Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 74


__ADS_3

Rubiah sudah sampai di tempat tujuannya. Sebuah panti kecil yang terselip di sekitar kampus Muhammadiyah jalan kampung Bali kota Bengkulu. Tepat jam sepuluh pagi dia sampai di sana. Beberapa anak-anak bermain di depan panti. Rubiah pun memasuki gedung tersebut.


Namanya panti asuhan Kasih Ibu, Merupakan panti asuhan yang berada di Kota Bengkulu. Panti asuhan ini merawat dan mendidik anak-anak yatim piatu serta anak-anak terlantan. Panti Asuhan Kasih Ibu memenuhi kebutuhan anak-anak yang dirawatnya mulai dari makanan hingga sekolahnya.


"Assalamualaikum," Bia mengucap salam sebagai tanda kedatangannya.


"Waalaikumsalam," sapa seorang wanita sambil menggendong gadis kecil.


"Saya Rubiah, apa saya bisa bicara sama pemilik panti?"


"Bisa, Bu. Saya yang saat ini mengurusi panti. Ada yang bisa saya bantu? oh ya maaf saya lupa. Kita bicarakan di ruang kerja saya." Bu Nurmala mengajak Rubiah masuk ke dalam ruangannya.


Mereka memasuki ruang kerja Bu Nurmala yang tak jauh dari pintu masuk. Bu Nurmala memanggil Sari untuk menggantikan membawa Rara. Wanita itu langsung mengambil alih Rara dari gendongan ibu panti.


Mereka kembali duduk berhadapan di ruang kerja Bu Nurmala. Tentu wanita itu penasaran dengan sosok Bu Rubiah. Apa maksud kedatangannya? dengan tujuan apa? apa mau mengadopsi anak atau mungkin mau menjadi donatur. Secara sudah beberapa bulan ini donatur tetap sudah jarang ke tempat mereka.


"Ada yang bisa saya bantu, Bu Rubiah?"


"Saya kesini berdasarkan catatan ini,Bu. Dua puluh empat tahun yang lalu saya kehilangan anak saya. Dia saya titipkan pada saudara karena ada urusan yang harus saya urus. Begitu urusan itu selesai anak saya hilang. Mereka sempat bilang menitipkan anak saya di panti ini. Ini catatan berkas penitipan yang di miliki saudara saya." Rubiah menyerahkan map kuning yang dia dapatkan di gudang rumah Diana.


"oh, ini kalau tidak salah itu dalam masa jabatannya ibu Mutia. Saya tahun keempat setelah Bu Mutia pensiun. Kalau angkatan Bu Mutia anak pantinya ada, Bu. Dia sudah dewasa dan sudah menikah." Jelas ibu Nurmala.


"Oh,ya. Apakah dia anak laki-laki?"


"Iya, Bu. Dia laki-laki namanya Danu. Hanya dia satu-satunya angkat asuhan Bu Mutia. Saat saya baru memimpin panti ini Danu sudah berusia lima tahun. Tapi maaf kalau nama anak yang berdasarkan di berkas ini tidak ada di sini. Saya rasa dia sudah di adopsi pada masa Bu Mutia menjabat. Dulu anak panti kami tidak sebanyak ini. Karena anak panti nya sedikit, tidak sebanyak-banyaknya sekarang."

__ADS_1


Danu? apakah dia orang yang sama dengan Danu perawat Diana? ya Allah dunia ternyata sangat sempit. Lagi-lagi aku akan di pertemukan dengan Danu. Jujur saat dia berada di dekatku, aku merasakan sesuatu yang beda.


Ya Allah jika memang Danu itu anakku, aku akan menjadi donatur di panti ini. Panti yang membesar anakku dengan baik.


Tapi kenapa harus Mila yang jadi menantuku. Jujur kalau memang Danu itu anakku, aku tidak akan menyetujui pernikahan mereka.


"Bu Rubiah," suara Bu Nurmala membuyarkan lamunannya.


Bu Nurmala menjelaskan kalau dia punya kontak salah satu pekerja yang pernah membantu di panti. Beberapa saat kemudian Bu Nurmala menghubungi seseorang masih di temani Rubiah. Harapan Rubiah hanya satu bisa secepatnya menemukan anak kandungnya.


"Maaf, ibu Rubiah. Ternyata pak Dimas sudah meninggal dunia. Dia lah yang dulu menjadi asisten Bu Mutia." jelas Bu Nurmala.


"Apakah saya bisa menemui Bu Mutia? atau mungkin ada berkas yang disimpan Bu Mutia? saya ingin sekali bertemu anak kandungku. Sudah beberapa bulan saya disini belum menemukan titik terang keberadaannya."


Bu Nurmala menatap iba pada tamunya. Ibu mana yang sedih ketika anaknya tidak berada di dekatnya. Ibu mana yang tidak sedih ketika kehilangan anaknya. Apalagi jika anaknya hilang akibat kelakuan seseorang.


Begini saja, Bu. Ibu datang kesini kembali beberapa hari lagi. Saya akan memeriksa data anak yang namanya Abdi ini. Mungkin ada di berkas di dalam berdasarkan tahun dia di bawa kesini"


"Tahun 1995 Bu anak saya hilang. Saat itu usianya masih 3,5 tahun. Ini nomor kontak saya." Rubiah memberikan catatan nomor handphonenya.


"Oke,"


"Saya pamit, Bu. Harapan saya sangat besar untuk menemukan anak saya." Bu Nurmala dan Rubiah berjabat tangan. Keduanya pun berjalan menuju pintu keluar panti. Bu Nurmala pun kembali masuk ke dalam panti.


...***...

__ADS_1


Melihat Rubiah keluar dari panti, anak-anak pun berlari masuk ke dalam. Wajah Rubiah yang rada dingin membuat mereka takut. Kalau salah satu dari mereka akan ada yang di adopsi oleh wanita itu.


Ridho salah satu anak panti berlari ke kamar mereka. Beberapa dari mereka ada yang masuk sekolah siang. Ada juga yang masih belum sekolah, termasuk Ridho. Anak lelaki berusia enam tahun itu memasuki kamar asrama mereka. Mengabarkan kalau ada orang bermuka jutek akan mengadopsi salah satu dari mereka.


"Jutek itu apa, kak?" tanya Lina.


"Jutek itu orang yang tidak pernah senyum suka marah-marah." Ridho masih mencoba menakuti adik pantinya.


"Suka marah-marah? artinya jahat ya, kak." Ridho mengangguk kecil.


"Kalau dia datang lagi jangan mau jadi anaknya. Nanti kalian di suruh kerja terus kalau salah kalian di pukul pake sapu kayu. Mau?"


"Ridho! kamu apaan sih? kan mereka jadi takut." Meta yang kebetulan lewat mendengar obrolan Ridho pada anak panti lain.


"Kak Meta, benar kak tadi ada orang yang menemui Bu Nur. Mukanya kayak nggak ramah gitu, aku yakin kalau salah satu dari kita diadopsi orang itu pasti nggak akan senang hidupnya."


"Darimana kamu tahu kalau bakal seperti itu. Jangan lihat dari luarnya. Kamu siap-siap sekolah siang Ridho." Kata Meta.


Meta memeriksa anak-anak di panti. Jam sepuluh sebagian anak yang kelas satu dan dua SD mengikuti sekolah siang di SD Muhammadiyah di dekat panti. Pandangannya beralih pada adiknya yang duduk melamun di tempat cuci piring. Air keran cuci piring sudah melimpahkan dari baskom air bersih.


"Put, kamu ngapain?"


"Kak Meta lihat nggak aku lagi apa?"


"Iya kamu lagi buang air." Meta melototi Puput yang seperti melawan padanya.

__ADS_1


"Put, kamu mau kemana? ini jadi nggak cuci piring?"


"Kakak saja yang cuci piring. Saya nggak mau, nanti tangan aku rusak." Puput langsung meninggalkan Meta sendirian di belakang.


__ADS_2