Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 27


__ADS_3

Tidak berapa lama motor yang di kendarai Danu sampai di gerbang rumah Vika. Rumah beraksen modern yang kini ramai dengan para undangan. Danu sendiri sedikit heran, acara apa yang diadakan oleh putri dari mantan pejabat kepercayaan walikota Bengkulu.


Danu tahu kalau rumah ini dulu sangat di kenal sebagai rumah Jamalludin Khairil, sekda kota Bengkulu. Danu pernah ke rumah ini sebagai utusan dari rumah sakit saat lelaki paruh baya itu kena stroke. Iya dia sejak lama sering menangani pasien stroke dari rumah ke rumah. Itu pun di lakukannya saat menjalani skripsi keperawatannya di Politekkes Bakti Husada.


Sejak kecil Danu tinggal di panti asuhan kasih bunda, yang terletak di dalam kampus Muhammadiyah daerah kampung Bali, kota Bengkulu. Danu tidak pernah tahu siapa orangtua kandungnya. Dia pun tidak berniat mencari tahu. Danu menebak kalau mungkin kedua orangtuanya sudah meninggal dunia atau bisa jadi dia tidak diinginkan, makanya di letakkan di panti.


Tak berapa lama saat usianya 10 tahun, Danu diadopsi oleh keluarga cina Islam. Kebetulan keluarga itu hanya memiliki satu putra yaitu Wisnu. Alasan mereka simpel, mereka cuma tidak ingin putra semata wayangnya kesepian. Jarak usia Danu dan Wisnu hanya dua tahun.


Danu senang dia bisa mempunyai orang tua. Danu pun tinggal di daerah Sawah Lebar. Di situlah dia bertemu dengan Mila. Dimana rumah mereka bersebelahan dinding. Iya, Mila dan Danu tinggal di kontrakan dempet milik nenek Seruni. Hanya saja dia pernah dengar kalau keluarga Mila tidak bayar kontrakan. Hanya menempati saja.


Hingga usia SMP mereka tinggal di daerah itu. Danu ikut keluarga angkatnya pindah ke daerah kepahyang, karena ayahnya terkena stroke. Sampai Danu pun akhirnya di minta mandiri, karena sudah tidak ada biaya buat sekolahnya.


Dia tahu bagaimana Mila di perlakukan tidak baik oleh nenek Seruni. Dia salut dengan gadis itu yang tegar dalam menjalani kehidupan. Seandainya Danu di posisi Mila belum tentu kuat.


Setamat SMA Danu memilih pulang ke panti. Dia sadar kalau orangtua angkatnya sudah menyerah. Apalagi saat tahu Wisnu mau ambil program ke dokteran yang di buka di fakultas universitas Bengkulu. Fakultas pertama yang saat itu masih berumur bulanan. Karena belum ada di kota Bengkulu.


Danu akhirnya bekerja di sebuah rumah sakit kota curup. Udara Curup yang lumayan dingin membuatnya sering drop. Danu tahu sejak kecil dia punya penyakit mematikan yaitu leukimia. Dia sadar nyawanya bisa melayang sewaktu-waktu. Tapi Danu tetap memilih semangat hidup. Dia bersyukur sampai saat ini masih di berikan umur yang panjang memasuki usia kepala 3.


Hingga dia kembali di pertemukan oleh Mila, cinta pertamanya. Gadis yang pernah dia dekati saat masih SMP dulu. Sayangnya sebelum dia mengungkapkan perasaannya pada Mila. Danu sudah di bawa orangtuanya ke kota lain. Masih seperti dulu bagaimana gadis itu masih dengan kehidupan pelik. Di tengah kebencian sang nenek.


Di masa yang sekarang.


Danu melaju kan motornya dari rumah sakit M. Yunus menuju ke daerah Tanah Patah. Berbekal kenekatan di tengah derasnya hujan. Danu tak peduli, dia sangat cemas begitu mengetahui Mila belum pulang ke rumah. Dari tembusan jalan lewat dari jalan belakang.


Dengan tubuh yang sedikit tertatih setelah di gempur hujan. Danu tiba di gerbang rumah Vika. Tampak orang sedang membersihkan bekas acara. Danu pun meminta salah satu staf untuk bertemu Vika.


"Assalamualaikum, bisa bertemu dengan Mbak Vika?" tanya Danu.


"Oh, bentar ya, kak. soalnya masih sedang rembukan keluarga. Masih ada calon suaminya di dalam."


"Oh begitu. Iya saya tunggu sebentar, saya cuma mau menanyakan apakah Sarmila masih di sini."


"Siapa yang nanyain Mila?" suara seorang wanita.

__ADS_1


"Lelaki ini Bude Lia?"


"Kamu kenapa nanyain Mila, tapi saya juga kira Mila masih disini. Tapi ternyata dia sudah pulang. Malah nggak sempat pamit sama saya."


"Kata adiknya Mila sampai sekarang belum pulang,Bu." jelas Danu.


"Makanya saya kesini buat jemput Mila." tambah Danu.


"Ya Allah, Mila kemana, ya? Feraaa!" Bude Lia langsung panik ketika mendengar Mila tidak ada kabar.


"Ada apa, ma? kenapa terlihat panik?"


"Tadi temannya Mila kesini, katanya Mila belum pulang. Kita cari kakakmu ya, nak. Mama cemas takut dia kenapa-kenapa."


Fera sudah tahu kalau Mila adalah kakak sambungnya. Anak pertama sebelum menikah dengan papanya. Fera menerima kalau dia punya saudara lain.


"Mama, tenang dulu, ya. Biar Fera bilang ke Ammar buat antarkan kita nyari kak Mila."


"Dulu waktu kecil, kakakmu itu takut dengan petir. Mama takut dia masih seperti itu."


"Pokoknya kita cari Mila, Fera." Bude Lia tetap ngotot mencari putrinya. Fera melihat sidang keluarga tentang rencana pernikahan Vika dan Ammar. Hal itu membuat dia urung meminta tolong pada Ammar. Fera memilih pesan mobil Grab.


"Assalamualaikum, Tante Ida." sapa Fera di tengah rapat keluarga.


"Iya, Fera. Ada apa?" jawab Ida.


"Maaf, saya dan mama mau keluar sebentar. Ada urusan mendadak."


"urusan apa, kak?" tanya Vika.


Fera mendelik kearah Ammar. Kejadian tadi saat Ammar dan Vika bertengkar di belakang. Fera menyimpulkan kalau Ammar tidak tulus pada Mila. Dia kecewa pada Ammar yang hanya di mempermainkan kakaknya.


"Urusan apa, Fera kamu lupa sekarang hujan lebat. Sudahlah kamu kan bisa menunggu besok atau nanti setelah hujan reda." kata Tante Ida.

__ADS_1


"Maaf, Tante. Tapi teman saya sudah menunggu di depan. Jadi kasihan jika tidak jadi." Fera masih enggan mengatakan yang sebenarnya.


"Tante kami pamit keluar, ya." Fera menyalami semua yang tua di rumah itu. Hanya saja dia melintas tanpa menegur Ammar.


Danu pun akhirnya ikut naik ke mobil jemputan Fera. Sementara motornya di titipkan pada rumah Vika. Dia sudah menginstruksikan pada Wisnu untuk mengambil motornya.


"Tunggu," suara Ammar terdengar di belakang mereka.


"Kamu bukannya Danu, ada apa menjemput Fera."


"Jadi Mila kesini karena mau ketemu Ammar." batinnya Danu.


"Kalian saling kenal?" tanya bude Lia.


"Tahu, ini Ammar pacarnya Mila kan?" kata Danu.


"Apa! jadi kamu memacari Mila, tapi kamu malah bertunangan sama Vika." suara bude Lia seperti marah.


Danu mengepalkan tangan. Ada emosi yang sangat besar dalam dirinya. Dia benar-benar marah. Tubuhnya yang tegap mendekati lelaki di depannya. Dia tidak peduli kalau tubuh Ammar lebih tinggi. Saat ini yang dia pedulikan soal Mila.


BUUUUUGH!


Danu beberapa kali menghujam kepalan tangan ke wajah Ammar dengan setengah berlari. Kemarahannya sudah tidak terbendung lagi. Wajahnya menegang. Tangannya gemetar.


"Brengsek! kamu sudah menyia-nyiakan perasaan Mila. Kamu juga sudah menghancurkan hati Mila. Lelaki macam kamu tidak pantas mendapatkan hati seorang Sarmila."


"Kamu pikir saya tidak tahu. Kamu menggunakan modus mendekati Mila, modus menjadi perawat nenek Seruni. Kamu pikir saya tidak tahu kamu sudah mencuci otak keluarga Mila, supaya berpihak sama kamu." amuk Ammar. Tangannya memegang wajahnya yang terasa perih.


"Dengar, ya saudara Ammar. Kalau sampai terjadi sesuatu sama Mila. Kamu orang pertama yang aku cincang." ancam Danu.


"Ini sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Ammar.


"Mila sedari tadi belum pulang. Nomornya tidak bisa di hubungi." kata bude Lia.

__ADS_1


"Dan kamu jangan ikut campur sama urusan kak Mila." ancam Fera.


__ADS_2