
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah tampan lelaki muda di depan. Gurat wajah wanita itu terlihat semakin emosi setelah putra bungsunya menjelaskan kejadian sebenarnya. Sudah di buat malu oleh anak sulungnya. Sekarang dia harus menerima kenyataan kalau si bungsu yang membuat kakaknya gagal menikah.
"Mama, tidak menyangka kalau kamu dalang dari semua ini. Kamu membiarkan abangmu menaiki motor yang sudah rem blong. Kamu tidak berusaha cerita sama kami soal Ammar. Mau kamu apa, Ando! Waktu mama minta kamu menggantikan abangmu, kamu menolak. Padahal kalau saja abangmu tidak naik motor itu.Dia pasti sudah menikah dengan Vika!"
"Ma, Kita sampai saat belum tahu keadaan bang Ammar. Apa dia kecelakaan? apa dia baik-baik saja? dan mungkin dia mau menenangkan diri. Kenapa mama berasumsi seakan terjadi sesuatu dengan bang Ammar. Jangan mendahului kehendak Tuhan."
Diana langsung melemaskan tubuhnya. Sudah satu malam belum ada kabar tentang kebenaran Ammar. Ibu mana yang tidak cemas tentang kondisi anaknya. Ibu mana yang sedih dan kecewa atas kelakuan anaknya.
"Diana, kamu harus sabar. Yakinlah Ammar pasti pulang. Mungkin benar kalau Ammar perlu menenangkan diri. Seperti yang Ando bilang kalau ini semacam perjodohan, bukan. Seharusnya kamu kasih waktu Ammar untuk berpikir tentang perjodohan kalian."
"Uni, kalau tidak tahu cerita yang sebenarnya jangan banyak komen. Uni, aku sudah kasih waktu Ammar untuk memikirkan semua ini. Tapi Ammar tidak pernah menolak Vika. Sayangnya dia di pengaruhi perempuan itu." mama Diana masih geram.
Entah sejauh apa kebenciannya pada Mila. Pastinya saat ini Diana menyalahkan Mila penyebab hilangnya Ammar.
"Aku yakin sekarang Ida mencabut semua akses cafe. Kamu tahu kan penghasil keluarga bergantung dengan cafe dan counter. Kalau Ammar tidak ada terus cafe di tutup mau makan apa kita."
"Dan kamu masih memikirkan soal cafe dan counter di saat seperti ini. Diana ... Diana ... itu yang buat kamu ngotot buat menikahkan Ammar dan gadis itu. Kamu tidak lupa gara-gara siapa Abdi-ku hilang!" amuk makwo Rubiah.
"Kenapa menyalahkan aku, kak! kakak juga tahu kalau anak kakak itu penyakitan. Sebentar masuk rumah sakit, sebentar sembuh! Kakak jangan lupa saat itu aku lagi hamil Ando. Dan uni malah menyerahkan anak uni sama kami."
"Mama ... Makwo ... kenapa kalian malah berantem. Sekarang pikirkan bagaimana caranya kita menemukan bang Ammar." Ando menarik nafas dalam-dalam. Masih saja dua wanita di hadapannya bertengkar membicarakan perihal yang dia sendiri tidak paham.
__ADS_1
"Do, mau kemana?" Mama Diana melihat anak bungsunya mengambil kunci mobil.
"Ke kantor polisi, Ma. Mau lapor kehilangan."
"Mama ikut." Mama Diana berlari mengejar Ando.
"Enggak usah. Mama disini menemani makwo Rubiah. Kasihan dia sendirian di rumah." Mama Diana mendengus kecil. Dia malas kalau harus bersama kakak iparnya itu.
Makwo Rubiah adalah istri dari kakak suaminya mama Diana. Jatuhnya saudara ipar. Dari dulu Diana memang tidak pernah suka dengan Rubiah. Penampilan Rubiah yang dulu dianggapnya kampungan. Diana merasa tidak selevel dengan Rubiah. Pasalnya mertua Diana adalah orang cukup berada. Semua persaudaraan dari suaminya sudah menjadi orang sukses. Dan hanya Rubiah yang berasal dari kalangan biasa.
Saat usia anaknya 3 tahun. Rubiah dan suaminya bercerai. Karena mantan suaminya punya istri lagi, Rubiah tidak tahan dan meminta cerai. Selama proses perceraian berlangsung. Abdi anak tunggal Rubiah di titipkan sama Diana, saat itu Diana masih punya Ammar yang berusia dua tahun dan sedang mengandung saat itu.
Sebenarnya saat Rubiah masih sibuk, Diana meletakkan abdi di sebuah panti kecil. Anak yang menurut Diana sudah cukup merepotkan hidupnya sudah di amankan. Hingga saat Rubiah pulang Diana mengatakan anaknya hilang. Diana juga sudah menjelaskan kalau polisi menyerah mencari keberadaan Abdi.
Kembali ke masa sekarang.
Ando sudah sampai di Polsek kota Bengkulu. Tujuannya melaporkan kakaknya yang hilang sejak semalam. Memang abangnya bukanlah anak kecil lagi. Abangnya sudah 29 tahun. Dia sehat wal Afiat saat terakhir bertemu. Yang Ando cemaskan karena motor yang di bawa Ammar rem nya blong. Dan dia sudah memperingatkan kakaknya agar tidak memakai motor tersebut. Sekarang kakaknya hilang entah dimana.
"Ada yang bisa saya bantu, pak?" sapa lelaki berseragam coklat.
"Begini, pak. Kakak saya semalam tidak pulang. Seharusnya dia akan menikah semalam tadi ternyata dia tidak datang. Ya saya tahu kalau itu urusan lebih ke pribadi. Tapi karena motor yang di bawa Kakak saya itu rusak. Saya takut terjadi sesuatu pada Abang saya."
__ADS_1
"Oke, nanti biar saya mencari tahu keberadaan kakak anda. Bisa anda tulis jenis dan plat nomor motornya." Ando mengambil kertas dan menuliskan apa yang di minta petugas.
"Baik akan saya usut keberadaan Kakak anda." Ando dan petugas polisi berjabat tangan.
Ando meninggalkan kantor polisi dengan perasaan kacau. Langkah kakinya terasa berat sekali.
"Ya Allah berilah petunjuk keberadaan kakak hamba. Lindungilah dia dimanapun berada."
"Maaf, pak. Saya mau tanya apakah lelaki kecelakaan semalam sudah di temukan identitasnya." tanya Rohim saat berada di kantor polisi.
"Belum, pak. Itu masih dalam proses." jelas petugas kepolisian.
Rohim pun berjalan keluar kantor polisi. Berpapasan dengan Ando yang akan memasuki mobilnya. Rohim pun menaiki motornya bersama Edo.
"Bang, apa abang sanggup bayarin biaya rumah sakit. Kalau aku enggak sanggup, bang. Kita ini rakyat kecil mana ada uang untuk bayar rumah sakit."
"Kan ada BPJS, Do."
"Iya, tahu tapi tetap saja. ini tadi saya minta contoh motor korban itu. Saya sebarkan ke sosmed. Siapa tahu ada keluarganya yang sedang mencari."
"Wah, tumben otak kamu encer." kata Rohim.
__ADS_1