Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 121


__ADS_3

POV MILA.


Pada penderita kanker darah atau leukemia, terjadi peningkatan produksi sel darah putih yang menyebabkan penekanan produksi sel darah merah dan trombosit di sumsum tulang.


Akibatnya, penderita kanker darah sering mengalami anemia dan gangguan pembekuan darah. Hal inilah yang kemungkinan sering menyebabkan penderita leukemia sering pingsan. Ada baiknya penderita diperiksakan ke dokter spesialis penyakit dalam guna mendapat pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.


Dokter akan menentukan jenis kanker darah yang dialami penderita sehingga dapat segera dilakukan penanganan yang tepat, baik berupa kemoterapi, radioterapi, terapi biologis, hingga stem cell. Tentunya sebelum itu, keadaan umum penderita harus distabilkan, misalnya dengan transfusi eritrosit ataupun trombosit, bila diperlukan.


Aku duduk di kursi berbahan besi. Sekarang, di hadapanku ada seorang lelaki paruh baya yang kira-kira seumuran ayahku. Lantas, beliau menjelaskan penyakit yang diderita oleh suamiku.


"Sakitnya semakin parah, tubuhnya semakin kurus. Laksana tulang berbalut kulit," katanya.


Seketika aku membayangkan bagaimana suamiku dulu dan sekarang. Ya, bobot tubuhnya kian menyusut. Dulu tubuh itu sangat gagah, tangan kekar yang sering menggendongku saat kami berdua. Tubuh dengan aroma maskulin yang sangat kusukai.


"Walau bobot tubuhnya kian menyusut, tapi cintaku tidak akan menyusut," jawabku dengan membesarkan hatiku sendiri.


"Sayang, kamu dengar apa yang di bilang dokter tadi," Sapaku ketika dokter menjeda pembicaraannya.


Dia menatapku dengan senyuman khasnya. Ukiran bibir yang tak pernah berubah meskipun kondisinya sudah berbeda.

__ADS_1


"Iya, Sayang, aku dengar," tangan kekarnya menggenggam erat jemariku.


"Pokoknya apapun yang terjadi aku mau dampingi kamu kemoterapi," ucapku penuh tekanan.


Aku masih berusaha menguatkan hati ketika dokter kembali menjelaskan perihal penyakit suamiku. Ku tarik nafas dalam-dalam.


"Ya Tuhan, aku percaya keajaiban yang engkau berikan. Aku percaya engkau maha mengetahui apa yang akan terjadi nanti," doaku tentu di dalam hati.


"Sebenarnya dulu sebelum menikah kak Danu sudah ikut kemoterapi di rumah sakit ini. Itupun atas rekomendasi dokter disini. Tapi setelah menikah dia sudah jarang memeriksakan kesehatannya. Kalau aku tidak sering mengingatkan mungkin sudah banyak ketinggalan," kata Wisnu.


Aku mencerna ucapan Wisnu. Apakah kesannya aku yang membuat suamiku lalai untuk kesehatannya? tak mau suudzon, akan tetapi ucapan Wisnu kesannya suudzon sama aku.


"Maaf," ucap ku lirih.


"Karena aku seperti lalai membantu pengobatan suamiku?"


"Maaf, kak Mila. Aku tidak ada maksud menyalahkan kakak. Hanya saja, memang sepertinya kak Danu juga terlalu santai. Aku sudah beberapa kali mengingatkan dia tentang pengobatan. Apalagi dulu dia rutin kontrol, tapi sudah beberapa bulan ini dia longgar,"


Beberapa waktu yang lalu aku dan Danu sampai di rumah sakit ternama kota Bengkulu. Seharusnya tiga bulan yang lalu kami mendatangi rumah sakit. Tapi beberapa kali Danu mengulurkan waktu untuk pergi kesana. Dia bilang kondisinya sudah lebih baik.

__ADS_1


Ibu Rubiah ingin membawa Danu berobat ke Padang. Aku sebenarnya ingin sekali ikut, tapi ibu mertuaku memohon supaya dia dan Danu saja yang ke Padang. Dia minta aku fokus untuk kehamilan. Istri mana yang tidak sesak harus berpisah dengan suaminya.


Malam itu aku dan Danu di minta menemui ibu Rubiah untuk membahas soal kemoterapi. Tentu aku berharap bisa ikut mendampingi mas Danu. Melihat perkembangan penyakitnya. Bu Rubiah meminta aku tetap tinggal supaya Danu fokus sama kemoterapinya.


Ketika sampai kami sudah di sambut ramah sama ibu mertuaku.


"Aku senang lihat wajah ibu yang teduh kayak gitu, rasanya adem banget," Aku membisik pada Danu. Tumben sekali dia menyambut aku dengan sikap ramahnya.


"Ibu,"


"Nak, kenapa kamu kurus sekali,"


"Ibu kan tahu kalau aku..."


"Sudah kalian kedalam, kita bicarakan soal ini di dalam,"


"Ayo, Mila. Wah cucu ku sudah mulai membesar, ya" Bu Rubiah mengelus perutku.


"Iya, Bu. Sudah masuk empat bulan,"

__ADS_1


"Sudah kamu masuk ke dalam. Nggak bagus ibu hamil berangin,"


"Seandainya dari dulu dia seperti ini," aku hanya bisa membatin.


__ADS_2