
Setelah meninggalkan Danu untuk tidur di depan televisi. Mila pun tidak langsung tidur, dia duduk di samping Lala yang masih terpejam. Membelai rambut adiknya yang sebatas bahu. Kulit Lala yang putih sangat jauh kontras dengan kulit Mila yang kuning Langsat.
Dulu saat ibunya mengabarkan kehamilannya, mereka sangat bahagia. Ayahnya, Sarah yang kala itu masih SD kelas empat. Jarak usia Mila dan Sarah juga jauh. Saat Sarah lahir Mila masih SMP usia 14 tahun. Saat Lala lahir Mila sudah tidak sekolah lagi. Karena tidak ada biaya, di tambah ayahnya pergi meninggalkan mereka.
Soal ayahnya Mila jadi ingin menelepon Rohim. Ingin tahu bagaimana kabar lelaki itu di Lampung. Ayah Rohim pulang ke Lampung selang satu hari setelah ibu Dahlia pulang.
Suara telepon dari seberang sangat panjang. Bahkan lama tidak diangkat. Mila memilih mematikan sambungan teleponnya. Mengintip jam di handphonenya.
"Ternyata sudah jam sembilan malam. Pantas saja ayah tidak angkat teleponnya. Sudah pasti sudah waktunya istirahat."
Mila membuka jendela kamar Lala. Arah jendela yang berhadapan dengan kebun tetangganya. Hanya terlihat jejeran daun Bidara serta daun kuping gajah yang lebar. Ada yang bilang kebun tetangganya terkenal ada penunggunya. Tapi entah malam ini tak ada rasa takut. Padahal Lala tidak pernah membuka jendela kamarnya saking takutnya.
"Kak,"
"Lala, kok bangun sudah kamu istirahat saja." Mila menuntun Lala kembali ke tempat tidurnya.
"Kakak kok disini? kak Danu mana?"
"Kakak lagi pengen nemenin kamu." jawab Mila.
"Jangan gitulah, kak. Kasihan kak Danu. Dia sendirian di kamar."
"Dia depan televisi sudah pasti tertidur sekarang. Kamu juga istirahat." Mila menarik selimut menutupi tubuh adiknya.
"Iya, Kak. Tapi tutup jendelanya. Aku takut." Mila menutup jendela kamar Lala sesuai permintaan sang empunya kamar.
"Kamu tidur, ya, Dek. Besok kakak pamitkan ke sekolah kamu." Lala mengangguk sambil memejamkan mata.
Mila mengambil kasur ambal untuk tidur. Tapi sayangnya matanya tidak bisa diajak terpejam. Waktu terus berputar, Mila tetap tidak bisa tidur. Berkali-kali dia bolak-balik merubah posisi tidurnya. tetap saja dia merasa gelisah.
"Apa aku jahat sama mas Danu? Tapi dia juga seperti itu sama aku. Mematikan teleponku berkali-kali. Sengaja dia tinggalkan barang di sana biar sering mengulang. Bukannya dia juga punya jadwal lain.
__ADS_1
Benar kata Sarah, lelaki kalau pas pulang tiba-tiba romantis pasti ada sesuatu. Tapi kok aku nggak percaya mas Danu seperti itu? apa aku nya yang buta? sama seperti waktu dengan Ammar.
Ammar apa dia belum di temukan? ya Allah, kalau begini akhirnya orang masih akan menyalahkan aku atas kejadian di pernikahan Vika."
Mila merasa perutnya berbunyi. Dia baru ingat terakhir makan jam setelah pulang dari rumah sakit bareng Lala. Tidak biasanya cacing di perutnya sudah protes lagi. Dia pun bangkit dan membuka pintu kamarnya.
Kakinya melangkah menuju ke dapur. Tentu saja akan melewati ruang televisi. Mila tidak menemukan Danu di sana. Matanya masih mencari keberadaan suaminya. Tentu ada rasa cemas jika suaminya benar-benar tidur di luar.
Mila melihat kamarnya sedikit terbuka. Ada rasa lega kalau suaminya tidur di kamar. Danu sudah terlelap tanpa menutupi tubuhnya dengan selimut. Mila mengambil selimut di dalam lemari. Selimut bermotif bunga milik almarhumah ibu Aminah.
"Maafkan aku, Mas. Kalau tadi seperti egois. Aku hanya meluapkan kekesalan saja. Aku hanya kecewa karena kamu tidak biasanya tidak memberi kabar.
Kamu pasti lelah sekali, merawat pasien stroke. Kamu berjuang menyembuhkan orang lain tanpa memperdulikan diri sendiri."
Mila hendak meninggalkan kamar. Tiba-tiba tubuhnya seperti ada menahan. Seketika Mila sudah berada diatas ranjang.
"Mas," cicit Mila. Tatkala tangan suaminya sudah mengungkung seluruh tubuhnya. Senyum merekah terbit dari bibir lelaki itu. Pasrah dengan apa yang akan di lakukan suaminya.
Maaf, ya sayang. Kalau aku ada salah sama kamu. Kalau aku sempat mengabaikan kamu. Tapi percayalah, itu murni karena pekerjaan. Mengurus orang sakit stroke tidak sama dengan mengurus orang sakit biasa."
Mila akhirnya bisa melepaskan diri dari pelukan Danu. Mereka akhirnya duduk di sudut ranjang.
"Aku juga minta maaf, Mas. Sudah menuduh kamu yang enggak-enggak. Aku kira kamu beneran sudah tidak peduli lagi. Aku kira kamu lebih sayang sama pekerjaan." Danu dan Mila saling duduk berhadapan. Mereka bicara dari hati ke hati. Saling memahami satu sama lain. Itulah makna dari sebuah pernikahan.
Dalam hubungan dengan pasangan, memang, tak jarang terjadi salah paham berkomunikasi karena kurangnya instropeksi diri. Selain itu, ada perbedaan cara wanita dan pria mengungkapkan cinta. Wanita menunjukkan cinta dan perhatian melalui kata-kata. Sebaliknya, pria cenderung mengungkapkannya dalam tindakan kongkret seperti mencuci dan mengurusi mobil agar nyaman ketika bepergian sekeluarga, atau merancang liburan bersama. Perbedaan ini bisa dijembatani dengan mengungkapkan pada pria apa yang diharapkan.
"Aku adalah suamimu, Mila. Aku sudah berjanji pada ayah Rohim dan juga ibu Dahlia untuk menjaga kamu, membimbing kamu, dan menjadi sosok kepala keluarga karena seorang istri kiblatnya ke suami. Bukan ke orangtua lagi. Kalau aku ada salah tolong tegur aku dengan baik. Tidak ngambekan seperti tadi."
"Maaf, Mas." Mila masih menundukkan kepalanya. Danu langsung mengangkat dagu Mila.
"Sudahlah, sekarang istirahat. Ini sudah malam. Besok aku harus kerja lagi. Sepertinya aku akan datang siang ke tempat ibu Diana. Soalnya ibu Nurmala suruh aku ke sekolah Puput." jelas Danu.
__ADS_1
"Puput siapa? anak panti, ya? emang dia kenapa?" tanya Mila.
"Iya, anak panti. Aku kurang paham. Kata ibu dia melakukan sesuatu membuat teman sekolahnya celaka. Aku mau ajak kamu, tapi lihat keadaan Lala, jadi biar aku saja yang pergi ke sekolah." jelas Danu. Mila hanya mengangguk kecil. Dia juga sebenarnya mau ke sekolah Lala, terkait kasus sepatu Lala yang di rusak. Terkait orang yang membuat Lala drop.
"SD, SMP apa SMA, Mas?"
"SMPN 1 Bengkulu." kata Danu.
"Satu sekolah sama Lala, dong." kata Mila.
"Oh iya, Ya. satu sekolah sama Lala. Puput juga satu angkatan sama Lala." Danu baru ingat kalau adik iparnya juga berada di sekolah yang sama.
"Jadi gini, Mas. Lala pernah bilang sepatunya di rusak saat latihan basket untuk pertandingan persahabatan dengan sekolah lain. Tapi Lala bilang tidak tahu siapa pelakunya. Itu terjadi sebelum kita menikah.
Dan Lala masuk rumah sakit karena ada memasukkan makanan berunsur udang. Dia alergi udah. Aku dapat info dari Aris, teman sekolah Lala, kalau yang merusak sepatu dan memberikan makanan adalah orang yang sama." jelas Mila.
"Jadi aku minta bantuan, Mas Danu Kalau seandainya ke sekolah nanti, tolong bantu usut masalah Lala."
"Kalau masalah sepatu yang di sengaja rusak, mungkin aku bisa bantu. Tapi kalau masalah makanan unsur alergi Lala. Mungkin temannya itu tidak tahu kalau Lala alergi. Tidak bisa kita salahkan soal itu."
"Ya kalau Lala tahu ada udang dia juga tidak akan mau makan, Mas. Karena teman yang lainnya malah dapat nugget ayam. Tapi Lala tidak pernah alergi ayam, Mas."
"Besok aku akan selidiki soal ini. Aku kenal sama salah satu guru disana. Mungkin dia bisa diajak kerja sama."
"Kamu sudah sholat isya, Mas?"
"Sudah, tadi waktu sampai aku langsung mandi dan sholat. Aku mau ajak kamu tapi keburu masuk ke kamar Lala. Kupikir kamu pasti sudah tidur. Kamu sudah sholat?"
"Aku lagi haid, Mas. Magrib tadi baru dapat." jelas Mila.
Terdengar helaan nafas berat. Apakah dia harus bersabar lagi? Danu pun mengajak Mila berisitirahat. Waktu sudah menunjukkan jam setengah sebelas malam.
__ADS_1