Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 40


__ADS_3

Vika lagi duduk membuka laptop melihat gaun gaun cantik yang akan dia kenakan di pernikahannya nanti. Vika membayangkan dirinya akan menjadi wanita sepadan untuk Ammar.


Akhirnya apa yang dia impikan akan terwujud. Dimana Ammar tetap memilih dirinya ketimbang Mila. Jahat? buat Vika yang dia lakukan sudah benar. Bukankah sejak awal Ammar sudah mencintainya. Bukankah dari awal lelaki itu sudah menyatakan keseriusannya. Hanya saat itu banyak sekali tembok yang menghadangnya.


Salah satunya adalah kehadiran Mila, wanita yang masuk dalam hubungan dia dan Ammar. Padahal dulu dia sudah anggap Mila seperti kakaknya sendiri. Tapi ternyata Mila menusuknya, Mila tahu kalau Ammar dan keluarganya sudah di jodohkan. Sungguh rasanya sakit sekali.


Lamunannya buyar saat deringan telepon menggema di kamarnya. Senyumnya mengembang ketika tahu siapa yang menelepon. Tentu saja dia senang karena di telepon calon suami.


" Assalamualaikum, tumben menelepon. Kangen ya sama aku?" sapa Vika


"Waalaikumsalam, aku mau ngasih tau besok ada etek Rubiah dari Padang mau kesini, kamu mau temani aku jemput nggak? aku pinjam mobil kamu karena mobilku di bawa Ando ke luar kota."


"Lah, kata mama Diana mereka mau datang kamis depan. Kok cepat dari rencana?"


"Etek Rubiah mau cari anaknya yang hilang beberapa tahun yang lalu. Sudah sekitar 25 tahun lah."


"Oh, ya sekalian ajak Fera ya?"


"Fera, Fera ... Mbak dong mulai sekarang dia kakak iparmu" Ammar terdengar tertawa disana, Vika senang dengar amar riang. Karena kemarin kemarin Ammar terlihat menghindari Vika.


Vika kembali melihat photo photo di laptop, matanya tertuju pada photo bersama staf counter sewaktu Mila mau resign dulu. Vika mencoba mengalihkan ke photo lain,tapi kebanyakan photonya ada Mila.


Vika merasa sesak, kenapa harus ada Mila diantara mereka?


Kenapa amar harus benar-benar jatuh cinta pada Mila?


Ah tidak kalo amar benar cinta sama Mila, mungkin sekarang tidak akan ada menunggu hari bahagia ini.


Vika kembali ke tempat tidur, dia ingin mimpi indah saja. Sakit hatinya kalo ingat Mila.


*****


POV Ammar


Aku merebahkan tubuh keatas ranjang. Seketika banyak hal yang aku pikirkan termasuk pernikahanku yang menghitung hari.Sehabis sholat isya aku membuka handphone ada banyak chat dari beberapa teman kuliahku.


Alex chat


(Oi, mar ciyeee besok jadi penganten)


(Makasih bro. Besok datang ya)


(So pasti, bro.congrat yeee)

__ADS_1


(Congratulationnya besok aja, bro)


(Lah, nggak papa, gue mau sekarang. Siapa tau besok nggak sempat ketemu)


(Bisa ea Lo)


Alex menutup chat nya


Tak lama ada chat dari Mila


( Selamat menempuh hidup baru,ya pak Amar. Semoga langgeng sampai kakek nenek)


Aku terdiam sesaat.


Kalian tau reader, rasanya dapat ucapan dari mantan, nyesek banget. Aku nggak munafik kalo rasa itu masih ada untuk Mila. Tapi demi mama, aku ngalah.


Kalian tidak tahu bagaimana rasanya deg degan menuju ijab kabul. Ini yang aku rasakan sekarang.


Sebenarnya kalo mau di flashback lagi, waktu aku mengenalnya, mendekatinya dan akhirnya pacaran mungkin lain lagi ceritanya, tapi perempuan yang akan ku  nikahi besok adalah pilihan orang tuaku. Nggak nyangka kan? Mamaku  ternyata sudah lama menyukai Vika.


Pikir saja di saat kita sedang nyaman dengan seseorang, namun ternyata yang kamu dekati beda dengan kenyataan. Tidak ada jalan keluar untuk masalah ini, salah satu nya harapan kamu adalah orang tuamu.


Saat Vika dan keluarganya mengumumkan acara pertunangan kami, tanpa bicara padaku terlebih dahulu.


Suatu saat kalian akan tahu bagaimana rasanya mengarungi sebuah kehidupan baru dengan sosok yang baru kalian kenal.


Inilah yang kurasakan sekarang. Semoga ini bukan langkah yang salah.


...*****...


Mila duduk di depan kaca. Lama dia memejamkan mata menarik nafas dalam-dalam. Malam ini Danu mengajak nonton di bioskop MEMO. Awalnya dia menolak ajakan Danu. Dia tidak enak belum lama putus dengan Ammar sekarang jalan sama lelaki lain. Takut di kira gampangan.


Tapi ternyata semua yang ada di rumah memaksanya menerima ajakan Danu. Membujuk Mila ternyata butuh proses juga. Karena kekerasan hati gadis itu. Alasannya satu tidak mau terkesan gampangan. Dia juga butuh waktu untuk sendiri.


"Tapi umur kamu bukan waktunya lagi untuk sendiri. Kamu itu sudah kepala 3 Mila. Kalau perempuan di usia kamu belum juga menikah. Nanti kedepannya lebih susah lagi. Beda sama laki-laki, mau muda atau tua tetap masih kuat." kata bude Lia.


"Kok kak Mila belum siap?" suara Sarah muncul depan pintu kamar.


"Ya mau siap bagaimana? aku malas pergi."


Sarah pun mengambil kursi serta mengeluarkan make up-nya. Mila kaget melihat Sarah sudah mengotak-atik wajahnya. Sepanjang Sarah mendandaninya matanya terus di tutup. Dia malu karena usianya sudah tidak cocok lagi berdandan.


Karena body Mila dan Sarah sama. Gadis itu memakaikan dress putih motif bunga. Dress yang panjangnya batas lutut membuat Mila risih. Rambut Mila di blow agar terlihat ikal.

__ADS_1


"Kakak, Sarah tahu apa yang kakak rasakan. Besok Ammar mau menikah. Sarah rasa kakak perlu bahagiakan diri sendiri. Bukan memikirkan Sarah ataupun Lala. Selama ini kami sudah banyak buat kakak menderita."


"Kamu ngomong apa sih, Sarah. Nggak ada yang buat kakak menderita. Semua yang terjadi dalam hidup kakak adalah suratan takdir. Mau tidak mau suka tidak suka itu sudah ada garisnya. sudah ada yang mengatur."


"Kakak besok pergi ke pestanya kak Ammar dan Vika?"


"Enggak. Aku nggak akan datang." jawab Mila tegas.


"Kalau saran Sarah kakak datang saja. Buktikan sama kak Ammar kalau kakak sudah move on. Ajak kak Danu untuk jadi pasangan kakak."


"Tapi kakak tidak diundang, Sarah."


"Siapa bilang? ini undangan kakak ada. Kak Fera yang antarkan. Sudah pokoknya besok kakak datang saja. Kan kami semua dapat undangannya. Jadi besok beramai-ramai datangnya." kata Sarah.


Suara klakson mobil terdengar dari luar. Sudah pasti Danu yang datang. Sarah pun menyelesaikan riasan wajah kakaknya. Mila tampak cantik walaupun dengan make up natural.


"Sarah, kakak malu. Masa pakai baju yang lututnya kelihatan." Kata Mila yang risih dengan pakaian pilihan Sarah.


"Sudah jangan banyak protes. Kasihan kak Danu menunggu. Pokoknya kalau nanti kak Danu nembak kakak harus di terima. Jangan di tolak. Emang kakak mau jadi perawan tua?"


"Lah ngapa bahas tembak menembak sih. Bukannya Danu sekedar ajak nonton saja?" jawab Mila polos.


"Aduh kakak ini nggak peka. Emang dulu sama Ammar gimana? nggak ada yang sweet gitu sampai soal begini saja kakak masih belum paham."


"Lah kan Ammar lebih sering ngapel di rumah."


"Itu tandanya Ammar nggak punya modal buat ajak kakak jalan-jalan. Cowok kayak gitu masih di pertahankan." Gerutu Sarah.


Mila pun keluar dari kamar. Tampak Danu sedang berdiri di dekat mobil Vans miliknya. Lelaki itu berjalan ke arah Mila. Danu terdiam menatap Mila, pesona gadis di depannya membuat dia lupa rencananya.


"Kakaaaak!" suara anak-anak berteriak di dalam mobil.


"Itu .... " Sarah membulatkan matanya.


"Iya, Sarah. Kan di Tapak Paderi ada pasar malam. Jadi anak-anak panti merengek mau lihat pasar malam. Jadi nggak apa-apa kan kalau kita tunda ke MEMO."


"Tidak ada apa-apa, Danu. Aku ajak Lala, ya." Danu mengangguk. Mila memanggil Lala untuk bersiap-siap ikut ke pasar.


"Lala nggak ikut, kak." tolak Lala.


"Loh kenapa? bukannya kamu yang dari kemarin mau ke pasar malam." Lala sebenarnya mau ikut. Tapi saat Mila mengajaknya dari belakang Sarah melototinya. Seakan melarang Lala ikut dengan Mila.


"Lala ngantuk, kak. Kakak saja yang pergi sama kak Danu."

__ADS_1


"Yasudah, kalau begitu kakak pergi juga."


__ADS_2