
"Iya bener kamu sepupunya Mas Ibra," ucap Shireen setelah memastikan.
Ya terus? Ingin sekali Audi memutar mata, namun ia tetap tersenyum demi kesopanan. Meski dalam hati Audi malas banget sebenarnya.
Dari sekian ratus orang di mall ini, kenapa harus mantan Ibra yang ia temui? Kenapa tidak mantan Ibu Negara saja? Lebih berfaedah.
"Iya. Mba Shireen ... belanja juga?"
Shireen tersenyum teduh. Melihatnya Audi jadi teringat aktris Putri Marino yang juga memiliki senyum semanis madu.
Bedanya Mba Shireen ini tipe wanita sederhana yang tidak neko-neko. Wajahnya hampir tak ber-makeup dan natural.
"Iya, saya cuman mau beli hijab buat hadiah Mami Safa. Besok beliau sudah mau ke Bandung lagi."
Seperti ember yang dipenuhi es batu, kalimat Shireen seakan mengguyur Audi yang kini diam membeku. Ia berusaha menarik senyum sesantai mungkin dan menetralkan wajahnya yang Audi yakin terlihat aneh.
Tian saja sampai mengernyit kebingungan. Wajar, wanita itu belum tahu mereka tengah berhadapan dengan siapa. Kalau tahu pasti Tian sudah berteriak mencak-mencak hingga viral.
Audi mengangguk paham. "Oh, gitu," ucapnya setengah bergumam.
Sementara Shireen tak pernah lepas tersenyum. Ia terlihat ramah dan bersahabat. Audi jadi tidak tega seandainya ia pamer banner segede gaban di sana.
"Kamu gak jenguk Mas Ibra lagi?"
Ngapain tanya?
"Hehe, Audi sibuk, Mba. Ini aja jalan - jalan sebentar mumpung gak ada jadwal iklan."
Dasar Audi. Katanya tak mau pamer, ujung-ujungnya dia seolah menegaskan bahwa dirinya adalah wanita masa kini yang sibuk dengan segudang jadwal pekerjaan dan ladang uang yang melintang.
Bodo amat. Yang penting gak kelihatan ngenes. Seandainya Ibra dan si mantan mau rujuk pun, Audi tak boleh goyah dan harus strong serta eksis sebagai selebgram terkenal se-Nusantara.
__ADS_1
"Begitu. Iya, sih, tadi di rumah sakit juga banyak sekali tamu yang jenguk. Sebenarnya kasihan Mas Ibra harus istirahat, tapi segan juga karena mereka jenderal semua."
Oh, jadi si mantan manten juga mau pamer bahwa dia habis dari rumah sakit jengukin mantan suami, begitu?
Dikira Audi bakal sirik kali.
Tepat ketika itu tiba-tiba ada yang berseru."Audi!"
Audi, Tian, bahkan Shireen menoleh mendengar seruan yang suaranya lumayan menarik perhatian orang.
Lho, lho, kok ada Gavin? Waduh gawat, jangan sampai ada paparazi menciduk mereka. Bisa-bisa Audi masuk headline lambe kalau begini.
"Lah, iya bener kamu. Kirain mataku rabun, haha."
"Haha." Audi tertawa datar setengah mencibir.
Ngapain, sih, ini aktor satu ikut-ikutan nyempil aja. Gak cukup virus mantan yang menyebar efek pening.
Gavin menggeleng. "Enggak, aku bosan aja lagi free. Mau liburan jauh waktunya nanggung, karena besok harus syuting lagi. Kamu sendiri? Jalan-jalan?" Ia menatap satu persatu dari mulai Tian hingga wanita berambut panjang yang tak ia kenal di depan Audi.
Kalau Tian ia jelas kenal karena mereka sempat bertemu saat pemotretan brand skincare tempo hari.
"Ini staf baru kamu?" tanyanya polos.
Dasar sableng!
Ingin Audi menoyor kepala Gavin yang entah kenapa seolah tak bisa mengontrol lidah. Berbeda jauh dari kesan pertamanya yang sopan dan ramah, kini Audi tahu bagaimana sifat Gavin yang sebenarnya. Mereka sempat beberapa kali bertukar DM.
Shireen yang ditatap seintens itu oleh Gavin diam-diam merasa canggung. Mustahil Shireen tak tahu siapa itu Gavin. Wajah lelaki itu berseliweran dari mulai pinggir jalan, mall, bahkan stiker mobil truk pengangkut pasir.
"Bukan. Itu ..." Aduh, Audi harus mengenalkan Shireen sebagai apa coba? Masa iya mantan istri duda yang ia incar?
__ADS_1
"Ini Mbak Shireen. Dia kerabat jauh aku. Hehe."
Tuh, Audi baik, kan, Mba?
"Ohh ..." Gavin mengangguk paham.
Suasana mendadak canggung, dan Audi lega saat Shireen akhirnya bersedia menyingkir dari situasi aneh ini.
"Di, kalau gitu saya duluan, ya? Takut kesorean."
"Eh, iya iya, Mbak, silakan."
Shireen mengangguk ramah. "Mari, Mba, Mas?" tukasnya pada Tian dan Gavin.
"Siapa sih, Di?" Tian yang sejak tadi penasaran pun akhirnya bertanya.
Sementara Gavin mengernyit melihat dua wanita di sampingnya. "Bukannya tadi Audi bilang itu kerabatnya?"
Audi meringis, menggaruk tengkuknya malas. Sial banget mood-nya untuk berbelanja kini luntur setelah kedatangan Shireen.
Mengibas tangan, Audi menyuruh mereka untuk tak menghiraukan. "Ahhh sudahlah. Mending makan, yuk?"
Tian yang sebenarnya masih penasaran memutuskan untuk bungkam. Gadis itu pasti enggan memberitahu karena ada Gavin.
"Korean enak gak, sih?" Kini Gavin turut mengusulkan.
Audi tersenyum lebar seakan mendapat pencerahan. Ia mengangguk antusias pertanda setuju dengan usulan Gavin.
Lagi panas hati enaknya makan yang panas-panas kayak hotpot. Untuk kali ini Gavin mendapat acungan jempol dari Audi.
"Lets gooo ...!!!"
__ADS_1
Namun ia tidak sadar resiko jalan dengan aktor terkenal, hal yang tadi sempat Audi cemaskan seandainya ia masuk headline lambe dengan Gavin.