Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 41


__ADS_3

Audi sedikit merapikan rambut dan celingukan saat keluar dari lift. Ia menemukan Ibra tengah duduk di sofa tunggu di lobi. Gadis itu segera menghampiri sang sepupu yang langsung berdiri begitu melihat kedatangannya.


Sebelum Ibra sempat bicara, Audi langsung menariknya keluar hotel dan mencari tempat sepi yang aman dari lalu-lalang orang.


Audi sedikit merasa bersalah ketika Ibra meringis. Ia lupa lelaki itu tengah terluka parah. Melihat kanan kiri, Audi pun menatap penuh pada Ibra.


"Mas Ibra ngapain, sih, ke sini? Nekat banget, deh. Bukannya masih sakit, ya?"


Ibra yang sejak tadi bungkam kini melihat Audi dalam nan lekat. "Kamu gak ke RS lagi?"


Entah itu pertanyaan atau kenyataan. Audi balas menatap Ibra sebentar lalu menjawab. "Memangnya kenapa?" tantang Audi.


Ibra membuka mulut hendak bersuara, namun dengan cepat Audi segera memotongnya. "Aku sibuk, banyak endorse dan pemotretan. Belum lagi syuting konten."


"Lagian kita gak ada janji, kan?"


Audi mengatakan itu seolah mereka hanya bisa bertemu lewat janji, tak jauh beda dari seorang klien yang meminta jasanya.


Ibra tersenyum maklum lantas mengangguk. "Mas mengerti."


Meski dalam hati sebenarnya Ibra merasa tersentil, ia tak ingin semakin menambah bensin dalam perbincangan mereka.


"Kamu udah makan?"


"Udah," jawab Audi singkat. Padahal belum.


Ibra kembali mengangguk. Raut kecewa terbayang samar di wajahnya. Tak ayal Ibra berharap mereka bisa membicarakan ini dalam situasi yang baik dan tenang. Sambil makan misalnya. Tapi ia juga sadar itu tidak mungkin.

__ADS_1


"Mengenai gosip yang sedang ramai ... apa benar kamu berkencan dengan aktor itu?"


Karena tak ada alasan lagi untuk mengulur waktu, akhirnya Ibra pun mengutarakan tujuannya kemari, untuk bertanya dan memastikan pada Audi secara langsung.


Meski sambutan tidak baik yang dilayangkan Audi cukup membuat Ibra merasa dihantam berkali-kali.


Mungkin fisiknya kuat terhadap hantaman beton, tapi tidak dengan gadis mungil di hadapannya. Ibra benar-benar dibuat resah sekarang.


Hening. Untuk pertanyaan Ibra kali ini Audi butuh waktu lama untuk berpikir.


Jawaban apa yang harus ia berikan pada Ibra? Jujur atau bohong?


Kalau jujur, mungkin Ibra akan semakin besar kepala, mengira Audi adalah gadis yang bisa dikendalikan perasaannya. Tapi jika bohong, apa yang harus Audi jadikan alasan? Mengakui bahwa semua gosip itu benar?


"Cla? Apa benar?" Lama tak mendapat jawaban membuat Ibra bertanya lagi.


Diam-diam Audi menghela nafas dan menghembuskannya perlahan.


Kini giliran Ibra yang terdiam. Entah situasi macam apa yang terjadi di antara mereka. Hubungan keduanya bahkan belum jelas, tapi Ibra sudah berani mencecar karena rasa cemburunya.


"Mas hanya ingin memastikan dengan bertanya secara langsung sama kamu."


"Bertanya? Untuk apa?" Audi masih dengan usahanya menantang Ibra.


"Cla ..." lirih lelaki itu memohon.


"Mas Ibra gak ada hak, ya, buat nanyain hal ini sama aku."

__ADS_1


"Kita itu hanya saudara sepupu. Urusan Mas ya urusan Mas, urusanku ya urusanku. Kita gak ada hak buat mencampuri satu sama lain."


"Apa aku pernah bertanya tentang kehidupan Mas? Apa Mas pernah cerita tentang masalah Mas sama aku? Enggak, kan? Ya udah, toh aku juga gak wajib jawab semua pertanyaan Mas di atas."


Kalimat Audi semakin menohok Ibra. Betapa sulitnya menyelaraskan ego masing-masing. Ibra bukan tidak tahu Audi menuntut cerita masa lalu darinya. Ia sadar betul apa yang menjadi masalah di antara mereka.


Namun, Ibra juga tak bisa berbuat apa-apa ketika sesuatu yang lain menuntutnya untuk bungkam.


Entah bagaimana ia bisa mengatakan pada Audi yang sebenarnya.


Menatap Audi lekat, Ibra mengunci mata keduanya dalam satu pandangan yang sama.


"Kalau begitu, apa kamu mau menjadi siapa-siapanya Mas? Selain saudara sepupu dan kekerabatan lainnya?" ucap Ibra tulus.


Ia benar-benar berharap dengan ini Audi bisa melihat kesungguhannya. Meski persentasenya hanya sekitar 10 persen dari seribu.


Senyap menyapa mereka lama. Udara tampak hening turut menunggu Audi bersuara. Ibra menanti dengan sabar meski ia sudah tahu jawabannya apa.


"Mas Ibra ngomong apa, sih?"


Meski begitu Ibra tetap tak goyah. "Kamu lupa kita sudah berjanji sebelum ini, di tempat ini, kamu akan memberi jawaban setelah Mas pulang dari Bali?"


Audi nampak tercengang.


"Sekarang Mas sudah pulang, meski dalam keadaan yang jauh di luar rencana. Tapi Mas tetap akan menagih jawaban kamu sesuai kesepakatan kita."


"Jadi Claudia, apa kamu mau jadi pasangan Mas?"

__ADS_1


Hening berdenging di telinga Audi. Ia seakan bisa mendengar angin membicarakan mereka. Di tempat tersudut luar hotel, di bawah remangnya lampu pijar di atas keduanya, Audi kembali dibuat kebingungan oleh pertanyaan Ibra.


Kenapa lelaki itu selalu berhasil membalikkan keadaan di antara mereka?


__ADS_2