Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 108


__ADS_3

Keesokan paginya, tepatnya pukul sembilan, Audi dan timnya berangkat ke lokasi shoot yang sebelumnya sudah direncanakan. Kebetulan tempatnya memang berdampingan dengan kantor pusat brand itu sendiri, jadi Audi tak perlu bolak-balik seandainya dituntut langsung melakukan pemotretan setelah bertemu pihak pengiklan.


Selama di Salatiga mereka menyewa sebuah mobil mewah jenis Alphard sebagai fasilitas untuk ke mana-mana. Sampai di tempat pertemuan, Audi diarahkan ke gedung perusahaan guna bertemu klien di ruangan si pemilik.


"Selamat pagi, Mba Claudia, selamat datang di perusahaan kami." Seorang pria muda berpakaian necis dan formal menyambut ramah kedatangan Audi bersama Tian.


"Selamat pagi, anda Pak Marco?" sahut Audi tak kalah welcome.


"Benar, saya Marco Deon, manajer periklanan D'Orlea yang beberapa waktu lalu menghubungi Mba."


Audi mengangguk ramah. "Senang bertemu Anda. Ini saya langsung duduk?"


"Oh, tentu silakan. Sebelumnya saya keluar dulu sebentar?" Marco Deon mempersilakan Audi beserta Tian untuk duduk di seperangkat sofa di ruangan tersebut.


Audi mengangguk. "Silakan, Pak Marco."


"Oke, terima kasih. Tunggu sebentar." Kemudian lelaki itu keluar selama beberapa menit.


Marco Deon kembali ke ruangannya beberapa saat kemudian. Entah sebelumnya dia habis apa. Marco Deon lantas duduk berseberangan dengan Audi dan Tian.


"Baik, sebelumnya saya sudah melihat CV perjalanan karir Mba Audi. Sejauh ini sangat mengagumkan, saya memang sudah tertarik sejak melihat visual Mba di beberapa iklan, jadi sebetulnya CV ini hanya sebagai formalitas, karena kami pihak D'Orlea sudah yakin untuk merekrut Anda sebagai model kami selama beberapa waktu ke depan. Ini berkas kontraknya Mba baca terlebih dulu, jika Anda setuju dengan kerja sama kami, Anda bisa tanda tangan pada materai di bawah," ujar Marco Deon sembari mengulurkan berkas yang dimaksud.


Audi menerima berkas tersebut, lalu membacanya bersama Tian. Ia mengangguk-angguk pelan sambil sesekali melirik sang manajer pribadi. Audi menangkap Tian juga setuju dengan sesuatu yang pihak D'Orlea tulis di sana.


Setelah berdiskusi sedikit bersama Tian, Audi pun akhirnya mengangguk menyetujui perjanjian kontrak tersebut.

__ADS_1


"Baik, Pak Marco, sepertinya kami setuju dengan kerja sama kita."


Marco Deon tampak tersenyum puas, raut khas yang sering para pebisnis perlihatkan saat mereka mendapat tender besar. "Saya pastikan anda tak akan kecewa dengan D'Orlea."


***


Mungkin sekitar 2 jam Audi dan Tian baru keluar dari ruangan Marco Deon. Mereka sempat berfoto bersama dengan manajer periklanan tersebut sebagai bentuk apresiasi pada Audi yang baru saja bergabung menjadi Brand Ambassador D'Orlea.


Audi mulai photo shoot besok pagi. Untuk sekarang ia hanya cukup tanda tangan dan menyetujui kontrak saja. Selepas pertemuan tersebut Audi diperlihatkan bermacam produk D'Orlea, diberikan sampel untuk tester, bahkan mendapat gift satu paket perawatan eksklusif skincare dan bodycare.


Audi akui kualitas dan visualisasi mereka cukup bersaing di pasaran. Desain kemasan yang elegan menambah minat para konsumen untuk membeli produk tersebut.


Audi juga diperlihatkan sekilas ruang produksi yang bersih dan steril. Semuanya tertata rapi dan baik menggunakan mesin.


Mendekati duhur Audi baru benar-benar meninggalkan gedung D'Orlea dan bermaksud kembali ke hotel. Jika biasanya ia akan berjalan-jalan belanja di mall atau pusat perbelanjaan lain ketika sedang ke luar kota, kali ini puasa membuat Audi tahan akan segalanya. Lebih tepatnya Audi malas karena lemas, haus, dan lapar.


Terlebih sebetulnya sedari meeting tadi Audi mati-matian menahan kantuk. Syukur ia tak mempermalukan diri dengan tertidur di tengah - tengah pertemuan.


"Guys ... enaknya bukber nanti kita di mana?" tanya Audi ketika mereka sudah berada di mobil.


Audi bersandar malas di kursi sambil terpejam. Tian duduk di sampingnya seraya sibuk memperhatikan tablet yang kerap ia pakai untuk mencatat jadwal dan permintaan job Audi.


"Pengen tahu menu cafe di sini apa aja," sahut Mardon yang duduk di depan kemudi. Sementara Matias berada di sampingnya, bersandar dengan wajah tertutup topi. Audi yakin pria itu tidur.


"Gitu, ya? Padahal aku mau coba mie ayam cobek yang viral itu, lho. Enak kayaknya." Audi mencari informasi tempat makan tersebut di ponsel. "Tuh, food vloger udah pada datang ke sana. Nanti kita coba, yuk? Gimana?"

__ADS_1


"Ya udah, deh, terserah Mba," pasrah Mardon.


Audi tersenyum senang. Ia lalu beralih mengirim pesan pada Ibra, memberi tahu aktifitasnya hari ini. Seperti biasa Ibra tak bisa langsung membalas. Audi yang mengerti pun tak menuntut apa-apa pada pria itu.


Selang beberapa menit, Audi yang lesu terbawa suasana puasa pun akhirnya tertidur di dalam mobil, menyusul Matias dan Mba Tian yang sebelumnya juga terkantuk-kantuk persis dirinya. Sedangkan Mardon yang kebagian menyetir mau tak mau harus tetap terjaga.


Di sisi lain dari arah timur sebuah kontainer dengan logo perusahaan migas tengah melaju dengan kecepatan sedikit di atas sedang. Suara adzan yang berkumandang menandakan waktu dzuhur telah tiba.


Semuanya masih baik-baik saja ketika Mardon melihat lampu lalu lintas masih menyala hijau. Ia pun dengan santai melesatkan kendaraan yang dikemudikannya tanpa sekalipun mengurangi kecepatan. Hingga tepat saat mobil mereka memasuki pertigaan dan melintas di pertengahan, secara bersamaan kontainer perusahaan migas itu pun muncul dari arah kanan jalan.


Semuanya terlalu tiba-tiba saat Mardon yang sebelumnya hendak bertanya pada Audi, mendadak berhenti karena terkejut oleh sebuah hantaman keras.


"Mba, mau mampir mesjid—"


BRAK!!!


Tabrakan pun tak terhindarkan. Suara benturan nyaring dua kendaraan tersebut menghentak nyali setiap orang di sekitar.


Kontainer raksasa itu mampu dengan mudah menggulingkan Alphard putih yang dikendarai Mardon hingga terpental beberapa meter. Riuh teriakan yang disertai istirja, takbir bahkan istighfar refleks keluar begitu saja dari mulut orang-orang.


Ada satu orang yang terpental keluar, dia adalah Audi yang kini tergeletak bersimbah darah di aspal dengan tubuh menelungkup. Siapa pun tak ada yang menyangka bahwa tidur lelapnya sesaat lalu akan menghantarkannya pada sebuah musibah.


Hanya dalam waktu beberapa detik saja, tagline mengenai kecelakaan selebgram sekaligus model iklan Claudia Mareeta Halim menjadi tranding di jagat maya, mengguncang pemberitaan juga keluarga besar yang saat itu juga santer dihubungi polisi setempat.


Syok, lemas, tak percaya dengan apa yang terjadi. Nasib dan takdir, semua bisa berlaku kapan saja di tangan Tuhan.

__ADS_1


__ADS_2