Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 119


__ADS_3

"Jadi kak Mila sudah tahu soal penyakit kak Danu," Danu mengangguk mengiyakan apa yang di pertanyakan Rudi.


"Kakak kenapa tidak segera berobat siapa tahu ada solusinya. Apalagi kalau sekarang kak Mila sedang hamil, sudah pasti dia berharap suaminya akan tetap sehat hingga anak-anak kalian besar," Rudi duduk di salah satu kursi koridor rumah sakit. Mereka sudah berada jauh dari kamar ayah Rohim.


Danu hanya diam saja. Meresapi ucapan Rudi sebagai penguat hatinya. Setelah tadi Rudi mendapati obat yang terletak di dekat tas Danu. Bisa jadi Danu lupa menyimpannya karena sudah sibuk menelepon Mila. Saat Rudi tahu apa yang Danu rasakan, lelaki itu tak marah. Sepintar-pintarnya dia menyembunyikan sesuatu pada akhirnya ketahuan juga.


"Aku minta hanya kamu saja yang tahu, Di. Untuk orang luar hanya baru kamu saja aku kasih tahu,"


"Sudah berapa lama, kak?"


"Sejak kecil aku sudah mengidap penyakit ini. Sudah berkali-kali Tuhan memanjangkan umurku, dan sampai sekarang Alhamdulillah aku masih bisa merasakan menikah dan sebentar lagi punya anak," Rudi melihat wajah Danu terlihat berbinar.


"Katanya kak Danu sudah menemukan orangtua kandung. Apa dia tahu penyakit kakak?" Danu mengangguk.


"Mereka sudah tahu, aku hanya punya ibu. Dan dari ibu aku tahu kalau sakitku ini pernah di idap oleh mendiang kakek buyut. Kata ibu kakek buyut adalah orangtua nenekku. Kakek buyut meninggal karena infeksi darah dan sekarang berganti dengan nama leukimia,"


"Stadium berapa?"


"Dulu terakhir stadium akhir. Sudah beberapa bulan ini aku belum periksa lagi, kata dokter aku cuma bisa bertahan satu tahun saja,"


"Ya Allah, tapi kakak jangan pesimis. Masih ada kesempatan untuk sembuh kak. Kak tetap harus semangat,"


"Tolong jangan cerita ke Anjas atau yang lainnya. Aku tidak mau mereka malah menjadi kasihan,"


"Tapi bisa jadi mereka bukan kasihan ke kakak. Lebih tepatnya ke kak Mila. Sudah pasti tahu kan apa yang selama ini kak Mila alami. Paling berikanlah sedikit kebahagiaan dalam hidup kak Mila. Apalagi kak Mila sedang hamil saat ini, dia ingin suaminya sehat dari penyakitnya,"


Danu menatap ke langit malam. Satu-satunya yang biasa dia lakukan saat ini menyembunyikan rasa sedihnya. Sejenak dia memejamkan mata. Membayangkan hal indah jika anak mereka lahir nantinya. Wangi karbol lantai rumah sakit membuat dirinya merasa pusing. Jujur dia tidak pernah benci aroma ini, tapi ternyata hal ini membuatnya tidak betah.


"Kakak kenapa?" Rudi melihat wajah Danu pucat.


"Enggak apa-apa, mungkin ini namanya ngidam simpatik. Kepalaku pusing mencium aroma karbol lantai,"Elak Danu.


"Sudah, kakak istirahat, ya. Biar aku dan Anjas yang jaga," Rudi memapah Danu masuk ke dalam kamar rawat Rohim.


"Kak Danu kenapa?" Anjas melihat wajah Danu pucat.


"Kecapekan," jawab Rudi.


Anjas mengambil ambal untuk Danu istirahat. Kebetulan tadi bang Jaka membawa ambal untuk mereka istirahat.


Bukan hanya itu saja, Eva meminta Hadi, sang kekasih mengantarkan beberapa lauk pauk untuk sahur nanti. Eva tahu Mila pasti belum sempat menyiapkan menu buat para lelaki berjaga di rumah sakit.

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan pukul satu malam. Beberapa dari mereka sudah tertidur. Seperti Rudi dan Danu, keduanya sudah berada di dunia kapuk. Sementara Anjas dia belum bisa mengantuk, mencoba menelepon istrinya tapi ternyata tak diangkat "Sepertinya Sarah sudah tertidur,"


Malam ini adalah malam Lailatul Qadar. Malam Lailatul Qadar biasanya terjadi pada akhir bulan, karena rembulan baru akan muncul dalam kondisi yang indah dan biasanya jatuh pada sepuluh malam terakhir Ramadan di hari ganjil.


Malam Mulia yang Lebih Baik dari 1.000 Bulan


Maksudnya, salat dan amalan pada Lailatulqadar lebih baik dari seribu bulan dibanding ketika dikerjakan di luar Lailatulqadar.


Segala jenis amalan dan ibadah akan diganjar pahala berlimpah di malam ini.malam Lailatul Qadar ditandai dengan langit yang bersih, udara yang tidak panas maupun dingin, tidak berawan, tidak hujan, tidak ada bintang, dan siang harinya sinar matahari tidak terlalu panas.


Di kediaman Mila, jam sepertiga malam dia terbangun. Udara Bengkulu yang lumayan tropis membuatnya sedikit tidak nyenyak. Padahal dia sejak kecil sudah terbiasa. Tapi entah kenapa beberapa hari ini dia sering gelisah. Mila menganggap itu hanya bawaan hamil saja. Tumbuh bangkit melewati kedua adiknya yang masih terlelap.


Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Kakinya melangkah meninggalkan kamarnya, membuka pintu dapur, menghidupkan lampu ruang dapur. Setelah itu Mila mengambil wudhu untuk melakukan sholat malam. Mungkin kalau sudah sholat hatinya sedikit tenang.


Waktu bersama keluarga adalah hal yang paling ditunggu saat bulan Ramadan, di mana kebersamaan saat berbuka dan sahur dianggap banyak umat muslim sangat berharga dan langka.


"Kak Mila mau sholat malam?" suara sapaan terdengar dari belakang tubuhnya.


"Sarah, kamu sudah bangun,"


"Sudah kak, aku mau ke kamar mandi. Sebentar lagi kita sahur," Sarah langsung memasuki kamar mandi.


"Kakak bangunkan Lala dulu, ya,"


"Kita mau masak apa, kak?" Sarah membuka kulkas untuk mencari bahan menu sahur.


"Apa ya? Kakak juga bingung mau masak apa? biasanya suamiku yang punya ide masakan. Apalagi kalau dia makannya lahap,"


"Kak ini ada tempe, kacang panjang juga ada, kita buat sambal oseng tempe saja. Bukannya ini favorit Lala," usul Sarah.


"Kamu mau masak apalagi, biar kakak bantu," Mila ikut memeriksa bahan di kulkas.


"Sarah, pengen makan Indomie saja kak. Nggak tahu lagi pengen saja,"


"Apa kamu lagi ngidam?" sahut Mila sambil mengambil satu bungkus Indomie sudah disiapkan di atas meja dapur.


"Enggak, kak. Aku belum lama kering haid," elak Sarah.


"Oh, ya. Nggak apa-apa, Sarah. Kamu fokus sama kuliah sama dulu. Tapi jangan lupa kamu tetap harus menjadi istri yang baik untuk suamimu," Sarah mengangguk.


Beberapa saat kemudian menu sudah selesai di masak. Sarah membangunkan Lala, sedangkan Mila menunggu dua adiknya di meja makan.

__ADS_1


"La, kamu sama Sarah duluan saja ke rumah sakit. Nanti kakak nyusul. Soalnya ada yang mau kakak kerjakan," kata Mila.


"Apa itu kak?" Sarah penasaran apa yang mau Mila buat.


"Hari ini kakak ada jadwal kontrol di rumah sakit M. Yunus,"


"Kontrol kehamilan? kenapa tidak ajak kak Danu saja?"


"Janganlah, dia pasti capek habis jaga malam di rumah sakit,"


"Ganti hari saja. Nggak enaklah masa pergi kontrol sendirian. Atau kalau tidak salah satu dari kami menemani kak Mila kontrol di rumah sakit," kata Sarah.


"Aduh, bagaimana ini? aku mau ketemu Wisnu membahas soal kemoterapi mas Danu. Sudah terlanjur janji sama Wisnu," batin Mila.


"Iya, deh. Kakak tunggu Mas Danu saja," jawab Mila pasrah.


"Kemarin perasaan kakak manggilnya Uda, kok sekarang balik Mas lagi," Lala ikut nimbrung obrolan kakaknya.


"Tapi kalau menurut aku ya, Kak. Manggil suami ya emang universalnya ke Mas atau abang. Kalau Uda terlalu nampak kesukuannya. Ya memang kak Danu itu orang Minang, cuma ya dengarnya rada gimana, gitu? kita kan hidup di Bengkulu bukan di Padang. Lagian kak Danu besarnya di sini kota Bengkulu," Sarah terus mencerocos.


"Dimana kita berpijak di situ langit dijunjung. Lagian aku harus ikut tradisi keluarga suamiku, Sarah. Dimana adat Minangnya sangat kental. Bukankah istri itu kiblatnya pada suami,"


"Iya, sih. Bang Anjas rejangnya juga masih kental. Kita kan di biasakan bahasa Melayu Bengkulu. Jujur aku masih kaku dengan bahasa mereka. Tapi untungnya Papa Ahmad dan juga Rudi sering komunikasi pakai bahasa Bengkulu,"


"Kak Sarah gimana rasanya satu rumah sama mantan terindah?" pertanyaan Lala membuat keduanya langsung tertawa.


"Kok tertawa? kan aku nanya sama kak Sarah?" Lala kesal di tertawakan sama kedua kakaknya.


"Kamu pacaran saja belum pernah sudah tahu mantan terindah," celetuk Sarah sambil tertawa.


"Tapi kan Lala sudah kelas dua SMP, kak,"


"Iya, kakak tahu. Tapi kamu kan belum haid jadi masih bisa dianggap anak kecil. Tapi kalau kamu pacaran jangan sama Aris, ya. Emaknya cerewet dan pelit, Masa anaknya mau nolong temannya di masukkan catatan hutang,"


"Tapi kan waktu itu yang Aris kasih uang, kak. Wajar saja kalau di jadikan hutang. Lagian mana mungkin aku sama Aris. Nanti pasti akan ada lelaki yang lebih ganteng dari Aris," jawab Lala.


"Sarah, sudahlah, jangan diajarin yang aneh-aneh sama Lala. Nanti nilainya turun kayak kamu dulu,"


"Kak, biar dia tahu dunia luar. Jadi pas di luar nggak kudet amat,"


"Astaga, aku lupa check Mas Danu, apakah dia sudah bangun apa belum,"

__ADS_1


"Yah, kak. Kan ada Rudi sama bang Anjas. Pasti mereka bangunkan. Nggak usah lebay gitu,"


"Andai kalian tahu apa yang di idap sama Danu. Pasti tidak akan menyimpulkan seperti itu," batin Mila.


__ADS_2