Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 84


__ADS_3

"Kalian pulang ke panti ya, nak Mila. Ibu akan siapkan kamar Danu supaya enak di tempati," ucap ibu Nurmala saat ikut menjemput Danu yang akan pulang hari ini.


Mila merasa tidak enak pada Bu Nurmala, sebab rumahnya sudah beberapa hari di tinggalkan. Rasanya kalau di rumah leluasa mengurusi suaminya. "Kami tetap pulang ke rumah, Bu," jawab Danu tegas.


"Kamu itu sedang tidak sehat, Nak. Kasihan Mila mengurusi kamu sendirian. Kalau pulang ke panti pasti banyak yang bantu Mila. Istrimu perlu istirahat yang cukup," Danu tetap menggelengkan kepalanya. Dia tetap pada keputusannya untuk pulang ke rumah nenek Seruni. Mengingat Lala pasti menunggu mereka pulang.


"Yasudah, kalau itu mau kamu, Nak. Ibu tidak masalah, tapi kalau ada apa-apa kalian berdua kabari ibu. Jangan kayak kemarin, ibu sudah takut kamu kenapa-kenapa, Danu," Bu Nurmala terus berceloteh.


Ceklek!


Suara pergerakan pintu disusul derap langkah memecahkan keheningan di ruang tamu. Tanpa banyak bicara Mila menuntun suaminya masuk kedalam kamar. Wanita berkulit Kuning Langsat itu bolak-balik mengambil barang bawaan mereka.


Danu sedari tadi memperhatikan gerak-gerik istrinya. Mila yang cekatan dan tidak bisa diam. Ada rasa tidak enak pada istrinya. Seharusnya dia yang mengangkat barang-barang itu. Tapi apa daya kondisi tubuhnya belum sepenuhnya pulih.


"Akhirnya pulang juga ke rumah," Danu memandang ke sekelilingnya. Tiga hari di rumah sakit sudah membuat dia jenuh. Terbiasa dengan aktivitas kerja dan harus istirahat beberapa hari sungguh terasa membosankan.


"Mas, di kamar dulu, ya? aku ke belakang sebentar," pamit Mila, sementara Danu membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


Wisnu memang sudah mengizinkan pulang. Tapi dia di larang kembali kerja di rumah ibu Diana. Alasannya karena fisik Danu sudah tidak memungkinkan untuk bekerja berat.


"Kalau aku tidak kerja, lalu aku kasih makan apa Istriku? nggak mungkin makan angin atau makan cinta doang," protes Danu.


"Kakak kan tetap bisa bekerja di rumah sakit. Hanya saja tidak sepadat dulu. Saya mohon sama kakak untuk tidak main petak umpet terhadap kak Mila. Kasihan dia. Kalau kakak sayang sama dia harus ada keterbukaan,"


Sekarang di daerah Sawah Lebar, dalam sebuah gang yang masuk dari jalan besar kampus Dehasen. Tepatnya di gang sepakat tiga yang letaknya lebih dalam. Tampak seorang lelaki yang tengah menatap langit-langit dinding kamar. Lelaki yang merasa kondisi tubuhnya sudah segar tapi tetap saja di minta istirahat oleh istrinya.


"Mas makan dulu, ya. Habis itu obatnya di makan," Mila sudah membawa satu mangkok Indomie pake telur rebus.

__ADS_1


"Maaf, Mas ya aku cuma sempat masak Indomie. Soalnya sudah dua aku hanya bolak-balik rumah dan rumah sakit. Jadi aku ..." Danu meletakkan jari telunjuknya di bibir Mila.


"Suapin, dong sayang. Apa pun yang kamu buat pasti enak. Nggak bohong," Danu mengangkat tangannya bentuk huruf V. Bersikap mendadak manja.


"Maaf," suara Danu lirih.


"Buat?"


"Kalau kesakitan ini akan membebankan kamu, Mila. Sebentar lagi atau mungkin tidak lama lagi tubuhku pasti tidak sama seperti dulu lagi. Rambutku sebentar lagi pasti akan berguguran satu per satu. Jika kamu mau meninggalkan aku tidak apa-apa," ucap Danu pelan dan memegang kedua tangan istrinya.


"Kamu sudah bertemu Ammar, dia masih mencintaimu, hanya saja kini sedang amnesia. Dia menghilang karena mengalami kecekatan hebat. Aku rasa kamu lah obat dari ..."


"Apa kamu mencintaiku, Mas?" Danu diam tidak bergeming. Dia sangat mencintai Mila, karena rasa cintanya dia rela mengikhlaskan istrinya dengan lelaki lain.


"Mas Danu jawab!"


Danu hanya diam saja. Banyak hal yang dia pertimbangkan saat Wisnu bilang kalau waktunya hanya satu tahun lagi. Waktu terbilang cepat untuk menghabiskan sisa hidupnya bersama Mila. Jika dia boleh memilih. Tak ingin ada penyakit mematikan dalam tubuhnya.


"Jika berkata seperti itu, untuk apa kamu menikahiku? untuk apa, Mas? apa untuk menjadikan aku wasiat terakhir sebagai tanda kamu punya pasangan sebelum meninggal. Kenapa kamu seperti ini, Mas?


Mana Danu yang penuh semangat yang aku kenal selama ini, mana?


Apa mereka yang mencuci otak kamu supaya aku menerima Ammar lagi?Aku bukan barang, Mas," suara Mila seperti menangis kecil.


"Maaf, bukan maksud aku membuat kamu ...." Mila meninggalkan kamar, lalu terdengar pintu kamar Lala terbuka. Pertanda kalau istrinya sedang di kamar Lala.


Danu mengetuk pintu kamar Lala. Merasa bersalah sudah buat istrinya sedih. Ingatannya beralih saat melihat rasa cemburu Ammar saat di rumah sakit. Dan dia juga merasa Mila tiba-tiba bersikap manja karena ada Ammar, padahal biasanya dirinya lah yang lebih manja pada Mila.

__ADS_1


Pemikiran itulah yang membuat dia mengatakan tentang Ammar pada istrinya. Kalau memang Mila lebih bahagia bersama Ammar dia ikhlas. Entah sejak kapan rasa pesimis tentang kesembuhan penyakitnya muncul. Apa ini yang biasanya di rasakan oleh semua orang penderita kanker. Bisa iya bisa juga tidak.


"Sayang, maaf, aku nggak ada maksud seperti itu. Aku hanya ... hanya ...." Danu memegang kepalanya, penglihatannya terasa buram.


"Aku tidak mau mati sekarang ya Allah," Batin Danu.


Danu memilih kembali ke kamar dengan langkah sedikit gontai. Untungnya tidak ada adegan pingsan di lantai. Lelaki itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Mencoba memejamkan mata, berharap tidak ada malaikat maut yang menyapa dirinya.


Waktu terus berjalan, kini pagi kembali menyapa langit kota Bengkulu. Meskipun terdengar suara rintik hujan di pagi hari. Namun tampaknya tak menyurutkan aktivitas warga sekitar.


Cahaya yang berwarna kekuningan mulai memuntahkan laharnya. Mengalahkan kabut hitam sisa-sisa udara dingin. Kicauan burung-burung kecil yang bertengger di atap rumah. Suara tiupan angin pun kini memudar bersama dengan iringan waktu.


Danu membuka matanya, merasa bersyukur apa yang di takutkan akan terjadi. Apalagi setelah perang dingin yang di kerahkan istrinya tadi malam.


Sebuah tangan sudah membelit dada bidangnya. Rambut panjang batas lengan pun terurai diatas dadanya. Danu tersenyum melihat pemandangan itu, ternyata yang dia takutkan tidak terjadi. Yang ada malah sekarang sang istri sudah tertidur pulas memeluk dirinya.


Danu menoleh kearah jendela di samping ranjang kamarnya. Selipan cahaya matahari yang menembus dalam sisiran jendela menandakan kalau hari sudah semakin tinggi. Dia ingin sekali bangun, tapi melihat istrinya tertidur pulas rasanya tidak tega membangunkan.


Rupanya pergerakan Danu membangunkan Mila. Wajah sendu itu mendongak kearah pemilik dada halalnya, sambil memberikan senyum terbaiknya.


"Mas sudah bangun?" Mila tetap berada di balik dada bidang suaminya.


"Sudah dari tadi, kamu nyenyak banget. Tidak tega aku mengganggu tidur kamu," jemari Danu menelisik setiap helaian rambut istrinya.


"Aku mau disini, Mas. Tadi malam kepala rasanya pusing. Tapi pas meluk kamu pusingnya hilang." ucap Mila.


"Kamunya saja yang mau di dekat aku," goda Danu.

__ADS_1


"Kamu tidak marah lagi sama aku?" Mila menggeleng.


"Kamu jangan lagi minta aku untuk meninggalkan kamu atau pun harus membuka hati untuk lelaki lain. Karena aku tetap berada disampingmu sampai maut memisahkan kita."


__ADS_2