisa dan ada dananya. Tapi kalau rumah, aku belum ada dananya, sayang. Kamu sabar dulu, ya. Sementara kita kontrak di bedengan ibu." Sarah melepaskan genggaman tangan Anjas. Ada rasa kecewa karena suaminya tidak menuruti keinginannya.
"Aku mau berangkat kuliah dulu, bang. Pikirkan lagi apa yang aku bilang tadi. Abang sayang, kan sama Sarah. Abang mau Sarah campur sama Rudi gitu. Oke, aku memang tidak akan tergoda sama Rudi. Karena apa? karena lelaki yang aku cintai itu Abang sudah sejak lama. Tapi kan kita tidak tahu isi hati dan pikiran Rudi. Kalau Abang mau rumah tangga kita aman tanpa gangguan. Carikan rumah untuk keluarga kecil."
Sarah menyalami Anjas lalu keluar dari kamar. Tampak Mila dan Lala sibuk mempersiapkan sarapan. Sarah duduk di meja makan lalu membuka tudung saji.
"Sudah bangun, Sarah. Anjas mana? ajak suamimu sarapan dulu." kata Mila
"Kak Danu mana?"
" Mas Danu masih istirahat. Dia baru pulang dinas sudah hampir subuh. Katanya ada kecelakaan bus studi banding anak SMA 8."
"Iya, kan masuk berita di tv. Soalnya salah satu korban ada keluarga pejabat walikota." celetuk Lala.
"kakaknya Aris juga kena. Soalnya abangnya Aris yang anak SMA 8 juga ikut."
"Innalilahi wa innailaihi rojiun." ucap Mila.
"Hush, kak Mila kayak nyumpahi orang yang belum tentu meninggal."
"Kak Sarah, innalilahi itu untuk mengucapkan jika ada yang kena musibah. Tidak harus ada yang meninggal dunia." Lala meluruskan.
__ADS_1
Tak berapa lama Anjas pun duduk di meja makan. Seperti yang di lakukan Sarah, Anjas pun menanyakan keberadaan ayah Rohim dan Danu. Mila mengatakan ayahnya sedang ada pekerjaan di luar kota. Sedangkan Danu masih istirahat akibat dinas malam.
"Hmmm ... nasi gorengnya enak, kak." puji Anjas.
Sama seperti dulu waktu kamu buatin aku makan siang. Batin Anjas.
"Ehmmm .." Sarah mengkode atensi suaminya. Sarah merasa tatapan Anjas kearah Mila. Ini yang dia takutkan kalau satu rumah sama Mila.
"Bang, aku mau kuliah dulu." Sarah meninggalkan meja makan tanpa pamit pada Mila dan Lala.
"Jas, kok kamu diam saja. Ayo antar Sarah ke kampus. Masa kamu punya kendaraan dia malah naik angkot." suara Mila membuyarkan lamunannya.
Anjas tersadar dari lamunannya. Beberapa kali mengucap astaghfirullah. lelaki itu pamit pada Mila dan Lala.
Anjas mendapati istrinya berdiri di simpang kampus Dehasen. Sambil menggotong motornya, Anjas mendekati Sarah yang masih ngambek. Sebuah mobil hijau berhenti di depan Sarah. Dengan cepat Anjas menarik Sarah sebelum naik ke angkutan umum.
"Abang mau apa sih?"
"Aku mau antar istriku yang cantik ini ke kampus. Biar semua tahu kalau kamu cuma milik abang seorang." Wajah Sarah memerah. Kepalanya mengangguk tubuh rampingnya sudah memegang pinggang suaminya.
Anjas tak mau kehilangan momentum tangannya menarik lengan Sarah. Anjas minta Sarah memeluk dari belakang. Keduanya saling bertatapan lalu tersenyum lebar. Sarah menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Kamu masih marah sama aku, Sayang?" Sarah menggelengkan kepalanya. Dia juga merasa salah karena cemburu tidak pada tempatnya. Kakaknya tidak mungkin CLBK sama suaminya. Dan dia percaya Anjas tidak mungkin mengkhianatinya.
Sementara saat di rumah, Lala sudah berangkat ke sekolah. Hanya Mila dan Danu yang berada di rumah. Sedari tadi dia tidak mendengar suaminya bangun. Mila memasuki kamar. Kakinya terhenti saat melihat suaminya terlentang di lantai dengan hidung berdarah.
__ADS_1
"Mas Danuuuuuu!"