Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 102


__ADS_3

"Alhamdulillah kita sudah sampai di rumah," kata Rohim mematikan mobilnya di depan kediaman anak-anaknya.


Dahlia, Fera dan Intan duduk di kursi belakang sopir. Lama dia memandang rumah yang sangat dia rindukan. Meskipun saat muda dulu lebih banyak di Curup. Pertama kali dia datang ke rumah itu saat akan menyerahkan Mila pada Rohim. Lebih tepatnya rumah yang di tempati Aminah. Sementara dulu rumah nenek Seruni di jalan Dempo.


Gelombang rindu yang teramat dalam pada anaknya. Membuat matanya berkaca-kaca, dia tidak tahu bagaimana kondisi anaknya saat ini. Rasanya mimpi akan melewati indahnya bulan Ramadhan di tengah keluarga besar.


"Bu, kita turun," sapa Fera sambil menggendong Intan.


Dahlia mengangguk. Perjalanan sehari satu malam memang membuat tubuhnya lelah. Namun saat ini rasa lelah itu hilang, berganti dengan rasa bahagia.


"Baru tiga bulan aku meninggalkan tempat ini. Rasanya rindu sekali, harapanku bisa berkumpul dengan mereka, dan sekarang keinginan itu terwujud,"


"Aku tidak akan pulang ke Lampung lagi, Lia," seru Rohim.


"Aku menjual tempat serta alat usaha angkutan barang. Menukarnya dengan mobil ini. Jauh-jauh hari aku sudah kabari Anjas soal bidang usaha ini,"


Mereka sudah berada di depan pintu rumah. Mengetuk pintu sebagai tanda tamu telah tiba.


"Ayah,..!" Sarah membuka pintu menemukan sang ayah sudah berdiri di hadapannya. Wanita muda itu langsung memeluk sang ayah karena sudah sangat rindu.


Pukul 14.00


"Jadi bagaimana, Jas?" tanya ibu Melani dalam sambungan telepon seluler.


"Sarah sudah di bawa pulang keluarganya, Ma? kata warga disini area tempat tinggalku yang parah. Rumah kami terkepung air sebatas diatas lutut. Sarah sempat tidak bisa keluar," itu yang dia dengar dari para warga saat mendatangi rumah mereka.


"Bu Sarah bahkan membersihkan sendiri sisa banjir. Wajahnya pucat sekali tapi dia memaksa kerja sendiri," keterangan dari Bu Dini.


"Kenapa dia tidak mengabari saya?" kata Anjas.


"Katanya handphonenya hilang ke seret air. Tapi kata petugas posko dia sempat pinjam handphone menghubungkan anda," jelas Bu Dini.


"Oh iya, terimakasih infonya," Anjas pun menyelesaikan pembersihan rumahnya. Tampak sebagian sudah bersih hanya penataan barang saja yang belum.


"Lantai masih basah. Sepertinya jangan di letakkan dulu,"


Setelah selesai membereskan rumah akibat banjir, Anjas pun pergi meninggalkan rumah. Berencana akan menjemput Sarah di rumah Mila. Bicara dari hati ke hati soal penyelesaian masalah rumah tangga mereka.


Motor Rudi dia titipkan di rumah tetangganya. Karena sejak awal sampai dia sudah di sambut oleh lumpur yang tebal. Sekarang dia sudah sampai di tempat menitipkan motornya. Lalu berpamitan pada sang empunya rumah.


"Itu alasan dia saja, Jas? kesannya kamu di bilang nggak peduli sama dia. Mama sudah hapal karakternya Sarah. Sudah wataknya begitu, sama keluarganya saja dia begitu apalagi sama orang lain. Sudahlah, kamu pulang! bantu mama sebentar, itu calon jodohnya Rudi bakal kesini,"


"Mama kenapa tidak minta Rudi pulang cepat. Kan dia yang mau di kenalkan bukan aku. Aku masih banyak urusan. Jadi belum bisa pulang,"

__ADS_1


"Kamu mau menemui Sarah 'kan? sudah mama bilang tidak usah di urusin. Kan ada keluarganya,"


"Dia masih urusan aku, Karena dia istriku!" Anjas bicara dengan tegas. Lalu menutup teleponnya.


Motor yang di kendarai Anjas pun kembali ke area kampus. Mengembalikan kepada pemiliknya. Tampak suasana kampus masih sepi. Mungkin masih dalam kegiatan belajar mengajar.


"Ting!"


"Bang, motornya tidak usah di bawa ke kampus. Aku sekarang di rumah. Kalau masih ada urusan pakai saja motorku," pesan Rudi.


"Terimakasih, Di. Kamu memang adikku," balas Anjas.


"Sama-sama, bang. Itu gunanya saudara,"


Anjas meninggalkan area kampus gedung belajar dua. Lokasi yang berhadapan dengan gedung belajar khusus fakultas pertanian.


Dalam rumah tangga, ada dua pasang jiwa dan pikiran yang harus disatukan. Kepribadian tiap orang ini dipengaruhi oleh pola asuh yang sudah tertanam sejak keduanya kecil.


Itu yang Anjas tanamkan dalam dirinya. Mencoba memahami sifat dan karakter Sarah. Dari sejak tahu Sarah pacarnya Rudi, hingga mengenal saat berpacaran dengan Mila. Anjas tahu kalau sifat Sarah bertolak belakang dengan kakak dan adiknya. Bahkan dia merasa punya keluarga baru saat mengenal ibu Aminah.


Banyak hal kecil yang menjadi permasalahan besar akibat adanya kesalahpahaman. Ketika kita mampu berbicara dari hati ke hati dengan orang terdekat, hal itu akan dapat menjernihkan kesalahpahaman dan kita bisa melihat permasalahan dengan lebih jelas.


Dalam hubungan kita dengan orang terdekat, seperti pasangan, anak, atau sahabat, kita terkadang tidak bisa menghindari konflik yang sangat mungkin terjadi. Salah satu cara untuk menyelesaikan konflik tersebut adalah berbicara dari hati ke hati.


Motor yang Anjas kendarai sudah sampai di depan rumah Mila. Sepertinya suara motor memancing si pemilik rumah keluar. Harapannya, orang yang membuka pintu adalah Sarah. Tapi nyatanya bukan. Melainkan ada Fera yang sudah berada di rumah.


"Kak Fera? kapan sampai?" sapa Anjas.


"Baru satu jam yang lalu, Jas. Kamu mau jemput Sarah kan? dia di belakang sama ibu, mau masak buat buka puasa di rumah sakit," kata Fera mempersilahkan adik iparnya masuk ke dalam rumah.


"Rumah sakit? siapa yang sakit?" tanya Anjas.


"Lala demam katanya," jawab Fera.


"Bu, ada Anjas di luar," panggil Fera.


Bu Dahlia pun meninggalkan dapur. Pekerjaannya di gantikan sama Fera. Tampak Sarah hanya mengintip dari pintu dapur. Dia masih malu menemui suaminya.


"Sar, kenapa kamu disitu. Itu suami kamu datang, di sambut kek apa kek, masa suami datang kamu masih disini. Pekerjaan kamu nanti di lanjutkan temui Anjas dulu," kata Fera.


Sarah akhirnya meninggalkan Fera sendirian di dapur. Anjas melihat istrinya datang langsung berdiri. Sarah pun mendekati suaminya serta mencium tangan lelaki halalnya.


"Abang baru sampai?" sapa Sarah.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Abang kesini mau jemput kamu pulang. Sementara kita tinggal di tempat ibu saja. Kamu mau kan?" Sarah masih terdiam. Kalau dia tinggal sama ibu Melani sudah pasti akan ada perang besar. Sarah yakin mertuanya masih marah.


"Aku tahu kamu masih segan sama ibu. Sebenarnya ibu itu sayang sama kamu. Dia mau kamu belajar menjadi istri yang baik. Baik bukan hanya dari sikap saja tapi juga apa yang kita kerjakan harus ada kemajuan," kata Anjas.


"Atau begini saja, kalau memang kamu masih takut sama ibu, kita tinggal di kantor saja. Hanya saja di sana ada dapur bersama, kamarnya cuma satu. Bagaimana?"


"Emang ada apa dengan rumah kalian?" tanya ibu Dahlia.


"Rumah kami kebanjiran Bu. Karena sempat hujan deras dan air kiriman. Sarah di jemput sama kak Danu. Makanya Sarah bisa disini,"


"Bang, aku mau bicara sebentar, boleh?" pinta Sarah.


Ibu Dahlia meninggalkan mereka berdua. Wanita paruh baya itu kembali ke dapur membantu Fera. Sepertinya dia terlambat karena Fera sudah menyelesaikan pekerjaannya.


"Ini akan jadi kejutan untuk Mila," kata Dahlia.


"Aku tadi sudah telepon Tante Ida, ternyata dia sekarang di Jakarta. Nah di rumah ada asistennya, kita di suruh menginap disana, tapi kok aku tidak melihat pakde Rohim. Kan dia yang antar kita sampai sini," kata Fera.


"Rohim bilang dia ada urusan, mau ke rumah Edo, katanya, tadinya dia mau ke rumah sakit. Ya ibu bilang ke rumah sakitnya pas mau buka puasa, kan rencananya begitu" kata Dahlia.


"Ibu Fera mau tanya?"


"Tanya apa?" jawab Dahlia sambil membereskan bekas masak.


"Ibu adakah terbersit mau balikan sama pakde Rohim. Maaf, ya kalau pertanyaan aku sensitif, tapi kak Mila pasti ingin ayah dan ibunya bersatu lagi. Pasti Lala ingin merasakan kasih sayang ibu seutuhnya,"


"Kenapa kamu bahas soal itu. Ibu hanya setia sama ayah kamu. Begitu juga Rohim, dia masih setia sama Aminah. Jadi tidak mungkin kami bisa sama-sama lagi. Umur ku sudah tua, tidak lagi memikirkan soal pasangan. Saat ini yang aku pikirkan soal anak-anak. Kamu, Mila, Sarah dan Lala,"


"Fera cuma nanya saja. Tidak memaksa juga, aku pengen ibu ada yang mendampingi di masa tua,"


"Cucu eyang sudah bangun?" pembicaraan mereka terhenti saat gadis kecil itu masuk ke dapur.


"Intan mau makan?" gadis kecil itu menggelengkan kepalanya.


"Intan kan puasa,"


"Kan dalam perjalanan, nggak apa-apa libur puasa," kata Fera.


Gadis kecil itu menoleh ke jam dinding.


"Enggak, Ma, enggak, eyang. Itu sudah hampir jam tiga, tanggung bentar lagi buka, kok sepi? kak Mila mana, kak Lala mana?"


"Mereka lagi di rumah sakit. Nanti kita kesana, ya?" intan mengangguk patuh.

__ADS_1


__ADS_2