
"Kak Mila," suara panggilan menggema berasal dari depan rumah.
Mila sedang memasak untuk makan siang. Sebentar lagi suaminya pulang kerja dan Lala pasti mau pulang sekolah.
"Ya ampun, Sarah."
Mila kaget melihat adiknya datang siang-siang membawa bahan masakan. Entah apa yang mau adiknya lakukan sama bahan itu.
"Ini buat apa? tumben kami belanja sayur. Selama ini kamu diajak belanja di pasar tidak pernah mau."
"Buat suami tercinta, kak"
"Bagus, itu. ini baru adik kakak. Terus kamu mau masak apa? ada jengkol ada tempoyak. Bentar? bukannya Anjas alergi durian. Kok kamu malah belikan tempoyak."
Mila ingat saat membelikan durian ketan. Anjas tidak bilang kalau ada alergi. Saat Anjas drop, disitu dia baru tahu kekasihnya alergi durian.
"Kak Mila masih ingat kesukaan bang Anjas." suara Sarah melemah.
"Yang masih ingatlah, tadinya aku sudah lupa. Tapi lihat kamu bawa tempoyak jadi ingat lagi."
"Aku lagi pengen makan tempoyak pakai petai"
Mila mengerutkan dahinya.
Kok Sarah tiba-tiba mau makan yang asam kayak tempoyak, ya. Apa jangan-jangan dia ngidam.
__ADS_1
Wah bagus kalau Sarah sudah ngidam duluan.
"Sarah kamu terakhir haid kapan?" tanya Mila.
Sarah yang sudah berada di depan kulkas pun menyembulkan kepalanya. Dahinya mengkerut mendengar pertanyaan kakaknya.
"Kenapa kak Mila nanya begitu? kakak takut aku melangkah duluan, ya?"
Mila tertawa mendengar pertanyaan adiknya. Dia tidak mempermasalahkan kalau sarah duluan hamil. Itu sudah jadi rezeki Sarah. Selama suaminya belum menuntut supaya cepat hamil. Mila masih ikut jalan takdir yang di tentukan Allah.
"Enggaklah, Sarah. Kalau kamu yang duluan hamil ya nggak apa-apa. Kan sudah sah. Itu rezeki kamu." jelas Mila.
"Jadi ini mau di buat apa, Sarah?" Mila menunjuk bahan-bahan yang di bawa Sarah.
"Kenapa nggak kamu saja yang masak? kakak kan bukan istrinya Anjas."
"Tapi kak, aku kan nggak bisa masak"
"Ya belajar dong, Sarah. Sekarang teknologi sudah canggih. Belajar masak saja sudah bisa melalui handphone. Lah kakak dulu belajar masak di ajarin sama ibu. Belum ada handphone, paling juga lihat di televisi."
"Jadi kak Mila nggak mau bantu, nih?" Sarah mode merajuk mengambil barangnya kembali. Baru saja Sarah berjalan di depan pintu. Mila kembali memanggil.
"Yasudah, sini aku masakin. Kamu pulang saja. Bukannya jam segini suamimu sudah pulang. Nanti aku suruh mas Danu yang antar lauknya." Sarah kembali sumringah ketika aktingnya mempan untuk memancing kakak.
Memang biasanya seorang kakak tidak akan tega melihat adiknya susah. Keberadaan saudara, baik itu kakak atau adik, adalah hal yang wajib disyukuri. Meskipun tingkah mereka terkadang membuat jengkel, namun banyak orang yang mengharapkan kehadiran seorang saudara kandung.
__ADS_1
Kehadiran sosok saudara kandung akan membuat hidup menjadi lebih seru dan berwarna. Di dalam rumah yang sama, mereka akan saling berbagi mainan, makanan, cerita, hingga kenangan. Saudara juga akan saling bertukar emosi satu sama lain. Senang, sedih, kesal, cemburu, hingga marah sering terjadi di antara hubungan kakak adik. Meski begitu, hubungan mereka akan kembali terjalin dan saling memaafkan.
Sejak kecil Mila sudah terdidik mengayomi kedua adiknya. Baik susah maupun senang. Aminah selalu menekankan pada Mila agar selalu terdepan untuk Sarah dan Lala. Meskipun kedua adiknya nantinya sudah berkeluarga.
...****...
"Jadi bagaimana, Do? aku butuh kepastian tentang hubungan kita." Isak Dini, kekasih Ando.
"Sabar, sayang. Aku masih di Jakarta. Dokter suruh minggu depan periksa bang Ammar. Kalau ini sudah selesai aku akan rundingkan sama orangtua kamu soal rencana pernikahan kita."
"Do, papa mau jodohkan aku dengan anak temannya. Itu berarti waktu kamu tidak banyak." Desak dini.
"Kalau memang kita berjodoh pasti akan di pertemukan lagi, Din. Maaf kalau bukan aku tidak mau berusaha. Tapi keadaan kami saat ini tidak memungkinkan. Kamu tahu abang dan mamaku sama-sama sakit. Jadi aku minta maaf kalau tidak bisa datang dalam waktu dekat ini. Terimalah lelaki pilihan orangtuamu, Din. Jangan tunggu aku yang belum pasti" Terdengar dari jauh disana sudah menutup teleponnya.
Ando masih duduk memandang langit yang menguning. Pikirannya melayang pada ucapan Dini tadi. Andai dia bisa memutar waktu, dia tidak akan mengizinkan Ammar menaiki motornya yang rusak. Mungkin Ammar dan Vika sudah menikah, mama nya tidak stroke dan mungkin dia sudah mengajak Dini untuk menikah saat itu.
Tapi siapa yang bisa mencegah takdir Allah. Ando pasrah kalau memang gadis yang dia pacari menikah dengan lelaki lain.
Dari jauh Ammar memperhatikan adiknya. Ada rasa bersalah dalam dirinya, andai dia tidak cacat mungkin Ando sudah mendapatkan kebahagiannya.
"Do, kalau kamu tersiksa lebih baik kita pulang ke Bengkulu saja. Aku tahu kamu sangat mencintai Dini. Bukannya kalian sudah lama pacaran, masa begini saja sudah nyerah."
"Bang,..."
"Nanti malam kita bicarakan dengan Makwo Bia. Kamu harus bahagia, Do"
__ADS_1