Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 09


__ADS_3

"Mbak, biasa aja, dong. Niat bantuin gak, sih?"


Audi tak menghiraukan teguran itu dan melempar tas terakhir ke bagasi mobil. Pagi ini Jeno berencana kembali ke Jakarta setelah dua hari kemarin menunda keberangkatan.


"Udah untung dibantuin. Dasar gak tahu terima kasih," dumel Audi yang kini berjalan gontai memasuki rumah.


Jeno mencibir dengan mata tak lepas mengikuti Audi. "Siapa juga yang minta dibantu. Kalau bantuinnya sambil rusakin barang orang, percuma. Gak ikhlas juga percuma, Mbak gak akan dapat pahala."


Audi tak membalas, ia hanya mengangkat jari tengahnya tanpa sekalipun menoleh ke belakang.


Jeno menganga, merasa tak percaya dengan respon sang kakak. "Wah ... gila nih cewek. Dia kenapa, sih? Pagi-pagi udah kayak orang kesambet aja," lirihnya dipenuhi kebingungan.


"Udah siap, Jen?" Tiba-tiba Ibra muncul di belakangnya.


"Eh, Mas Ibra. Udah siap semua, Mas. Berangkat sekarang?" sahut Jeno seraya berbalik menghadap Ibra.


Pria itu tampak gagah dengan celana jeans pudar yang dipadu dengan kaos hitam panjang lengkap dengan topi dan sneakers. Jeno saja yang seorang pria tak lepas mengagumi postur tubuh Ibra yang sangat bagus.


Kadang ia juga iri, tapi untuk mendapatkan hal seindah itu Jeno terlalu malas jika harus olahraga, terlebih kesibukan yang menyita membuatnya tak memiliki waktu.


Ibra tampak celingukan melihat pintu rumah di belakang Jeno. "Kakak kamu mana?"


"Oh, Mbak Audi?" Jeno ikut menoleh ke belakang. "Tahu, tuh. Tadi masuk gak nongol-nongol lagi."


Di rumah tidak ada siapa pun selain dirinya dan sang kakak. Papanya sudah berangkat ngantor pagi-pagi sekali, sementara sang mama di rumah sakit menemani Tante Safa yang masih harus dirawat sampai besok.


Tak lama Audi pun muncul dengan masker wajah yang membalut penuh mukanya. Masker jenis sheet mask yang seperti tisu. Sejenak Jeno mengernyit melihat kelakuan kakaknya yang seperti tidak tahu malu. Ibra sendiri menatap gadis itu cukup heran.


"Mbak apaan, sih, maskeran pagi-pagi gini? Aneh banget."


"Ya emang kenapa? Suka-suka, dong, mau kapan aja bebas."


"Gak biasanya. Setahuku Mbak kalau maskeran seringnya malam. Satu lagi, Mbak kan tadi udah mandi, masa sekarang maskeran? Emang gak luntur skincare-nya?"


Sebagai calon dokter Jeno cukup tahu hal-hal mengenai kecantikan. Ia juga lumayan hafal urutan pemakaian produk perawatan.


"Tadi muka Mbak kecipratan saos. Panas. Ya udahlah maskeran aja biar dingin," ketus Audi mencari alasan.


Meski belum sepenuhnya puas, Jeno urung membuka suara lagi karena pasti akan memakan waktu lebih lama kalau berdebat dengan Audi. Sementara ia dan Ibra sedang diburu waktu pulang ke Jakarta.


"Terserah Mbak, deh. Aku sama Mas Ibra berangkat, ya? Mbak hati-hati di rumah. Kalau bisa kunci, takutnya ada orang tak dikenal yang memiliki niat buruk. Mbak kan di rumah cewek semua, udah gitu berdua aja sama Bibi."

__ADS_1


"Iya, iya ... udah sana berangkat," usir Audi sembari mengibas tangan.


Meski terbilang kolokan, Jeno tak pernah lupa menyalimi Audi jika ingin bepergian jauh dan lama. Ia kan menginap di Jakarta, otomatis mereka akan jarang bertemu.


"Assalamualaikum, Mbak."


"Waalaikumsalam. Hati-hati ..."


Jeno menggerakkan tangannya membentuk hormat. Cowok itu kemudian masuk di kursi penumpang depan. Sementara Ibra masih setia berdiri di hadapan Audi, menatap lekat wajahnya yang terbalut masker.


Pria itu mendekat perlahan, tangan besarnya terangkat menyentuh kepala Audi. Bibirnya mengulas senyum hangat yang bisa membuat siapa pun meleleh.


Kemudian ia berucap, "Mas berangkat. Kamu jaga diri baik-baik. Hubungi Mas jika terjadi sesuatu."


Audi memutar matanya malas. "Memangnya kalau aku nelpon Mas Ibra, apa yang mau Mas lakukan dengan jarak sejauh itu?"


"Udahlah, kalau mau pergi, pergi aja sana. Gak usah banyak bacot yang isinya hanya bualan."


"Cla, kamu kok kasar banget sama Mas?"


"Apa, sih, baper banget. Sana pergi."


Ibra menghela nafas menyerah. Ia segera mengulurkan tangan yang membuat Audi mengernyit seketika.


"Ish." Meski enggan ia tetap menerima uluran tangan itu dan menciumnya seperti yang sering ia lakukan pada sang papa. Bagaimana pun Ibra masihlah saudaranya.


Memberi usapan terakhir di rambut Audi, Ibra mengulas senyum sebelum kemudian memasuki mobil menyusul Jeno.


Tak lama mobil beranjak meninggalkan pekarangan dengan satu bunyi klakson yang menjadi akhir perjumpaan mereka.


Audi melepas maskernya kasar. Sialan, ia memang sengaja memakai masker untuk menyembunyikan wajahnya yang kadung tak punya muka di hadapan Ibra.


Ini memalukan. Semuanya gara-gara Ibra. Kalau saja pria itu tak membuatnya gugup semalaman dan hampir memiliki pikiran busuk untuk merebut Ibra yang notabene berstatus suami orang, Audi mungkin masih bisa bersikap santai.


Sukur Ibra sudah pergi. Audi merasa lega karena sumber penyakit jatungnya tak akan berseliweran lagi membuat hidupnya bimbang seperti kemarin.


Audi berbalik hendak memasuki rumah, akan tetapi niatnya tertahan saat suara deru mobil menyita indera pendengaran. Audi kembali menoleh ke belakang dan menemukan mobil tersebut berhenti di tepi jalan depan rumah Ibra.


Apa Om Edzar? Pikirnya.


Namun bukan, yang keluar justru seorang wanita cantik dengan tubuh semampai yang seketika membuat Audi iri. Wanita itu celingukan melepas kacamata hitamnya.

__ADS_1


Melihatnya kebingungan Audi pun berinisiatif mendekat. "Selamat pagi, Mbak. Cari siapa?"


Wanita itu nampak tersentak dan langsung menoleh pada Audi. "Ah, pagi. Ini ... rumahnya Ibrahim yang mana, ya?"


Kening Audi mengerut. "Ibrahim?"


"Iya, Ibrahim Maulana Edzar. Kamu kenal?"


"Oh, i-iya, tentu. Dia sepupu saya."


Mata wanita itu sedikit membola. "Benarkah? Oh, ternyata begitu."


"Iya, benar. Mbak ada perlu apa, ya?"


Jangan bilang ini pacar Mas Ibra yang lain? Karena Audi tahu betul wajah dari sosok istri Mas Ibra. Meski hanya pernah sekali melihat tapi Audi masih ingat.


"Apa orangnya ada?"


"Orangnya baru saja pergi."


"Ke mana?"


"Jakarta," jawab Audi seadanya.


"Oh ... udah balik rupanya." Wanita itu mengangguk-angguk. "Ya sudah, kalau bagitu saya permisi. Terima kasih informasinya."


"Sama-sama." Audi menatap kepergian mobil merah tersebut.


Ia memilih untuk tak ambil pusing dan kembali ke rumah sambil mengangkat bahu. Siapa pun wanita itu sama sekali bukan urusan Audi. Apa pun hubungannya dengan Ibra Audi juga tak peduli.


"Didi!"


Lagi-lagi langkahnya tertahan di depan pintu. Astaga, mau masuk rumah saja banyak sekali gangguannya. Beginilah nasib orang terkenal.


Audi menoleh ke belakang dan seketika sumringah melihat siapa yang datang.


"Morgan?" Ekspresinya terlihat tak percaya.


Pria bernama Morgan itu mengangguk dengan senyum lebar. "Yes, its me baby."


"Kyaaaaa ..." Audi tak tahu lagi harus berkata apa selain berlari dan menghambur memeluk pria itu.

__ADS_1


Morgan menyambutnya dengan tawa lebar dan memeluk Audi tak kalah erat. "Kangen banget sama kamu."


"Aku juga," timpal Audi.


__ADS_2