
Memiliki anak merupakan harapan bagi kebanyakan suami istri. Bayi adalah pelita hidup bagi keluarga. Buah hati merupakan karunia luar biasa yang diberikan oleh Tuhan dan harus selalu disyukuri.Tak heran ketika bayi lahir, banyak yang memberikan harapan baik untuknya, tidak hanya dari orang tua, tetapi juga dari orang yang menyayanginya.
"Ibu, cucu cantik mu sudah lahir. Dia sangat cantik sama seperti ibunya." kata Danu melalui video call pada ibu Rubiah.
"Ya Allah, cucu-ku. Dia sangat cantik." Rubiah menatap sosok mungil yang masih memejamkan matanya.
"Siapa namanya, Danu?"
"Namanya Sada Camellia. Sada gabungan antara nama ku dan Mila. Camellia artinya anak rajin dan ulet. Semoga dia akan jadi anak berguna di masa yang akan datang." kata Danu.
"Bagaimana keadaan Mila? apa dia belum juga sadar dari tidurnya. Ini sudah masuk hari kedua kan, Nak?" Danu mengalihkan video call kearah pembaringan istrinya.
Sirat wajahnya berubah seketika. Wanita yang selama ini menjadi penguat dirinya kini malah tertidur pulas setelah melahirkan. Menurut dokter tidak ada masalah dalam kondisi tubuhnya.
"Tapi kenapa istri saya belum juga sadar, Dok?" tanya Danu.
"Itu yang masih saya cari tahu penyebabnya. Seperti dia berada di bawah alam sadarnya. Saya harap kamu harus sabar, Danu." kata dokter Ramlan.
Danu menarik kerah baju dokter. Seakan ada emosi yang ingin dia luapkan. Kalau saja dokter Ramlan tidak menunda operasi Mila saat itu, mungkin nasib Mila tidak akan seperti ini. Tatapannya tajam menyala.
"Kalau anda kemarin tidak menunda operasi istri saya semalam. Kalau anda tidak mementingkan administrasi daripada keselamatan istri saya, mungkin dia sudah sadar sekarang! jika ada apa-apa sama Mila, anda orang yang akan saya tuntut!" amuk Danu.
Dokter Ramlan tidak terlalu menggubris apa yang di ucapkan Danu. Dia hanya menjalankan prosedur dari rumah sakit. Kalaupun terjadi sesuatu pada pasiennya bukankah sudah garis takdirnya.
"Kalau tidak salah istri anda pingsan di pantai kan? saya mau nanya kenapa dia bisa pingsan. Apa anda sebagai suaminya kurang siaga? jadi jika terjadi sesuatu pada istri anda bukan salah saya. Dia sampai kami langsung menangani walaupun terkendala sama masalah admin."
Danu melepaskan cengkraman tangannya dari jas dokter milik Ramlan. Tubuhnya merosot ke dinding. Beberapa kali mengacak rambutnya. Bara amarah kini berganti rasa bersalah. Dia menyadari apa yang terjadi pada Mila adalah andilnya juga. Kata andai demi andai tidak akan mengembalikan waktu. Suara sesenggukan terdengar di bibir lelaki itu.
__ADS_1
"Dulu waktu kamu sering tidak sadarkan diri. Bahkan bolak balik menginap di rumah sakit. Mila tetap memprioritaskan suaminya, mengenyampingkan urusan dirinya. Kadang sambil menunggu kamu kemoterapi, dia datang periksa kehamilan tanpa dampingan suami. Dia kuat dan tegar. Dan sekarang keadaannya berbalik. Mila sedang di ambang antara hidup dan mati. Tapi apa kamu tahu? bagi dia yang penting anaknya selamat. Harapan dia juga kamu bisa melewati semua ini." Kata Fera.
"Jadi apakah aku ini beban buat Mila?" tanya Danu.
"Kalau kamu merasa seperti itu sama saja tidak menghargai pengorbanan yang di lakukan Mila. Kalau dia bisa ikhlas menjalani semua ini, kenapa kamu tidak bisa seperti itu? kenapa kamu seakan menyerah atas apa yang terjadi sama Mila." kata Fera.
Mereka sudah sampai di kamar rawat Mila. Danu mengambil kursi untuk duduk di samping ranjang Istrinya. Sesekali mengurutkan tangan Mila, mengusap rambut wanita yang sudah memberinya keturunan.
"Mila, sayangku. Bangun, dong. Apa kamu tidak ingin melihat Sada, anak kita. Dia cantik persis seperti kamu. Dia terus menangis seakan ingin di dekat ibunya."
Danu menekuk wajahnya di balik lipatan tangannya. Sesekali memandang tubuh yang masih terbaring lemah di brankar pasien. Ini hari kedua setelah melahirkan Mila belum menunjukkan tanda akan sadar. Sementara Sada di letakkan di box bayi rumah sakit satu ruangan dengan Mila.
Suasana di kamar rawat begitu hening. Ibu Dahlia dan ibu Nurmala bergantian menjaga Mila. Sedangkan Lala dan Intan membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
"Bagaimana keadaan Mila?" tanya Vika saat baru sampai di rumah sakit.
"Kak Danu yang sabar, ya. Mila itu kuat orangnya. Aku kenal Mila sejak kami satu kerja di counternya kak Ammar. Dia pekerja keras." kata Vika menguatkan Danu.
"Kamu sama siapa kesini, Vika?" tanya ibu Dahlia.
"Sendiri, Bude. Aku sebenarnya kabur dari acara yang mau diadakan mama."
"Kabur kenapa, Nak?" Ibu Dahlia menuntun keponakannya untuk duduk.
"Mama mau jodohkan aku sama temannya. Duda tapi sudah punya cucu. Katanya menjamin hidup aku nantinya." wajah Vika memperlihatkan kekecewaannya pada sang mama.
"Ida .. Ida .. dari dulu dia nggak berubah. Masih mementingkan materi daripada psikis anaknya." ibu Dahlia mengurutkan dadanya.
__ADS_1
Belum lekang dalam ingatan saat suaminya masih ada. Ida saat itu belum menikah. Sedang dekat dengan seorang pria. Tentu sebagai kakak, dia ingin tahu seperti apa calon adiknya.
Pertemuan pertama saat itu lumayan tegang. Dimana pasangan Ida ternyata lebih tua dari ayahnya Fera. Bahkan lebih cocok sebagai anak dan ayah. Tentu saja di tentang oleh kakaknya.
Setelah beberapa bulan mereka nekat menikah karena sudah mengandung lima bulan. Tapi bukan Vika yang berada di rahim Ida saat itu. Ada calon anak berjenis kelamin laki-laki. Sayangnya anak itu meninggal dalam kandungan saat usia delapan bulan.
Sebelum menikah, Ida harus menunggu kekasihnya mengurus perceraian terlebih dahulu. Tentu karena Ida sudah hamil dan sempat di larang menikah dengan istri pertama suaminya.
Di masa sekarang, Vika duduk di samping Mila. Memegang jemari perempuan yang pernah dia sakiti di masa lalu.
"Mila, kamu apa kabar? aku sudah lihat anakmu dia cantik sekali. Wajahnya teduh sama seperti kamu. Ayo bangun, Mila. Kita kumpul bersama lagi, jalan bareng makan es tebu di simpang jalan kebun geran. Terus makan bakso di Simpang Lima. Aku kangen masa itu, dimana seorang Mila sering traktir aku." Vika mengusap jemari Mila.
Danu melihat Sada sudah menggeliat. Tandanya anak mereka akan bangun. Lelaki itu menggendong putrinya. lalu mendekatkan dengan Mila.
"Bunda, bangun dong. Main sama aku." Danu menirukan suara anak kecil.
Danu mengecup kening anak dan istrinya secara bergantian. Tangannya mengusap rambut Mila.
"Uda," suara itu pelan tapi melemah. Danu mencoba menajamkan pendengarannya.
"Uda," suara itu kembali berulang.
"Alhamdulillah." Danu berucap penuh syukur.
Fera yang melihat hal itu langsung berlari keluar untuk mencari dokter.
Tak berapa lama, dokter datang mengecek keadaan Mila. Setelah di periksa dokter menyampaikan keadaan Mila.
__ADS_1
"Alhamdulillah ibu Mila sudah sadar. Anda sudah dua hari setelah melahirkan."