Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 97


__ADS_3

Edzar menyodorkan rokok pada Dava yang langsung ditolak dengan gelengan. Dua lelaki itu kini tengah duduk di beranda belakang villa Oma Halim. Mereka memutuskan menginap sekali-sekali untuk menemani sang oma yang kerap merasa kesepian.


Hari sudah sangat larut dan hampir tengah malam. Suara jangkrik bersahutan, suhu udara mulai menurun hingga Edzar maupun Dava merapatkan jaket berusaha menghalau dingin.


Semua orang sudah memasuki rumah, hanya menyisakan Edzar dan Dava yang masih betah di luar.


Edzar menghisap rokok yang baru saja ia sulut hingga mengepulkan asap. Mereka terdiam lama hingga beberapa detik kemudian Edzar membuka suara. "Abang benar-benar gak suka Audi berhubungan dengan Ibra?"


Ia menoleh menatap sang kakak ipar. Usia Edzar memang cukup jauh di atas Dava, namun ia tetap menghormati lelaki itu dengan panggilan semestinya.


Dava tak lantas menjawab. Ia diam seribu bahasa sambil menatap lurus kebun strawberry yang baru mulai berbuah.


"Apa Ibra ada berbuat salah sama Abang? Atau mungkin ada perbuatan dia yang tidak Abang senangi?" tanya Edzar lagi.


Helaan nafas terdengar berat dari mulut Dava. Lelaki itu bersandar di kursi, terlihat santai. Sangat berbeda ketika berhadapan dengan Ibra rautnya terkesan tegang.


"Ibra tidak salah, aku hanya tidak suka karena dia melamar Audi," aku Dava pada akhirnya.


Edzar setia mendengarkan. "Kenapa?"


Dava menoleh. "Karena dia duda. Karena dia tentara." Ia kembali menatap ke depan dengan pandangan menerawang.

__ADS_1


"Dulu, aku punya teman dekat yang seprofesi dengan Ibra, hanya saja dia bukan Paspampres. Waktu itu dia masih Serda. Kita beberapa kali masih sering bertemu dan ngumpul dengan teman-teman lainnya."


"Dia sudah menikah dan punya satu anak masih kecil, tapi dia masih suka bersenang-senang dengan wanita lain. Bukan hanya dia, rekan-rekannya pun sama. Aku pernah pergoki pasukan loreng itu beramai-ramai di club malam saat lepas dinas. Memang mereka tak pernah bawa-bawa seragam saat melakukannya, tapi aku tahu mereka siapa, karena sebelum itu perusahaan sempat berkontribusi dengan pihak TNI, beberapa termasuk dari mereka."


"Meski tahu kebejatan mereka aku tetap diam, karena merasa itu semua bukan urusanku. Tapi di lain hari, kita sebut saja si Serda, dia tiba-tiba datang dan bilang mau pinjam uang." Dava menoleh pada Edzar. "Kamu tahu buat apa? Karena tidak puas dengan istri di rumah, dia berniat mencari wanita pemuas untuk menuntaskan hasrat."


"Tentu saja aku geram. Dia beralasan hal itu wajar karena pekerjaannya yang menguras penuh energi dan fisik, dia butuh pelampiasan yang setimpal." Dava berdesis tajam. Rahangnya mengetat mengingat semua pengalaman tersebut. "Lihat para jenderal di luaran sana. Beberapa dari mereka sebagian besar memiliki istri simpanan, bisnis gelap."


"Sekarang kamu tahu kenapa aku tidak suka dengan profesi Ibra? Mungkin bagi orang lain itu pekerjaan yang keren, tapi mereka belum tahu bagaimana kelamnya kehidupan para prajurit negara itu," ujar Dava berapi-api.


Edzar mengamati dan mendengar dengan seksama penjelasan yang baru saja diutarakan sang kakak ipar. Ia mengangguk mengerti tanpa kehilangan sikap tenang.


Dava termenung. "Aku menyayangi Ibra seperti anakku sendiri, tapi perceraian yang dia alami tentu mengukir penilaian tersendiri terhadapnya."


"Mungkin sebelumnya aku masa bodo, tapi setelah dia mengutarakan niat untuk serius pada Audi, jelas aku sebagai ayah merasa waswas. Apakah Ibra benar pria baik, apa benar dia bisa menjaga kesetiaan pada Audi, apa benar dia bisa dipercaya sementara aku saja tidak tahu alasan dia bercerai dari mantan istrinya terdahulu. Alasan kenapa dia gagal menjaga keutuhan rumah tangga, padahal kita sendiri tahu seorang TNI pasti sulit mengajukan perpisahan."


Hening. Lalu tiba-tiba Edzar berucap. "Aku yang membantunya bercerai."


Tentu pengakuan itu membuat Dava terkejut. Ia menoleh pada Edzar dengan pandangan sangsi. "Maksud kamu?"


Edzar menoleh, balas menatap Dava santai. "Aku yang bantu Ibra mendapat surat persetujuan dari komandan."

__ADS_1


Senyap. Dava dibuat berpikir hingga tanpa sadar mematung lama dengan kening berkerut dalam.


"Kenapa?" tanya Dava kemudian.


Kini giliran Edzar yang tak lantas menjawab, namun Dava tahu wajahnya sangat serius, jadi tidak mungkin Edzar bercanda dengan perkataannya.


"Karena ... Ibra tak bisa mencintai Shireen. Karena sebenarnya Ibra dan Shireen hanya menikah di atas kontrak."


Mungkin bukan hanya Dava yang terkejut, Ibra yang mendengar sang ayah mengetahui kebenaran pernikahannya, mungkin juga akan merasakan hal yang sama.


Seorang Edzar Adhyaksa yang tampak sangat berwibawa dengan sikap tenangnya, siapa yang akan menyangka dia turut menyimpan rahasia besar sang anak.


Sekarang kita tahu seberapa kuat koneksi Edzar sebenarnya. Ia bahkan bisa dengan mudah mengetahui seluk-beluk rahasia Ibra yang bertahun-tahun berusaha anak itu simpan.


Edzar Adhyaksa adalah seorang jaksa yang dikenal bersih, siapa yang akan mengira bahwa pria itu juga memiliki sisi gelap yang tak diketahui orang. Misalnya dengan menggelontorkan ribuan dollar dari dompet pribadi untuk memuluskan perjalanan kasus yang ditangani. Tidak banyak orang tahu mengenai hal tersebut.


Apalagi secuil rahasia Ibra, mungkin baginya itu hanya segelintir debu yang nampak transparan di matanya.


"Aku percaya pada Abang, makanya aku berani membagi hal ini," lanjut Edzar penuh makna.


Dava tahu, secara tidak langsung Edzar tengah mengancam seandainya rahasia besar Ibra tersebar, atau lebih parahnya diketahui oleh kesatuan yang akan membuat anak itu ditendang dari pekerjaannya.

__ADS_1


__ADS_2