
"Bapak mau ngapain?" ucap Mila yang kaget tertidur di paha Ammar.
Wajar saja dia kaget. Tadi dirinya masih sendiri tidur selonjoran di kursi belakang. Ketika membuka mata dia tertidur di paha lelaki yang bukan muhrimnya. Mila bangkit dan menggeser
"Menurut kamu?" Ammar masih bersikap dingin pada Mila.
Ammar tadinya juga tidak peduli Mila mau pindah duduk dimanapun. Tapi dia merasa rugi sudah membayarkan tiket Mila dan tidak di manfaatkan dengan baik. Sesaat dia menoleh ke tempat duduk Mila. Melihat kepala Mila yang hampir keluar sofa.
Saat Ammar menggeser kepala Mila lalu hampir keluar sofa. Takut gadis itu terjatuh dan pastinya bakal membuat heboh para penumpang. Ammar membayangkan orang-orang tidak akan membantu. Paling mereka hanya menertawakan kesialan yang dialami Mila.
"Ah, kenapa aku harus peduli dengan dia? Ingat, Mar. Kamu ke Lampung hanya untuk menenangkan diri setelah berpura-pura menerima Vika. Meskipun Vika masih sering berkomunikasi dengan Ilham.
Kalau tidak demi mama, aku tidak mau di buat seperti ini."
Pada akhirnya Ammar pun memindahkan kepala Mila keatas pahanya. Seperti seorang ayah yang sedang menidurkan anaknya. Mata Ammar pun ikut mengantuk, tak lama dia pun terpejam.
Mobil pun berhenti di sebuah perbatasan. Mila yang terbangun kaget karena sudah berada diatas paha seorang lelaki. Lebih kagetnya lagi tangan lelaki itu berada di pucuk kepalanya. Bangunnya di sertai dengan amukan gadis itu pada mantan atasannya.
Kenapa dia bisa ada di paha lelaki itu?
"Kamu harusnya berterimakasih sama saya. Kalau saya tidak begitu kamu sudah jatuh ke kolong kursi. Jadi tontonan penumpang. Kamu mau orang-orang akan repot membawa kamu ke rumah sakit. Makanya saya sudah antisipasi duluan. Paham!"
"Terus kenapa bapak masih disini? kursi bapak disana bukan disini! jangan-jangan anda mau cari kesempatan, iya kan?" tuduh Mila.
"Hei, bukankah ini bukan tempatmu juga. Ingat saya yang bayar tiket kamu. Seharusnya kamu harus berterimakasih sama saya. Kalau saja Vika tidak mengatakan kamu juga mau ke Lampung. Saya juga ogah bayarin kamu. Tapi ingat! ini sudah di potong gaji kamu yang di counter."
"Maaf, pak. Saya juga tidak minta anda bayarin. Kan anda di suruh Vika. Jadi minta bayaran gantinya pada Vika. Satu hal lagi Bapak Ammar yang terhormat, saya bukan lagi pegawai anda. Saya sudah berhenti sejak bapak masuk rumah sakit. Paham!"
"Eh, kamu tidak lupa kan? kalau yang menyelamatkan kamu siapa? kalau tidak..."
"Oh,anda minta pamrih. Saya berterimakasih karena anda sudah mau menyelamatkan saya saat di gudang. Tapi saya juga tidak minta anda untuk menyelamatkan lelaki mesum seperti anda. Paham!"
Mila melihat orang-orang sudah pada mau naik ke bis. Padahal dia baru saja mau turun untuk mengisi perutnya yang lapar. Tapi ternyata mobil sudah mau berangkat.
"Bang, saya mau makan. Laper!" kata Mila pada kondektur bis.
"Lah, tadi kenapa nggak makan, non?"
__ADS_1
"Tadi saya ketiduran. Ini baru bangun. Saya laper banget, bang. Saya ada maag. Abang mau kalau nanti saya sakit maag tapi nggak ketemu rumah. Kalau saya tiba-tiba meninggal di dalam bis bagaimana?"
"Yaudah, deh. Buruan makannya. Saya tunggu."
Mila yang hendak turun di tahan oleh Ammar. Lelaki itu meminta Mila kembali ke tempat duduknya.
"Kamu balik ke tempat duduk sekarang!"
"Pak, saya lapar. Ini kalau tidak berdebat dengan bapak tadi mungkin saya sudah makan."
"Tadi yang marah-marah duluan siapa? saya atau kamu!" Ammar masih bersikap ketus pada Mila.
Ammar turun dari bis lalu masuk ke rumah makan tersebut. Terdengar suara pak sopir mengomel karena melihat ada yang turun. si asisten sopir pun meminta sang kemudi setir untuk sabar.
Tak lama Ammar kembali membawa beberapa makanan dalam dua kantong besar. Ammar meminta Mila membagikan pada semua penumpang termasuk kondektur dan juga sopir. Setelah itu mobil kembali jalan. Ammar menunggu Mila makan, padahal dia juga belum makan.
"Pak, kenapa nggak makan. Bukannya bapak juga belum makan? nanti kalau bapak kenapa-kenapa saya juga yang repot." cerocos Mila.
"Kamu makan saja tidak usah pusing soal saya." jawab Ammar.
"Saya peduli sama bapak karena pak Ammar sudah menyelematkan nyawa saya saat di gudang. Saya masih mencoba positif thinking." kata Mila terdengar lembut.
Lelaki itu jelas menolak, dia juga bisa makan sendiri.
Selesai makan, Mila pun berdiri ke kamar mandi yang di sediakan bis. Dengan goncangan mobil membuat jalan kakinya tak seimbang. Baru saja akan berdiri tubuh Mila tumbang hingga terduduk di pangkuan Ammar.
Lama mereka saling bertatapan. Tangan Mila mengalung di leher Ammar. Sadar dengan apa yang terjadi, Mila minta maaf lalu bangkit meninggalkan kursi menuju ke toilet.
Kenapa dengan jantungku? tidak Ammar! perempuan yang kamu cintai itu Vika. Bukan Mila!"
Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 lewat dini hari. Tampak semua penumpang sudah terlelap di kursi mereka masing-masing. Begitu juga Mila dan Ammar. Ammar terbangun sedikit melihat posisi kepala Mila hampir mau keluar. Tangan Ammar dengan hati-hati memindahkan kepala Mila ke pundaknya. Ammar mengambil jaket untuk menutupi tubuh Mila.
Pukul 09.00 pagi bis sudah memasuki kota Lampung. Mila melihat bagaimana ramainya kota Lampung. Bahkan lebih ramai dari kotanya sendiri yaitu Bengkulu. Netranya beralih ke lelaki di sampingnya yang masih terlelap.
"Apa aku tadi malam tertidur di bahu pak Ammar. Untung dia belum bangun. Kalau dia tahu aku tertidur di bahunya bisa Ge-er dia." batin Mila.
__ADS_1
Pak kondektur memeriksa semua penumpang. Tampak Ammar duduk sendiri masih tertidur. Pak kondektur pun membangunkan Ammar.
"Pak, bangun ini sudah sampai."
Ammar pelan-pelan membuka matanya. Melihat kanan kiri sudah tidak ada orang. Bahkan Mila pun sudah tak ada.
"Pak, sudah sampai." pak kondektur mengulangi ucapannya.
"Eh, iya, Pak. Terimakasih." Ammar bangkit untuk turun di sekitar terminal.
"Tidak ada perubahan, setelah beberapa tahun aku meninggalkan kota ini. Heh, sekarang aku harus ke rumah Bu Selly."
Bu Selly adalah ibu kostnya dulu.
...****...
Di sebuah rumah kecil dalam sebuah perumahan sebelah barat kota Metro. Perumahan yang jauh di keramaian kota. Tampak seorang wanita sedang berfokus pada benang dan jarum. Matanya yang sudah susah melihat masih berfokus pada jarum dan benang.
"Ibu, Biar aku saja yang masukkan benangnya." kata seorang wanita muda.
"Fera, ibu bisa kok."
"Kalau eyang bisa daritadi kok nggak masuk benangnya. Biar mama Fera saja yang jahit. Nanti tangan eyang ketusuk jarum." ucap gadis kecil yang duduk sambil membawa dua boneka tokoh kartun dari Malaysia.
"Intan kamu sudah makan, Nak." ucap Fera.
"Sudah mama Fera. Upin sudah makan belum? Ipin sudah makan belum?" kata Intan pada dua boneka yang di pegangnya.
"Sudah," jawab Fera.
Namanya Dahlia, usianya saat ini sekitar 57 tahun. Dia tinggal bersama anak dan cucunya. Suaminya sudah meninggal dunia saat Fera dan Kakaknya Fitri masih kecil. Fera dan Fitri bukan anak Dahlia tapi anak bawaan suaminya.
Saat ini Dahlia hanya tinggal sama Fera dan Intan. Sedangkan Fitri sudah meninggal saat melahirkan Intan. Sejak kecil Intan hanya tahu dia anak Fera.
Di depan sebuah rumah Mila berdiri memastikan alamat yang dia dapat. Menurut info yang dia dapat dari Vika, kalau pemilik rumah adalah istri dari pakdenya di pihak mamanya.
Mila pun memasuki rumah yang memiliki pagar kecil. Rumah yang memiliki pekarangan sederhana. Mila jadi ingat sama rumahnya sama di Bengkulu. Mendiang ibunya suka menanam bunga, juga menanam tanaman rempah. Seperti kunyit, jahe, daun pandan dan masih banyak lagi. Kadang saking banyaknya tidak muat dan pindah ke rumah nenek.
__ADS_1
"Aku rindu ibu!"