Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 48


__ADS_3

Awan kelabu tampak berarak menuju barat. Sang mentaripun sudah mulai bergerak tenggelam di ujung ufuk barat.


Langit berwarna merah jingga kuning kemerahan membuat Mila tak ingin beranjak dari tempatnya saat ini. Sang mentaripun sudah mulai bergerak tenggelam di ujung ufuk barat.


Mila masih terpaku pada ingatan tentang apa yang di ceritakan ayahnya.


"Ibu kandungmu masih hidup, nak? ayah, pergi mencarinya bukan karena mau kembali sama dia. Tapi ayah tidak ingin memisahkan ibu dan anak kandung. Ayah memang orangtua biologis kamu. Tapi ayah tidak tega melihat kebencian yang di tanamkan nenek Seruni tentang kamu."


"Kalau memang ibu kandungku masih hidup, kenapa dia tidak datang membawa aku pergi. Kenapa dia malah meninggalkan aku di tengah orang-orang yang tidak menyukaiku."


"Ayah tahu yang kamu rasakan, Mila. Tapi percayalah. Ada hikmah di balik semua ini. Yang membencimu hanya nenek Seruni. Tapi lihat ibu Aminah, Tulang Boro, Sarah, Eva dan Lala. Mereka sayang sama kamu."


"Apa ayah tahu tentang keberadaan ibu kandungku?" Rohim mengangguk kecil.


"Ibu kandungmu sudah punya keluarga baru, nak." cerita Rohim.


"Jadi itu alasan dia meninggalkan aku sama ibu Aminah. Egois sekali." Mila menerawang ke langit sore. Ada rasa kecewa ketika mendengar ibu kandungnya memilih menikah lagi daripada membesarkan dirinya.


Tatapan tak berujung di teras rumahnya, menjadi khayal yang tak berujung. Dimana ada rasa sakit dan kecewa bertumpu menjadi satu. Air matanya menetes, merasa hidupnya tak pernah berhenti di rundung derita. Kapan dia akan bahagia jika nestapa selalu menghampirinya.


"Dia bukan egois, Mila. Tapi melanjutkan hidup. Ayah yakin sebenarnya dia sayang sama kamu. Waktu yang akan mempertemukan kalian berdua."


Dahlia baru pulang dari pasar melihat obrolan ayah dan anak tersebut. Dia mau saja menimbrung dengan mereka. Tapi hati kecilnya belum siap mengungkapkan yang sebenarnya. Dia takut reaksi yang akan di timbulkan Mila.


"Mama, aku mau ke rumah dulu. Vika kumat lagi!" Fera berlari mendekati Dahlia.


"Ya Allah, Vika. mama ikut, ya."

__ADS_1


"Tidak usah, Ma. Mama temani Intan saja. Aku tidak bisa ajak Intan. Tidak bagus untuk psikologinya." Fera pamit dan menghilang bersama gojek yang dia naiki.


"Ada apa, bude Lia?" sapa Eva.


"Anu, Eva. Ponakan bude sejak pernikahannya gagal dia mengalami depresi. Setiap hari mengamuk tiada henti. Sering menyakiti diri sendiri. Bude takut dia bisa berbuat lebih nekat lagi."


"Ya Allah, yang gagal nikah sama Ammar itu kan. Huh, dasar lelaki tak bertanggung jawab. Dia sudah melukai hati Mila, tapi dia juga tidak bertanggung jawab atas perempuan yang akan dia nikahi." omel Eva.


Walaupun Eva tahu Vika sering menyakiti perasaan Mila. Akan tetapi dia pun bisa merasakan sakitnya luar biasa saat di tinggal oleh lelaki yang menghalalkannya. Eva ingat saat dekat dengan Ilham, lelaki yang usianya lebih muda, lelaki itu selalu datang mengakrabkan diri dengan tulang Boro. Menjemput dirinya saat berangkat kerja atau pulang dari kerja.


Tapi nyatanya, saat di minta keseriusannya. Ilham malah memutuskan hubungan cinta mereka. Dengan alasan sebenarnya dia adalah perempuan sampingan Ilham. Eva kaget saat tahu ternyata ilham sudah punya pacar sebelum bersama dirinya. Eva pun sudah lama tidak dekat dengan pria lain. Dia sudah malas berurusan dengan pacaran. Kalau memang iya ada pria serius dengannya, sudah pasti dia ingin langsung di lamar saja.


"Itu apa, Va?" tanya bude Lia.


Eva mengalihkan pandangannya kearah satu kotak yang diambilnya dari kamar nenek Seruni. Katanya ini untuk acara pernikahan Sarah dan Anjas nanti. Karena kedua berasal dari tanah rejang.


"Itu namanya sekapur sirih, Bude Lia. Biasanya dipakai untuk upacara adat. Ini bakal di pakai untuk acara pernikahan Sarah dan Anjas." cerita Eva.


"Sebenarnya ini keinginan orangtua dari Anjas. Kalau dari kami sih nggak mampu buat seperti ini. Ini nenek Seruni beli saat dulu Sarah pernah di lamar sama anjas." cerita Eva.


Lia hanya manggut-manggut saja mendengar cerita Eva. Memang kalau salah satu keluarga mempelai lebih mampu. Pasti akan mendominasi acara. Biasanya semua fasilitas akan diatur sama yang lebih mampu. Bude Lia langsung pamit masuk ke dalam. Eva mengekor ke dalam sambil membawa sekapur sirih.


Sementara Mila kembali menjalani aktivitas membantu mempersiapkan pernikahan Sarah dan Anjas yang sudah dalam hitungan hari. Samar-samar dia mendengar ocehan para tetangga tentang keluarganya.


"Itu calon Sarah mantannya Mila, kan? astaga dulu emaknya Mila nikung Aminah. Sekarang Mila yang di tikung adiknya sendiri. Emang karma itu instan, ya?" sahut Bu Emi


"Tapi kalau di lihat dari jadwal lahir, emaknya Mila hamil sebelum Aminah nikah sama Rohim. Lagian si Rohim nanam benih terus ninggalin begitu saja. Mana mereka kakak beradik pula." jawab Bu Nuril.

__ADS_1


Mila yang hendak menuju ruang dapur sekilas mendengar ucapan para ibu-ibu. Sesaat dia mencerna perkataan mereka tentang ibu kandungnya kakak beradik dengan ibu Aminah.


"Kalau memang benar Bude Lia itu ibu kandungku. Kenapa dia selama ini diam saja. Atau kah dia malu mengakui aku anaknya karena aku lahir dari hasil luar nikah. Ya Allah kenapa hidupku seperti ini?" Mila mengurungkan niatnya untuk ke dapur. Langkah kakinya masuk ke kamar. Dia berusaha tidak menangis, tapi nyatanya air matanya kembali tumpah.


"Kak Mila kenapa?" tanya Lala yang menemukan kakaknya di kamar.


"Kakak cari tisu, mataku pedih soalnya tadi habis iris bawang merah." elak Mila.


"Ini, kak." Lala menyerahkan beberapa lembar tisu.


"Terimakasih, La. Kamu ganti baju, nak. Bantu yang lain ke belakang."


Lala diajak sekolahnya untuk ikut pertandingan basket persahabatan dengan sekolah lain. Gadis usia 13 tahun tersebut baru saja pulang ikut latihan di GOR stadion sawah lebar.


"Kak," Lala menunduk kecil menatap lantai mereka yang terbuat dari semen.


"Iya, La." Mila mengikuti arah pandangan Lala ke bawah. Melihat sepatu Lala robek padahal masih baru.


"Sepatu kamu kenapa? kok bisa gini?"


"Lala nggak tahu, kak. Pas abis latihan tahu-tahu sudah begini. Tadi Lala lepas sepatu karena numpang sholat zhuhur. Pas balik sepatuku sudah begini." Lala berusaha tidak menangis di depan sang kakak. Tapi nyatanya runtuh juga air matanya.


"Terus apa kata pelatih kamu?"


"Nggak ada, kak. Lala di suruh pulang, karena tidak mungkin Lala latihan tanpa sepatu. Kalau begini lebih baik Lala mundur dari pertandingan saja, kak Mila."


"Kok mundur? nggak usah mundur, kamu sudah latihan sejauh ini. Kakak akan cari cara supaya kamu punya sepatu baru. Pokoknya kamu tenang saja."

__ADS_1


"Tapi, kak..."


"Sudah pokoknya besok kita cari sepatu baru di jalan Suprapto."


__ADS_2