
"Kalian tidur di kamar Lala saja," kata Mila saat adiknya mengajak tidur bersama.
"Kakak ingat terakhir kita tidur bersama waktu nenek Seruni drop, dalam kamar yang sempit kita mencoba siaga takut nenek kenapa-kenapa,"
"Ya bedalah, Sarah. Itu kita masih pada single. Sekarang kan kita sudah berkeluarga kecuali Lala,"
"Kak Mila kan sedang hamil, jadi kalau nanti ada apa-apa kan kita sudah siaga. Ya kan ponakan onty," Sarah mengelus perut Mila yang sedikit membuncit.
"Sarah, kamu nggak program. Bukan kakak mau julid sih. Cuma kalau kita punya anak yang nggak selisih umurnya seru, bisa rame rumah ini kalau kumpul bocah," Mila membayangkan rumahnya bakal seru kalau banyak anak kecil.
"Ya mau kak, tapi Sarah masih mau fokus kuliah dulu, kalau soal anak bang Anjas juga tidak menuntut, kok,"
"Tapi kayaknya Bu Melani tipe menuntut mantunya cepat kasih cucu. Kayak aku pernah lihat di televisi kalau mantunya nggak kasih cucu, anaknya di suruh nikah lagi. Eh, pas nikah lagi bini keduanya hamil, Istri pertama di buang," Mila dan Sarah bertukar pandang. Bisa-bisa Lala membandingkan dirinya dengan kisah sinetron.
"Wah, La. Kalau kakak di posisi itu nggak akan biarkan bang Anjas nikah lagi. Apalagi sama mama Melani, akan aku buat dia nggak banyak tingkah," ucap Sarah geram.
"Tapi Bu Melani memperlakukan kamu dengan baik kan?" tanya Mila.
"Baik, Kak," jawab Sarah mantap.
"Yakin, kak," Lala ikut menyahut.
Sarah berusaha memberi kode pada adiknya supaya tidak ceplas-ceplos. Selama sikap Bu Melani masih bisa diatasi. Sarah tak perlu mengadu macam-macam sama keluarganya. Ini rumah tangganya yang harus di hadapi sendiri.
Sejak dia di bawa pulang ke rumah ibu mertuanya. Sarah bertekad memperbaiki diri. Tidak mudah memang, apalagi Bu Melani masih menganggapnya musuh. Sarah masih mencari taktik untuk meluluhkan hati mertuanya. Mencoba sok asik bukan solusi yang tepat. Sudah mencoba bersikap lunak juga belum membuahkan hasil. Seperti ada yang bilang orang sabar di sayang Allah.
"La, kakak minta kamu jangan cerita macam-macam soal mama Melani," bisik Sarah.
"Kenapa? kakak pernah nangis waktu bu Melani memuji perempuan lain," Lala ikut berbisik.
"Pokoknya kamu diam, itu urusan kakak," Lala mengangguk kecil.
"Kak Sarah temani kak Mila dulu. Lala mau ambil ambal yang di kamar," Lala berdiri meninggalkan kamar Mila. Tak berapa lama dia pun sudah masuk kembali membawa ambal bermotif Spiderman.
"Ini kamu yang beli, La. Kok motifnya Spiderman? setahu kakak kamu suka Doraemon,"
"Ini bawaan ayah dari Lampung, kak. Katanya di mess tempat kak Anjas sudah ada kasur,"
"Kenapa kita nggak tidur diatas bareng kak Mila saja?" tanya Sarah.
__ADS_1
"Ish, kakak ini. Kak Mila lagi hamil dia perlu tempat yang luas untuk istirahat," sergah Lala.
"Ih, kok kamu pintar banget sih, dek," Sarah mencubit hidung Lala.
"Lah, iya dong. Siapa dulu Sahila gitu looo..." Mila hanya tertawa kecil melihat keseruan adik-adiknya.
"Sudah kalian istirahat saja, ini sudah malam. Bukankah Lala besok sekolah, dan Sarah pasti mau kuliah,"
"Kami sudah libur sampai tanggal 3 kak," jawab Lala.
"Paling tidak besok kita harus sahur, kan. Kalian istirahat supaya pas bangun kita sudah fit," kata Mila.
Tak berapa lama Sarah dan Lala sudah terbang ke alam mimpi. Mila memandang kedua adiknya secara bergantian. Senyum mengembang di bibir manisnya. Tak terasa adik-adiknya sudah beranjak dewasa. Sarah sudah menikah dan Lala sudah memasuki remaja.
Mila keluar dari kamar karena belum merasa mengantuk. Netranya beralih pada photo di nakas ruang tamu. Photo berwarna hitam putih, dengan rambut bergelombang versi zaman dulu. Di wajah itu tampak tersenyum seakan memang ada ketulusan di dalam diri wanita di photo.
Itulah ibu Aminah, perempuan yang membesarkan tanpa membedakan mana anak kandung dan anak tiri. Kalau dari cerita yang dia dapat, statusnya memang anak tiri. Karena ibu Dahlia bukan anak kandung nenek Seruni.
Bu, apa kabar?
Mila kangen sama ibu, sama sifat dan kesabaran ibu.
Bu, sekarang Mila sudah tahu siapa orangtua kandungku. Tapi entah kenapa kasih sayang ibu Dahlia dan ibu Aminah sangat terasa beda.
Tapi belum bisa menggantikan kasih sayang ibu sama aku. Mungkin aku saja yang belum terbiasa dengan ibu Dahlia.
Ibu lihat diatas sana, Lala sudah remaja.
Gadis kecil yang sering merengek sama ibu.
ibu ingat saat aku dan Lala rebutan satu kamar dengan ibu. Bahkan saat itu kita malah tidur bertiga dalam satu kasur. Lucunya Lala mau tidur di tengah biar bisa meluk ibu.
Sekarang dia sudah besar, sudah 14 tahun. Bukan Lala yang suka merengek lagi. Bukan Lala yang pulang sekolah menangis kalau ada yang merusak barangnya.
Mila menyeka air matanya. Sungguh dia sangat merindukan ibu Aminah. Ibu terbaik sepanjang hidupnya, ibu yang tidak pernah marah atau kasar pada anaknya.
Mila merasa handphonenya bergetar, dia berlari masuk ke kamar. Ternyata suaminya yang meneleponnya.
"Assalamualaikum, sayang," sapa suara bariton dari ujung sana.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Uda. Bagaimana kondisi ayah?"
"Masih seperti itu, belum ada peningkatan. Kamu kok belum tidur, ini sudah malam, Lo."
"Belum ngantuk," jawab Mila.
"Kok sama, dasar jodoh!" suara tertawa dari Danu mampu menghibur hatinya.
"Ingat jangan di forsir. Uda juga harus jaga kesehatan,"
"Tenang saja ada Anjas dan Rudi yang menemani. Bisa gantian, paling tidak aku bisa tidur nyenyak kalau sudah dengar suara kamu," wajah Mila memerah hanya karena ucapan suaminya.
"Sudah dengarkan suaraku, sekarang istirahat dulu,ya. Jaga kesehatan kamu sayang, kalau kamu kuat itu sudah jadi semangat aku dan anak kita,"
"Sejuknya, andai ucapan itu di depan mata sudah pasti, ..."
"Ingat ini masih ramadhan," Mila memotong ucapan suaminya.
"Yah, kamu malah ingatin soal Ramadhan. Tadi Bu Nurmala menelpon, dia mengundang kita buka bersama untuk penutupan Ramadhan lusa," kata Danu.
"Kalau ayah sudah mendingan, aku pasti kesana,"
"Sama Wisnu ngabarin kalau Ammar siap melakukan operasi donor sumsum tulang belakang,"
"Wah, banyak laporan kayaknya," sekali menelepon banyak yang di laporkan pada suaminya.
Di rumah sakit, Danu baru saja selesai menelepon istrinya. Sekedar melepas rindu pada istrinya. Langkah kakinya berjalan pelan-pelan menuju ruang rawat ayah mertuanya. Tak jauh dari posisi dirinya suara ambulan memasuki halaman rumah sakit. Beberapa petugas rumah sakit berlari sambil membawa brankar. Tak hanya itu salah satu dokter pun ikut para petugas medis.
"Maaf, itu ada apa?" tanya Danu pada petugas kesehatan yang lain.
"Itu ada salah satu pejabat kota, katanya drop karena sakit kanker,"
Kanker? sebulan ini dia sempat melupakan kalau dia sudah termasuk penderita kanker. Begitu banyak hal membuat dia bersyukur di kelilingi orang-orang yang menyayanginya.
Justru, memikirkan kematian memberikan kesan bahwa hidup ini adalah sesuatu hal yang harus disyukuri. Danu setidaknya tahu kalau masa itu akan datang. Melihat kesigapan ibunya dalam menunjang pengobatan. Dia punya dua ibu yang sayang padanya, ah iya jangan lupa dia punya ibu mertua yang sayang padanya. Dia punya istri yang selalu memberinya semangat.
Karena, seperti fakta dari kematian yang pasti akan dirasakan oleh semua orang, hidup yang berharga ini suatu hari akan selesai dan ditutup dengan kematian. Maka dari itu, memikirkan kematian tergolong hal penting agar kita bisa lebih memberikan arti dari hidup yang kita jalani saat ini.
Langkah kaki Danu terhenti saat obatnya di baca oleh Rudi. Dengan cepat dia mengambil obat dan memasukkan ke dalam tas nya.
__ADS_1
"Itu sama dengan obat yang di pakai pakde ku dulu. Dulu waktu SMP aku sering di suruh bolak-balik ke apotik rumah sakit untuk sakit leukimia.
Apa kak Danu juga penderita leukimia?"