
Acara buka bersama di rumah Mila berjalan dengan baik. Beberapa saat setelah pertengkaran Mila dan Ammar, keluarga yang lain datang bergabung. Seperti Dahlia, Rohim, Eva serta Fera dan Intan. Mila terharu dengan kekompakan keluarga besarnya. Ruang tamu di sulap menjadi lantai lesehan. Sewaktu di rumah Eva, Dahlia masak untuk berbuka bersama anak dan menantunya.
Sarah pun ikut membantu berlangsungnya acara. Meskipun dia tidak terfokus pada acara, paling tidak dia tetap bersikap biasa saja.
Netra Sarah beralih pada kemesraan Danu dan Mila. Eva juga mengajak kekasihnya untuk ikut berkumpul. Sementara dirinya, hanya menatap penuh pilu. Bagaimana bisa dalam empat bulan dia menikah berakhir jadi janda. Bahkan suaminya tidak memberinya kesempatan untuk berbenah diri.
Sarah dan Eva mempersiapkan menu pembuka untuk buka puasa. Seperti gorengan, sop buah, agar-agar dan masih banyak lagi. Eva memperhatikan raut Sarah seperti sedang ada masalah. Namun untuk mengetahui lebih lanjut Eva enggan terlalu ikut campur. Biae Sarah sendiri yang cerita.
"Kak, ini sop buah mau taruh disana?" suara Sarah membuyarkan lamunan.
"Eh, iya. Ini buah hidangan sehabis teraweh untuk kalian tuan rumah. Kalau yang untuk mereka sudah ada di depan," kata Eva.
"Oh iya, kak," Sarah kembali meletakkan mangkuk berisi buah-buahan itu.
"Sar," Eva kaget saat Sarah meletakkan mangkok di dekat tempat cuci piring. Mangkok masih penuh dengan sop buah.
"Iya, kak. kenapa?"
"Kok letak di situ. Itu masih utuh, Sar," Eva mengambil kembali mangkuk sop buahnya.
__ADS_1
"Eh," Sarah kaget. Seingatnya tadi dia meletakkan di meja.
"Kamu kenapa sih, Sarah? aku perhatikan satu minggu ini kamu lain dari biasanya. Dan kamu sampai hari ini tidak pulang ke rumah bersama Anjas. Kalian ada masalah?" cerca Eva.
"Enggak, kak. Bang Anjas lagi banyak kerjaan," Sarah mencoba mengelak.
"Sarah, saya kenal Mila, kamu dan juga Lala itu dari kecil. Nggak ada suami yang meninggalkan istri di rumah orangtua wanita. Kalau tidak dalam masalah atau mungkin kamu di pulangkan sama Anjas,"
"Kak Eva, bisakah tidak di bahas dulu soal ini. Aku benar-benar tidak mau membuat kak Mila terbebani, ya aku tahu begitu banyak beban dalam keluarga. Tapi aku mohon saat ini jangan di bahas dulu soal rumah tangga aku dan bang Anjas,"
"Baiklah aku tidak akan mengungkit sementara ini, tapi kamu harus menjelaskan di depan mereka. Pakde Rohim perlu tahu tentang rumah tangga anaknya. Mila juga perlu tahu kalau adiknya tidak baik-baik saja. Bukan untuk ikut campur dalam urusan rumah tangga. Tapi kami sebagai saudara kamu, kami akan ada buat kamu, buat Lala,"
Mila duduk di antara ibu dan ayahnya. Sedangkan Danu memilih duduk bersama Ammar. Tidak di sangka urusan dia membawa Ammar berujung runcing.
Sementara para wanita sibuk di dalam. Danu memulai obrolan dengan Ammar.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau sudah ingat semuanya?" tanya Danu sambil memandang bintang di langit teras rumah.
"Kamu tahu kenapa aku tidak datang ke pernikahan dengan Vika. Saat itu yang ada di pikiranku mengajak Mila kawin lari. Mengajak Mila ke KUA walaupun harus menghadapi mamaku yang sangat menentang hubungan kami. Yang malah terjadi aku merasa motor Ando ternyata rem blong. Sudah mencoba mengelak tapi mungkin naas nasibku,
__ADS_1
Tapi ternyata saat aku kembali Mila sudah menjadi milik kamu. Danu, kamu tahu aku dan Mila saling mencintai, kenapa kamu malah menikahinya. Kenapa harus Mila?"
"Itu artinya Tuhan menakdirkan kami memang harus bersama, Ammar. Aku memberikan Mila pilihan dan dia menerima aku untuk menjadi suaminya. Kamu tahu, Mar, dia sempat down karena semua orang menunjuknya sebagai penyebab gagalnya pernikahan kamu dan Vika. Apalagi sejak kamu ketahuan menerima Vika sebagai calon istri. Itu sudah cukup sakit buat Mila, seharusnya kamu tahu hal itu,"
"Takdir?" Ammar tertawa sambil menaikkan sudut bibirnya.
"Dari dulu takdir memang jahat padaku, aku sempat mencintai Vika lalu dia menolakku karena sudah punya Ilham. Tapi nyatanya dia jadikan aku pelarian setelah di tinggal Ilham. Orangtuaku dan keluarga Vika ngotot tetap ingin menikahkan kami. Dan sekarang gadis yang aku cintai menikah dengan lelaki lain. Padahal kami belum putus,
Dan kini aku hanya bertumpu pada kursi roda. Tidakkah kamu berempati sedikit sama aku, Danu. Berikan aku kebahagiaan yaitu Mila," Ammar sedikit memaksa.
"Mila bukan barang, Mar. Yang bisa gampangnya aku opor sana sini. Dia yang memutuskan memilih aku, itu sudah dalam suratan takdir.
Kamu sebenarnya beruntung punya keluarga, punya adik yang sayang sama anda pak Ammar. Tapi sepertinya anda kurang bersyukur,"
"Kamu tidak lupa, kan Danu, aku lah penyumbang sumsum tulang belakang buat kamu. Aku bisa saja menolak dan membiarkan kamu dengan penyakit mematikan itu, takdir terlihat baik jadinya,"
"Itu artinya kamu memang tidak ikhlas membantu Danu, Mar," suara manis menyahut pembicaraan mereka.
"Mila?" kata Ammar.
__ADS_1
"Iya ini aku. Kenapa kaget? bisa-bisanya kamu mengancam seperti itu, Ammar. Kalau kamu tidak ikhlas menolong suamiku tak apa, kami bisa mencari pengobatan alternatif yang lain. Tidak hanya mengandalkan sumsum tulang belakang punya kamu,"