Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 94


__ADS_3

Gerimis telah berubah menjadi tetesan air yang sangat deras. Suara kilat yang menggelegar seperti akan menyambar. Jalanan tampak begitu lenggang, tak ada manusia satu pun yang menjelajahi dinginnya air hujan.


Sayangnya hal itu tak menyurutkan langkah gadis kecil. Di tambah hujan yang semakin menjadi, gadis itu melangkah sendiri dalam sebuah komplek yang tak jauh dari rumahnya. Sepakat dan Merawan masih dalam satu lingkup, ibaratnya seperti bertetangga. Hanya saja daerah Merawan kebanyakan memiliki rumah yang bagus. Beda dengan arah sepakat yang di isi oleh orang-orang kalangan menengah dan kebawah.


Dia terus berjalan tanpa peduli tubuhnya sudah basah kuyup. Tujuannya masih jauh ke dalam. Untuk anak sekecil itu rasanya tidak akan tahan berjalan sendiri tanpa ada yang mendampingi.


Setelah berjalan cukup jauh menanjak penurunan, akhirnya dia sampai di tempat tujuan. Tempat dia orang yang dia rindukan berada. Menumpahkan keluh kesahnya pada sosok itu.


"Assalamualaikum, ibu," Tubuhnya duduk meringkuk di nisan yang bernama "Aminah". Gadis itu pun menumpahkan air matanya.


"Bu, Lala datang. Ibu apa kabar? sudah pasti ibu tersenyum di surga. Ibu orang baik, sayang sama kami semua, tidak pernah marah sama anaknya. Seandainya aku bisa mendapatkan itu setelah ibu pergi. Tapi nyatanya tidak aku dapatkan. Kenapa kak Sarah dari dulu tidak suka sama aku, Bu? apa karena aku tidak secantik dia. Tapi kata nenek Seruni aku dan kak Sarah mirip sama ibu,"


"Bu, Lala mau disini. Sama ibu, Lala tidak mau pulang. Tidak ada yang sayang sama aku. Kakak-kakakku sibuk dengan kehidupannya." Lala terus bercerita di hadapan nisan ibunya. Menumpahkan semua keluh kesahnya.


Pikirannya melayang saat kecil Sarah selalu ketus padanya. Meskipun kadang kakaknya sangat manis, kadang bikin nyesek. Setiap Lala ada tugas belajar hanya Mila dan Eva yang bergantian mendampinginya. Berhubung Eva sering nginap di rumah lama mereka.


Sedikit flashback kalau dulu setelah Aminah meninggal dunia, kontrakan yang di tempati Mila dan keluarganya di jual sama nenek Seruni. Belum lagi saat Mila memilih meninggalkan rumah dengan alasan mandiri. Padahal secara halus Mila memang di usir sama nenek Seruni.


"Mulai sekarang, mereka tinggal sama saya," kata nenek Seruni saat itu.


"Tapi, Nek. Kenapa kontrakan kami di jual. Aku bisa kok tinggal bersama mereka hanya bertiga,"


Nenek Seruni menyunggingkan senyum. Dia merasa Mila lupa akan kepemilikan usaha kontrakan adalah milik nenek Seruni.


"Ini kontrakan aku yang punya. Jadi sudah hak aku mau di sewakan atau di jual. Lagian kamu kan sudah tidak ada hak disini, kamu bukan siapa-siapa saya, Paham!"


"Kakak mau kemana?" Lala saat itu menahan Mila yang membawa tas ransel.


"Kakak mau kerja, La. Nanti kalau kakak punya uang yang banyak kita bisa kumpul lagi," Lala tetap menggelengkan kepalanya. Baginya hanya Mila yang mengerti akan dirinya. Bukan Sarah yang suka tidak peduli padanya.


"Kak Mila mau menenangkan diri, La. Dia habis patah hati gagal nikah sama Anjas. Nanti juga dia pulang," sahut Sarah tanpa beban.

__ADS_1


"Kak Sarah tidak menahan kak Mila pergi, kak Sarah nggak sayang sama kak Mila. Atau Jangan-jangan benar kalau kak Sarah suka sama kak Anjas,"


"Kamu anak kecil tahu apa soal kayak gini. Lebih baik kamu belajar yang baik supaya nanti jadi orang sukses. Bukan miskin kayak gini," kata Sarah.


"Kita nggak miskin kak tapi cukup itu saja," bantah Lala.


"Tetap saja tidak sekaya keluarga Rudi. Kakak juga nanti mau ngekos biar mandiri,"


Sejak Mila hengkang dari rumah, semuanya menjadi terpisah, Lala hidup dalam didikan keras sang nenek. Sementara Sarah tidak di cegah saat mau kost mandiri. Lala merasakan ketidakadilan pada dirinya.


Nenek Seruni terus menyalahkan Mila atas semua yang terjadi dalam keluarganya. Termasuk keputusan Sarah untuk kost menyusul Mila. Padahal Lala tahu kalau kakaknya kost di kontrakan milik Ibu Melani, orangtuanya Anjas.


Masih di pemakaman, Lala menangis sambil memeluk pusara ibu Aminah, wanita yang sudah melahirkannya. Wanita yang membesarkannya dengan kasih sayang. Lala merasa tidak ada gunanya dia pulang. Mila tak pernah datang menjemputnya, Sarah pun tak pernah manis kepadanya.


Tubuh Lala basah kuyup di lumuri lumpur becek sekitar pemakaman. Gadis kecil itu malah terlentang diatas makam yang masih berbentuk tanah. Belum ada semen yang memperindah tempat peristirahatan terakhir ibunya.


"Lala tinggal di sini saja, Bu. Lebih tenang kalau didekat ibu," tubuh kecilnya sudah tidak kuat menahan derasnya air hujan. Lala merasa pandangannya kabur, dia tidak tahu lagi apa yang terjadi. Semuanya gelap.


Mila dan Danu menunggu redanya hujan yang membasahi bumi Raflesia. Rencana untuk ziarah ke makam ibu Aminah pun akan tetap di laksanakan. Waktu menunjukkan pukul empat sore, dimana mereka baru saja menyelesaikan sholat ashar berjamaah di panti.


Nanti malam setelah isya, ikatan muhamadiyah akan mengadakan acara pengajian. Acara simbol menyambut bulan Ramadhan yang jatuh pada hari Kamis atau bisa di bilang besok. Rencananya selesai acara Mila akan ikut dengan suaminya ke rumah sang mertua. Memenuhi undangan ibu Rubiah untuk puasa pertama bersama mereka.


"Jadi kalian mau ziarah dulu? ibu kira kalian mau jemput Lala. Tadi kan kamu bilang mau ajak kedua adikmu,"


"Aku sudah coba hubungi Sarah dan Anjas. Tapi ponsel mereka tidak aktif. Sepertinya tidak keburu buat nyusul kesana, selesai acara langsung ke tempat ibu Rubiah," ucap Mila.


"Bagaimana kalau besok saja kita menginap disana. Jadi punya banyak waktu untuk Sarah dan Lala, nanti biar aku yang ngomong ke ibu,"


"Apa nggak apa-apa, Mas?"


"Nggak apa-apa, Sayang. Lagian waktunya mepet-mepet gitu. Nanti kamu kecapekan, kasihan anak kita," Danu mengelus perut istrinya.

__ADS_1


"Kalian sudah kontrol ke dokter?"


"Belum, Bu. Mungkin awal bulan saja periksanya. Ya kan, Mas," Danu pun mengangguk kecil.


"Yuk, kita ziarah dulu habis itu langsung ke tempat Sarah. Bu, saya dan Mila mau ke makam ibu Aminah dulu," pamit Danu.


"Hati-hati, Danu. Kamu kan bawa istri yang sedang hamil. Jadi jangan ngebut, apalagi arah pemakaman tanjakan turun, pelan-pelan," pesan Bu Nurmala.


"Baik,Bu, kami pergi dulu,"


Mereka meninggalkan panti dan berangkat ke makam menggunakan motor. Sepanjang perjalanan sebagian air berwarna coklat mengalir bak terjangan ombak di lautan. Iya, sudah jadi kebiasaan kota Bengkulu kalau hujan deras pasti air sungai meluap.


Dari jalan kampung Bali lalu berputar kearah daerah Sukamerindu. Mereka terhenti di arah simpang jam karena ada lampu merah. Motor pun berputar kearah Stadion Sawah Lebar, tempat olahraga kota Bengkulu. Mata Mila memandang ke arah SMA 5 Bengkulu.


"Mas, belok kesana yuk," Mila menunjuk ke jalan mahoni.


"Loh kok kesana, emang mau kemana?"


"Ke ...."


"Ini sudah jam berapa, nanti keburu Maghrib. Belum lagi kita harus ikut acara Muhammadiyah,"


"Pangsit Tris," ucap Mila.


"Kamu lapar?"


"Pokoknya kita kesana dulu, ini yang mau dia," rengek Mila sambil mengelus perut ratanya.


Danu pun membelokkan motornya kearah jalan Mahoni. Melewati sekolah favorit gudangnya orang berprestasi. Di depannya ada gedung perpustakaan umum hingga melewati rumah sakit Raflesia, Mila memandang tempat dimana dia pernah dipecat hanya karena membuat Ammar masuk rumah sakit.


Sekarang lelaki itu jadi sepupu suaminya.

__ADS_1


"Dunia ini sempit ternyata," batin Mila.


__ADS_2