Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 82


__ADS_3

"Rajawali, Rajawali, sedia monitor, Rajawali!"


"Siap, Rajawali di sini." Ibra menyentuh telinga yang terpasang sebuah alat komunikasi.


Ia melirik lalu-lalang orang yang bergantian melintas keluar masuk ruang rapat. Ibra kebagian jaga di depan pintu bersama lima rekan lainnya. Mereka sesekali menyisir keadaan sambil tetap fokus pada pengamanan.


"Lapor, Rajawali, udara aman. Bumi aman?"


"Bumi aman."


"Siap, lanjutkan. Tetap fokus dan waspada."


"Siap, lanjutkan." Terdengar suara grusukan sebelum komunikasi terputus.


Hari ini Presiden hendak menggelar rapat terbatas terkait Evaluasi Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan sejumlah Menteri Kabinet Kerja di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat.


Ibra dan sejumlah personil paspampres ditugaskan mengawal Beliau dengan tertib. Sebelum berdinas, komandan sudah memberikan arahan-arahan apa saja yang harus mereka lakukan.


Para sniper bersembunyi di tempat-tempat tertinggi guna mengawasi wilayah secara keseluruhan. Tim lain juga dibagi menjadi beberapa bagian dengan tugasnya masing-masing.


Sebelumnya tim advance sudah mengkoordinir lokasi sebelum kedatangan presiden dan satuan pelaksana yang mengawal.


Kembali pada saat ini, Ibra memberikan lagi esensinya pada keadaan sekitar. Ia mengecek ke dalam saat suasana sudah lumayan sepi. Rupanya rapat sudah mau dimulai. Ibra dan sebagian rekannya bergegas masuk guna menjaga pintu dari bagian dalam.


Tak berselang lama Presiden pun menaiki podium untuk memberi sambutan. Para menteri di depannya fokus memperhatikan. Paspampres yang kebagian tugas dokumentasi sibuk meliput dan mengambil gambar suasana ruangan.


Semuanya berjalan damai selama kurang lebih 2 jam, hingga tak lama Ibra mendengar suara sniper yang berseru lewat earpiece. "Ring 1, Ring 1, waspada, Ring 1. Elang, sedia monitor Elang!"


"Deteksi keamanan. Seseorang mencurigakan terlihat di 225 derajat arah barat daya. Rajawali waspada!"


Ibra dan beberapa rekan paspampres yang berjaga di dalam sempat saling lirik. Meski terlihat tak berkomunikasi, sebenarnya mereka saling melempar isyarat yang tak dipahami orang awam.


Sebisa mungkin mereka tetap tenang agar tak menguar kepanikan, meski telinga bisa mendengar sedikit keributan yang diduga terjadi di luar gerbang, tempat yang sempat sniper sebutkan tadi.


Dengan senyap, Ibra membuka pintu keluar untuk memastikan apa yang terjadi. Dari yang terdengar, seorang pria yang terlihat mencurigakan tampak mondar mandir mendekati gerbang istana kepresidenan. Pasukan pengawal Ring 1 berhasil menghadang orang mencurigakan tersebut.


Namun karena seseorang itu melakukan perlawanan, petugas juga terpaksa bertindak tegas membekuknya hingga berlutut. Ibra mengamati itu dari koridor dengan jarak cukup jauh.


Ia lalu mendekat karena sepertinya dua rekan Ibra tampak kesulitan di sana. "Ada apa?"


Salah satu dari mereka menjawab cepat. "Orang ini memaksa masuk bawa-bawa tas. Kita sedang periksa isi tasnya," ucapnya sambil terus memegangi si pria yang terus berontak.

__ADS_1


Sementara satu teman Ibra yang lain tengah sibuk mengobrak-abrik barang bawaan si pelaku. "Aman," ucapnya usai memeriksa.


"Aman?"


Dia mengangguk. "Tasnya aman, tapi kita belum periksa sekujur tubuhnya."


Pria itu mulai dipaksa berdiri dan diperiksa sekujur tubuhnya, dan ada satu chip tipis menyala serupa alat penyadap yang terpasang di balik karet pinggang celana.


Sontak hal tersebut membuat pria itu menjadi panik.


"Apa ini?" tanya Ibra.


"Pak, ampun, saya gak tahu!" Pria itu menggeleng rikuh.


"Kami tanya, ini apa? Ngapain kamu bawa-bawa kalau gak tahu ini apa?"


Mendapat gertakan, pria itu tetap menggeleng. "Sumpah, saya gak tahu. I-itu punya orang, Pak."


"Apanya punya orang? Orang kamu yang bawa?" Teman Ibra turut menginterogasi.


"Sumpah, itu punya orang. Saya ... saya ... saya hanya, saya hanya disuruh ke sini sambil bawa itu, selebihnya gak tahu apa-apa," bantah si pria terus mengelak.


Chip itu langsung Ibra rebut dan lempar ke aspal untuk kemudian ia injak-injak hingga hancur. Suasana semakin runyam ketika pria tersebut menangis histeris sambil bersujud meminta pengampunan. Ia mengaku telah diminta seseorang untuk menerobos masuk dan melihat situasi di dalam. Sayang, tindak tanduknya berhasil diketahui. Mungkin dia tidak menyadari bahwa tim sniper selalu mengawasi lokasi dari atas bangunan.


Kejadiannya tepat di depan istana, beberapa meter dari pintu gerbang yang merupakan area pengamanan satu.


Sebuah truk tampak dengan sengaja melaju kencang ke arah istana. Para warga sipil yang melihat itu tak berhenti berteriak ketakutan karena kendaraan besar tersebut tampak oleng ke sana kemari seperti minim keseimbangan.


Begitu pula prajurit yang berjaga dengan serentak berbaris membentuk perisai. Tidak ada yang tahu sebenarnya mereka sudah berkeringat dingin, juga pasrah seandainya sesuatu yang buruk terjadi menimpa mereka.


Supir truk tersebut berkali-kali membunyikan klakson terkesan mempermainkan, ia juga sempat menyembulkan kepalanya, mengejek para tentara yang berjaga disertai acungan jari tengah.


Beberapa prajurit yang berlarian mengejar dan berusaha menghentikan truk tersebut malah terkena imbas. Sebagian dari mereka terkapar di jalan dengan luka cukup serius.


"Acungkan senjata!" teriak komandan yang langsung diikuti gerakan serentak para prajurit berpakaian serba hitam yang berbaris memblokade jalan.


Jika komandan sudah memerintah mengeluarkan senjata, itu berarti ia tak punya opsi lain sebagai pilihan. Sebenarnya mereka juga tak berharap ini terjadi. Bukan ranahnya menyakiti atau mengambil nyawa rakyat, karena sejatinya tugas mereka adalah melindungi rakyat.


Ibra meminta kedua temannya untuk segera mengamankan pria yang membuat keributan tadi. Ia duga pria itu masih satu komplotan yang dengan sengaja memancing keributan guna mengalihkan perhatian.


Tin tin tin!

__ADS_1


Supir truk itu tak berhenti membunyikan klakson yang memancing keriuhan. Rupanya keributan ini sudah terdengar ke dalam istana, karena Ibra bisa mendengar lewat earpiece suasana ruang rapat yang berubah tegang.


"Presiden dan menterinya harus matiii!!! Mereka adalah sampah tak bergunaaa!!!" teriak si supir begitu berani.


"Siap, senajata!" Riuh senjata api yang diacungkan kembali terdengar. Mereka sudah memasang amunisi dan bersiap menembak. Pun mobil truk yang semakin mendekat ke arah mereka. Suasana semakin menegangkan ketika truk tersebut sudah kian mengikis jarak.


Ibra mematung sesaat, ia lalu dengan cepat merebut salah senjata dari tangan rekannya. "Turunkan!" titahnya pada semua prajurit.


Mereka semua menoleh menatap Ibra, begitu pula komandan yang menuntut penjelasan. Namun Ibra bersitegas untuk tetap menurunkan senjata.


"Turunkan."


"Lettu Ibra, apa-apaan kamu?" sergah Komandan.


Ibra tak menoleh, ia fokus membidik senjata pada si pengendara truk yang masih bersikap ugal-ugalan.


"Kita hanya akan membuatnya tewas jika menembaknya ramai-ramai," cetus Ibra.


Para prajurit memasang raut bingung, mereka menoleh melihat Komandan guna menunggu keputusan.


"Ibra! Kamu benar-benar mau menembaknya?" Komandan masih terus mencegah niatan Ibra.


"Ini bukan tugasmu—"


DOR!


Srrrreett ... Ckiiitt ....


Bunyi decitan terdengar nyaring usai suara tembakan menggema memicu keheningan. Serentak mereka melihat ke depan dan mendapati truk ugal-ugalan itu sudah berhenti tepat beberapa meter di hadapan mereka.


Truk itu menyamping karena rem mendadak yang dilakukannya ketika Ibra menembak. Sesaat keadaan masih diliputi tegang, hingga beberapa tentara bergegas menghampiri truk berniat memeriksa keadaan si supir.


Hasilnya supir itu masih hidup. Ia diseret turun oleh para tentara dan dibekuk hingga ia berlutut di aspal. Kedua lengannya ditahan di belakang. Berbeda dengan sikap arogannya tadi yang dengan berani mengejek serta menantang, kini si supir justru terlihat gemetaran sambil menunduk.


Usut punya usut Ibra membidikkan pelurunya tepat di samping kepala si supir, terbukti dari peluru tersebut masih menancap di jok mobil, mengoyak bahan keras kulit tersebut hingga beberapa busanya mencuat keluar.


Mungkin hal itu juga yang membuat supir truk itu refleks menginjak rem, karena ternyata nyalinya tak sebesar omong kosongnya.


Ibra menurunkan pelan senjata laras panjang di tangannya, ia membuang nafas sambil memberikan kembali senjata itu kepada pemiliknya.


"Kita hanya perlu menggertaknya. Lihat, dia begitu ketakutan sampai celananya basah. Kalian yang berbaris tadi hanya buang-buang waktu," cetusnya kalem, tanpa sekalipun niat menyindir.

__ADS_1


Namun apa daya ucapannya terlalu pedas untuk Komandan yang kini diam-diam berdecak memaki anak jaksa yang sialnya memiliki nilai tinggi sebagai penembak jitu.


Pokoknya ia harus membicarakan ini pada Jaksa Edzar, mungkin nanti saat mereka memancing bersama lagi, bahwa putranya berpotensi besar menjadi jenderal.


__ADS_2