Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 52


__ADS_3

"Kamu masuk duluan, ya? Mas kayaknya harus ke bengkel dulu. Ban depan kayaknya kurang angin, deh. Gak enak banget dipakenya," ucap Ibra ketika mereka tiba di parkiran rumah sakit.


Ia dan Ibra baru saja kembali usai mencari makan. Audi sengaja menolak beli sarapan dekat rumah sakit, karena entah kenapa ia seakan mau menjauhkan Ibra dari wilayah itu.


Dan seperti yang Audi duga, Ibra dan kelemahannya tak bisa menolak keinginan Audi. Hal ini membuat Audi cukup bangga pada dirinya sendiri.


"Masa, sih, Mas? Ya udah aku ikut aja, kita langsung pulang aja, ya?"


"Ya gak bisa gitu dong, Cla. Minimal pamitan dulu lah sama Shireen dan Kenan. Apalagi Mas udah janji sama Kenan. Gak enak," tutur Ibra meminta pengertian.


Audi berusaha menahan dirinya untuk tidak terlalu egois, ia berusaha tetap senyum ketika Ibra menggasak rambutnya. "Ya udah, tapi Mas Ibra jangan lama-lama ngisi anginnya. Kalau bisa jam 9 kita pulang, ya? Tadi aku ada telpon dari brand, katanya aku harus hadir jam 10 nanti buat photo shoot."


Ibra mengernyit. "Kok, dadakan banget? Brand mana?"


"Iya dadakan banget. Brand skincare yang waktu itu kontrak sama aku, lho."


"Oh, berarti masih di Jakarta?"


"Heem." Audi mengangguk.


"Ya udah, Mas gak akan lama, kok. Kita pulang ke rumah lama Papi di Jaksel, ya? Daripada repot-repot cari hotel."


"Iya, terserah Mas Ibra." Audi mengangguk saja. Diam-diam ia meringis, berharap Ibra tak menyadari kebohongannya.


Ya Tuhan, Audi merasa banyak dosa karena sejak tadi berbohong terus. Belum lagi nanti Audi juga harus berbohong, memikirkan alasan yang tepat untuk membatalkan pemotretan. Gak lucu kalau Audi tetap datang ke studio padahal gak ada jadwal.


Setelah Ibra pergi, Audi berbalik memasuki lobi, lalu menaiki lift untuk kembali ke ruang rawat Kenan. Lift terbuka di lantai tiga, Audi pun keluar dengan santai. Akan tetapi, langkahnya sedikit urung ketika melihat dua orang yang sedang berdebat di lorong.


"Bu, gaji Shireen udah Ibu ambil, lho, seminggu lalu. Masa sekarang udah habis? Ibu pakai buat apa aja?"


Shireen nampak tengah bersitegang dengan seorang wanita paruh baya. Raut wanita itu terlihat lelah dan banyak pikiran.


"Ya buat segala, lah. Emang kamu pikir duit dua juta cukup buat apa? Makan aja sehari lima puluh ribu, itu udah yang paling kecil di warteg. Sekarang Ibu butuh buat bayar hutang sama Bank, orangnya udah nagih ke rumah dari kemarin. Kamu bilang Ibra ada kasih uang, kan?"


"Ya itu kan buat pengobatan Kenan, Bu."


"Ya Ibu pinjam sedikit aja gak papa, kan? Biasanya Ibra juga kasih gede."


"Enggak besar, Bu. Beneran cuman cukup buat obat sama bayar rumah sakit. Kita aja belum tahu Kenan dirawat sampai kapan."

__ADS_1


"Ya kamu, sih, kenapa gak bikin BPJS buat si Kenan? Udah tahu itu anak butuh biaya gede," sungut si ibu.


Shireen enggan menjawab. Dalam hati ia berteriak, anaknya mengalami henti jantung karena telat ditangani setelah menunjukkan kartu BPJS. Shireen jadi trauma, meski ia tahu tak semua rumah sakit memandang sebelah mata.


"Salah kamu juga kenapa harus cerai sama Ibra. Ibra itu anak orang kaya. Bapaknya Jaksa, punya usaha di mana-mana, emaknya juga artis! Kurang apa coba? Beda banget sama Rega yang serba pas-pasan. Heran juga, kenapa kamu gak hamil-hamil waktu nikah sama Ibra? Kamu KB, ya?" tuduh Ibu Shireen menunjuk anaknya.


Dia tidak tahu saja, selama menikah Ibra menghabiskan hampir seluruh waktunya di asrama. Kalaupun pulang pasti tidurnya bareng Kenan. Alasan Shireen insecure karena mengira Ibra tak nafsu padanya.


Shireen masih setia membisu, hingga tanpa sengaja matanya menangkap keberadaan Audi di tengah lorong. Gadis itu tengah mematung gugup.


Audi tergagap ketika Shireen menoleh, ia tersenyum garing dengan tangan saling meremas. Kepalang ketahuan, tidak mungkin juga Audi berbalik kabur pura-pura tidak dengar.


Audi berjalan mendekat, ia ingin lari ketika wanita paruh baya di depan Shireen turut menoleh melihatnya. Astaga, Audi serasa bertemu mami-mami di club malam. Ini beneran ibunya Mba Shireen? Kenapa bisa beda banget? Menor, sudah gitu pakaiannya sok sosialita, tapi sayang Audi harus bilang perpaduannya kurang cocok.


Pantas Mas Ibra kayak antisipasi banget waktu cerita kemarin. Audi dengar sendiri wanita itu minta uang barusan.


"Eh, Audi ..." Audi tahu Shireen juga merasa canggung, secara ini konflik sensitif yang tak seharusnya Audi dengar.


"Mba, itu ... aku ... boleh masuk?" Maksud Audi masuk ruangan Kenan.


Daripada berdiri di antara mereka, mending Audi masuk meski di dalam tak kalah menyebalkan, kan?


Audi hanya tersenyum penuh ringisan. Ia tak akan percaya lagi ketika seseorang bilang Kenan tidur. Buktinya tadi anak itu bangun dan mencecarnya dengan pertanyaan.


Namun belum sempat Audi hengkang, suara Ibu Shireen menghentikan langkahnya.


"Kamu siapa?"


Hening. Entah kenapa Audi merasa tegang sendiri. Gila, berasa lagi main sinetron. Audi berbalik pelan menghadap Shireen dan ibunya lagi. Baru ia hendak membuka mulut, Shireen sudah bersuara duluan. "Dia teman aku, Bu. Junior baru di sekolah."


Ibu Shireen nampak diam, ia mengamati Audi dari atas ke bawah seakan tak percaya. "Guru?"


"Iya. Ya udah Ibu pulang, ya? Ayo." Shireen berusaha menyeret ibunya menjauh.


Akan tetapi si ibu enggan pergi dan terus menatap Audi penuh minat. "Masa, sih, kamu guru? Kayaknya bukan, deh."


"Buuu ..." gemas Shireen ketika sang ibu malah mendekati Audi dan menelitinya lamat-lamat.


Audi sendiri tampak tegang diamati sedemikian rupa. Ia berdiri kaku dan terkejut ketika si ibu meraih tangan kirinya tanpa permisi.

__ADS_1


"Ini Rolex asli?" tanyanya sambil meneliti jam tangan di pergelangan Audi.


"Eh, i-iya," jawab Audi refleks. Padahal Shireen berharap gadis itu menjawab kawe.


Si ibu beralih menyentuh jaket dan kaos Audi, celana, bahkan sepatu dan tas yang Audi pakai. Yang paling membuat Audi tidak nyaman saat kalungnya ikut menjadi pengecekan. Itu kalung mas yang Ibra beli dari gaji pertamanya sebagai tentara. Sudah lama sekali, dan baru Audi pakai lagi tadi saat sarapan bareng pria itu.


"Gak mungkin. Yang kamu pakai semuanya merk internasional. Dari mana kamu punya uang buat beli semua itu kalau kerjaanmu sama kayak Shireen?"


Benar-benar tidak sopan. Shireen seakan kehilangan muka karena tingkah ibunya itu.


"Kamu pasti nyambi kerja gak bener, kan?"


Audi membelalak. Mohon maaf, maksudnya apa?


"Kamu pasti salah satu cewek yang suka jerat pria-pria kaya. Ngaku!"


"Ibu!" bentak Shireen tak tahan. "Cukup, ya, Ibu udah keterlaluan tahu gak?"


"Apa, sih, Ibu cuman nanya, kok. Kalau pun bener gak masalah. Malah Ibu mau minta saran biar kamu juga bisa kayak dia."


"Ibu udah gila, ya?" desis Shireen tak menyangka.


"Ini ... ada apa? Kenapa pada ngumpul di sini?" Suara Ibra berhasil menarik atensi tiga wanita di sana.


Audi, Shireen dan ibunya menoleh serentak melihat kedatangan lelaki itu.


"Ibu?" Ibra meraih tangan wanita yang sempat jadi mertuanya itu, lalu menyalaminya sebagai bentuk kesopanan.


Dan sekarang pandangan Ibu Shireen jatuh pada jaket yang Ibra pakai, ia menatapnya bergantian dengan milik Audi.


Sama persis. Ia baru sadar ketika melihatnya berkali-kali. Sudah jelas itu jaket pasangan. Sesaat suasana menjadi hening. Ibra yang kebingungan sontak mengernyit melihat Audi yang berdiri terpojok dekat pintu ruang rawat Kenan. Refleks Ibra pun mendekat. "Kamu kenapa?"


Audi tergagap. "Eh, i-itu, bukan apa-apa. Mas Ibra kok balik lagi?"


"Hape Mas di saku kamu. Mas lupa tadi sempat titip."


"Oh? I-iya, ya? I-ini." Audi merogoh saku jaketnya dan menyerahkan benda pipih milik Ibra.


Kening Ibra semakin berkerut mendapati suara Audi yang terbata. Belum lagi suasana yang tidak nyaman ia rasakan. Ibra menatap satu persatu dari mulai Shireen dan ibunya, lalu kembali pada Audi.

__ADS_1


Hingga kemudian Ibu Shireen bersuara. "Oh, jadi pria kaya itu, kamu Ibra?"


__ADS_2