
Sore itu di kediaman keluarga nenek Seruni
Beberapa tetangga membantu kebutuhan nenek Seruni, seperti memberikan sembako dan beras. Sarah sekarang sudah pulang tinggal di rumah nenek Seruni. Tadinya dia mau diajak liburan ke puncak oleh keluarga Anjas.
Suara ketukan pintu terdengar di luar. Sarah yang sedang bersama Eva, meminta Eva untuk membuka pintu rumah. Awalnya Eva menolak sebab dia merasa lebih tua dari Sarah. Namun melihat sikap Sarah masih cuek, Eva akhirnya mengalah. Dia berdiri membuka pintu.
"Anda bukannya ibu yang datang bersama Mila kan?" wanita itu mengangguk.
"ibu Seruni ada?" tanya bude Lia.
"Ada bude."
Bude Lia langsung mengikuti kemana Eva menunjukkan kamar ibu Seruni. Bude Lia awalnya masih ragu untuk datang. Akan tetapi, momen ini yang dia tunggu selama ini. Momen dimana dia bisa bangkit setelah harta bendanya di kuras oleh ibu tirinya.
"Nenek, ada yang mau bertemu." kata Eva.
"Siapa?" nenek merasa tidak menerima tamu di siang hari.
" Assalamualaikum .... Ibu!"
Seruni kaget melihat sosok yang didepan matanya. Sirat kebencian kembali terpancar dari wajah wanita tua itu.
"Dah...Lia!"
Dahlia langsung bersujud di kaki ibu tirinya. Tangisannya pecah sambil memeluk mantan ibu tirinya. Sayangnya itu tak melunturkan kekerasan hati Bu Seruni.
"Bu, selama ini saya mencari keberadaan kalian. Keberadaan ibu, Aminah, alia ...dan rohim. Saya tahu kalau selama ini sudah meninggalkan Alia sama kalian."
"Pergi kamu! kalau perlu bawa anakmu! Kamu dan dia sama-sama menyusahkan. Kalian sama saja! pergi!" Nenek Seruni mendorong tubuh Dahlia dengan kasar. jantung Seruni terasa sakit, seketika ambruk!
Bude Lia menatap Bu Seruni dengan linangan air mata.
"Saya kesini memang mau berteman anakku. Tapi kenapa ibu melimpahkan kekecewaan pada anak saya. Apa salah dia, Bu? Apa karena dia anak di luar nikah? apa karena dia anak saya?
Ibu tidak lupa kan, kalau saya tidak menyetujui keinginan bapak untuk menikahi ibu. Mungkin ibu masih menjadi buruh kecil yang kerja sama bapak.
Ibu juga harus ingat, Ibu sudah menghabiskan uang dan juga aset keluarga milik bapak saya. Tapi kenapa ibu seolah-olah membuat saya seperti peneror. Sebenci itulah ibu sama saya?"
Dahlia tidak asal berucap. Dia ingat bagaimana setelah ayahnya meninggal di perlakukan tidak baik. Di jadikan pembantu. itu tidak akan dia lupakan. Seharusnya dia bisa kuliah, tapi nyatanya hanya tamat SMP. beda dengan Aminah yang sekolah batas SMA. Sampai-sampai Dahlia menjadi dongkol atas semua yang di dapatkan Aminah.
*****
Setelah pernyataan cinta dari Ammar, waktu serasa berjalan lambat. Meskipun suasana jalan Suprapto masih tampak lalu lalang banyak orang. Karena memang kawasan itu adalah pusat perekonomian kota Bengkulu. Dua kaki anak manusia itu menaiki sebuah motor, melaju dengan tenang.
Salah! memang semua ini. Mila pun tak bisa menolak saat cincin tersemat di jari manisnya. Di tonton oleh semua anak buah counter Ammar. Sampai saat itu dia belum tahu Ammar akan membawanya kemana. Pastinya dia akan mencari cara agar Ammar tidak mengikatnya. Akan tetapi dia tidaknya munafik kalau hatinya bahagia saat Ammar menyatakan keseriusannya. Beda dengan Anjas yang ternyata tidak tulus dengannya.
"Kenapa kamu mau sama aku?" pertanyaan itu muncul saat ammar meyakinkan Mila.
"Karena yang mengarahkan aku padamu adalah ini. Aku nggak tahu kenapa bisa jatuh cinta sama kamu. Tapi satu yang aku tahu. Cinta ku sama kamu tulus."Ammar menunjukkan dadanya.
"Kok nggak tau sih?" Mila protes dengan jawaban amar.
" Ya, gimana. Cinta datang tiba tiba nggak di sadari"
"Tapi aku nggak enak sama Vika. Vika bahkan minta dukungan sama aku."
"Salah dia kenapa dulu jual mahal" Ammar sambil tertawa.
Amar memegang tangan Mila.
__ADS_1
"Plis jangan bahas soal Vika lagi, dia udah masa lalu. Masa depan ku ya, kamu Sarmila."
Muka Mila memerah.
"Selama kamu belum tegas antara aku dan Vika aku tidak akan menerima cinta kamu!" Mila mencoba mencabut cincin yang disematkan pada jarinya. Sayang cincin itu tak mau lepas.
Dialihkan pandangannya melihat langit. Langit biru bersih dengan awan yang tipis, Mila merasa sebahagia ini. Ammar memegang wajah Mila, dekat dan mendekat, dekat lagi.
"Bukan muhrim." Mila mendorong tubuh amar.
"Kupikir bakal di tampar lagi." jawab amar sambil tertawa.
"Ingat aja yang itu."
"Tapi kerasa kok ada yang berdebar." Mila mencubit perut Amar, Amar berlari karena di kejar Mila. Langit yang cerah di atas gedung benteng Marlborough.
Ammar menikmati udara sejuk di sekitar benteng. Hembusan udara itu terasa nyata ketika melihat gadis yang duduk di sampingnya. Senyumnya mengembang, walaupun Mila belum mengiyakan perasaannya. Tapi Ammar yakin, Mila juga mencintainya. Tangan Ammar menggenggam erat jemari Mila.
"Aku mau pulang." Mila berdiri setelah senja mulai memudar.
"Mila, kamu belum menjawab perasaanku. Aku mengajakmu kesini untuk meminta jawaban perasaanku tadi."
"Mar, kan sudah aku bilang sebelum kamu tegas dengan urusan Vika, aku tidak akan membuka hati untuk ...." Ammar langsung menarik kepala Mila. Menyembunyikan di balik dada bidangnya. Sesaat Mila merasa nyaman dengan pelukan erat lelaki itu.
"Mar, please, jangan buat aku jahat sama Vika."
"Kamu tidak jahat, Mila. Dia juga salah, menerima aku untuk pelarian saja. Aku tahu Vika menerima perjodohan kami karena Ilham sudah menikah dengan temannya Vika. Aku juga manusia, Mila. Aku juga ingin mencari yang tulus. Bukan di jadikan pelarian.
Kamu mau kan jadi istriku. Ibu dari anak-anak kita nanti." Mila masih tak bergeming. Hatinya masih dilema.
******
DUA BULAN KEMUDIAN
Eva pun menyayangkan kalau Mila menerima Ammar. Karena bagi Eva, jika lelaki itu serius pastinya akan di kenalkan oleh keluarganya. Tapi Mila yakin kalau Ammar akan mengenalkan dirinya pada keluarganya.
Motor berhenti di sebuah rumah. Suasana rumah itu tampak sepi. Namun terlihat ada mobil di depan teras rumahnya. Ammar menarik tangan Mila untuk mengajak masuk ke rumahnya.
"Ini rumah kamu?" tanya Mila.
"Iya, ini rumah aku. Aku mau kenalkan kamu sama keluargaku."
"Mar, please. Aku tidak mau mengecewakan Vika. Aku rasa. .." Mila mencoba melepaskan cincin yang sudah di sematkan Ammar ke jarinya. Sungguh dia tidak bisa menerima semua ini. Meskipun hati kecilnya juga ada perasaan pada Ammar.
Tapi ternyata cincin itu susah di lepas. Mila memilih pergi meninggalkan kediaman Ammar. Sayangnya Ammar bisa mencegah. Mau tidak mau dia akhirnya mau ikut ke dalam.
"Assalamualaikum," sapa Ammar.
Tak ada suara dalam ruangan itu. Ammar pun menelusuri setiap sudut rumahnya. Ammar menemukan mamanya di belakang rumah sedang asyik mengurusi tanaman hiasnya.
"Mama ternyata disini?"
"Iya, mar. Ada apa? tumben cari mama." Diana sedikit heran dengan sikap Ammar.
"Aku mau mama ketemu seseorang."
"Siapa?"
"Nanti juga mama tahu."
__ADS_1
Ammar seperti tidak sabaran menarik mamanya masuk ke dalam. Diana dengan tangan yang belepotan tanah pun pasrah mengikuti kemauan sang anak. Setelah membersihkan tangannya Diana menyusul Ammar ke ruang depan.
Sementara Mila masih merasa takut bertemu dengan keluarga Ammar. Masih ingat di benaknya bagaimana sikap mamanya Ammar kepadanya. Kalau mamanya Ammar tahu soal dirinya. Sudah pasti tidak akan ada restu dari pihak mereka. Apalagi sudah ada Vika yang di yakininya masuk kriteria calon menantu mereka.
"Jadi dia yang mau kamu kenalkan?" suara Diana terdengar dekat.
Mila menoleh mencoba salam ke tangan Diana. Sayangnya Diana menepis tangan Mila dengan kasar. Ammar yang ke dapur meninggalkan Mila dan mamanya tidak melihat reaksi itu.
Diana berjalan mendekati Mila dan berbisik seakan mengancam.
"Kamu ternyata tebal muka, ya. Bukankah waktu itu saya sudah kasih uangnya. Apa masih kurang sehingga kamu mendekati anak saya. Kamu tahu dari bibit bebet bobot sangat jauh dengan anak saya. Ammar itu sudah punya calon."
Mila menunduk tanpa menatap ke arah Diana. Tangannya menggenggam ujung bajunya. Sesak terasa, padahal dia baru saja di lamar Ammar.
"Saya minta kamu pergi dari rumah saya. Dan jangan pernah ganggu anak saya lagi. Lupakan impian kamu untuk hidup senang bersama anak saya."
"Mama, tidak setuju kamu dengan perempuan itu, dia tidak sederajat dengan kita."
"Mama bukan Tuhan, semua manusia sama derajatnya" bela Ammar.
Ando yang baru saja sampai mendengar perdebatan mama dan kakaknya. Dia juga setuju dengan mamanya, dimatanya Vika itu lebih baik dari semua wanita yang pernah dekat dengan Ammar. Dari segi pendidikan, segi paras dan latar belakang keluarganya sudah masuk kriteria. Tapi kenapa kakaknya malah memilih wanita lain.
"Ayolah kak, kenapa seleramu turun, dari mantan Putri pariwisata Bengkulu ke pegawai kecil. Perawan tua pula, hadeeeeh"
Amar meninju wajah Ando. Mama panik melihat aksi amar. Lagi lagi mama menyalahkan Mila yang membuat kakak beradik ini baku hantam.
Ammar meninggalkan rumah dengan perasaan kesal. Tentu saja menyusul Mila ke rumahnya. Terdengar suara adzan Maghrib membuatnya terhenti sejenak. Rasanya tidak etis kalau bepergian di jam sholat.
Setelah selesai sholat, Ammar melanjutkan perjalanan ke rumah Mila. Dia merasa mamanya pasti sudah mengatakan sesuatu. Tidak mungkin Mila pergi begitu saja.
Ammar mendapati Mila sedang duduk di teras rumahnya. Mengetahui Ammar mendekatinya Mila memilih masuk ke kamar. Secepat mungkin Ammar menahan kekasihnya. Tujuannya cuma satu, meyakinkan Mila hanya wanita itu yang saat ini dia cintai.
"Kalau kamu cinta sama aku. Kenapa sampai sekarang kamu belum tegas dengan Vika. Kenapa sampai sekarang Vika belum tahu soal kita? kamu mau menjalani hubungan denganku tadi masih ada ikatan perjodohan dengan Vika."
"Aku tahu hubungan kalian!" suara itu mendadak muncul menengahi obrolan keduanya.
"Vika!" ucap keduanya kaget.
"Iya, kaget! aku nggak menyangka kalau kalian menikungku dari belakang. Dua bulan kalian ngumpet di belakang aku. Tega kalian! Mila, selama ini aku anggap kamu seperti kakakku sendiri! kamu tahu kalau aku cinta sama Ammar. Tapi kenapa kamu menikungku dari belakang. Apa bedanya kamu sama Sarah! sama saja! sama-sama tukang serobot."
"Maaf!" Mila menunduk tanpa menatap ke arah Vika dan Ammar.
"Ammar kamu pulang!" ada sosok lain yang ikut di belakang Vika.
"Mama!" ucap Ammar kaget.
"Mama bilang kamu pulang! besok acara lamaran kamu dengan Vika."
Vika tersenyum menang. Dia memang rencananya melabrak Mila bersama mama Diana. Tak disangka ada Ammar disana.
"Ma, aku tidak cinta sama Vika. Wanita yang aku cinta adalah Mila." Ammar memegang erat tubuh Mila.
"Mar," Mila tidak mau membuat semuanya ricuh.
"Kamu pulang!" usir Mila.
"Enggak, Mila. Aku akan tetap mempertahankan hubungan kita. Aku sudah dewasa. Aku yang tahu kebahagiaan sendiri. Bukan diatur oleh mereka."Ammar tidak mau kalah.
"Saya minta kalian pergi dari rumah saya. Dan bilang ke anak anda supaya tidak usah mengganggu saya lagi." Mila melepaskan tangannya dari genggaman Ammar dengan kasar.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang Mila menutup pintu rumah. Suara pintu yang terdengar keras menandakan kalau mereka sudah di usir oleh empunya rumah.
"Apapun yang terjadi aku akan memperjuangkan kamu, Mila."