
Malam ini Mila dan Danu saling bertukar pikiran. Tentu membahas soal pengobatan kanker suaminya. Danu meminta Mila memikirkan lagi soal melepaskan dirinya pergi bersama ibu Rubiah.
"Kan Uda pergi sama ibu Bia, bukan sama perempuan lain. Makanya aku percaya kamu pergi dengan ibu,"
"Tapi bagaimana kalau aku tidak kembali?"
"Mungkin itu takdir yang di beri Allah. Aku harus menjalani hidup tanpa suami. Karena sudah resikonya begitu,"
"Tidak. Kita tetap pergi sama-sama," Mila menggelengkan kepalanya.
"Besok kamu periksa sama Wisnu untuk keperluan kemoterapi di Padang. Termasuk surat rujukan dari rumah sakit," Danu melepaskan tangan Mila perlahan-lahan.
"Mila, aku minta maaf..."
"Jangan terus minta maaf! Aku cuma ingin kamu sembuh itu saja!" Mila beranjak meninggalkan kamar. Dia mau menangis tapi entah kenapa air matanya tertahan. Dadanya sudah terasa sesak. Pada akhirnya dia menumpahkan keresahannya di bentangan sajadah panjang.
Mila masuk ke kamar mandi untuk berwudhu. Jam sudah masuk Magrib, kumandang adzan pun menyerukan umatnya mengerjakan kewajiban. Harapannya satu saja di beri kesembuhan untuk suaminya. Meskipun Wisnu pernah bilang kalau kesembuhan untuk Danu sangat tipis. Toh, dokter juga manusia, mereka mendiagnosa berdasar riset medis. Tapi Tuhan, dia punya kuasa atas hidup hamba-nya.
Pandangannya mengedar ke sekeliling rumahnya. Tampak sepi setelah Lala memilih tinggal bersama ibu Dahlia. Awalnya sekedar sering menginap di sana. Lala merasa punya teman yaitu Intan. Hingga ibunya meminta izin untuk Lala tinggal bersama mereka.
"Tapi ini rumah Lala,.Bu. Peninggalan ibu Aminah untuk Lala dan Sarah. Aku hanya menjaga Lala sampai dia menikah nanti. Itu janjiku sama ibu Aminah," ujar Mila saat Bu Dahlia datang ke rumah.
"Bukan ibu yang mau, tapi Lala sendiri yang mau. Tapi kalau Mila tidak mengizinkan juga tidak apa-apa. Hanya saja Lala pernah bilang dia segan di sini, apalagi ada Danu. Walaupun Danu tidak aneh-aneh, tapi jarak itu pasti terasa,"
****
POV MILA
__ADS_1
Pagi ini sebelum berangkat ke rumah sakit untuk pemeriksaan kemoterapi. Kami menikmati secangkir teh hangat di sebelum memulai beraktivitas.
Aku duduk lalu mulai menikmati segelas teh hangat.
Kemudian kami berbincang banyak hal kandunganku dan juga banyak hal. Termasuk soal kemoterapi yang akan di jalani suamiku.
Aku sadar momen ini jarang kami lakukan. Biasanya bangun pagi, bikin sarapan, suami berang kerja. Dan beragam aktivitas rumah tangga pada umumnya. Kalau Danu pulang di bawah jam empat. Itu dia manfaatkan untuk menjenguk ibu Rubiah.
Soal ibu mertuaku, aku tidak pernah melarang Uda Danu main ke sana. Aku biarkan mereka menikmati masa-masa kebersamaan mengganti yang pernah hilang bertahun-tahun. Sama seperti waktu aku di pertemukan ibu kandungku. Masih banyak yang ingin aku lakukan bersama ibuku. Tapi entah kenapa kami tidak ada yang saling memulai lebih dahulu.
Aku bahkan sudah membatalkan Ammar untuk sumsum tulang belakang.
"Uda, sini aku sisir rambutnya," aku menelan saliva. Rambut Danu sudah gugur kemana-mana.
"Uda, mau aku cukur rambut nggak? itu rambutnya sudah mulai panjang," Dia hanya mengangguk saja.
"Kata Wisnu, kalau kamu harus ganti rambut. Ini sudah berapa bulan nggak di potong. Ini pertama kali aku potong rambut kamu, sayang,"
"Banyak ya rontoknya. Waktu sebelum nikah sama kamu, Wisnu tukang potong rambut aku. Kalau di panti ada Cakra yang sering bersihkan rambut," Danu seperti merasa geli saat aku menghidupkan alat cukur tersebut. Nampak dari raut wajahnya seperti menahan sesuatu.
Tangannya yang berurat mengusap rambut yang baru setengah aku cukup. Aku meminta dia tenang, pada akhirnya dia menurunkan tangannya. Layaknya anak yang nurut sama ibunya.
Aku menatap dia entah bagaimana dia mengartikan pikiranku. Wajahnya terlihat kikuk bersama aku menyelesaikan cukuran rambut.
"Nak, ayah ganteng nggak?" seperti biasa pasti minta pendapat anaknya.
"Ayah guanteeeng banget,"
__ADS_1
"Ciyusss! mi apa!"
"Mie Tek Tek, mie pangsit, mie ...."
"Mie Kirin ayang Mila," kami tertawa bersama. Danu menarikku duduk diatas pangkuannya.
Dengan perut yang semakin besar, tubuhku jadi
lebih panas dan mudah merasa gerah. Sesekali ku ikat rambut panjangku, dengan tangan yang mengibas pelan karna keringat terus
mengucur hingga leher.
"Lihat rambut kamu yang plontos rasanya pengen ikut mendekin rambut juga. Boleh kan?" Danu membelai rambutku. Lalu kami saling bertukar pandang.
"Botak juga? Boleh kok,"
"Kok botak sih?" aku sedikit mengambek.
"Aku bisa puas memandang leher indah istriku setiap menit, setiap detik, ya kan?"
"Dasar omes!"
"Sah dong omes sama bini sendiri. Kan ada dia dari hasil omes,"
"Sudah sekarang mandi, kan mau ke rumah sakit, Aaaaaewww ...!"
Sekarang aku sedang berada di atas rentangan kedua tangan suamiku. Dengan gendongan ala bridal style dia membawaku ke dalam rumah.
__ADS_1
"Mandiiin ya, kayak biasanya,"