Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
EXTRA PART


__ADS_3

"Bunda, Ayah mana, sih? Kok, lama banget?" Farzan merengut sambil menggoyang-goyangkan kakinya yang menggantung di udara. Bocah lelaki itu tengah duduk di sebuah bangku. Wajahnya merengut dengan alis berkerut tajam, pertanda bahwa ia sudah berada di puncak kekesalan. "Falzan lapel tau!"


"Sabar, Sayang. Ingat kata Bunda, anak sabar pasti apa?"


"Disayang Allah." Farzan menimpali lesu. Ia menunduk menatap kedua tungkainya yang terbalut celana jeans, serasi dengan sang adik.


Farzana, gadis kecil itu sibuk dengan dunianya sendiri di pangkuan Audi.


"Nah, Aa pinter. Anak pinter itu harus sabar, biar nanti disayang Allah."


"Tapi Ayah lama banget, Bunda~ Selalu begini, Ayah pasti telat kalau janjian," dengus Farzan.


Audi meringis. Saat ini mereka tengah menunggu Ibra di mall. Sebelumnya mereka sudah janji akan makan bersama setelah Ibra pulang kerja. Untuk menghemat waktu, Audi membawa anak-anak lebih dulu agar Ibra tak bolak-balik pulang-pergi ke rumah.


"Ayah lagi di jalan, A. Bentar lagi sampe, kok." Audi terus berusaha menenangkan Farzan. Farzan pun diam, meski wajahnya masih dipenuhi kekusutan.


"Gimana kalo Aa beli eskrim dulu sama Ibu? Sambil nungguin Ayah datang?" usul Bu Hamidah.


Farzan nampak berpikir sesaat, ia melirik Audi sebentar seolah minta pendapat. Audi yang menangkap pandangan tersebut lantas mengangguk. "Boleh, sana beli eskrim."


Bu Hamidah tersenyum, ia membantu Farzan turun dari bangku, lalu menggandengnya menjauh untuk mencari stand eskrim terdekat. Namun belum sampai sepuluh langkah, kedatangan Ibra yang terlihat dari kejauhan berhasil mengurungkan niat mereka.


Pria itu melambai sambil berjalan mendekat. Kontan Farzan melepas gandengannya dari Bu Hamidah, dan berlari ke arah lelaki gagah yang tak lain ayahnya itu.


"Ayaaaah!" Farzan melompat begitu jarak keduanya sudah dekat.


"Hap!" Ibra menangkap sang putra dengan cepat. Ia mengangkat tubuh kecilnya dan memutar-mutarnya sebentar di udara. Mulutnya menciumi perut Farzan hingga anak itu kegelian, terlebih jambang sang ayah selalu berhasil membuatnya menggeliat. "Anak Ayah udah nunggu lama, ya? Hem?"


"Lama banget! Falzan bosan dan lapel nungguin Ayah!" rengut Farzan menjawab.


Ibra terkekeh memeluk putra sulungnya itu, ia lalu menggendongnya mendekati Audi yang baru saja berdiri bersama Farzana, putri kecil mereka.

__ADS_1


Audi tersenyum saat sang suami mengecup sekilas dahinya. Ibra menatapnya sayang sebelum berkata. "Maaf lama. Tadi waktu meeting-nya lebih panjang dari rencana."


Audi mengangguk paham. "Gak papa, cuman telat satu jam, aku ngerti. Mas juga pasti kejebak macet. Mereka anteng, kok."


Ibra balas tersenyum teduh, ini yang ia suka dari Audi, wanita itu bisa dewasa dalam menyikapi kekurangan dan kesalahannya.


"Ya sudah, ayo kita ke resto. Kasian Farzan mukanya udah manyun banget," kekeh Ibra. Ia mengajak anak serta istrinya itu menuju restoran yang sebelumnya sudah dipesan. Tak lupa Bu Hamidah juga selalu ikut ke mana-mana, lantara pengasuh Farzan itu sangat dibutuhkan, terlebih Farzana yang tak mau lepas dari dekapan bundanya.


Farzan yang sudah turun dari pelukan Ibra, kini berjalan penuh semangat bersama Bu Hamidah di depan. Ibra menggeleng melihat pergerakannya yang sangat menggemaskan itu.


"Selalu gak sabaran," kekehnya pelan. Ibra merangkul Audi yang menggendong Farzana. Mereka mulai melangkah menyusul Farzan dan Bu Hamidah yang sudah lumayan jauh beberapa meter.


Audi menoleh pada Ibra di sampingnya. "Mas, buka aja dulu jasnya. Gerah."


Ibra menoleh sambil mengangkat alis, ia pun mengangguk dan lantas melakukan usulan sang istri. Ibra menenteng jas itu di tangannya, lalu mengulurkan lengan pada Audi. "Sini, Farzana biar Mas yang bawa. Kamu pasti pegel dari tadi gendong dia, belum lagi nunggu Mas yang lama."


Audi mencibir. "Pak Dewan satu ini perhatian banget, ya?"


"Iya iya ... nih." Audi menyerahkan gadis kecil gembul itu pada Ibra. "Zana sama Ayah dulu, ya."


Farzana hanya bergumam sambil menggasakkan wajahnya di kemeja Ibra. Ibra tersenyum mengusap rambut ikal dan halus milik putri kesayangannya. Rambut gadis itu memang unik, tipis, sedikit keriting, dan agak kecoklatan. Sangat menggemaskan berpadu dengan kulitnya yang putih kemerahan.


"Farzana ngantuk kayaknya, Yang? Kamu bawa camilan bayi punya dia, kan?"


Audi mengangguk. "Bawa. Iya dia ngantuk, tadi main sama Aa-nya di playground."


Ibra mengusap kepala putrinya penuh sayang. Ia mengecup puncaknya berkali-kali dengan gemas. "Pantes keringetan."


"Mas juga keringetan. Pasti gak enak banget abis kerja langsung ke sini." Audi mengamati penampilan formal suaminya. Ibra masih enak dipandang meski tak lagi serapi di awal ia berangkat. Parfumnya masih tercium wangi.


Lelaki itu tersenyum, kembali merangkul Audi sambil lanjut berjalan. "Keringetan pas keluar mobil aja. Entar kena AC juga bakal adem lagi."

__ADS_1


Audi menyelaraskan langkahnya dengan Ibra. "Mas, bentar lagi ulang tahun Farzan. Enaknya kita kasih apa, ya, buat hadiah? Terus acara mending di rumah apa hotel?"


"Mending di rumah aja, taman belakang. Jadi garden party gitu. Hotel bosen, tahun-tahun kemarin kan udah di hotel," sahut Ibra.


"Iya juga," gumam Audi membenarkan. "Terus hadiahnya? Mas Ibra ada kepikiran kasih apa?"


Ibra tersenyum. "Untuk masalah itu kita pikirkan nanti, ya? Udah nyampe, masa mau ngomongin hadiah di depan anaknya?" ucapnya geli.


Mereka tiba di sebuah tempat makan di salah satu lantai mall. Farzan sudah duduk bersama Bu Hamidah di meja yang sebelumnya Ibra reservasi. Anak itu menggoyangkan kakinya tak sabar ketika berseru. "Bunda sama Ayah cepetan! Lama banget, deh!"


Bu Hamidah tertawa kecil, ia menggasak pelan rambut Farzan sambil menegur halus. "Gak boleh teriak gitu sama Bunda sama Ayah."


Merengut, Farzan hanya melipat tangannya bersidekap kesal. Audi terkekeh mendekat, ia duduk di salah satu kursi, pun Ibra menyusul di sebelahnya. Lelaki itu memangku Farzana yang kini terbangun dari kantuk sekilasnya.


Mereka pun memesan berbagai jenis makanan, terutama Farzan yang merasa lapar sejak tadi. Anak itu memesan banyak sekali menu yang sebenarnya tak bisa ia makan semua.


Untung Ibra dan Audi bisa habiskan. Terlebih sejak lahiran dan menyusui, porsi makan Audi memang bertambah, hampir menyamai Ibra yang memang makannya porsi kuli.


"Bunda, fotoin Aa, dong!"


Di tengah kegiatan makan mereka, tiba-tiba Farzan berseru demikian. Audi yang tangannya kadung kotor karena makan kepiting, hanya bisa terbengong. Ia melirik Ibra yang sepertinya tak berniat membantu. Lelaki itu sibuk menyuapi Farzana.


Audi kembali menoleh pada Farzan yang sudah siap berpose dengan senyum andalannya. "Aa, kalo mau minta foto kenapa gak dari tadi, sih?"


"Sengaja, Bunda. Kan Aa mau foto sambil belepotan," jawab Farzan polos.


"Ibu aja sini yang fotoin." Bu Hamidah berdiri dan berpindah ke samping Audi, bersiap memotret Farzan dari depan.


"Gak mau! Foto Bunda hasilnya lebih estetik!"


Semua orang di sana dibuat meringis. Apalagi Ibra, ia tak menyangka, dan entah sejak kapan putranya itu jadi punya hobi memotret diri seperti ibu dan omanya.

__ADS_1


Audi berdecak. Kenapa putranya jadi narsis, bahkan lebih narsis dari Audi sendiri yang mantan selebgram.


__ADS_2