Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 82


__ADS_3

Mila memasuki WC tak jauh dari tempat dia berdiri. Sebisa mungkin dia tidak ingin terlihat sedih di depan suaminya. Selesai dari kamar mandi langkah kakinya kembali berayun menuju tempat suaminya di rawat.


Meskipun dia sendiri masih tidak percaya apa di lihatnya barusan. Ammar lelaki yang menghilang dan tentunya membuat dia buruk di mata orang lain. Dengan rasa percaya diri dia masuk berbaur bersama suami dan keluarga lainnya.


"Seandainya ada Eva, mungkin dia sama sepertiku kaget melihat siapa yang datang.


Ya Allah aku harus bagaimana? kenapa harus bertemu dengan Ammar di saat seperti ini? tarik nafas dalam-dalam, Mila.


Ingat Mila, kamu harus bersikap wajar. Ya kalau Ammar menyapa kamu harus balas sapaan seperti biasa. Kamu bisa Mila! kamu bisa!"


Mila terus bermonolog dalam hati. Entah kenapa dia mulai ketar-ketir saat melihat kemunculan Ammar. Bukan soal masih ada perasaan atau tidak. Dia masih trauma dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Ammar. Sudah cukup hidupnya tenang setelah Ammar menghilang. Kenapa sekarang malah muncul lagi.


"Sayang," Danu memanggil istrinya yang sudah berdiri di depan pintu. Mila berjalan mendekati suaminya sambil tersenyum kecil.


"Mas," sapa Mila melewati Ando dan rombongan. Mila membungkukkan tubuhnya ketika berpapasan dengan Makwo Rubiah. Mila menyalami Bu Nurmala selaku wali dari suaminya. Dia juga menyalami tamu yang lain. Tak terkecuali Ammar.


"Kamu dari mana?" tanya Danu.


Mila belum bisa cerita pada Danu terkait pertemuannya dengan Wisnu. Dia khawatir akan memperburuk keadaan. Mila berniat membahas setelah Danu pulang ke rumah.


"Aku tadi menelepon Lala. Dia di rumah Sarah. Tadinya aku takut siapa yang akan menjaga Lala." Mila mengambil kursi untuk duduk.


Danu berada di sebuah ruangan yang berdempetan dengan pasien lainnya. Dalam ruang inap ada tiga sekat. Posisi Danu berada di dekat pintu masuk.


"Maafkan aku, Mas. Aku belum bisa cerita soal surat dari Wisnu" batin Mila. Beruntung dia membawa tas sehingga berkasnya bisa di simpan.


"Mila ini ibu Rubiah yang mempekerjakan aku merawat adiknya. Dan ini kamu sudah tahu kan?" Danu memperkenalkan tamunya.


"Jadi kak Mila istrinya Danu. Bagaimana mungkin bisa begini? kalau Danu memang anak makwo Rubiah berarti kak Mila Iparan sama bang Ammar. Dunia ternyata masih sempit." Batin Ando.


"Apa kabar Ando? apa kabar Ammar? kamu masih hidup ternyata, Mar." suara Mila terdengar ketus.


Sikap yang Mila tunjukkan karena merasa kecewa dengan keluarga Ammar atau Ammar nya sendiri. Namanya sudah buruk di mata orang-orang yang mengenalnya. Termasuk di mata teman-teman satu profesinya. Bahkan ada temannya yang menyalahkan Mila atas depresi menimpa Vika.

__ADS_1


"Mila, kamu enak sudah menikah. Tapi bagaimana dengan Vika? dia sekarang di bawa Jakarta karena mengalami depresi. Kalau saja kamu tahu diri untuk tidak dekat dengan pak Ammar. Mungkin mereka sudah bahagia," kata-kata itu masih terngiang di pikirannya.


"Sayang, kamu kok gitu,"


"Maaf, Mas, Bu Rubiah silahkan duduk. Saya ambil kursi tambahan," pamit Mila mencoba meminjam kursi besi di sekat sebelah suaminya. Beruntung ada dua kursi menganggur.


Mila memilih duduk di pinggir ranjang suami. Ando dan Ammar tidak banyak bicara. Lelaki itu tidak melepaskan pandangan ke arah Mila. Apalagi tangan Mila tidak lepas dari jemari Danu.


"Do, bawa aku keluar sebentar," bisik Ammar.


Hujan mulai turun membasahi langit kota Bengkulu. Ammar bersama Ando duduk di lorong rumah. Kedua pria tersebut memandang langit yang menghitam.


"Aku nggak tahu, Do. Ketika istrinya Danu datang. Dia seperti magnet buat aku, tatapannya, sikap juteknya. Sangat familiar, ketika dia dan Danu saling menggenggam erat. Kenapa rasanya sesak sekali, Do?"


Ando menegakkan kepalanya. Lelaki itu merubah cara duduknya. Dia pun menggeser kursi roda abangnya karena posisi roda di ujung semen.


"Apa aku harus membujuk kak Danu supaya mau meminjamkan kak Mila. Sudah banyak cara yang kami lakukan untuk membangkitkan ingatan bang Ammar. Tapi sejak semua yang berhubungan dengan kak Mila. bang Ammar bereaksi." batin Ando.


"Danu bagaimana keadaan kamu?" tanya Bu Nurmala.


"Alhamdulillah, Bu. agak mendingan, tadinya kami harus nya sudah pulang. Tapi Wisnu bilang ada pemeriksaan lebih lanjut. Soal tes ...." Danu melirik kearah Mila. Ada rasa takut kalau Mila tahu penyakit sebenarnya.


"Oh, ibu tahu," timpal Bu Nurmala.


Mila menaikkan dahinya. Kalau Bu Nurmala tahu tentang keadaan suaminya, berarti hanya dia yang belum tahu.


Mila memegang dadanya yang terasa sesak. Semua orang menyembunyikan fakta keadaan Danu dari Mila. Serasa di tusuk berkali-kali.


"Jadi Bu Rubiah kesini serempak sama ibu Nur, ketemu di depan atau bagaimana, Bu?"


"Danu," Bu Nurmala memegang jemari anak asuhnya.


"Iya, Bu,"

__ADS_1


"Kamu ingat dulu, saat masih kecil. Kamu selalu minder kalau ada kegiatan sekolah harus membawa orangtua, kamu ingat kan, Nak saat kamu menangis teman-temanmu merayakan hari ibu."


Danu ingat saat masih kecil dia selalu mangkir masuk sekolah, jika ada acara yang melibatkan orangtua. Semua anak di sekolahnya di antar dan di jemput oleh ibu dan ayahnya. Tapi dia sadar kalau statusnya adalah anak yatim piatu.


"Jadi ibu mau mempertemukan kami sama seseorang. Anaknya hilang saat masih kecil, sekarang dia sudah menemukan anaknya," ibu Nurmala menyerahkan amplop putih pada Danu.


Danu membuka amplop tersebut, membaca dengan teliti. Lama dia terdiam, pandangannya beralih ke wanita berhijab di samping kirinya.


"Danu, dia ibu Rubiah, ibu kandung kamu. Dia tidak pernah meninggal kamu. Tapi justru kamu hilang akibat keteledoran seseorang. Saya minta maaf kalau saya bilang mengenal kamu sejak lahir. Sebenarnya saya kerja di panti saat kamu berusia 4 tahun. Bu Mutia yang minta merahasiakan hal ini." cerita Bu Nurmala.


Danu masih tidak bergeming, dia tidak tahu apakah harus senang atau pun sedih. Rubiah langsung memeluk Danu, mata wanita itu berkaca. Mengekspresikan rasa bahagianya menemukan anak kandungnya. Danu ingin sekali rasanya membalas pelukan ibunya, tapi hati nya masih berkeras menerima kenyataannya.


"Abdi, anak ibu! maafkan ibu sudah membuat kamu menunggu terlalu lama. Ibu sudah mencari kamu kemana-mana. Setelah bertahun-tahun, akhirnya kita bisa di pertemuan kembali,"


"Bisa tinggalkan saya, Bu Rubiah?" nada bicara Danu terdengar datar.


"Mas,"


"Kamu disini, Mila. Biarkan mereka yang di luar."


"Tapi, Mas ... Mereka itu tamu kamu. Nggak baik mengusir tamu,"


"Aku tidak mengusir mereka. Aku hanya butuh waktu untuk menerima kenyataan ini. Dia hidup bahagia bergelimang harta. Sementara aku disini, menunggu keajaiban datang. Dimana seorang anak yang berharap kasih sayang orang tua utuh,"


Mila duduk menguatkan suaminya. Dia pernah berada di posisi Danu, dia tahu kalau ibu ada di dekatnya. Tapi sikap ibu Dahlia seakan masa bodoh terhadap dirinya. Mila menunggu masa itu, masa dimana ibu Dahlia mengakui dirinya sebagai anak. Tapi dia baru mengaku saat hendak pulang ke Lampung.


"Mas sendiri yang pernah bilang sama aku. Kalau kita tidak sendiri, masih ada orang-orang yang sayang sama kamu, sama aku dan dipertemukan dengan ibu kandungmu,"


"Terima dia sebagai ibu kandungmu, Mas," Mila merasakan tubuh suaminya bergetar hebat. Seperti ada guncangan hebat menusuk di relung hatinya. Paling tidak dia sudah memberikan pelukan sebagai obat penenang.


Mila mengusap rambut Danu. Matanya tertuju pada guguran rambut yang menempel di jemarinya.


"Jangan tinggalkan aku, Mas." batinnya.

__ADS_1


__ADS_2