
Dava yang baru saja pulang ke rumah hendak mengambil stempel yang tertinggal, dikejutkan oleh kedatangan Audi yang tiba-tiba masuk rumah dengan membanting pintu. Gadis itu berjalan cepat dengan kaki terentak sedikit keras, sudah pasti dia sedang dalam keadaan hati yang tidak baik.
Karena penasaran dengan apa yang terjadi pada putrinya, Dava mengurungkan niat yang semula hendak langsung ke ruang kerja. Ia mengejar Audi yang menaiki tangga dengan cepat menuju kamar.
"Di? Kamu kenapa?"
"Hey?"
Audi tak menjawab, menoleh pun tidak.
Dava semakin yakin Audi sedang marah, tapi marah karena apa?
"Audi, kamu dengar Papa?"
Suara lembut sang ayah bagaikan angin lalu bagi Audi. Lalisa yang sempat melihat keduanya ikut mengernyit heran, ia baru saja mengambilkan stempel yang tadi Dava minta, tapi karena tak tahu letaknya jadi lama.
Kedua ayah dan anak itu seakan berlomba menaiki tangga. Dava berhasil menghentikan Audi dan langsung menarik bahunya supaya berbalik.
"Kamu kenapa, sih, Di?" tanya Dava dengan suara halus.
Audi menatap datar sang papa. Hal itu jelas membuat Dava semakin bingung dan resah. Lalisa yang penasaran turut naik dan hadir di antara keduanya.
"Kalian ini sedang apa?"
Namun sayang pertanyaan itu tak dihiraukan oleh Dava maupun Audi. Dava yang fokus dengan suasana hati Audi, pun Audi yang larut dalam kemarahan yang belum diketahui sebabnya.
__ADS_1
"Kenapa Papa bilang?" Akhirnya Audi menyahut meski dengan nada kesal. "Bisa-bisanya Papa gak kasih tahu aku Mas Ibra pernah ke sini. Papa juga udah menekan dan bersikap kurang baik sama Mas Ibra. Iya, kan?"
"Audi?"
"Tega, ya, Papa. Mas Ibra itu keponakan Papa, lho, anaknya Tante Safa, adiknya Papa. Bisa-bisanya Papa bersikap begitu sama Mas Ibra?"
Lalisa tampak kebingungan melihat keduanya. Ia menatap bergantian antara anak dan suaminya tersebut.
"Jadi ini tentang Ibra?" tanya Dava.
Hening.
"Ibra terlalu kekanakan dengan mengadukan semuanya sama kamu. Ternyata dia memang tidak sedewasa umurnya." Dava mendengus, membuang muka sembari tersenyum mengejek.
"Lalu kenapa kalau Ibra keponakan Papa? Kenapa kalau dia anak dari adik Papa?" Dava kembali menoleh pada Audi, memandang balik gadis itu dengan pandangan sama-sama menantang.
"Memang kamu tahu, apa saja yang Papa katakan sama Ibra?"
"Enggak, kan? Jangan asal menyimpulkan dan termakan omongan orang."
"Emang benar Papa menolak Mas Ibra, kan?" balas Audi. "Papa bahkan terang-terangan bersikap acuh sama dia."
"Ya terus kenapa? Ibra ke sini berniat meminta kamu, dan tentu saja Papa sebagai ayah kamu berhak bersikap demikian," tegas Dava. "Di luar Ibra adalah keponakan Papa, saat dia datang sebagai pria yang hendak melamar kamu, konteksnya bukan lagi masalah keluarga."
Di tengah ketegangan itu, Lalisa bersuara menyela. "Jadi waktu Ibra ke sini dan minta ngobrol serius sama kamu itu soal Audi, Mas?"
__ADS_1
Audi menoleh pada sang mama. "Emang Mama gak tahu?"
Lalisa menggeleng. "Enggak. Waktu itu Mama lagi sibuk siapin doorprize buat acara reuni," ucapnya bingung. "Sebentar, Mama masih belum ngerti. Kalian ngobrolin soal Ibra, Ibra lamar Audi. Di, kamu emang pacaran sama Ibra?"
Hening. Sudah kepalang ketahuan, kan? Percuma juga Audi sembunyikan terus hubungannya dengan Ibra. Meski ia tak menyangka semua akan terbongkar dengan cara seperti ini.
"Iya, Audi pacaran sama Mas Ibra," jawab Audi mantap. Ia lalu menoleh tajam pada Dava. "Dan Papa baru saja gak restuin aku sama Mas Ibra."
"Claudia." Dava berucap datar. "Lamaran bukan hal kecil dan sesuatu semudah yang kamu pikir. Ini soal pasangan hidup, pasangan yang akan temani kamu semasa hidup, kamu gak bisa memilih pasangan semena-mena seperti pacaran."
"Jadi maksud Papa, Audi semena-mena memilih Mas Ibra sebagai pacar?"
Dava terdiam.
"Apa dulu Papa juga semena-mena menjadikan Mama sebagai pacar? Papa juga dulu pacaran sama Mama, kan?"
"Jangan samakan Papa dan Mama sama kamu dan Ibra," tegas Dava. "Papa dan Ibra jelas berbeda. Dia tentara, Papa pengusaha. Papa bisa prioritaskan keluarga, dia belum tentu bisa. Apa kamu gak melihat pernikahannya terdahulu? Dia saja gagal mempertahankan keluarga, apa kamu yakin Ibra tak akan berlaku sama seandainya kalian berumah tangga? Pikir ke sana. Pakai logikamu, bukan melulu mengedepankan perasaan."
Mata Audi berkeca. "Papa jahat."
Dava mengusap wajahnya kasar. "Dari mana kamu bisa simpulkan Papa ini jahat? Papa begini demi kebaikan kamu. Papa mau kamu hidup aman dan bahagia. Papa mau kamu hidup dengan seseorang yang bisa menemani setiap saat. Papa gak mau kamu kesepian dengan menikah sama Ibra. Ibra itu gak tentu pekerjaannya, dia bisa kapan saja pergi mengemban tugas, kamu hanya nomor sekian dari segala hal penting dalam hidupnya. Apa kamu mau hidup dengan orang seperti itu?"
"Mungkin kamu berpikir dengan berpacaran, kamu sudah memiliki Ibra. Kamu salah, meski kamu menikahinya sekalipun, Ibra tetap bukan milik kamu, melainkan milik negara."
"Mas." Lalisa menyela, ia mengusap bisep suaminya supaya berhenti menekan Audi yang kini sudah terisak. "Cukup."
__ADS_1
Dava mengambil nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan-pelan. Ia balas mengusap tangan sang istri seraya terus menatap Audi.
"Pikirkan baik-baik, Di. Papa seperti ini bukan mau berniat jahat sama kamu maupun Ibra. Papa sayang sama Ibra sebagai keponakan, tapi untuk menikahi kamu dan jadi menantu, Papa masih keberatan."