
Revo kaget ketika mendengar kabar Vika akan di nikahkan dengan pilihan mamanya. Tubuhnya lemas seakan apa yang di lakukannya selama ini sia-sia. Belum lagi resto tempat dia bekerja di beri kepercayaan urusan catering. Rasa optimis yang menggebu-gebu selama ini terbayar sudah. Ingatannya beralih saat dia tidak dianggap ada ketika bertamu ke rumah Vika.
"Aku harus bicara dengan Vika." batinnya.
Revo mengambil kunci motornya. Tentu dengan tujuan untuk bertemu mama Ida. Siang itu meskipun terik terlalu tinggi tak menyurutkan niatnya. Baginya masih ada usaha yang harus dia tempuh. Walaupun pahit tapi itulah perjuangannya mendapatkan Vika. Tubuhnya yang sebenarnya kurang sehat di paksa menembus angin.
Motor Revo sepertinya butuh asupan membuat dia melipir ke pom bensin di daerah simpang kampung Bali. Revo saat ini tinggal di kost-kostan daerah Sukamerindu. Kalau jarak dari Prapto sangat dekat. Beda dengan kost-kostan dulu di daerah Surabaya. Jauh tempuhnya.
Sesampainya di rumah Vika, Revo menepikan motornya. Tampak suasana rumah terasa sepi. Layaknya tamu yang sopan dia pun mengucapkan salam. Lama tak ada sahutan, Revo pun berniat meninggalkan rumah. Suara pintu terdengar, dia pun urung melangkahkan kakinya. Tubuhnya yang atletis berputar mengumbar senyum pada sosok di depannya.
"Ada apa?" tanya Ida yang kebetulan dia yang membuka pintu.
"Saya mau bertemu sama Tante yang cantik ini." Revo menyalami mama Ida menyerahkan hadiahnya.
Ida mengerutkan dahinya. Pasalnya hadiah yang di beri pemuda itu terlihat biasa saja.
"Kamu ikut saya ke dalam." ajak Ida. Revo pun ikut masuk ke dalam rumah.
Beberapa furniture yang terakhir dia lihat beberapa bulan yang lalu kini sudah berbeda. Aksesoris rumah yang begitu mewah membuatnya takjub.
"Kamu lihat kan? semua isi rumah ini bukan kaleng-kaleng. Semuanya branded, biarlah di luar terlihat biasa saja tapi di dalam rumah orang akan berdecak kagum."
"Revo, kamu bisa memenuhi ini semua hanya dengan menjadi tukang masak. Saya rasa tidak, Ridwan calon suami Vika sudah memenuhi syarat. Bukan hanya itu saja. Dia juga akan memboyong kami ke rumah mewahnya." mama Ida masih mode pamer.
Revo tahu kalau Ida mau membandingkan dirinya dengan lelaki calonnya Vika. Sayangnya, dia tidak terpancing untuk mundur. Perjalanannya sudah jauh. Kepalang basah mandi sekalian.
"Waaw, iya Tante. Ini keren sekali." Revo menepuk keras sofa yang di pamerkan mama Ida.
"Ini pasti guci mahal juga Tante. Biasanya kalau mahal anti pecah. Percuma saja mahal tapi gampang pecah juga." Revo mengangkat guci ukuran setengah dari tubuhnya.
"Hay, jangan di pegang. Nanti kalau pecah kamu nggak bisa ganti." Mama Ida panik ketika Revo mengangkat guci pemberian Ridwan.
"Revo," Vika muncul dengan penampilannya yang kusut.
"Ya ampun, Sayang. Kamu baru bangun?" Revo melingkar tangannya di pinggang Vika. Tanpa peduli ada Ida yang panas melihat mereka.
"Ih, kamu ini. Malu tuh ada mama!" Vika langsung menepis lengan Revo.
"Maaf, Tante." Revo langsung merah padam saat Vika mengkode sikap Revo.
"Kebiasaan." Vika melototi lelaki yang sudah jadi tunangannya.
__ADS_1
"Aku mandi dulu ya?"
"Mau di mandiin?" Revo terus menggoda Vika.
"Belum muhrim kali."
"Makanya mau nggak aku muhrim kan sekalian."
"Ngomong sama mama kalau berani. Kepalang kamu sudah bertemu sama mama." tawa kecil Vika langsung kabur ke kamar mandi.
Revo mengendus aroma rempah menariknya ke dapur. Tampak mbak Yuni sedang memasak gulai daging. Naluri jiwa masak Revo meronta, tidak ada yang salah dalam menu tersebut. Tapi entah kenapa dia jadi gatal melihat cara masak mbak Yuni.
"Mbak Yuni masak apa?" wanita itu kaget saat suara Revo terasa dekat.
"Ya Allah, Mas Revo. Bikin kaget aja. Anu mas aku masak Kalio kesukaan non Vika. Tapi nggak tahu kok masih ada yang kurang. Maaf, mas Revo minta tolong cicip siapa tahu ada kurang pas rasanya."
Seperti permintaan Mbak Yuni, pemuda itu mencicipi hasil masakan. Revo memeriksa beberapa bumbu lalu bertanya apakah bumbu itu sudah di masukkan. Mbak Yuni menunjuk salah satu bumbu yang menurutnya lupa di masukkan. Pada akhirnya Revo turun tangan.
"Yuk," Vika sudah siap dengan setelan kaos serta celana jeansnya. Vika bahkan bisa menyetarakan diri dengan Revo yang dua tahun di bawah usianya.
"Tante Ida mana? Nanti dia marah kalau aku nggak izin bawa anaknya." ucap Revo.
Vika menarik nafas dalam-dalam. Dia malas ketemu mamanya. Yang ada nanti malah membahas lamaran dari pak Ridwan.
"Kenapa?"
"Aku mau bicara penting sama mama kamu. Bisa?"
Vika menelan salivanya. Perasaannya sudah tidak karuan. Di sisi lain dia berharap Revo membicarakan soal lamaran. Di sisi dia takut kemarahan sang mama.
Mama Ida baru saja keluar dari kamar. Cara berpakaiannya menandakan akan berpergian. Revo pun mengutarakan keinginannya untuk meminang Vika.
"Meminang Vika?" tanya mama Ida sambil menatap sinis.
Revo mengangguk pelan sambil menundukkan kepalanya.
"Apa yang bisa kamu beri untuk anak saya?"
"Saya akan menjaga Vika dengan sepenuh hati. Saya akan membimbing Vika menjadi istri yang baik dan Sholehah."
"Hahahaha ... Sholehah itu tidak akan membuat hidup anak saya bahagia." Mama Ida kembali memandang Revo dengan sinis.
__ADS_1
Mbak Yuni mendengar hal itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Semakin hari majikannya tidak menunjukkan perubahan. Dia berharap suatu saat Ida dapat hidayah. Karena menyepelekan tentang sholehah.
"Istri Sholehah itu bisa bikin masuk surga, Bu." Sahut Mbak Yuni.
"Masuk surga apa bisa jadi kaya? Enggak kan? kalau saya bisa jadi anak sholehah, orangtua saya tidak akan membiarkan anaknya berdandan cantik di pinggir jalan. Justru di mata mereka anak sholehah itu bisa kasih uang untuk keperluan mereka. Dan sekarang kamu sok sokan bilang soal sholehah!
Karena mereka membuat Vika depresi. Banyak biaya untuk penyembuhan Vika. Dan kali ini mama mohon sama kamu, Nak. Cuma pak Ridwan yang bisa mengembalikan kehidupan kita seperti dulu. Mama mohon sama kamu." Mama Ida sampai bersujud di kaki Vika.
"Saya tidak akan menyerah, Tante. Saya tetap akan menikahi Vika!" Revo bersuara mantap.
"Saya tidak peduli kamu menyerah atau mundur! Vika itu anak saya. Jadi kamu tidak ada hak menghalangi keinginan saya! saya minta kamu keluar dari rumah ini!"
"Yuni bawa Vika ke kamar!"
Mbak Yuni masih tidak bergeming atas perintah majikannya.
"Yuni kalau kamu tidak nurut kamu akan saya pecat tanpa pesangon dan tidak bisa kerja di tempat manapun!" ancam Ida.
"Maafkan saya, Non." Mbak Yuni langsung membawa Vika masuk ke kamar. Mama Ida langsung menyimpan kunci kamar Vika.
...****...
"Kamu cantik sekali, Nak." Ida memuji kecantikan putrinya.
Sejak jam lima subuh suasana di kediaman Ida sangat ramai. Beberapa orang sudah wara-wiri memasang tenda. Mama Ida tentu sudah wara-wiri mengatur para pekerja. Sementara famili yang lain pun juga ikut sibuk.
Yuni sibuk di dapur tapi pandangannya kearah kamar pengantin. Paham kalau ini bukan kehendak Vika. Bahkan ibu Dahlia dan Fera pun tidak di kabari soal pesta ini.
Mbak Yuni berjalan menuju kamar milik Vika. Sama seperti beberapa bulan yang lalu saat Ammar hilang di pernikahan mereka. Dan sekarang tangisan serupa terulang kembali, bedanya ini karena di paksa menikah dengan kakek-kakek.
"Bu Ida tega, Ya. Menjual anaknya dengan kakek-kakek. Padahal den Revo lebih baik dari bapak itu." kata Mbak Yuni.
"Ya Allah selamatkan non Vika." doa mbak Yuni.
Vika duduk di depan cermin riasnya. Tangannya mengepal erat tanda dia harus melakukan sesuatu. Di bawah pintu ada sebuah kertas, Vika paham itu dari Mbak Yuni.
"Non, coba lihat jendela!"
Vika membuka jendela kamarnya. Senyumnya mengembang saat melihat siapa yang menunggunya. Vika membuang kertas tulisan Mbak Yuni. Lalu melompat dari jendela dengan kaki telanjang. Masih menggunakan baju pengantin dia langsung duduk membonceng indah di belakang sosok.
"Kita kemana?" tanya Vika.
__ADS_1
"Kamu mau kan ke KUA?" Vika langsung mengangguk.