
"Oma ... ini kapan selesainya, sih?" Audi berbisik pada Oma Halim yang langsung mencubitnya supaya diam.
Orang lain sibuk baca Qur'an, sejak tadi Audi malah sibuk tanya kapan pulang.
"Diam, kamu udah sampai mana ngajinya? Kok, dari tadi Oma lihat gak pindah-pindah halamannya?"
Audi merengut. "Capeeek ..." rengeknya lirih.
"Kamu ini, giliran acara-acara rohani begini bilangnya ngantuk, males. Coba aja kalau kegiatan di luar itu, energinya gak habis-habis," gerutu Oma Halim.
"Ya itu kan beda, Omaaa ..."
"Syuutt ..." Oma Halim menyimpan telunjuknya di depan mulut. "Berisik, malu sama yang lain. Udah, kamu selesaikan dulu ngajinya. Kalau gak selesai, seenggaknya kamu diam. Sekali-kali jadi anak sholehah yang slay."
"Ish, Oma."
Meski sudah tua, bukan berarti Oma Halim kurang update apalagi ketinggalan zaman, termasuk dengan kata - kata yang sedang trend.
__ADS_1
Audi tak melanjutkan rengekannya. Ia akhirnya bungkam karena sang oma melotot hingga matanya hampir keluar. Oma Halim itu nyeremin kalau mukanya galak, sedikit heran dia punya anak secantik dan seimut Tante Safa. Audi akan percaya jika seandainya mereka punya keturunan sipit sebelumnya, tapi hingga saat ini hanya Tante Safa yang memiliki ciri khas demikian.
Berpuluh - puluh menit Audi menahan kantuk, akhirnya deres Al-Qur'an pun selesai dengan diakhiri bacaan tashdiq dari semua orang, termasuk Audi sekalipun yang diam - diam tak begitu serius membaca.
Setelah sambutan penutup dari ketua majelis, himpunan para jemaah ibu - ibu pun bubar dan saling bersalaman satu sama lain. Audi lekas keluar madrasah begitu selesai bersalaman. Menarik nafas dalam, Audi merasa sangat lega karena akhirnya bisa keluar dari ruangan pengap penuh hawa manusia tersebut.
Oma Halim yang melihat Audi hanya mampu menggeleng pelan. Raut Audi sudah mirip seperti paus yang baru kembali ke lautan.
"Gimana mau hijrah, duduk sebentar baca Al-Qur'an aja romannya kayak habis disuruh jalan seribu kilometer, malasnya keluar banget."
"Bukan gitu, Oma. Tapi hari ini Audi beneran gak mood banget. Sumpah, ini badan lemesnya gak kira-kira," sahut Audi lesu.
Audi hanya bisa merengut mendengar kecerewetan sang oma. Ini yang paling membuat Audi malas, Oma Halim yang selalu berkomentar pada segala hal.
Di tengah kisutnya suasana hati Audi, Ibra datang tanpa diduga-duga. Pria itu baru saja turun dari ojek sebelum kemudian tersenyum menghampiri Audi juga sang oma.
"Kamu nyusul, Ibra?" tanya Oma Halim.
__ADS_1
Ibra mengangguk. "Iya, jemput kalian. Takut Audi gak kuat nyetir karena tadi dia kelihatan kurang semangat."
"Tau, nih. Pagi - pagi masa udah letoy aja." Oma Halim mencibir Audi yang berwajah semakin keruh.
Seperti biasa Ibra hanya tersenyum. Audi sedikit heran kenapa pria itu bisa selalu berwajah ramah.
"Ya udah, yuk? Udah selesai, kan?"
"Udah. Ini dari tadi pacar kamu minta pulang terus. Emang dasar udah banyak setannya kali, jadi bebal kalo sama ilmu agama," cetus Oma Halim semena-mena.
"Oma apaan, sih!" Audi tak terima.
"Cla ... Oma ..." Ibra memandang keduanya penuh peringatan. "Ini bulan puasa, lho. Malu juga dilihatin orang. Mending pulang, yuk?"
Layaknya wanita seumuran, keduanya serentak saling menghentak kaki. Ibra sampai menggeleng melihatnya.
Berjalan mengikuti keduanya, diam-diam Ibra menyelipkan kertas di sela tangan Audi, membuat gadis itu menoleh dan mengernyit ketika Ibra memberinya isyarat tanpa suara.
__ADS_1
"Bacanya nanti." Kira-kira seperti itulah kalimat yang keluar dari gerak bibir Ibra.