
Allāhumma rabban nāsi, adzhibil ba’sa. Isyfi. Antas syāfi. Lā syāfiya illā anta syifā’an lā yughādiru saqaman.Artinya,
“Tuhanku, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit. Berikanlah kesembuhan karena Kau adalah penyembuh. Tiada yang dapat menyembuhkan penyakit kecuali Kau dengan kesembuhan yang tidak menyisakan rasa nyeri,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 113).
Danu terbangun di sepertiga malam. Matanya tak bisa di pejamkan, tak ada pusing ataupun gejala tubuhnya yang lemas. Terduduk di samping sang istri yang masih terbuai dengan dunia mimpi. Sengaja dia tidak membangunkan Mila. Karena istrinya masih palang merah. Sebagai suami dia harus menghargai kondisi istrinya saat ini.
Lelaki itu bangkit dari peraduan malamnya. Berjalan menuju kamar mandi. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat pagi. Dia akan melakukan shalat tahajud untuk menghilangkan rasa gelisahnya.
"Assalamualaikum ... Assalamualaikum .." ucapan salam sebagai penutup sholat malam.
Danu memandang kearah sang istri yang masih terlelap. Wajah teduh yang membuatnya jatuh cinta. Di tambah dengan sikap Mila yang kadang posesif kalau dia lambat pulang dari kerja.
"Aku minta maaf kalau belum bisa cerita soal keadaanku yang sekarang. Soal penyakitku yang sewaktu-waktu memisahkan kita.
Bukan karena aku tidak mau jujur sama kamu. Tapi aku tidak mau kalau keadaanku akan menambah beban pikiranmu. Aku mau menjadi sosok yang memberimu kebahagiaan sepanjang hidupku. Jika aku pergi hanya kenangan yang indah bisa aku berikan sama kamu.
Biarkan aku membuat bingkai cinta untuk kamu, Sarmila. Biarkan aku memberikan satu hadiah sebelum aku pergi yaitu anak. Nanti kamu tidak akan kesepian." Danu mendekati Mila hendak mengecup keningnya. Namun belum sampai di mendarat dahi istrinya suara adzan subuh sudah berkumandang.
Danu kembali berdiri diatas sajadah. Melakukan sholat sunat dia rakaat. Sebelum nantinya dilanjutkan dengan sholat subuh.
"Mas," suara lirih Mila terdengar setelah Danu sholat subuh.
"Sayang, kamu kalau masih mau istirahat tidak apa lanjutkan saja." Danu menahan Mila ketika hendak bangkit dari tempat tidur.
"Kamu ini, Mas. Kayak aku orang sakit saja. Lagian aku mau cuci muka sekaligus menyiapkan sarapan untuk kamu dan Lala. Kata Wisnu Lala sudah bisa sekolah hari ini.
Oh ya, Mas bagaimana dengan hasil ke sekolah semalam?"
__ADS_1
Danu menundukkan kepalanya. Dia merasa tidak enak kalau ternyata korban Puput adalah Lala. Itu yang dia dapatkan saat salah satu teman main Puput terpaksa menjelaskan yang sebenarnya.
Flashback on
Danu sampai di sekolah tempat Puput belajar. Lelaki itu mengayunkan tungkainya ke halaman sekolah menengah pertama yang terkenal favorit di kota Bengkulu. Di sambut ramahnya wali kelas yang pak Aris Sunandar. Danu mengenal Aris sebagai teman SMA nya dulu.
"Jadi kamu wali nya, Puput? aku baru tahu kalau kamu ayahnya Puput."
"Bukan. Puput itu adikku. Aku punya dua adik yang sekolah disini. Puput dan Sahila."
"Sahila? Lala maksud kamu?" Danu mengangguk.
"Setahu aku Lala itu kakaknya perempuan semua. Adik darimana, Danu?"
"Adik Istriku. Kakaknya yang paling tua." Danu dan Aris masih asyik berbicara di tengah teriknya sinar matahari. Apalagi mereka berdiri di pinggir lapangan basket.
Aris mengajak Danu berbicara di ruang guru. Soal aduan dari salah satu murid yang membawa Lala ke UKS. Aris meminta sang siswa datang ke ruang guru terkait kasus yang di lakukan Puput.
"Ini namanya Carla. Dia yang bawa salah satu siswa yang pingsan setelah memakan makanan yang Puput bagikan. Anehnya kami teman yang lain baik-baik saja. Hanya satu yang pingsan. Tadinya kami pikir Lala hanya sedang kurang sehat saja. Namun, semalam Carla mengaku kalau dia yang memasukkan nugget rasa udang. Itu katanya di suruh Puput."
Danu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan adiknya. Dia pun kaget karena adiknya yang buat Lala masuk rumah sakit.
Flashback off
"Aku minta maaf atas yang dilakukan adikku sama Lala. Orang yang sudah buat Lala drop adalah Puput adik panti ku."
"Alasannya?" Masih dengan nada sabar dia menunggu cerita suaminya.
__ADS_1
"Lala terpilih ketua tim basket dan juga voli di sekolahnya. Puput sepertinya merasa tersaingi. Dia dari dulu memang suka bikin masalah. Ibu kadang kewalahan di buatnya."
"Sepertinya Puput itu sedang cari perhatian makanya dia begitu. Coba deh kamu bicara dari hati ke hati."
Danu mengingat selama ini mereka di panti sudah memberikan perhatian terbaik untuk Puput. Selama ini Danu tahunya ibunya masih sabar menghadapi Puput yang lumayan bandel.
Ada kalanya perilaku mencari perhatian yang dilakukan anak-anak masih tergolong normal dan bisa dikendalikan. Namun, ada pula saat-saat di mana perilaku mencari perhatian anak ini sudah tergolong negatif dan sulit untuk di tenangkan lagi.
Seperti misalnya Membuat ulah atau memunculkan drama di rumah atau di tempat umum. Bisa juga Menimbulkan kerugian untuk orang lain.
"Dan anak seperti Puput perlu di dekati dengan kepala dingin. Sama kayak Sarah dulu, Waktu SMP dia pernah bolos karena mau nonton pensi di kampus UNIB. Ibu sampai kewalahan, nenek malah membela Sarah, Dan ..." Mila belum sempat melanjutkan ucapannya. Danu langsung menyela.
"Dan itulah yang buat Sarah jadi besar kepala seperti sekarang." tambah Danu.
"Aku minta maaf atas sikap Sarah semalam. Kadang karena tanggung jawabku sebagai kakak. Jadi terkesan memanjakan dia."
"Dan aku minta kamu jangan mau masak buat Sarah lagi. Biar dia belajar melayani suaminya sendiri. Aku nggak ikhlas kalau Anjas di manjakan dengan masakan kamu."
"Kamu cemburu sama Anjas?"
"Jujur iya, setelah aku tahu dia mantan kamu. Saat waktu dia di rumah ini yang paling hapal dengan ciri khas masakan kamu. Emangnya kamu sering masakin dia waktu dulu." Mila mengangguk.
"Dia bahkan sering makan disini sepulang kerja. Nungguin aku dan ibu masak di dapur. Anjas itu sama kayak kamu, Mas. Dia orangnya sabar. Nggak pernah marah. Dan ..."
"Dan apa?" Danu mengalungkan tangannya di pinggang istrinya.
"Dan tidak usah di bahas lagi soal itu. Sudah berlalu dan sekarang kamu yang sudah jadi masa depanku." Keduanya saling melempar senyum.
__ADS_1
Jari jemari Danu pun menelisik helaian rambut istrinya. Mendaratkan ciuman kecil pada bibir ranum istrinya.