Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 142


__ADS_3

Dan hendaklah mereka memafkan dan berlapang dada. Apakah kam tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." - (QS An Nur 24:22)


...******...


"Revo," Vika mendapati kekasihnya sudah berdiri di depan gerbang rumah sakit.


Pemuda itu muncul di depan gerbang. Tetap tampan meskipun hanya memakai kaos polos dengan gambar orang yang sedang main golf. Celana jeans yang pahanya robek. Serta topi hitam menambah ketampanannya. Vika menyambut pemuda itu dengan ramah. Cukup kaget kenapa pemuda itu bisa tahu kalau dia berada di rumah sakit.


"Kok tahu aku disini?"


"Iya, kata mbak Yuni kamu di rumah sakit bersama kakak sepupumu. Makanya aku nyusul ke sini. Aku mau ajak kamu jalan sebentar boleh?" Revo berjalan mendekati Vika. Hanya beberapa saat jarak mereka sudah sangat dekat.


"Aku belum mandi, Vo. Badanku bau asem gini." Vika mengendus tubuhnya melalui lengan kanannya.


Revo pun ikut mengendus tubuh kekasihnya. Emang apek sih, tapi tidak menghalanginya untuk mengajak Vika jalan-jalan pagi.


"Kamu nggak mandi setahun juga tidak akan merubah semuanya. Tetap kamu yang akan aku cintai selama nafas masih disini." wajah Vika memerah.


"Pagi-pagi dah gombal," tawa Vika.


"Pagi itu adalah waktu yang membuat kita semangat melakukan sesuatu. Termasuk menggombal kamu," tangan Revo sudah melilit di pinggang Vika.


"Malu, kita masih di tengah kota." Vika masih menjaga jarak.


"Oh, ya, maaf. Entar malah viral, tahu sendiri kalau negara kita paling gampang kalau mau terkenal."


"Dan taruhannya reputasi kamu sebagai chef selebgram. Tapi bukannya kamu pernah bilang dapat beasiswa kuliah di Singapura. Kenapa tidak diambil?"


"Banyak pertimbangannya termasuk kamu. Aku sudah jauh sampai kesini tentu bukan perjuangan yang mudah. Masih banyak yang harus aku kejar salah satunya restu mama kamu." Revo menarik tangan Vika berjalan di sekitar jalan mahoni.


"Itu SMA aku, Vo. Tapi cuma batas kelas dua." kata Vika menunjuk SMA yang tak jauh dari rumah sakit.


"Kenapa cuma batas kelas dua?" tanya Revo.

__ADS_1


"Karena aku sempat sakit cacar air menjelang ujian kenaikan kelas. Belum lagi pemulihan memakan waktu seminggu. Saat aku sembuh orang sudah pada bagi rapot. Saat itu papa sedang masa jayanya. Apapun bisa di lakukan dengan permainan uang. Tapi mereka tegas tidak menerima apa yang diminta keluargaku. Pada akhirnya aku masuk SMA biasa balik jadi anak kelas dua." Vika mengenang masa SMA nya.


"Ha-ha-ha ... kita jodoh ternyata. Aku juga harus mengulang kelas tiga pas SMA karena tidak lulus UN. Dan cuma aku yang tidak lulus untuk kelasku." Revo pun ikut bercerita.


Revo dan Vika berjalan beriringan. Karena Revo meletakkan motornya di dekat Ipunas. Ada temannya yang bekerja sebagai tukang parkir bisa di percaya menjaga motornya. Keduanya menghentikan langkah di depan gerbang SMA 2 Bengkulu. Masih memperhatikan jalan kanan dan kiri mereka menyebrang. Tangan Vika menggenggam erat lengan Revo. Lama Revo memandang kekasihnya setelah sampai di area parkir.


"Jadi benar kata Mas Ando, kalau Vika dan Ammar punya kisah di masa lalu. Atau Ammar lah lelaki yang meninggalkan kamu di pernikahan. Lalu air mata tadi untuk Ammar kah? apa aku hanya pelarian semata?" batin Revo.


"Vo," Suara lembut menyapa membuyarkan lamunannya.


Sebuah motor besar sudah berdiri di hadapan mereka. Motor mewah yang sering dia lihat di televisi.


"Ini pakai helmnya," Revo menyodorkan helm pada Vika.


"Ini motor kamu? kalau dari modelnya mahal Lo, Vo. Dapat duit darimana? kamu nggak korup kan di restoran Bu Rubiah?"


"Ini motor aku beli hasil dari uang selama jadi Chef selebgram, sayang." Revo menuntun Vika duduk di belakangnya.


"Jalan-jalan, dong, emang mau kemana lagi?" Vika tetap menaiki motor Revo walaupun dia tidak tahu akan di bawa kemana.


Revo langsung memacu motor gedenya ke arah simpang lima. Melewati Simpang skip hingga mereka pun sampai di lampu merah daerah Padang harapan. Vika masih enggan berpikir kemana kekasihnya akan mengajaknya. Rasa kantuk menyerang dirinya. Tadi malam dia mengobrol banyak hal dengan Fera. Dari masalah Intan yang di cari ayah kandungnya. Sampai soal cerita tentang Mila pun ikut di bahas.


Sepanjang melewati beberapa perumahan elit. Dari daerah Kapuas hingga memasuki lingkar barat. Angin mengalir sepoi-sepoi. Terasa udara masih terasa sejuk efek musim hujan sudah memasuki kota Bengkulu.


Hingga motor pun memasuki area Bandara Fatmawati Soekarno. Setelah mengambil tiket masuk, motor pun turun di parkiran dekat pintu masuk bandara kebanggaan kota Bengkulu.


"Sayang, kita sudah sampai."


Vika membuka mata pelan-pelan melihat di sekitarnya.


"Bandara? kenapa kesini?" Vika masih kaget di mereka berhenti.


"Aku ingin kamu menyelesaikan yang belum usai. Ya aku tahu mungkin tidak mudah bagi kamu untuk semua ini. Beberapa kali Kak Ammar meminta aku mempertemukan kalian. Menyelesaikan masalah yang kalian berdua hadapi."

__ADS_1


"Vo, kan aku sudah bilang sama mereka jangan paksa aku untuk yang ini. Aku masih belum bisa memaafkan Ammar. Rasanya masih ada yang sakit disini," Vika menunjuk dadanya.


"Bukan, Ka. Kamu sakit bukan karena itu, dari cerita pak Ando aku bisa menyimpulkan kalau kamu sakit hati karena Ammar lebih memilih Mila. Tapi sekarang Mila sudah mendapatkan kebahagiaan sendiri. Itu artinya kamu yang harus melepaskan rasa dendam itu."


"Kamu tidak berada di posisi aku, Vo!" Vika berjalan meninggalkan area parkiran motor di Bandara.


"Please, sebelum dia berangkat dan ada penyesalan diantara kalian berdua." Revo pantang menyerah.


Vika hanya diam mendengar penuturan Revo. Kenapa harus bertemu dengan Ammar. Tidak ada penyesalan kalau tidak bertemu dengan Ammar. Karena Ammar lah yang menyakiti perasaannya.


Kalau Ammar mau pergi berobat ke luar negeri juga bukan urusan dia. Vika merasa harus melakukan sesuatu agar Ammar tidak mengusiknya lagi.


Menyakiti perasaan pasangan adalah kesalahan umum yang sering terjadi dalam hubungan. Hal ini dapat disebabkan oleh banyak faktor, seperti kurangnya komunikasi yang baik, kecemburuan, kesalahpahaman, atau ketidakpedulian terhadap perasaan pasangan.


Namun, penting untuk menyadari dan mengakui kesalahan tersebut, serta berusaha memperbaiki hubungan dengan pasangan. Salah satu cara untuk memperbaiki hubungan adalah dengan berkomunikasi secara terbuka, jujur, dan saling mendukung satu sama lain.


Meski begitu, tak sedikit hubungan akhirnya selesai karena kesalahan yang terjadi dalam hubungan. Tentu, menjadi beban bagi pihak yang melakukan kesalahan hingga menyakiti hati perasaan pasangan. Walaupun sudah tidak bisa lagi diperbaiki, namun Anda masih bisa menyampaikan ucapan maaf atas kesalahan yang Anda lakukan kepada mantan pacar.


"Kamu masih keras kepala." Suara itu membuyarkan pikirannya untuk kabur dari bandara.


"Kamu ...."


"Iya, Saya. Atau yang sering kamu panggil kak Ammar setiap pulang sekolah. Kamu yang dulu saat setiap aku liburan kuliah selalu datang bersama Tante Ida. Kamu yang pernah mencuri hatiku, serta mematahkan hatiku saat itu.


Saat itu aku memang pernah jatuh cinta pada seorang gadis muda. Saat itu aku merasa itu peluang besar saat tahu kamu mau kerja di counter ku. Tapi hatiku mulai patah ketika kamu menolakku dan saat itu aku jatuh cinta sama Mila."


"Tapi aku sadar kalau cinta tidak bisa memiliki. Aku tidak mungkin kembali sama kamu dan juga tidak akan bisa mendapatkan Mila lagi. Ini adil buat aku, kamu dan juga Mila. Aku hanya ingin minta maaf sama kamu, Vika. Atas kesalahan yang aku buat sama kamu, kesalahan yang membuat kamu trauma untuk bertemu denganku."


Ammar bersujud di lutut Vika. Memegang jemari gadis yang ada di depannya.


"Saya ingin meminta maaf atas kesalahan-kesalahan yang saya buat di masa lalu. Saya tahu bahwa saya telah membuatmu merasa terluka dan itu tidak baik. Saya berharap kita bisa saling memaafkan dan melanjutkan hidup dengan lebih baik.


Aku sangat menyesal telah menyakitimu dan membuatmu merasa kecewa. Aku berjanji untuk lebih baik lagi dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Tolong terima permintaan maafku."

__ADS_1


__ADS_2