
POV MILA
Enam bulan kemudian
"Mila!Mila! Bangun!" vika membangunkan aku, dengan malas aku bangun.
"Apa sih ka?"Jawabku
"Dari tadi pak Amar ngeliat kamu tidur, ntar kena SP lagi." Bisik Vika
Aku celingukan melihat mata pak Amar yang dingin itu, pak amar langsung masuk ke ruangan sambil menunjuk untuk ikut ke ruangannya.
"Tuh, kan apa kubilang, lu sih tidur pas jam kerja." Omelnya
"Maaf, Vika. Aku tadi malam bantuan Tika bikin tugasnya."
"Tika anak ibu kost mu itu."
Aku mengangguk, Tika baru berusia 10 tahun. Dia sering banget minta tolong ajarin tugas tentang komputer. Aku sedikit paham kalo soal komputer karena dulunya aku SMK ngambil multimedia. Walaupun nggak tamat. Tapi jadilah ada yang melekat di otakku.
Kalau lihat Tika aku jadi ingat Lala yang sering minta tolong koreksi tugasnya walaupun kalo urusan otak lebih pintar Sarah daripada aku. Tapi Sarah dasarnya tidak sabaran, jadi Tika lebih betah belajar sama aku daripada Sarah.
Semenjak ibu meninggal aku tinggal di rumah Ayuk Maida. Selama 6 bulan sekaligus ikut kursus yang pernah dijanjikannya. Lala dan Sarah tinggal sama nenek. Sakit hatiku menjadi-jadi saat nenek menjual rumah peninggalan Ayah. Rumah yang kami tempati selama ini. Dia bilang itu belum cukup dengan uang di bawa kabur ayah bersama selingkuhannya.
Sebenci itukah nenek pada ayah!
Aku pulang ke rumah setelah sebenarnya tidak merantau sih, masih sekitaran kota Bengkulu. Aku menginap di rumah Eva yang beda gang dari rumah nenek. Eva tinggal jalan Merawan sedangkan rumah nenekku di Sepakat 1
Aku bersama Eva berdiri di depan rumah nenek, kulihat Lala sedang mencuci baju, sedih juga ngeliatnya selama ini Lala belum pernah kerja seberat itu, cuma aku dan ibu yang biasa nyuci baju dan piring di rumah.
"Lala?" Ku panggil bungsuku
"Kak Mila!"
Nenek mana? Kok kamu kerja sendiri emang Sarah nggak bantuin"
"Lo bukannya kak Sarah tinggal ma kakak. Dia bilang mau cari kakak sambil cari kerja." Kata Lala
"Kenapa kamu kesini, mau bawa cucuku juga. Setelah kamu pengaruhi Sarah untuk ikut tinggal denganmu." Suara nenek tiba tiba mengagetkan kami.
"Mereka adikku! Katanya nenek sayang sama mereka tapi kenapa Lala di suruh kerja berat!"
"Kakak Lala ikut kakak saja, Lala tidak betah disini!" Rengek Lala
Aku memeluk Lala "Nanti kakak akan bawa Lala, tapi tidak sekarang."
"Aku mendidiknya supaya jadi perempuan serba bisa dan tidak manja. Kalian terlalu memanjakannya sehingga dia tidak bisa apa-apa!" Kata nenek
__ADS_1
Kulihat muka manja Lala, ada rasa takut yang menyelimuti wajah bungsuku ini. Ada rasa bersalah meninggalkan anak itu di lingkungan nenek yang keras.
****
Hari ini sedang libur. Mila meluangkan waktunya untuk membereskan kamar kostnya. Sejak kedua adiknya tinggal bersama neneknya. Mila diminta untuk tidak ikut bersama mereka. Sejak tinggal sama nenek sikap Sarah berubah. Bukan lagi Sarah yang nurut sama Mila. Dia lebih mendengarkan neneknya.
Mila memilih mengambil kost di daerah Suprapto. Selain harganya terbilang cukup murah. Lokasinya tak jauh dari tempat Mila kerja yaitu counter handphone yang bernama AMMAR CELL. Bos nya yang bernama Amar Nur Zidan, termasuk pelit bicara. Tapi kalau sekali ngomong, ucapannya nyelekit.
"Milaaaaa! Ada telepon untukmu." Suara mbak Ina memanggil dari ruang depan
"Dari mana mbak"
"Katanya teman kecilmu"
"Halo, Eva!"
"Masih kau ingat dengan aku" suara logat Bataknya masih sama.
"Masihlah. Ada apa?"
"Bisa kita ketemu, tak rindu kau dengan aku"
"Boleh boleh, sekarang dimana?".
"Aku di Bengkulu Indah Mall, kamu dimana?
" Aku susul ya, jangan kemana-mana, nanti hilang kau bisa diamuk aku sama Tulang Boro."
Kebetulan weekend, tadinya Vika mau mengajak dirinya jalan jalan ke mall. Berhubung bokek jadi Mila tolak ajakan Vika.
Mila pergi ke Bengkulu Indah Mall atau yang di sebut BIM. Karena sudah terlanjur janji sama Eva. Eva adalah teman dekat Mila semasa kecil. Tulang boro termasuk keluarga terdekat Mila. Hanya Tulang boro yang tahu seluk beluk keluarga Mila.
Mila dan Eva akhirnya bertemu. Eva bercerita tentang nenek Seruni yang mengatakan bahwa dirinya anak haram.
"Kau tahu Sarah itu tidak pernah pulang ke rumah. Dia ngekost di Kostan orangtuanya Anjas."
"Terus apa kata nenekku?"
"Tidak tahu. Tiap aku mau bicara sama nenek Tulang selalu melarang. Dia minta kita cuma ikut campur kalau urusannya sama kau."
"Kamu bawa adikmu tinggal denganmu atau kamu pulang ke rumah biar kedua adikmu tidak ikut membencimu." Saran Eva
"Kamu tau kan,Va. Nenek benci aku sejak ayah pergi dari rumah. Di tambah ayah bawa lari uang tabungan ibu selama jadi TKW sebanyak 50 juta."
"Nenekmu itu bukan benci sama ayahmu. Tapi dia ingin supaya dia sepenuhnya memegang uang tabungan ibumu. Sebenarnya uang tabungan ibumu tidak di bawa lari ayahmu" Kata Eva
" Lalu?"
__ADS_1
" Ini" Eva memberikan sebuah buku tabungan berwarna biru
" Darimana kamu dapat" Tanya Mila.
" Tulang Boro yang nyimpan. Coba kamu cek."
"Kata Tulang, beberapa bulan sekali ayahmu mengirimkan uang hasil kerja kerasnya."
90 juta, jadi tabungan ibuku masih ada. Ibu, Aku janji akan gunakan ini untuk sekolah Lala.
Pak Amar memberiku tugas untuk mengecek seberapa pesat penjualan HP di salah satu cabangnya di BIM. Aku dan Amar seumuran tapi karena jabatannya diatas jadi mau nggak mau harus hormat.
Kata teman teman pak Amar masih Single dan sedang mendekati salah satu staf di kantor. Aku tidak perduli, dan itu juga bukan urusanku.
Aku dan Vika mengecek ke mall dari sana kami mengelilingi beberapa pertokoan. Saat di lantai 3 aku seperti melihat seseorang.
ANJAS!
Ya itu Anjas, lelaki yang mencampakkanku, kini di depan mata sedang bersama seorang gadis. Sepertinya wajahnya tidak asing, ku ikuti mereka saat ku lihat mataku rasa tak percaya. Sarah!
Kenapa mereka bisa berdua, bukankah Sarah sudah punya Rudi.
*
*
*
Mila sudah berada di rumah Vika. Vika ternyata dari keluarga cukup mampu. Tapi kenapa dia mau kerja di counter pak Amar? Mila malas ambil pusing. Dia kembali fokus pada tabungan yang di berikan Eva tadi.
"Mau kau apakan tabungan ibumu?" tanya Vika
"Untuk sekolah bungsu ku" jawab Mila
"Adikmu yang kita liat kemarin" tanya Vika lagi
"Bukan. Yang paling kecil"
"Jadi kalian tiga bersaudara"
Mila menceritakan perjalanan hidupnya pada Vika, rekan satu kerjanya. Selama ini Mila sudah sangat percaya sama temannya itu. Apalagi sudah menganggap seperti saudara sendiri.
"Rumit, kayak sinetron ikan terbang"
Hmmm dasar Vika Korban sinetron.
"By the way, coba deketin pak Amar, kalian kan sama-sama Single."
__ADS_1
Nah, mulai lagi, deh, Vika terus terusan nyuruh aku dekatin pak Amar. Dan nanti endingnya malah kayak dulu. No! Aku nggak akan terkecoh lagi.
Aku menatap buku tabungan milik ibu, terbayang di benakku untuk merubah tubuhku agar bisa lebih menarik dari Sarah, ya Allah maafkan aku yang tidak mensyukuri pemberianmu.