
Cahaya matahari menembus jendela kamar berbentuk sisir. Rumah berdinding kayu jati dan beratap seng. Sepasang mata mengerjap melihat silaunya cahaya masuk ke dalam retinanya. Tubuh tegap itu mencoba bangkit. Aroma nasi goreng buatan istrinya menggugah seleranya. Feeling-nya mengatakan itu masakan Mila. Dia tahu Sarah kurang hobi masak. Dia tahu lala juga belum terlalu mahir masak.
Danu bangkit dari tempat tidurnya. Bayangan memeluk sang istri serta menggoda Mila pun sudah menari-nari di pikirannya. Entah kenapa kepalanya terasa sangat berat. Lagi-lagi dia susah untuk bangkit. Pandangannya kearah tas yang menggantung di belakang pintu. Dia ingat ada obat di dalam tas kecilnya. Sambil memegang kepala, lelaki itu terduduk di sudut tempat tidur.
Matanya membulat melihat tetesan darah membasahi telapak tangannya. Dia menghapus bekas darah dengan ujung lengan kaosnya. Sebenarnya dia sudah merasa kurang fit dengan kondisi tubuhnya. Kepalanya suka pusing, tubuhnya terasa lemas, pandangannya sedikit berkunang-kunang. Dunia seperti berputar, Danu kembali merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Mungkin sebentar lagi sakitnya akan hilang.
"Mas, sudah bangun belum. Aku masak nasi goreng." suara Mila terdengar dari luar.
Mendengar suara istrinya Danu langsung bangkit. Sesemangat itu dia mendengar suara istrinya. Terdengar saat Lala berpamitan pada kakaknya.
Danu memandang ke sekelilingnya. Ada rencana mengajak istrinya pindah ke panti asuhan tempat dia tinggal. Tapi dia masih mencari waktu yang tepat. Danu merasa Rohim keberatan kalau anak-anaknya pindah. Itu di buktikan saat Rohim pernah menyatakan akan kembali ke Lampung. Itu tandanya baik dirinya maupun Anjas di larang membawa istri mereka keluar dari rumah.
Danu merasa kepalanya sakit lebih parah dari sebelumnya. Bayangan kematian kembali menghantuinya. Ada harapan dan doa agar tidak sekarang Tuhan memanggilnya. Dia ingin membahagiakan Mila terlebih dahulu. Merasakan menjadi seorang suami dan ayah.
"Ya Allah, jangan sekarang kau panggil aku. Aku masih ingin menjadi suami yang baik untuk Mila. Aku masih ingin memberinya kebahagiaan. Melihat Mila hamil hingga melahirkan. Aku ingin lihat wajah anakku. Setelah itu aku tak masalah kalau umurku selesai. Tapi jangan sekarang. Jangan sekarang!" batin Danu.
Setelah bergelut dengan kesakitan. Danu akhirnya tidak bisa menahan. Tubuhnya limbung, Tergeletak di lantai bawah. Masih dengan hidung yang berdarah.
"Mas Danu!"
Mila menemukan suaminya tergeletak di lantai. Mila juga mengecek suhu badan Danu, ternyata agak panas.
"Mas, kamu kenapa?" Mila membangunkan Danu.
Danu masih tidak sadarkan diri. Mila masih berusaha membangunkan suaminya. Tatapan kecemasan membias di wajah cantiknya.
Mila mendengar suara orang masuk ke dalam. Suara salam lembut sepertinya sudah masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
"Va, Eva ... tolong!" Eva mendengar jeritan suara Mila.
"Itukan suara Mila? kok di kamar? apa jangan-jangan Danu KDRT sama Mila. Ini tidak bisa di biarkan!" Eva langsung masuk ke kamar.
"Ya Allah, Mila! ini suamimu kenapa?" Tanya Eva
"Nggak tahu, Va. Habis dari dapur aku menemukan mas Danu sudah seperti ini." Eva langsung membantu Mila memapah Danu ke tempat tidur.
"Itu hidungnya kenapa di sumpel pake kapas?"
"Mimisan." Mila membersihkan bekas darah dari hidung Danu.
"Kok bisa? kayaknya suami kamu kecapekan kerja, deh. Aih, gimana sih? gampang drop. Manja!" cerocos Eva mendaratkan tubuhnya di kursi nakas.
"Dah lah daripada kamu ngomel-ngomel, mending tolong ambilkan air putih buat mas Danu."
"Terus aku harus tinggalkan suami aku sama cewek lain gitu." Mila melototi Eva. Gadis usia 29 tahun tersebut meninggalkan kamar Mila. Beberapa saat kemudian dia kembali membawa segelas air putih.
"Nih, air putihnya buat mas Danu-mu, Mila." Eva menggelengkan kepalanya. "Mila... Mila...baru jadi pengantin baru. Kok suami kamu gampang drop. Kan katanya kalau petugas tenaga kesehatan harus strong."
"Va, kalau kamu mau nyinyirin suami aku mending pulang saja, deh. Aku masih banyak kerjaan." Mila terlanjur kesal atas ucapan Eva.
"Maaf, Mila. bukan maksud aku buat nyinggung perasaan kamu. Tapi aku tidak mau melihat ada air mata lagi di dalam hidup kamu. Aku mau lihat kamu bahagia, Mila." Kata Eva.
...****...
"Nah itu dia!" Seorang gadis muda menunjuk arah jam 8.
__ADS_1
"Iya, tampaknya dia lesu banget. Kayaknya rencana kamu berhasil, Put. Dia pasti tidak bisa ikut basket. Mau ngalahin Puput? nggak akan bisa!" Puput menyinggung bibirnya.
"Put, kapan kami diajak main ke rumah kamu?" tanya Silvi.
Puput tergagap, mana mungkin dia bisa bawa teman-temannya main ke rumahnya. Apalagi dia kan anak panti asuhan Kasih Bunda. Malu lah, dia.
"Jangan sekarang. Orang tuaku lagi keluar kota. Jadi aku di titipkan di rumah bude, Di kampung Bali dekat UMB."
"Yasudah, kalau begitu kami main ke kampung Bali saja. Dari awal masuk sekolah kamu belum pernah ajak kami main ke rumah." Dedeh menagih janji Puput yang belum pernah di penuhinya.
"Jangan, please. Bude ku cerewet. Aku pulang telat semenit saja sudah kena omel. Maaf, ya. Untuk saat ini aku belum bisa ajak kalian." Dedeh dan Silvi hanya mengangguk kecil. Mengiyakan ucapan ketua Genk mereka.
Puput langsung mengurut dada bertanda lega. Teman-temannya tidak akan bertanya lebih lanjut lagi. Tiba sosok yang buat dia benci berjalan di hadapannya.
"Eh, kok pake sepatu butut? sepatu mahalnya mana?" Sindir Puput.
"Sepatuku, rusak. Mau beli yang baru nggak ada uang ... hahahaha!"
Lala mendengar ledekan teman-temannya hanya melengos melewati. Dia malas meladeni tiga gadis beda kelas dengannya.
"La, kamu kenapa keluar dari basket?" Aris muncul di depan pintu kelasnya.
"Aku nggak punya sepatu dan nggak bisa beli seragamnya." jawab Lala meletakkan tas nya di meja kelasnya.
"Bagaimana kalau..."
"Tidak usah, Ris. Dulu kamu bantu aku bayar SPP, mama kamu marah sama aku. Aku terpaksa minta sama nenek. Sekarang kalau kamu bantu lagi aku nggak bisa ganti uangnya." Lala keluar dari kelas.
__ADS_1
"Aku bantu cari tahu siapa yang merusak sepatu kamu. Yakin pasti orangnya dari satu anggota basket."