
Saya di suruh ke rumah sakit? buat apa, Mas?" Danu diminta pergi ke rumah sakit ternama kota Bengkulu. Tentu dia merasa tidak ada laporan ataupun pemberitahuan dari pihak rumah sakit.
"Iya, kamu susul makwo Rubiah. Dia menunggu kamu di sana." kata Ando sambil menepuk pundak Danu.
"Sekarang?" Ando lagi-lagi mengangguk.
"Baiklah, saya akan ke rumah sakit." Danu mengambil tas nya. Dia memeriksa handphone yang disimpan dalam tas nya. Banyak panggilan dari Lala.
Danu mencoba menghubungi Lala kembali. Tidak biasanya adik Iparnya meneleponnya sebanyak ini. Apa terjadi sesuatu di rumah? apa ada yang terjadi pada istrinya. Danu pun menjadi gelisah. Dia pun memilih tidak menyusul ke rumah sakit. Lebih baik pulang daripada pikirannya tak tenang.
Dari Jalan Kilometer 6,5, Danu mengubah rute perjalanannya. Dia memutar arah menuju jalan yang menembus Pasar Panorama. Teriknya matahari mampu menjatuhkan butir peluhnya, tapi tidak dengan semangatnya. Meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, tapi udara tetap konsisten.
Danu sedikit memperlambat laju sepeda motornya saat dia memasuki area pasar panorama yang penuh dengan pedagang yang sibuk menjajakan barang mereka.
Pada akhirnya perjalanan pun terhenti di depan rumah. Dengan tergesa-gesa dia berlari memasuki rumahnya. Mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.
Suara gerakan pintu seakan menyambut kepulangannya. Wajah Mila yang tersenyum meskipun pucat. Danu merangkum wajah istrinya sebagai rasa cemas.
"Kamu tidak apa-apa, Sayang." Mila menggeleng.
"Aku nggak apa-apa, Mas. Kok kamu cepat pulangnya?"
"Tadi sebenarnya ... " Danu merasa tidak perlu menceritakan soal dia tidak mematuhi perintah Makwo Rubiah. Baginya saat ini Mila adalah yang utama.
"Sebenernya apa?"
"Aku kepikiran kamu, sayang. Entah kenapa perasaanku nggak enak. Apalagi saat melihat banyak panggilan dari Lala. Makanya aku pulang"
__ADS_1
"Oh gitu, Mas. Maafin Lala ya, Mas. Kamu jadi nggak konsen kerja gara-gara telepon dari Lala."
"Enggak apa, sayang. Kalau nggak ada telepon dari Lala mungkin aku nggak akan pulang secepat ini."
Danu menggendong istrinya menuju ke kamar. Entah kenapa ada rasa rindu yang mendalam pada wanita yang hampir tiga bulan di nikahinya. Padahal tadi pagi sudah bertemu. Danu pun meletakkan Mila diatas tempat tidur mereka. Tangannya menyusup di sela-sela rambut Mila. Danu merasa pandangannya sedikit berbayang. Dia tetap berusaha bersikap biasa saja. Danu menarik dagu Mila dengan lembut. Sedikit lagi sudah mencapai nikmatnya bibir halal istrinya.
"Kak Mila ..." Lala menyembul dari balik kain tirai pintu kamar.
Mila dan Danu memisahkan diri. Danu merasa pusing memilih merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sementara Mila mendekati Lala.
"Maaf, kak. Aku malah ganggu," kata Lala tidak enak.
"Kenapa Lala?" tanya Danu masih posisi merebahkan diri.
"Anu ... ini ... kak Mila tadi hampir pingsan. Aku pikir kak Mila hamil soalnya muntah-muntah. Tapi kata bidan Ratna kak Mila asam lambung."
"Kenapa minta maaf sayang?"
"Soalnya aku nggak jadi hamil."
Danu mendengar apa yang di ucapkan istrinya hanya bisa legowo. Dia tidak bisa memaksakan kalau Tuhan belum memberikan kepercayaan. Memang ada harapan besar ingin cepat punya anak.
"Maafkan aku, Mas. Aku belum bisa memberikan apa yang kamu mau."
Danu memeluk Mila menenangkan hati istrinya. Pelan-pelan Mila dan Danu melepaskan pelukan mereka.
Menunduk menghindari tatapan suaminya. Takut ada kekecewaan dari suaminya. Tadinya Mila berharap kalau mual dan muntah adalah pertanda kalau dia hamil. Apalagi tubuhnya terasa lemas. Seperti kehabisan tenaga.
__ADS_1
Ternyata itu bukan hamil melainkan hanya ada masalah dengan lambungnya.
"Tuhan itu mau kita lebih berusaha lagi, sayang. Tuhan itu mau kita masih harus saling mendalami apalagi kita kan masih pacaran. orang pacaran itu mau nya berdua dulu. Sama kayak aku dan kamu. Aku nggak apa-apa kalau kita belum di kasih sekarang. Mungkin bulan depan atau bulan-bulan berikutnya. Atau tahun berikutnya tidak masalah. Asalkan kamu tidak jauh dari sisiku."
Suara adzan Maghrib berkumandang. Danu yang tadinya pusing akhir nya memilih beranjak ke kamar mandi. Menyingsingkan lengan bajunya untuk berwudhu. Begitu juga Mila.
"Sayang, kita sholat jamaah yuk. Ajak Lala sholat bersama. Terakhir kita sholat waktu ayah Rohim masih disini."
...***...
Rubiah sudah menunggu lama di rumah sakit. Sosok yang di harapkan datang tidak juga menampakkan batang hidungnya. Padahal dia mau mengabarkan bahwa hasil tes DNA mengatakan Danu positif anak kandungnya.
Darimana dia bisa tahu hal itu. Tentu saja dengan mengambil guguran rambut yang tertinggal bahu lelaki itu. Beberapa waktu yang lalu Bia menemukan Danu terlihat lelah. Wanita itu mempersilahkan Danu untuk istirahat sejenak.
Entah dari dorongan mana Bia mengelus rambut lelaki muda di depannya. Nalurinya mengatakan ada sesuatu yang membuatnya merasa dekat dengan Danu. Petunjuk tanda di leher lelaki itu.
Beberapa helaian rambut pun menempel di Jemari Rubiah. Wanita itu seperti mendapat petunjuk untuk melakukan tes DNA. Kalau memang Danu bukan anaknya tak apa. Yang penting rasa penasarannya akan siapa Danu sebenarnya.
Dari kenekatannya dia sekarang berdiri di rumah sakit ternama kota Bengkulu. Saat ini Rubiah sedang duduk di ruang tunggu. Memegang sebuah surat yang hasilnya akan mengubah semuanya.
"Bismillahirrahmanirrahim"
Bia membaca hasil dari tes DNA yang dia ajukan beberapa hari yang lalu. Setiap bait demi bait di lalui dengan pelan. Takut jangan ada kata yang ketinggalan.
"Allahuakbar!" Bia sujud syukur di lantai rumah sakit. Tanpa peduli dengan tatapan aneh dari orang di sekitarnya.
Tubuhnya bergetar hebat. Bahkan kertas yang di genggamannya jatuh ke lantai seperti di hempas angin.
__ADS_1
"Abdi anakku, dia anakku!"