
"Mas Ibra?" panggil Audi pelan. Ia berdiri gugup di samping Ibra yang tengah duduk sofa ruang tengah.
Mereka masih di Jakarta, di rumah lama Edzar meski pemakaman Kenan sudah berlalu dua hari lamanya. Ibra bilang, ia ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan Audi, karena kalau sudah kembali ke Bandung, Ibra pasti disibukkan lagi oleh rentetan pekerjaan.
Selain itu, Ibra juga berencana mengikuti tahlilan Kenan hingga 7 hari lamanya. Alhasil setiap sore sehabis ashar mereka bertolak ke rumah Shireen untuk mengikuti tahlil.
Yang sangat Audi syukuri, selama mereka ke sana tak sekalipun menemui Tantri. Entah Shireen apakan mantan ibu mertua Ibra itu, hingga tak pernah muncul di hadapan Ibra dan Audi. Mungkin Shireen enggan menghadirkan ibunya karena tahu tak pernah akur dengan Audi maupun Ibra.
Ibra menoleh menatap sang istri yang masih berdiri dengan tangan bertaut saling meremas. Ibra mengernyit lembut sebelum kemudian bertanya. "Kenapa, Sayang?"
Ia meraih jemari Audi, lantas menariknya mendekat hingga jatuh di pangkuan. "Ada apa? Kamu ngidam lagi?"
Audi menggeleng.
"Lalu?"
"Itu ... aku mau beli sesuatu," cicit Audi.
"Baju?"
"Tas."
Ibra mengangguk. "Tas apa?"
__ADS_1
Audi segera mengeluarkan ponselnya dari saku, menunjukkan foto barang yang dimaksud.
"Tapi harganya mahal. Kira-kira boleh, gak?"
"Emang berapa?"
"Lima puluh juta kecil."
Lima puluh juta kecil adalah lima puluh juta lebih sekian.
Ibra tersenyum teduh. Ini yang Ibra suka dari Audi. Mau beli barang semahal dan semurah apa pun ia selalu minta izin dulu pada Ibra. Padahal Ibra sendiri tak pernah sekalipun melarang Audi beli ini itu.
"Ya udah beli," cetus Ibra mudah.
"Ya gak papa. Pesan aja."
Audi tersenyum. "Makasih."
"Sama-sama, Sayang. Sekalian kamu pesanin Mas kaos, dong."
"Kaos apa?"
"Pendek. Brand favorit Mas ada keluarin produk baru. Kamu lihat aja di official store-nya."
__ADS_1
"Oh, oke, nanti aku lihat," ucap Audi, seraya mulai mengotak-atik ponselnya.
Sementara Ibra tak berhenti memandangnya teduh, tangannya mengusap-usap paha Audi halus.
"Cla?"
"Hem?"
"Store kamu gimana? Lancar?"
"Alhamdulillah, lancar. Kita mulai membuka online store juga untuk memperluas jangkauan konsumen."
Ibra mengangguk setuju. "Iya, itu lebih bagus. Mas lihat akhir-akhir ini kamu sama Ajeng sibuk. Jangan terlalu capek, ya? Kamu lagi hamil, harus lebih banyak istirahat."
Audi melipat bibir. Ini pasti karena beberapa hari lalu Audi begadang memeriksa rekap keuangan dan stok barang. "Iya, lagian aku gak sering-sering amat kerja. Sekarang Ajeng yang lebih prepare sama toko, karena dia juga mungkin ngerti keadaan aku lagi gimana."
Tersenyum teduh, Ibra mengusap kening Audi, menyibak rambut yang beberapa tampak menghalangi. "Iya, tapi kalau bisa, jangan sampai lembur - lembur lagi kayak waktu itu. Mas khawatir aja sama kesehatan kamu. Itu vitamin dari dokter masih suka diminum, gak?"
Audi yang sudah sepenuhnya melepas perhatian dari ponsel, lantas mendongak menatap Ibra gemas. Ia cubit kedua pipi Ibra geregetan. "Iya, Masku. Aku gak bakal begadang - begadang lagi kalau gak ada yang penting banget. Terus, vitamin dari dokter aman, masih suka aku minum tepat waktu. Puas, Sayang?"
Ibra hanya terkekeh. Ia menjawil hidung Audi lalu mencium bekas cubitannya itu. "Belum, Sayang. Kamu belum melakukan sesuatu yang bisa membuat Mas benar - benar puas," ucapnya penuh makna.
Matanya memandang Audi rumit, hingga tak lama Audi memukul tangan pria itu yang sedari tadi bertengger di pahanya. "Apaan, sih, raba-raba mulu? Beliin dulu tasnya!"
__ADS_1