Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 6


__ADS_3

Hari sudah mulai sore, Mila pun pulang ke kostan. Masih memikirkan soal tabungan yang di beri Eva. Memaknai apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa ayahnya menitipkan uang pada Tulang Boro. Kenapa neneknya malah membenci ayahnya. Pertanyaan demi pertanyaan terus bergulir di pikirannya.


"Sudahlah, Mila. Benar kata nenekmu Lala harus belajar mandiri, kalian terlalu memanjakannya. " Kata Eva.


"Bukan soal itu,va. Aku cuma heran kenapa ayah sampai menitipkan tabungan ibu pada kalian."


"Jadi maksudmu tidak percaya sama kami?"


"Entahlah,va."


"Mil, menurut tulang boro ayahmu sekarang berada di Lampung." Eva kembali mengeluarkan suaranya.


"Berarti Tulang Boro tahu tentang ayahku selama ini. Kenapa kalian tidak pernah cerita sama aku? juga sama ibuku. Kalian tahu kalau ibuku bertahun-tahun tersiksa setelah kepergian ayah."


"Maafkan kami, Mil. Aku sudah pernah mencoba cerita ini sama kamu. Tapi Tulang Boro bilang kalau ini bukan ranah kami."


"Bukan ranah kalian? tapi kalian sudah menyimpan rahasia ini bertahun-tahun secara tidak langsung kalian juga terlibat." suara Mila terdengar meninggi.


"Kamu mau kemana, Mila?" Eva mencoba menahan sahabatnya yang sudah mengambil tasnya.


"Aku mau pulang!"


"Kamu marah sama kami?"


"Tidak. Aku cuma tidak menyangka kalau kalian sekomplotan sama ayah."


"Kamu jangan pulang dulu, Mil. Tulang Boro sedang di jalan mau pulang. Dia mau bicara sama kamu."


"Lain kali saja, Va." Mila pun sudah berdiri di depan pagar rumah Eva.


Mila sudah berada di counter bersama beberapa karyawan lainnya. Pikirannya melayang tentang kabar kalau ayahnya sekarang berada di Lampung.


Apakah dia akan menyusul Rohim? dia juga belum memastikan hal itu. Meninggalkan pekerjaan keluarga dan yang lainnya hanya demi seorang ayah rasanya masih berat. Seharusnya ayahnya yang datang mencari mereka. Bukan dirinya yang malah mendatangi ayahnya.


"Nak ketahuilah, meskipun dia sudah meninggalkan kita. Tapi ibu tahu kalau ayahmu sangat sayang sama kalian bertiga."


"Kalau dia sayang sama kami, tidak mungkin dia meninggalkan kita, Bu. Hanya demi wanita lain."


Mila merenungkan apa yang dikatakan mendiang ibunya. Ibu Aminah selalu membela ayahnya. padahal secara nyata kalau Rohim pergi meninggalkan mereka saat ibunya hamil Lala.


Kabar tentang keberadaan sang ayah menjadi dilema bagi Mila. Di sisi lain dia mau menyusul mencari keberadaan ayahnya. Tapi di lain sisi, dia masih belum bisa meninggalkan Lala. Usia adiknya masih terlalu kecil untuk bekerja rumah tangga. Walaupun ada benarnya kata Eva, Lala harus belajar mandiri mulai dari sekarang.


Mila sudah masuk ke dalam kostannya. Dia kost di daerah Kebun Geran, di areal jalan Suprapto. Daerah yang menjadi pusat kegiatan perekonomian kota Bengkulu. Kalau mau ke counter tempat dia bekerja tinggal jalan kaki. AMMAR CELL berada di salah satu deretan toko handphone yang lumayan besar di kota Bengkulu. AMMAR CELL adalah salah satu showroom hp atau sering dikenal dengan toko hp terlengkap, termurah, dan terlaris di Bengkulu. Toko ini juga menerima service hp, menjual aksesoris dengan harga grosir dan ecer.


MACAM IKLAN SAJA


Mila merebahkan tubuhnya di kamar kostnya. Udara kota Bengkulu yang panas membuatnya merasa haus. Mila mengambil botol Aqua dari tas nya. Baru saja akan memejamkan mata Mila di kejutkan dengan suara handphonenya.


"Sarah?" batinnya

__ADS_1


Mila mengangkat teleponnya. Dia heran sama Sarah yang mendadak menghubungi dirinya.


"Ada apa?"


"Kakak apa kabar?"


"Tumben nanya kabar kakak?"


"Ya ampun, kak. Aku nggak hubungi salah, ditanya kabar jawabnya gitu? kakak dimana?"


"Aku di kost. Ada apa?"


"Kakak bisa ke rumah nenek kan besok?"


"Ngapain? kamu mau ikut tinggal sama nenek lagi. Kenapa kamu nggak menemani Lala disana? Kamu nggak lihat bagaimana nenek buat Lala disana?"


"Please ya, Kak. Lala itu lagi di didik sama nenek. Masak air saja di nggak bisa? kalian terlalu manjain Lala."


"Lah terus kamu sendiri gimana? Lala memang kurang pandai di dapur. Tapi kalau nyuci piring sama beresin rumah dia bisa."


"Kak, aku menelepon kakak bukan bahas soal itu."


"Lalu?"


"Kakak masih cinta sama Anjas?"


"Kenapa kamu nanya begitu?"


"Tidak. Buat apa berharap sama lelaki seperti itu."


"Kakak maunya dia yang berharap datang sama kakak, gitu?"


Mila mengerutkan dahinya. Pertanyaan Sarah menyiratkan sesuatu yang dalam. Apakah benar kalau Sarah ada rasa sama Anjas, mantan kekasihnya.


"Jadi intinya kamu mau sama Anjas kan?" tebak Mila.


"Kak, aku minta izin sama kakak untuk menerima lamaran Anjas."


"Kenapa harus minta izin sama saya?"


"Ya karena kakak adalah yang paling tua dari aku. Kakak dan nenek adalah keluargaku saat ini. Di restui apa tidak?"


"Jika memang Anjas mau sama kamu, suruh dia ketemu sama nenek. Setelah itu baru menemui kakak."


"Nenek sudah kasih restu, kak. Tinggal kak Mila yang belum.


Mila terdiam sejenak. Bohong kalau dia tidak ada rasa sama Anjas. Ya, walaupun lelaki itu sampai sekarang tidak mencoba meluruskan semua yang terjadi. Tapi apa mau di kata kalau mereka tidak jodoh.


Mungkin jalan terbaik adalah ke Lampung mencari ayahnya. Kalau Sarah jadi nikah sama Anjas, sudah pasti harus menemukan ayahnya dulu.

__ADS_1


Mila sudah berada di counter, seharusnya ini bukan jam shift nya. Tapi karena ada yang mau dia bicarakan sama atasannya. Tampak ada Vika dan Eno yang sedang berada di outlet.


"Mila, kamu kok kesini?" tanya Vika


"Ka, aku mau cuti." ucap Mila tiba-tiba.


"Kok, mau cuti? emang ada apa?"


"Aku mau pergi ke luar kota.


"Kemana?"


"Lampung"


"Ngapain?"


"Ketemu ayahku."


"Emang kamu tahu keberadaan ayahmu." Mila mengangguk.


"Aku ada saudara di sana. Kalo mau numpang nginap nanti ku kasih alamatnya." Vika memberikan secarik kertas pada Mila.


"Makasih,ka."


" Youre welcome. Sekarang kamu bilang sama pak Amar tentang cutimu."


Mila melihat atasannya di gudang barang. Wajah Ammar yang selalu ketus padanya, membuat Mila sedikit ragu menyampaikan niatnya.


"Assalamualaikum, pak. Saya mau bicara sebentar." Mila dengan takut-takut.


"Ada apa?" masih dengan sikap dinginnya.


"Pak, saya mau cuti. Ada urusan keluarga di sana."


"Berapa hari?


"Urusan keluarga pak"


"Saya tahu kalau urusan keluarga. Tadi bukannya sudah kamu bilang. Aris dan Nando tadi juga meminta cuti menikah. Dan sekarang kamu juga mau ikut cuti. Sekarang ini pekerjaan lagi banyak kamu enteng mentingin urusan pribadimu."


"Tapi pak,"


"Kamu pilih saya pecat atau !!"


"Saya pilih mengundurkan diri, pak. Capek saya kerja dan punya bos egois kayak bapak!"


"Oh, mau lari dari tanggung jawab. Tidak ada yang cuti untuk beberapa hari ini. Paham!" Ammar berlalu meninggalkan gudang.


Mila pun beranjak dari gudang. Tanpa di sengaja dia menyenggol salah satu kardus di gudang. Suara gelundungan kardus membuat Mila pasrah. Mila pun memejamkan matanya, berdoa agar di lindungi oleh Allah.

__ADS_1


Mila pelan-pelan membuka matanya. Tubuhnya berada diatas seseorang yang menurutnya sangat menyebalkan.


"Pak Ammar!"


__ADS_2