
Kediaman ibu Diana terlihat sangat ramai. Beberapa orang sudah berkumpul di sana. Termasuk Ibu Dahlia, ayah Rohim dan juga tulang Boro. Mereka bercerita masa kecil Mila, Lala dan Sarah.
"Lala itu waktu masih umur piyik suka takut sama orang. Tiap ada yang datang kerumah pasti lari cari ibunya. Sampai menggelendot di ketiak ibunya. Manja bener. Nah kalau Sarah emang cerewet dari kecil, sama persis kayak ibu Seruni. Jadi kalau ada yang ngomongin Mila ataupun Lala pasti pulang sudah banyak aduan dari warga. Kena bogem sama Sarah." Tulang Boro dengan semangat menceritakan masa kecil Mila, Sarah dan Lala.
Ketiga anak perempuan itu tumbuh tanpa bertemu dengan sang ayah. Borolah yang menjadi perwakilan ayah kalau ada kegiatan sekolah ketiganya.
"Diantara tiga anak perempuan itu, Mila yang paling kuat. Kalian tahu, harusnya Mila sudah tamat SMA. Tapi dia rela mengalah supaya ketiga adiknya bisa mengalah. Dulu Aminah memutuskan berhenti kerja jadi TKW. Jadi Aminah kerja jadi buruh cuci keliling. Dan Mila yang sering ikut atau menggantikan pekerjaan Aminah. Saat itu Mila masih SMP."
Rohim mendengar cerita Boro menundukkan kepalanya. Dia malu karena sudah meninggalkan Aminah saat itu. Hanya karena ingin menemukan Dahlia. Nyatanya keputusan itu malah membuat istri dan anak-anaknya menderita. Andai waktu bisa di ulang. Andai dia mendengarkan kata-kata Boro waktu itu.
Pandangannya berarah pada wanita muda duduk di ruang tamu. Beberapa karyawan restoran ibu Rubiah turut membantu. Acara mereka karena Ammar dan Ando akan ke Singapura. Sedangkan Rubiah akan mendampingi pengobatan ibu Diana di Padang.
Bang, kok bisa Abang masih akrab sama kak Mila."
"Kan suaminya perawat Abang."
"Dunia ini sempit ya, Bang."
Ammar tersenyum. Memang dunia ini sempit sekali, dari awal amar mendekati Vika, lalu di tolak vika, hingga mendekati Mila atas saran Vika. Yang pada akhirnya Amar benar benar jatuh cinta pada Mila, walaupun berakhir karena akan menikahi Vika.
Pandangan Ammar beralih ke arah Mila yang duduk sambil memijit kaki ibu Diana. Layaknya anak dan ibu.
"Kenapa tidak dari dulu mereka bisa sedekat ini? kenapa baru sekarang saat aku dan Mila tidak bisa di satukan. Apa memang kebahagiaan Mila memang bukan padaku." batin Ammar.
Dunia ini memang sempit, dari ternyata Vika dan Fera sepupuan, Mila juga dekat dengan keluarga Fera, dan sekarang suaminya Mila adalah orang yang merawat dirinya.
Tak lama Amar tidak bisa membendung air matanya.
"Maafkan abang,do."
"Abang nggak salah apa apa."
"Gara-gara abang, kamu gagal menikah dengan Dini. kamu melepaskan semua pekerjaan. Gara-gara abang kamu ..."
__ADS_1
"Abang ngomong apa sih? Kita kan keluarga, itulah artinya keluarga." Mereka saling berpelukan.
Mila duduk di dekat ibu Diana. Tadinya dia ingin bergabung bersama orangtuanya serta ibu mertuanya. Tapi ternyata kursinya sudah penuh. Merasa suara dari dalamnya bergetar Mila merogoh handphone di tas nya.
"Iya, Jas." jawab Mila dalam sambungan telepon.
"Kak Mila tolong bantu doa nya. Sarah di nyatakan kritis. Jika selama ini Sarah ada salah tolong di maafkan."
"Ya Allah, Jas. Sarah kritis. Apa itu sudah dalam penanganan dokter?"
"Sarah sedang di tangani dokter, Kak. Tadi dia kejang-kejang, detak jantungnya melemah."
"Kami kesana ya?"
"Tidak usah, Kak. Aku cuma minta doanya saja."
"Sarah akan selalu ada dalam doaku, Jas. Sebaik dan seburuk apapun dia tetap keluargaku. Adik kandungku."
"Terimakasih, Mila." Anjas menutup teleponnya.
"Wah, belum diolah saja sudah wangi apalagi kalau sudah masak." kata Danu pada Eva.
"Kalau soal masak yang lebih pintar dari aku adalah Mila. Bahkan ibu Aminah dulu suka ajari aku masak. Sayangnya dulu aku seide sama Sarah. Suka nggak betah di dapur, saat itu Sarah masih SMP dan aku sudah SMA. Tapi seiring usia aku perlahan belajar karena nantinya aku juga bakal jadi istri."
"Wah, sangat beruntung pria yang akan menikahi kak Eva nantinya." sahut Ando dengan senyum mengembang.
"Gimana kamu sama pacar yang kemarin sering kamu ajak?"
"Heh, kita nggak jodoh." jawab Eva datar.
"Yasudah yang di sebelah masih jomblo kok. Umur kan nggak pandang bulu. Lihat saja Sarah dan Anjas terpaut 8 tahun kan" Danu terus menggoda antara Eva dan Ando.
"Apaan sih, Danu? main comblang aja. Mana lah mungkin aku sama Ando. Mila saja di tolak sama ibunya, apalagi aku." bantah Eva.
__ADS_1
"Kalau seandainya kebalikannya gimana?" Danu terus memanasi Eva.
"Danu, kamu sama Mila saja. Daripada gangguin aku terus." Eva mengeluarkan bola matanya.
"Oh, aku di usir supaya bisa berduaan." gelak tawa Danu membuat orang-orang menoleh kearah mereka.
Danu pun meninggalkan Ando dan Eva. Tampak Eva mulai sedikit akrab dengan Ando, memulai obrolan diantara keduanya. Danu hanya tersenyum puas. Paling tidak itu bisa mencairkan suasana.
Di sisi lain tak jauh dari ruang tamu tampak Mila duduk melihat aktivitas di rumah mertuanya. Mila tanpa canggung duduk berbincang dengan Diana. Padahal di masa lalu mereka bukan sosok yang dekat. Bahkan pernah menyakiti perasaannya. Ada sedikit kedamaian melihat keakraban mereka.
"Aku senang melihat Mila dan ibu Diana akrab." kata melabuhkan tubuhnya di samping Ammar.
"Aku juga senang, Danu. Berharap semua akan berjalan lebih baik dari sebelumnya. Walaupun berharap sama istri orang sudah tidak boleh. By the way kalau kalian semua disini bagaimana dengan Sarah?"
"Ada Fera yang gantian disana. Anjas juga siaga sekali menjaga Sarah."
"Kamu tahu soal Anjas dan Mila?"
"Tahu." Jawab Danu dengan santai.
"Apa kamu tidak cemburu?"
"Sejujurnya orang yang pernah aku cemburui itu bukan Anjas. Tapi kamu, Mar. Aku berjuang membuat Mila melupakan kamu. Karena saat kamu tidak datang ke pernikahan, Mila yang menjadi tertuduh. Dia yang di salahkan oleh keluarga Vika dan juga keluarga kamu." cerita Danu.
"Dan jika ... Sayang kamu kenapa?" Danu menyapa Mila yang sudah diantara mereka.
"Uda, kita ke rumah sakit, yuk! Aku tadi dapat kabar kalau Sarah kritis. Aku mau ke rumah sakit. Mau lihat keadaan Sarah."
"Kabari dulu yang lain. Siapa tahu ada yang mau ikut" Danu beranjak dari tempat duduknya. Seketika orang-orang yang di kabari raut wajah mereka berubah.
"Benar yang kamu dengar Mila?" tanya ibu Dahlia.
"Benar, Bu. Barusan Anjas kabari, kalau Sarah di nyatakan kritis. Kita kesana kasih dukungan sama Anjas."
__ADS_1
"Fera di sana kok nggak kabari, sih?" ibu Dahlia memeriksa handphone. "Ya Allah, Mila! Fera beberapa kali menghubungi ibu. Tapi karena silent jadi nggak kedengaran. Sudah kita ke rumah sakit sekarang!"