
POV MILA
Sudah empat hari aku tinggal di rumah Bude Lia. Mereka menerimaku dengan baik. Bude Lia tidak pernah memberikan kerja yang berat padaku. Mungkin karena aku tamu titipan dari Vika. Atau mungkin karena aku sudah dianggap pekerja di rumah mereka. Meskipun aku hanya di minta menjadi pengasuh intan, cucunya. Tapi aku juga tidak berpangku tangan. Biasanya setelah mengantarkan intan ke sekolah, aku langsung pulang ke rumah mengerjakan apa yajga yang aku bisa. Jujur aku masih meraba pada penempatan barang di rumah ini. Kata bude Lia, Intan bakal pulang bareng kendaraan khusus sekolahnya.
Seperti siang ini setelah aku membereskan Intan yang baru saja pulang sekolah. Gadis kecil itu asyik mengerjakan tugas sekolahnya. Dari yang aku dengar ini tahun terakhir Intan sekolah TK. Tahun depan dia bakal masuk ke SD. Di tempat mereka masih membuka penerimaan murid minimal usia 6 tahun.
Aku baru saja selesai menemani Intan belajar membaca, mengenal angka. dan sebagainya. Aku sepertinya intan sudah tidur siang. Saat menatap intan aku jadi ingat sama Lala. Dia kalau mau belajar pasti minta aku temani. Soalnya Sarah suka tidak sabaran kalau mendampingi Lala belajar.
Ketika sudah berada dikamar. Aku berencana akan menghubungi Eva. Tentu saja mau menanyakan kabar adik-adikku. Aku bisa saja meneleponnya Lala atau Sarah langsung. Tapi entah kenapa niat itu tidak terealisasi.
Suara ketukan pintu terdengar dari kamarku. Aku membuka pintu kamar, ada bude Lia sudah berdiri depan pintu.
"Belum siap juga? kita mau pergi ke pusat perbelanjaan."
"Oh iya, Bude. Tapi Lala eh maaf Intan sedang tidur."
"Intan sudah bangun. Sudah bude siapkan biar rapi. Saya kira kamu sudah siap."
"Maaf bude tadi ngabari keluarga dulu"
"Yasudah, bude tunggu di luar."
Tak lama kemudian, ada taksi online yang datang menjemput. Aku, bude Lia dan intan diajak jalan jalan ke pusat perbelanjaan di Lampung.
Sesampainya kami di pusat perbelanjaan. Intan minta aku menemaninya ke salah satu toko mainan. Tapi aku tidak berani. Ku bujuk intan supaya menunggu Bude Lia yang memasuki toko pakaian.
Bude Lia sibuk memilih milih baju untuk intan. Sementara aku mengikuti intan takut nanti hilang. Mata intan tertuju toko mainan lalu berlari memasuki toko tersebut. Aku menelepon bude Lia supaya bude nggak kebingungan mencari kami.
Saking sibuk menelepon aku lupa kalo intan entah kemana. Aku berlari mengelilingi toko tapi tidak menemukan intan. Ya, Allah kemana anak itu.
"Kamu ini gimana,sih! Kok bisa intan Hilang" Omel bude Lia
"Maaf,bude. Tadi dia lari masuk ke sini, larinya cepat sekali, saya kehilangan jejak."
"Sudah, kita cari saja dulu. Aku rasa masih sekitar sini."
Kami berkeliling memutar mall mencari intan. Aku merasa tidak enak pada bude Lia, yang tidak marah karena keteledoranku.
"Eyang!" suara intan dari seberang.
Kulihat intan bersama seseorang, tapi siapa,ya? Kami mengejar intan dari sumber suara, ternyata intan benar benar bersama seseorang. Dan orang itu, pak Ammar.
"Amar, apa kabar?" Sapa bude Lia.
Mereka saling kenal, kok bisa? Dunia ini sempit.
"Alhamdulillah baik Tante Lia. Tante apa kabar?"
"Alhamdulillah baik juga, kamu ini nggak pernah main ke rumah lagi, ya walau kandas kan jangan kandas silaturahmi dong"
"Om kapan maen ke rumah intan lagi" kata intan
"Nanti kalo ada waktu om main ke rumah ya." Amar mengelus rambut intan.
Disini aku melihat bukan amar si bos mesum, melainkan seorang pria yang sayang pada anaknya.
Aih, apaan sih! paling juga dia mau pencitraan! sekali mesum tetap aja mesum!
Ammar berjalan di samping bude Lia sambil menggendong intan. Aku melihat intan sangat menyukai Ammar, begitu juga sebaliknya, kenapa mereka bisa kandas ya? Ah, bukan urusanku.
__ADS_1
Aku pamit ke WC sama bude Lia, tak lama setelah keluar dari WC pak Amar sudah menunggu di depan lorong WC wanita.
"Kamu kalo mau ke WC , tuh WC di sebelah,ini WC wanita."
"Saya di suruh bude nungguin kamu, Intan dah tidur karena kecapekan bermain tadi."
"Sekarang bude Lia dimana?"
"Di gerbang mall, cepat! Kasihan bude bawa intan"
"Harusnya kamu yang gendong, kamu kan laki laki, ini malah nyuruh orang tua gendong anak kecil."
"Lebih kasihan lagi kalo bude yang nyusulin kamu ke lantai atas. Mikir!"
Iya juga sih. Tumben nih orang pinter, emang pinter dianya, kalo nggak pinter nggak jadi bos.
Sampai di lantai dasar, kulihat bude sudah Keliatan lelah menopang intan yang berusia 5 tahun. Aku langsung menggendong intan, dan amar membuka pintu mobilnya dan meminta bude Lia duduk depan, tapi di tolak sama bude Lia, dia memilih bangku no 2 dengan alasan bisa selonjoran bareng intan.
Aku duduk di sebelah bude Lia, tapi bude Lia minta aku duduk di depan sebelah sopir, dan intan biar bisa tidur.
Dengan terpaksa pemirsa, duduk disebelah laki laki ini. Sepanjang perjalanan kami cuma diam, ya mau ngomong juga nggak ada yang bisa diobrolkan. Ya, dia cuma ngobrol bareng bude Lia, nanyain Fera.
"Fera apa kabar Tante"
"Fera baik, mar."
"Oh, Alhamdulillah kalo begitu."
"Nggak nanyain, Vika. Pak amar" tiba tiba aku nanya begitu, aish nih mulut.
"Aku yakin Vika sehat wal afiat, Sarmila"
"Kenal bude Mila ini dulu kerja di counterku"
"Oh, sama dengan Vika,ya?"
"Tante kenal Vika?" Tanya Amar
"Bude Lia ini bude nya Vika, Fera itu kakak sepupu Vika." Aku menjelaskan pada Amar
"Owh, dunia sempit ya" gerutu Amar
Aku melihat kekagetan ammar rasanya pengen ketawa. Aku aja yang tiap hari ngeliat sistem dunia ini sempit dari kenal sama , di tolak keluarga Anjas dan Anjas sekarang lagi dekat dengan adikku.
Saat lagi melihat jalanan kulihat sosok yang tidak asing sedang berjalan di trotoar pertokoan.
"Mar, tolong pinggir sebentar."
"Ada apa?"
"Parkir dulu kataku" aku setengah membentak Ammar.
Ammar memparkirkan mobilnya, aku langsung lompat mobil dan mengejar sosok tadi. Aku terus berlari, sampai akhirnya kehilangan jejak.
Aku yakin tadi itu ayah! Yakin sekali.
Tak lama Amar datang sambil marah marah
"Lu sinting ya!!! Lompat dari mobil, lu pikir nyawa lu banyak, haaah" omel Amar yang rada ngos ngosan, mungkin dia ikut mengejar ku tadi.
__ADS_1
"Udah balik sana ke mobil" perintahnya
Aku ikut Ammar kembali ke mobil. Di sana ada bude Lia yang kayaknya juga kaget dengan aksiku tadi.
"Ya, Allah Mila. Kamu kenapa sih pake acara lompat dari mobil"
"Tadi saya ngeliat ayah saya bude"
"Ketemu?"
Aku menggeleng. Nihil, tapi paling tidak aku bisa kembali kesini untuk mencarinya lagi.
Sampai di rumah bude Lia meminta aku untuk istirahat dulu. Ammar menolak masuk ke dalam rumah, alasannya masih ada urusan lain. Intan yang terbangun meminta amar mengantarkannya ke dalam kamar, amar sepertinya tidak bisa menolak permintaan intan.
"Udah masuk aja, kayak ama siapa aja" kata Fera yang sudah menunggu di depan pintu.
"Wuih, jangan kita jodoh lagi,Fe. Buktinya kamu tau aku datang langsung nyambut"Goda ammar
"Mau sepatu kanan atau vas bunga?"
"Wuih, galak nya kambuh. Belum minum obat ya."
Fera balas pelototi amar sekaligus mentoyor jidat Amar.
Keesokan harinya, Ammar pagi-pagi sudah berdiri di teras rumah. Aku masih di sibukkan dengan keperluan Intan yang mau berangkat sekolah. Tampak bude Lia duduk mengobrol asyik dengan Ammar. Sementara Fera sudah berangkat lebih pagi karena kantornya jauh. Fera bekerja di kantor GraPARI Telkomsel. Apa jabatannya aku tidak tahu. Yang pasti sepertinya jabatannya menjanjikan.
"Mila,"
Bude Lia sudah berada di depan kamar Intan. Wajahnya tampak lebih cerah dari sebelumnya.
"Iya, Bude." jawabku sambil menuntun Intan.
"Kamu berangkat sama Ammar ya, saya juga akan pergi ada urusan. Jadi kunci rumah saya titip sama kamu."
"Eh, iya. Bude."
Duh, bakal sendirian di rumah. Bagaimana ini? aku nggak biasa sendirian di rumah orang.
Kami akhirnya berangkat dengan mobil Ammar. Aku dan Intan awalnya duduk di belakang. Tapi Ammar minta kami duduk di depan.
"Kalian duduk di belakang menganggap aku sopir gitu?"
"Ya kan Intan nggak ada yang menemani." Jawab ku.
"Kan bisa intan duduknya di depan. Di pangku sama kamu."
"Bisa kan kamu panggil saya Ayuk atau mbak, saya lebih tua dari kamu, Lo." kata ku.
"Paling berapa sih umur nya?"
"Kamu bukannya 29 ya? saya 30."
"Cuma jarak setahun doang." kekehnya.
"Om Ammar sama Tante perasaan dari kemarin berantem terus. Nggak baik sering berantem, om, Tante." kata Intan.
"Kata orang kalau benci nanti jadi ..." kata Intan lagi.
"Enggak mungkin!"
__ADS_1
"Ih, Tante Mila dan om Ammar jawabnya kompak."