Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 129


__ADS_3

Muhasabah adalah salah satu cara untuk memperbaiki hati, melatih, menyucikan, dan membersihkannya. Dalam Islam, faktor utama yang menyebabkan seseorang mau melakukan muhasabah adalah keimanan dan keyakinan bahwa Allah SWT akan menghitung amal semua hamba-Nya.


Jika amalannya baik, maka Allah SWT akan memberikan balasan yang baik pula. Sebaliknya jika amalannya buruk, maka ia akan mendapatkan balasan yang buruk pula.


Muhasabah biasanya dilakukan pada malam hari sebelum kita beristirahat, yaitu dengan mengoreksi segala sikap, perbuatan, maupun kesalahan diri di sepanjang hari itu. Hal ini dimaksudkan supaya kesalahan itu tidak terulang lagi di kemudian hari dan bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


Tuhan tidak menjanjikan hari-hari tanpa kesedihan, tawa tanpa sedih, panas tanpa hujan, tetapi Tuhan menjanjikan kekuatan untuk menghadapi hari hari yang sulit, hiburan untuk tangisan, dan petunjuk untuk menjalani kehidupan.


Kesedihan dan kebahagiaan merupakan dua hal yang bertolak belakang. Namun, kedua kata ini juga merupakan perasaan-perasaan yang pasti akan dialami dan dilalui oleh seorang manusia. Respons seseorang terhadap perasaan tersebut tentunya akan berbeda-beda, tergantung pengalaman yang telah dilaluinya.


Mila keluar dari kamar bersama Danu. Di rasa kondisinya sudah lumayan setelah minum obat. Mereka mendapati semua keluarga berkumpul di ruang tamu. Mila yakin kalau ibu Dahlia masih penasaran dan menuntut cerita yang sebenarnya.


"Uda, sepertinya kita harus cerita yang sebenarnya. Tentang kondisi kamu saat ini," ucap Mila lirih.


"Iya," jawab Danu singkat.


Mereka duduk di tengah keluarga besar. Mila sudah deg-degan menunggu penjelasan dari suaminya. Berharap tidak ada yang marah setelah ini. Tangan Mila menggenggam erat dalam jemari suaminya. Seakan dia ingin bilang "Kamu bisa, Sayang!"


"Ibu, Ayah, dan Tulang Boro," Danu belum menyelesaikan ucapannya. Dia menarik nafas dalam-dalam, sesaat menoleh kearah istrinya. Mila mengangguk seakan mempersilahkan Danu melanjutkan ucapannya.


"Assalamualaikum, Ayah Rohim, Ibu Dahlia dan Tulang Boro. Saya tahu kalian menunggu penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi sama kami berdua. Terutama pada kondisi saya saat ini. Seperti mungkin ibu Dahlia dengar dari ibu Rubiah, saya menderita kanker darah sejak kecil. Ajaib memang seharusnya sejak kecil saya sudah meninggal dunia, karena yang saya tahu anak kecil lebih rentan terkena penyakit.


Tapi Alhamdulillah Tuhan maha baik. Dia pun memberi saya kekuatan untuk bangkit melalui uluran tangan orangtua angkat saya almarhum bapak Aliong. Dia membawa saya pengobatan medis dan non medis, kalau tidak saya tidak akan berdiri di hadapan kalian,"

__ADS_1


"Ya Allah, Nak Danu. Kenapa tidak cerita sama kami? paling tidak kami bisa bantu pengobatan semampunya. Kamu sudah banyak membantu keluarga kami semasa ibu Seruni masih ada," kata Tulang Boro.


"Saya minta maaf kalau baru cerita sekarang, Ayah, ibu dan Tulang," Danu masih menundukkan kepalanya.


"Maaf, Danu. Saya tahu kamu lagi sakit, saya paham kondisi kamu sedang tidak baik-baik saja. Yang saya lihat selama ini, Mila kurang memperhatikan dirinya sendiri. Apalagi soal asupan kehamilannya. Sekarang saya tahu, anak saya seperti ini karena sibuk mengurusi kamu. Bagaimana semestinya ibu hamil bisa memanjakan diri. Bergantung pada suaminya tapi yang saya lihat kamu yang bersandar pada Mila,"


"Bu, tidak seperti itu!" bantah Mila.


"Tidak bagaimana? seharusnya suami kamu menjadi pengayom dalam rumah tangga. Seharusnya kamu di perhatikan sama dia, bukan kamu yang mengurusi sakitnya itu," Dahlia menampakkan kekesalannya pada Danu.


"Lia, kamu tidak perlu bicara seperti itu. Danu sudah cukup baik menjadi suami Mila. Sudah kewajiban istri mengurusi suaminya," Bela ayah Rohim.


"Tapi, Rohim, apa kamu lihat ini bukan pertama kalinya Danu drop dan Mila di repotkan. Iya saya tahu kewajiban istri mengurus suaminya. Tapi apa sampai tidak memperhatikan dirinya sendiri, bahkan aku belum pernah lihat Mila memeriksakan kehamilannya.


Tidakkah kamu lihat bagaimana mertuanya memperlakukan Mila tadi. Anakku di hina sama wanita itu. Padahal sudah syukur Mila masih mau sama anaknya!" Dahlia mengambil tas dan keluar dari rumah nenek Seruni.


Apakah suaminya kurang memberikan perhatian?Tidak. Dia tidak pernah kurang kasih sayang dari Danu. Dia juga tidak pernah kurang perhatian dari orang-orang terdekat. Hanya pandangan orang yang tidak tahu seperti pemikiran ibu Dahlia.


"Ibu cuma tidak ingin kamu menderita lagi, Mila. Ibu baru tahu ternyata mertua kamu seperti itu. Sakit hati ibu melihat anaknya akan di pisahkan sama suaminya. Sakit hati ibu ketika ucapan wanita itu seperti kamu murahan,"


"Bu, maafkan ucapan ibuku tadi," jawab Danu hanya menundukkan kepalanya. Dia juga merasa bersalah atas semua yang terjadi tadi. Entah apa yang di pikirkan ibunya saat itu. Yang pasti Danu juga ingin membahagiakan Mila.


"Aku tidak pernah menderita, Bu. Suamiku memperlakukan aku sangat baik. Tidak pernah kasar ataupun menyakiti perasaanku. Kalau soal ibu Rubiah itu memang perlu waktu. Tidak semua orang suka dengan kita,Bu. Tidak semua orang sejalan dengan pemikiran kita. Jadi pelan tapi pasti ibu Rubiah akan melunakkan hatinya,"

__ADS_1


Dahlia akhirnya kembali ikut masuk ke rumah. Di dampingi Mila. Mereka pun duduk di ruang tamu. Ayah Rohim menanyakan apa yang akan mereka lakukan ke depannya. Mengingat kandungan Mila semakin besar.


"Jadi apa rencana kalian?" tanya ayah Rohim.


"Uda, Danu. Ikut ibu Rubiah berobat ke Padang," Jawab Mila.


"Kamu itu?" Mila menggeleng. Dia ingin sekali ikut tapi seperti kata ibu mertuanya, Danu tidak akan konsen kalau Mila di ikut sertakan.


"Aku hanya bisa berdoa supaya Uda bisa pulang dengan selamat. Supaya bisa berkumpul dengan aku dan anakku, itu saja," jawab Mila.


"Mila duduklah dekat ibu,"


Mila pun duduk di samping ibu Dahlia.


"Sudah berapa lama kamu tahu penyakit suamimu?" tanya Dahlia.


"Sudah sejak aku awal hamil,Bu,"


"Jadi kamu sudah lama tahu, kenapa tidak cerita sama kami. Kalau alasannya takut kami khawatir, justru kami lebih khawatir sama kamu, Mila,"


"Maafkan Mila dan Danu,Bu. Seperti yang ibu kata tadi, kami takut merepotkan kalian,"


Setelah sidang dadakan rumah Mila kembali sepi. Beberapa hari ini Lala sering menginap di rumah Fera. Karena ada Intan teman mainnya. Wanita itu langsung mengajak suaminya istirahat di kamar. Sambil membicarakan soal kemoterapi di rumah sakit Padang.

__ADS_1


"Aku harap kamu pikirkan lagi keputusan tadi, Mila," Ia menggeleng. Keputusannya sudah bulat, dia rela jauh dari suaminya demi kesembuhan.


"Demi aku dan anak kita. Tolong turuti permintaan aku sekali ini saja,"


__ADS_2