
Malam beranjak, kali ini Ibra mengajak Audi ke sebuah wisata perkemahan. Semacam lahan kosong di dataran tinggi dengan berbagai macam fasilitas seperti undakan tangga kayu yang membentang panjang, tenda dan segala macam perlengkapannya, serta beberapa lainnya yang kerap menjadi spot foto para pengunjung.
Di sana juga sudah dilengkapi toilet dan mushola, tapi Audi yang malas jalan jauh-jauh terang saja hanya bisa diam di tenda.
Ibra sampai menggeleng sendiri melihat gadis itu yang sedari tadi tak berpindah tempat, sementara ia saja sudah bolak-balik dan kali ini membawa ayam yang sudah dicuci bersih.
"Kamu gak bosan? Gak mau lihat-lihat pemandangan gitu? Di sana bagus, lho, cantik. Kota Bandung kelihatan jelas dari atas."
Audi yang asik bermain ponsel pun menjawab cuek. "Nanti aja. Capek tau jalan-jalan mulu. Aku bukan Mas Ibra yang bisa lari keliling kota tanpa kelelahan. Mas gak lihat sejak tadi aku pijitin kaki? Pegel tau."
Mendengar keluhan Audi, Ibra pun terkekeh pelan. Ia menyimpan ayam bersih itu ke dalam wadah kosong, lalu beringsut mendekati Audi yang duduk selonjoran di pintu tenda.
"Mana, sini Mas pijitin dulu."
"Udahlah sana masak aja. Laper. Tau gini tadi kita makan di resto atau cafe aja," ketus Audi menepis tangan Ibra.
Ibra hanya bisa menghela nafas menarik kembali tangannya. "Ya udah, Mas bakar dulu ayamnya. Gak lama, kok, nasi liwetnya bentar lagi juga matang."
Audi yang merasa bersalah dan berlebihan pun menatap Ibra sedikit tak enak, namun rautnya masih berusaha mempertahankan gengsi. "Kenapa kita gak beli aja, sih? Ayam geprek, ayam mekdi, KFC, kan banyak. Kenapa harus repot-repot masak? Mas kan tahu aku gak bisa bikin gituan, aku bisanya goreng telur. Bakar ayam aku gak tau caranya."
"Beda aja rasanya, Cla. Kemah tanpa masak-masak sama aja bohonh. Lagian Mas gak minta kamu masak, kok. Kan Mas yang masak. Kamu cukup diam nungguin aja. Makan camilan sebagai pengganjal. Emang seduh mie tadi masih belum kenyang?"
"Ya kalo sampe kenyang nanti liwetnya Mas Ibra gak kemakan!"
Ibra tahu Audi lagi pms, jadi ia mengerti dengan mood gadis itu yang berubah-ubah.
"Iya. Ya udah kamu tunggu sebentar aja, ya?"
Audi duduk merengut memperhatikan Ibra yang kini tampak sibuk mempersiapkan segala hal untuk dimakan. Sebetulnya datang bulan Audi sudah berada di akhir hari, bahkan darahnya sudah bersih, tapi ia saja yang menunda bersuci karena malas. Jangan ditiru, ya.
__ADS_1
Kalau palang merahnya masih di pertengahan, mana mau Audi di ajak berkemah sama Ibra. Meski begitu ia sempat mengganti celana dan pembalutnya di toilet umum.
Berbeda dengan Ibra yang tahan sedari siang tak mandi, Audi tadi sekalian mandi dan ganti baju. Karena Ibra yang mendadak ingin camping mereka jadi belanja baju dan celana baru sebelum ke puncak ini.
"Sudah matang."
Suara Ibra membuat Audi berkedip dan lantas menatap pria itu. Ibra mengangkat kastrol dari atas kompor kecil di depan mereka, lalu membuka tutupnya hingga kepulan asap menguar hangat di hadapan Audi.
Wangi nasi liwet seketika mengundang rasa lapar yang sedari tadi berusaha ditahan. Audi melihat Ibra mengambil ayam bakar yang sebelumnya sudah dibumbui dan dipanggang di atas api unggun kecil.
Ibra begitu cakap menyiapkan semuanya sendiri, tak peduli Audi hanya diam tanpa sedikit pun membantu. Mungkin ini bukan masalah besar bagi Ibra mengingat pria itu pasti sudah mengalami hal yang jauh lebih merepotkan saat belusukan di hutan belantara. Camping kecil seperti ini bukan apa-apa bagi Ibra.
Berbagai macam sambal yang sempat mereka beli turut Ibra sajikan di atas meja kecil yang memang sudah menjadi fasilitas dari pengelola tempat. Kalau tidak salah Ibra membayar sekitar lima ratus ribu untuk paket tenda dan peralatan kemah yang sekarang mereka tempati.
Ibra juga menyiapkan lalapan dan naget goreng yang sekarang sudah dingin lantaran udara yang kepalang sejuk. Sambal saja sedikit membeku, jadi Ibra panaskan sebentar di dekat api.
"Nah, udah beres. Gimana? Gak lama, kan?" Ibra melempar senyum. "Semua akan terasa cepat kalau kita bersabar, Cla."
"Ya udah jangan dilihatin terus, kapan makannya?" ketus Audi.
Terkekeh pelan, Ibra mengambil satu kertas nasi dan mengisinya dengan nasi liwet, lalu meletakkannya di depan Audi. "Kita makan barengan aja, ya. Dijamin enak," ucap Ibra seraya mencubit ayam bakar yang masih panas.
Audi ngeri melihat Ibra menjujut ayam itu tanpa kesulitan. Gila, panas banget.
"Kamu mau bagian apa? Paha atau dada?"
"Eh, aku mau sayap." Audi memang paling suka bagian sayap ayam.
Ibra melirik Audi dengan kerlingan penuh makna. "Kalau Mas mau dada."
__ADS_1
Sesaat Audi terdiam, berusaha mengerti arti pandangan Ibra hingga akhirnya ia pun membuang muka. "Jangan mulai, deh. Lama-lama aku takut deket Mas Ibra."
Terdengar kekehan lirih dari Ibra. Pria itu menjujut sayap ayam untuk Audi, lalu paha untuk dirinya. "Bercanda, Cinta. Kamu takut banget Mas apa-apain."
"Ya abisnya, sejak kapan Mas Ibra berubah mesum?"
"Sejak kamu dewasa," sahut Ibra santai.
Audi mendelik tak percaya. Ia berkedip ketika Ibra menjulurkan tangannya yang sudah mencomot nasi dan ayam tepat di depan mulut Audi.
Pelan Audi membuka mulut, dan nasi liwet serta ayam bakar pun ia rasakan di antara lidahnya.
"Enak?" tanya Ibra.
Audi tak menjawab, ia mengunyah pelan suapan tersebut hingga habis, lalu mengangguk. "Lumayan."
Ibra mengendik ke bawah. "Makan," tutahnya halus. "Atau mau Mas suapin aja?"
Kontan Audi pun menggeleng. "Gak usah, aku makan sendiri aja."
Tersenyum, Ibra pun berkata. "Padahal Mas gak keberatan, kok, suapin kamu."
Mendengar itu Audi hanya membuang matanya malas. "Jangan ngerayu terus. Ingat, Mas Ibra masih punya hutang penjelasan sama aku," ucapnya datar.
Hal itu tak menyurutkan senyum Ibra yang sepertinya hari ini tengah berbunga. "Tenang, Mas gak lupa, kok."
"Mas cuman mau kita nikmatin waktu berdua dulu, karena setelah ini belum tentu juga kamu bisa menerima Mas setelah tahu semuanya," ujar lelaki itu sedikit pelan.
Audi hanya bisa diam mendengar alasan Ibra. Memang seberat apa cerita Ibra sampai pria itu berpikir Audi akan meninggalkannya? Justru kalau Ibra terus-terusan tak jujur, Audi akan pergi karena terlalu lelah menunggu dalam ketidakpastian.
__ADS_1
"Cobain sambel ini. Enah banget, lho." Ibra mengangsurkan salah satu wadah kecil sambal ke hadapan Audi. "Cocok sama ayam bakarnya."
Ibra nampak begitu santai tanpa beban, tapi yang tidak Audi tahu seharian ini ia sedang mengumpulkan kalimat untuk memulai pembicaraan.