
Sebulan kemudian Ibra sudah mulai kembali bertugas. Meski belum bisa mengikuti kegiatan-kegiatan berat, setidaknya ia berdinas di kawasan Ring 1 Istana Negara.
Ibra masih aktif mengikuti apel di kesatuan, ia juga kerap menjadi pengawas latihan para juniornya.
Selama itu pula Ibra tak berhenti merenung memikirkan cara terbaik untuknya dan Audi. Semakin lama dipikir, akhirnya Ibra pun tak punya jalan lain.
Ibra sudah melayangkan pengajuan cuti pada atasannya. Tinggal lihat nanti, jika cutinya disetujui, Ibra akan meminta Audi untuk menemuinya, membicarakan hal yang selama ini menjadi beton penghalang hubungan mereka.
Mungkin Ibra memang tak bisa menyimpan rahasia ini lebih lama. Mau mencari pembenaran sehebat apa pun, Ibra memang salah karena untuk memulai suatu hubungan kita butuh kejujuran.
Ibra harus jujur pada Audi, semuanya. Ia harus menjelaskan segala sesuatu yang terjadi antara dirinya dan Shireen di masa lalu.
Melihat Audi yang semakin bebas di luar sana membuat Ibra khawatir seandainya gadis itu menemukan pilihan lain selain dirinya.
Mami benar, ia harus segera menyelesaikan masalah ini agar tak menjadi bumerang di kemudian hari. Karena itulah, sekarang Ibra mengetik pesan untuk ia kirimkan pada Audi.
...Cla, kalau Mas minta kamu luangin waktu sehari saja, kamu bisa gak? Mas mau ngomong sesuatu sama kamu. Ini tentang segala hal yang pernah kamu tanyakan pada Mas dulu. ...
...Tolong balas pesan ini kalau kamu bersedia menerima ajakan Mas. ...
Ibra tak menunggu balasan Audi. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, lalu lanjut berdinas sampai jadwal yang ditentukan.
Sore hari, tepatnya usai serah terima jadwal pengawalan, Ibra menghadap sang atasan untuk berpamitan sesuai prosedur. Ia sekaligus menanyakan pengajuan cutinya yang sedang diproses.
"Minggu depan kamu bisa cuti, lagipula seharusnya kamu belum boleh masuk karena masih masa pemulihan pasca luka. Tapi ingat, ponsel harus tetap aktif seandainya ada sesuatu yang darurat. Mengerti?"
"Siap, mengerti, Komandan!"
Sang komandan pun mengangguk. "Oke, karena jadwal pengawalanmu sudah berakhir, kamu boleh pulang. Istirahat yang cukup, makanannya juga dijaga biar cepat pulih. Silakan."
"Siap, terima kasih, Komandan!"
Setelah memberi hormat Ibra berbalik membuka pintu dan keluar dari ruangan sang atasan. Ia berencana langsung ke kosan setelah ini. Ben baru saja menerima jadwal pengawalan, jadi kali ini mungkin Ibra akan sendiri di sana.
Ibra memacu motornya membelah jalanan sore. Langit mulai gelap, lalu lintas pun semakin padat karena jam pulang kerja.
__ADS_1
Sebelum pulang ke kosan, Ibra membawa motornya untuk mampir di suatu tempat dulu. Setelah memasuki gang, ia berhenti tepat di depan sebuah rumah kecil dan sederhana milik seseorang.
Begitu Ibra turun dari motor dan melepas helm, seorang bocah lelaki sekitar usia 6 tahun membuka pintu dan langsung berseru. "Ayah!"
Ia berlari menghampiri Ibra, memeluk kakinya erat sambil mendongak dengan mata berbinar senang. Di belakangnya, Shireen turut mendekat dengan senyum teduh melihat putranya dan Ibra.
Ibra berjongkok meraih pinggang anak itu. Ia mengulas senyum merapikan rambut si anak yang berantakan. "Ken belum cukur rambut, ya? Udah panjang ini."
Kenan, si bocah 6 tahun itu menggeleng. "Mau sama Ayah cukurnya."
"Mau sama Ayah? Kenapa gak sama Mama aja?"
Kenan tetap menggeleng. "Kenan mau sama Ayah. Ayah kenapa gak pernah bobo sama Kenan lagi? Kata Mama, Ayah kerja di luar kota, ya?"
Sesaat Ibra menatap Shireen, lalu kembali pada Kenan. "Iya, Sayang."
"Ya udah, ayo cukur rambut dulu."
"Sekarang?"
"Yeeeyy ... aku mau pergi sama Ayah! Ma, bantu Kenan ganti baju! Ayo!" Kenan berseru girang sambil menarik Shireen memasuki rumah mereka.
"E-Eh, iya iya, pelan-pelan dong, Ken."
Keduanya memasuki rumah, meninggalkan Ibra yang termenung lama menatap pintu yang terbuka itu. Inilah alasan Ibra tak bisa serta-merta mengusir Shireen dari hidupnya. Karena Kenan, semata hanya dia yang menahan Ibra.
"Reg, anakmu sudah besar," gumam Ibra.
"Cemon!!"
Seruan Kenan membuat Ibra segera berkedip dan mengulas senyum. Anak itu begitu antusias sampai-sampai memakai baju bagus hanya untuk pergi bercukur.
"Come on." Ibra mulai menaiki motornya dan memakai helm.
Shireen juga memakaikan putranya helm kecil yang sempat Ibra belikan, lalu menggendongnya naik di belakang Ibra.
__ADS_1
"Mama gak ikut?" tanya Kenan.
Bukan Shireen yang menjawab, melainkan Ibra. "Kan cuma cukur rambut, Ken. Lagian kalau Mama ikut, Ken kejepit, lho, nanti."
Shireen hanya tersenyum sumir mendengar penuturan Ibra. Ia tahu Ibra enggan pergi dengannya karena status mereka.
"Yahhh ..." keluh Ken cemberut. "Ya udah, deh."
Ibra tersenyum menyentil hidung anak itu. "Tutup helmnya, ya." Ia menutup kaca helm yang Kenan kenakan.
"Dadah Mamaaaa!!" teriak Kenan saat Ibra mulai melajukan motornya.
"Dadah," balas Shireen sambil melambai. "Pegangan yang erat, Ken!"
Kenan menurut, ia memeluk pinggang Ibra erat hingga tubuhnya ikut condong karena menempel di punggung lelaki itu.
Ibra menjalankan motornya pelan dan hati-hati. Shireen mematung menatap keduanya pergi. Sorotnya rumit memandang anak dan mantan suaminya itu. Lalu ingatannya berlabuh pada Audi yang ia duga adalah wanita yang disukai Ibra.
Shireen sadar betul, jika ia bersaing dengan wanita sekelas Audi, dilihat dari sisi manapun ia pasti kalah telak.
Audi cantik dan sukses dengan karirnya. Ia seorang bintang yang sudah melanglang buana di dunia penyiaran. Iklannya sudah banyak, pendidikan tinggi, dan bukan orang sembarangan. Sekelas dengan Ibra yang ia tahu juga anak orang kaya.
Dengan semua yang dimiliki gadis itu mempunyai sejuta pesona yang membuat lawan jenis terpikat padanya, termasuk Ibra yang tak mampu menyembunyikan ketertarikannya ketika melihat Audi.
"Tidak bisakah aku menahanmu untuk Kenan, Mas? Aku ingin egois, tapi kamu menderita dengan pernihakan kita," bisiknya lirih.
Shireen tak munafik bahwa ia juga tertarik pada Ibra. Ibra lelaki sempurna yang sulit ditolak keberadaannya. Ia yang dulu begitu sedih dengan kepergian Rega, suaminya, mampu dengan cepat berpaling karena kehadiran Ibra.
Pria itu dingin sekaligus hangat, ia perhatian pada Kenan, penyayang anak-anak dan hormat pada orang tua. Sungguh lelaki langka yang sayangnya tak bisa Shireen genggam sepenuhnya.
Jika bukan karena amanat Rega, mungkin Shireen tak akan merasakan bagaimana rasanya menjadi istri Ibra.
Walau selama pernikahan Ibra hanya memberinya materi tanpa sedikit pun nafkah batin yang sebetulnya Shireen tak keberatan jika melakukannya.
Tapi, mungkin Shireen terlalu biasa hingga Ibra pun tak tertarik. Dan ia semakin minder ketika mengetahui selera Ibra yang ternyata begitu tinggi sekelas artis.
__ADS_1
Ia dan Audi bagaikan bumi dan langit. Gajinya sebagai tenaga pengajar hanya mampu menghidupi kebutuhan sehari-hari. Jangankan perawatan ratusan juta, skincare saja ia masih mikir-mikir kalau mau beli.