Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 147


__ADS_3

Tiga Hari Kemudian


Pengalaman melahirkan setiap orang berbeda-beda. Yang dialami satu ibu, belum tentu dialami oleh ibu lainnya. Meski begitu, persalinan jadi salah satu momen yang tak akan pernah terlupakan bagi tiap ibu. Rasa lelah dan sakit yang dialami saat proses persalinan seolah luntur dan segera berubah jadi luapan rasa bahagia ketika mendengar tangisan bayi tercinta untuk pertama kalinya.


Kehadiran si buah hati dapat mengobati rasa lelah selama masa nifas. Tawanya, senyumnya tentu sangat menggemaskan.


Hari ini Mila sudah di perbolehkan pulang. Setelah dua malam sempat koma dan dua malam selanjutnya masa pemulihan.


“Alhamdulillah, kita sudah pulang ke rumah.” Ucap Danu sambil meletakkan barang-barang milik istri dan anaknya.


Mila cukup kaget, pasalnya mereka bukan pulang ke rumah nenek Seruni ataupun rumah ibu Diana. Danu memang sengaja tidak memberitahukan kalau dia sudah menyiapkan rumah baru di daerah Padang Harapan. Rumah yang dia bangun jauh sebelum di pertemukan kembali dengan Mila. Lokasinya di daerah Kapuas Tiga. Dekat masjid dan lapangan besar. Bukan rumah yang mewah seperti di sekitar tempat itu. Tapi rumah sederhana yang pernah dia beli saat itu. Tak banyak dia rombak di samping rumah yang tadinya ilalang kini menjadi taman kecil bersama kursi ayunan.


“Sayang, ini rumah kita yang sebenarnya. Disini kita akan memulai hidup mandiri bersama Sada, anak kita. Maaf kalau tidak mewah.”


“Uda, ini sudah lebih dari cukup. Aku tidak pernah minta yang mewah. Tapi uang nya darimana? Bukankah tabungan kamu hampir habis biaya kemoterapi.” Kata Mila.


“Sebenarnya ini sudah lama aku beli. Sewaktu aku masih bujangan dulu.”


"Kenapa tidak cerita sama aku selama ini?" ujar Mila sambil menyusui Sada di kamar mereka.


"Ya kalau cerita bukan surprise dong namanya. Ini juga ada campur tangan ibu Rubiah menata rumah. Katanya biar cucunya nyaman tinggal disini." cerita Danu.


"Ternyata di balik tampangnya yang kesannya jutek. Ibu sayang juga sama aku dan Sada."


"Makanya jangan lihat sesuatu dari covernya. Biar begitu sebenarnya ibu sayang sama kita. Sikap yang dia tunjukkan juga ada pelajarannya. Supaya suatu saat nanti Sada dewasa kita menghindari sifat orang tua yang pernah ibu lakukan sama kita. Paham?" Mila menggangguk. Dia juga mau menjadi orangtua yang baik di mata Sada.

__ADS_1


Setelah Sada tertidur, Mila meletakkan putrinya dalam box bayi dekat tempat tidur. Hanya beralaskan karpet dan spring bed tanpa dipan. Setahu Mila itu bisa memudahkan ketika Sada tertidur di tengah kedua orangtuanya.


Langkah kakinya melangkah ke luar kamar. Tampak sanak famili sudah berkumpul di sana. Ada Lala, ada kedua orangtuanya, ada Eva, Tulang Boro dan istrinya juga ikut berkumpul di sana. Senyumnya mengembang saat melihat semua keluarganya berkumpul. Hanya minus Sarah dan Anjas saja.


"Sayang, kamu istirahat saja. Pasti kamu lelah sekali beberapa hari ini. Bangun tengah malam buat menyusui Sada. Biar aku yang menemani mereka." Danu meminta Mila di kamar menemani Sada.


"Aku bosan nggak ada kegiatan. Sada sudah tidur jadi apa salahnya aku memanfaatkan waktu untuk bersama yang lain. Kata orang kalau sudah melahirkan tidak boleh di bawa tidur." jelas Mila setelah mendaratkan tubuhnya di kursi ruang tengah.


"Justru orang yang sudah melahirkan harus memanfaatkan waktu tidurnya dengan baik, sayang. Kamu kan selama di rumah sakit, sejak sadar selalu terbangun tengah malam. Apalagi kalau Sada haus." kata Danu.


Pada masa nifas terjadi pemulihan dari organ rahim. Pada masa nifas biasanya masih dapat terjadi perdarahan. pada masa nifas, anda dapat tidur pada posisi kasur yang tinggi ataupun rendah. Hal tersebut tidak berpengaruh terhadap masa nifas.


Ibu yang baru melahirkan justru disarankan untuk tidur kapan saja ibu bisa tidur (menyesuaikan dengan waktu tidur anaknya), karena ibu yang mengurus bayinya sendiri akan sangat-sangat kekurangan tidur.


"Ini apa, Bu?" tanya Mila penasaran ketika melihat Ibu Dahlia seperti sedang meracik sebuah ramuan. Perlahan Mila mendekati Ibu Dahlia.


"Ini namanya masker pilis. Ini bagus untuk ibu melahirkan. Ibu juga sudah menyiapkan beberapa makanan untuk menunjang ASI kamu supaya lancar. Seperti sayuran hijau terkhusus daun katuk sama ikan gabus."


Mila mengangguk pelan berusaha menyerap penjelasan Ibu Dahlia. Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Ada beberapa ranting kayu di atas pintu kamar dan pintu luar. Mila menaikkan sebelah alisnya, heran. Entah apa fungsi ranting itu Mila tidak paham.


"Untuk apa ranting-ranting di letakkan disana, Bu?"


"Supaya bayimu tidak di ganggu setan. Makanya Ibu letakkan di pintu depan dan pintu kamar."


"Tapi, Bu. Bukankah cukup letakkan Al Quran saja di dekat kepala bayi? Nggak usah pakai benda seperti itu, nanti jatuhnya musyrik."

__ADS_1


"Sudah kamu ikut saja! Waktu kamu lahir juga begitu, bahkan kamu empat bulan sudah MPASI." kata Ibu Dahlia.


Mila diam saja. Pandangannya beralih pada suaminya. Tampak Danu hanya menaikkan bahu tanpa dia pun enggan berkomentar. Setelah dahi Mila di beri bubuk pilis. Ibu Dahlia pun meminta sama Danu agar jangan minta jatah sama Mila selama 40 hari.


"Aku sudah tahu, Bu." ungkap Danu beranjak dari ruang tamu.


"Oh, ya ibu lupa bawa peniti besar untuk penangkal gangguan untuk Sada." Lagi-lagi ibu Dahlia pada pemikiran kolotnya.


"Bu, maaf, tapi cukup seperti ini saja. Tidak usah pakai yang lain lagi. Kasihan Sada di jejali ini itu." Danu angkat bicara.


"Mila dulu juga di buat begitu dan lihat sekarang dia tetap sehat wal Afiat. Maaf bukan ibu mau ikut campur dalam urusan kalian. Tapi apa salahnya di coba dulu."


"Lia, Mila baru saja sampai. Jangan di jejali dengan hal yang membebani pikirannya. Kalau kamu mau bantu Mila dalam mengasuh bayi bisa sering main kesini. Lagian suaminya tamatan sekolah kesehatan pasti lebih paham." Kata Rohim.


Sepulang para tamu termasuk Dahlia dan Rohim, sepasang orangtua baru itu duduk di kamar. Apalagi hujan membasahi kota bunga raflesia tersebut. Mila mengintip di jendela kamar. Posisi kamar di depan memudahkan untuk melihat alam luar. Sesekali melirik kearah box bayi, gadis kecilnya masih tertidur pulas.


Sebuah tangan tiba-tiba melingkar di pinggang Mila. Seperti tahu apa yang di lakukan suaminya, dia memilih diam saja jemari Danu menelisik jenjang lehernya.


"Aku nggak akan minta yang lebih, Mila. Seperti ini saja sudah cukup." bisik Danu menambah rasa sensual dalam diri Mila.


Mila tersenyum kecil. Tubuhnya berbalik sambil merespon buaian suaminya.


"Uda ..." Mila terhenyak saat melihat cairan merah dari hidung suaminya.


Tanpa di duga Mila menarik dagu Danu. Mencium hidung suaminya serta menghisap darah yang keluar.

__ADS_1


__ADS_2