
Suara takbir bersahut-sahutan di luar sana. Audi yang tengah duduk selonjor di sofa ruang tengah, mendongak sesaat ketika melihat mamanya melesakkan diri di sofa sebelah, menyalakan televisi dan mencari channel Korea seperti kebiasaannya.
Audi kembali menunduk membaca majalah. "Papa mana, Ma?"
Lalisa menoleh sebentar. "Kan ke mesjid, lagi takbir." Ia lalu menatap Audi lagi. "Kamu mau ke kamar, ya?"
Audi ke ruang tengah memang dibantu oleh Dava, pria itu yang menggendongnya dari kursi roda. Karena hal ini juga kamar Audi pindah sementara ke lantai bawah supaya Audi lebih leluasa ke sana kemari dengan kursi roda elektriknya.
"Gak papa, Audi di sini aja dulu."
"Gak pegel? Dari tadi kamu udah duduk di sini?"
"Ya mau gimana? Kan Papa lagi di mesjid, Jeno juga."
Tak terasa mereka sudah berada di penghujung puasa. Besok sudah tanggal 1 Syawal, dalam artian hari raya idul fitri.
"Mama bantu kamu gerak-gerak dikit, ya?" usul Lalisa.
"Sebentar, tadi kayaknya Mama lihat Om Edzar pulang. Mama lihat dulu, ya?" Lalisa beranjak.
"Maaa ... gak usah," rengek Audi.
"Enggak, Mama khawatir kamu udah pegel, mending panggil orang buat bantuin."
Lalisa kekeh pergi keluar. Sambil berjalan ia pun menggerutu. "Gini nih susahnya gak ada Ibra. Biasanya dia siaga banget dekat Audi. Hampir dua puluh empat jam nemenin."
Gumaman sang mama membuat Audi melengos. Ia masih mendiamkan Ibra sejak beberapa hari lalu, tepatnya usai Ibra mengatakan rencananya untuk berhenti dari kemiliteran.
Dan dua hari lalu pria itu pergi ke Jakarta untuk pengabdian terakhirnya. Bagaimana pun status Ibra masih sebagai anggota TNI aktif.
Audi marah? Tidak. Hanya saja Ibra terang-terangan berhenti karena dirinya. Kenapa pria itu harus sampai mengundurkan diri?
Tak lama Lalisa masuk bersama Edzar. Pria itu terlihat baru saja pulang dari mesjid karena sarung dan pecinya pun masih menempel.
Om Edzar mendekat pada Audi yang dengan segera menutup majalahnya.
__ADS_1
"Om?" sapa Audi begitu Edzar sampai di hadapannya.
Edzar duduk di pinggiran sofa tepat di sebelah Audi. "Kata Mama kamu, kamu mau ke kamar?"
Audi menoleh pada mamanya sebentar. "I-iya. Tapi tadi niatnya Audi nunggu Papa atau Jeno. Gak tahunya Mama malah panggil Om."
Edzar tersenyum teduh. "Karena hanya Om yang Mama kamu lihat. Hampir semua orang di mesjid, kan? Om juga ini pulang dulu karena ada telepon."
Audi mengangguk mengerti.
"Mau ke kamar sekarang?"
Alih-alih Audi, justru Lalisa yang menyanggah. "Sekarang aja mumpung ada Om kamu. Papa sama Jeno belum tentu baliknya kapan. Mereka gak bawa hape."
Beberapa detik mereka terdiam menunggu jawaban Audi, dan akhirnya Audi pun memutuskan. "Ya udah, deh."
"Bantu ke kursi roda aja, Om. Nanti ke kamarnya biar Audi sendiri aja gak papa," pinta Audi ketika Om Edzar mulai akan membopongnya.
"Bisa?"
"Bisa, Om."
"Yakin, gak mau dibantu sampai kamar?" tanya Edzar sekali lagi.
"Iya, Om. Kaki Audi sedikit-sedikit sudah bisa gerak. Kalau dari kursi roda ke ranjang cukup bisa. Tadi emang kursi rodanya jauh aja, mau didekatkan juga susah karena space-nya kecil, jadi Audi perlu bantuan. Maaf ngerepotin, Om."
"Oh ..." Edzar mengangguk mengerti. "Gak papa, gak repot, kamu kayak sama siapa aja," lanjutnya sambil tersenyum.
"Ibra gak pulang, ya?" Sekarang Lalisa yang bertanya pada Edzar.
Lelaki itu lantas menggeleng. "Enggak, malah mau ikut Presiden ke Solo."
Edzar menatap Audi lekat, penuh makna. Edzar menyadari kalau Audi sudah tahu niatan Ibra yang hendak berhenti dari kesatuan. Edzar tebak, hal ini yang membuat hubungan mereka kembali dingin.
Edzar tahu karena Ibra tak henti mewantinya untuk memperhatikan Audi. Alasan kenapa Edzar pulang dulu dari mesjid karena Ibra bertanya terus mengenai keadaan gadis itu.
__ADS_1
"Ibra telpon Om terus," celetuk Edzar, menghentikan niatan Audi yang hendak kembali ke kamar. Padahal kursi rodanya sudah setengah jalan.
Audi menatap lagi sang om yang juga memandangnya teduh kebapakan. Tiba-tiba saja Lalisa berseru hingga membuat mereka sedikit terkejut.
"Ya ampun, Mama lupa lagi kukus kue!!" Ia langsung berlari ke arah dapur.
Audi menggeleng. Bisa-bisanya wanita itu hendak menonton drama di saat tengah memasak sesuatu di dapur. Iya kalau ingat, kalau lupa karena larut nonton gimana?
Hening di antara Audi dan Edzar. Pria itu kembali fokus pada Audi dengan suasana yang turut berubah serius.
"Bukan maksud Om mau ikut campur. Silang pendapat dalam sebuah hubungan itu hal biasa. Om ngerti mungkin kamu tidak setuju Ibra mundur karena berpikir kamulah penyebabnya. Memang benar, kamu salah satunya. Tapi sebenarnya Ibra punya alasan lain kenapa dia mundur."
Audi mendongak. "Kenapa?"
"Ibra sudah lama diminta oleh salah satu koalisi partai untuk ikut mencalonkan diri sebagai anggota dewan. Kebetulan pimpinan partai memang teman Om, dia pengusaha besar juga, udah taraf internasional. Mereka butuh anggota dari kesatuan militer, kamu gak perlu tahu alasannya, itu urusan mereka. Intinya begitu. Ibra tidak benar-benar mengundurkan diri karena kamu. Dia mundur karena memang berniat terjun di dunia politik."
Edzar sengaja membeberkan ini supaya Audi bisa lebih tenang dan tidak menyalahkan diri sendiri dengan berpikir dialah penghalang langkah Ibra. Yang dikatakan Edzar tidak sepenuhnya salah. Sebelum mundur, Ibra memang sudah mempersiapkan diri dia akan terjun ke mana nantinya.
Ibra juga akan meneruskan semua usaha Edzar, tapi semua itu seakan tidak cukup karena Ibra terbiasa bekerja di lembaga pemerintahan. Mungkin sama seperti Edzar dulu, bisnis hanya sebagai sampingan belaka.
Audi tampak termenung mendengar penjelasan omnya. Edzar tersenyum teduh, mengusap bahu keponakan tersayangnya. Dengan Ibra yang menikahi Audi, ia dan Safa tidak perlu susah-susah menseleksi calon menantu atau beradaptasi dengan anggota keluarga baru.
Mereka sudah mengenal Audi baik, dari lahir sampai dewasa seperti sekarang. Mereka juga sudah bertanya pada semacam sesepuh kalau di adat Sunda, mencocokkan tanggal dan hari lahir Audi serta Ibra. Hasilnya baik. Ini yang membuat Edzar dan Safa semakin yakin untuk menerima Audi.
"Kamu tidak masalah seandainya nanti Ibra bergabung di dunia politik? Atau kalau kamu keberatan, Ibra bilang dia bisa menolak tawaran itu."
Audi membuang nafasnya panjang. "Terserah Mas Ibra, sih. Kalau dia nyaman ya lanjutkan saja. Audi juga berpikir, mungkin dengan dia mundur kita bisa menghabiskan waktu bersama lebih lama."
Edzar mengangguk puas. "Nah, itu kamu ngerti. Jadi gak papa kan Ibra nyalon dewan?" tanyanya sekali lagi, kali ini dengan raut jenaka.
Audi mendenguskan senyum yang terlihat samar. "Iya, gak papa."
"Asal perutnya jangan berubah buncit aja. Audi gak mau Mas Ibra dituduh makan uang rakyat."
Seketika Edzar tertawa. Ia menggeleng geli mendengar pernyataan Audi. "Bilang aja kamu ilfil kalau perut Ibra buncit."
__ADS_1
Audi hanya tersenyum. Ia kembali menerawang tentang hubungannya dan Ibra. Benar, mereka sudah lama bersama meski sempat merenggang beberapa tahun lamanya. Itu hanya sebuah jeda yang membuat mereka sama-sama dewasa. Sekarang mereka sudah berjalan sejauh ini, tidak sepatutnya Audi menyerah dan melepas Ibra untuk orang lain, sementara dirinya sendiri sangat membutuhkan lelaki itu untuk menemaninya sepanjang hidup.
Sayang sekali, besok sudah lebaran tapi Ibra malah pergi ke kota orang. Audi maklum, karena bagaimana pun saat ini Ibra masih termasuk anggota Paspampres, sampai di mana nanti surat pengunduran dirinya disetujui oleh negara.