Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 102


__ADS_3

Audi senyum - senyum sendiri membaca tulisan Ibra yang tadi pria itu selipkan di tangannya. Sekarang Audi sudah berada di kamar, rebahan di bawah suhu AC yang disetel sesejuk mungkin.


Sabar, Cinta. Nanti sore kita ngabuburit. Jadi simpan energi kamu baik-baik. Puasanya yang ikhlas, ya.


Mungkin tak ada yang spesial dari tindakan Ibra, tapi bagi Audi ini sudah sangat mempengaruhi moodnya yang sedari tadi terombang-ambing. Senyum Audi kembali terbit, ia menggenggam sobekan kertas itu di dada, sementara matanya menerawang melihat langit - langit kamar.


Ia kembali mengingat penolakan keras dari sang papa. Hubungan asmaranya dengan Ibra tak semulus ikatan mereka sebagai keluarga. Entah nanti Davandra Halim akan menerima Ibra sebagai pacar Audi, seperti Tante Safa dan juga Om Edzar yang mendukung penuh Audi untuk menjadi calon menantu mereka.


Audi hanya ingin setidaknya Dava bisa bersikap lebih lunak pada Ibra. Bagaimana pun pria itu adalah keponakannya.


Selepas sholat dzuhur, Audi terlelap hingga beberapa lama. Ia terbangunkan oleh suara ponselnya sendiri yang berdering meneriakkan telepon. Menggeliat malas, Audi meraih benda pipih yang tergeletak di kasur, tepat di samping kepalanya.


Nama Ibra mengambang sebagai pemanggil. Audi pun menggeser ikon hijau untuk menerima panggilan Ibra.


"Halo?" Ia menyahut dengan suara serak khas bangun tidur.


"Baru bangun?" tebak Ibra.


"Hmm."


Audi percaya gumaman tersebut sudah cukup memberi jawaban. Mata Audi masih rapat dan sulit terbuka sepenuhnya. Sesekali ia mengerjap berusaha menghalau kantuk yang ingin kembali menelan kesadarannya.


"Udah jam tiga, sebentar lagi ashar, kamu mandi, gih, terus sholat." Ibra tahu Audi memerlukan waktu cukup lama untuk membasuh diri. Seandainya gadis itu mandi sekarang, nanti saat keluar, adzan ashar sudah berkumandang.


"Masih ngantuk," bisik Audi minim energi.


"Ya makanya mandi, dijamin gak ngantuk lagi. Katanya mau ngabuburit?"


"Yang ngajak kan Mas Ibra?"


"Iya, tapi kamu juga bilang mau."

__ADS_1


"Nanti ajalah, masih lama ini."


"Masih lama? Waktu itu gak akan kerasa. Kamu bangun leha-leha aja udah memakan waktu sepuluh menit. Benar, kan?"


Audi merengut. Benar saja, saat ia melirik jam, jarum panjangnya sudah loncat dua angka. Kenapa cepat sekali? Perasaan Audi baru beberapa detik lalu mendengar dering telepon Ibra.


"Bangun, Sayang. Ini hari terakhir Mas di Bandung, lho. Besok kan Mas harus sudah berangkat lagi. Kita harus manfaatkan sebaik mungkin hari ini."


Mendengar penuturan Ibra, mau tak mau Audi pun bangkit. Bagaimana pun ia tak ingin kehilangan momen bersama pria terkasih. Astaga, kenapa terdengar menggelikan. Kadang Audi masih tak menyangka ia dan Ibra bisa menjadi sepasang kekasih. Dulu Audi berpikir cintanya bertepuk sebelah tangan.


"Ya udah, aku tutup dulu teleponnya, mau mandi," ucap Audi seraya mengambil handuk.


"Iya, Sayang. Mas tunggu di depan, ya?"


"Tapi, apa gak apa-apa kalau Papa tahu kita pergi berdua?" tanya Audi ragu.


"Kayaknya Papa kamu belum pulang."


"Ya udah, Mas tunggu aja, aku mandinya cepet, kok."


"Iya," balas Ibra.


Audi memutus panggilan dan segera berlari ke kamar mandi, membasuh diri dengan cepat lalu berdandan simpel setelah berpakaian.


Audi berlari menuruni tangga, lantas dengan cepat keluar rumah. Di sana Ibra sudah rapi dengan pakaian casualnya. Lelaki itu menoleh dan langsung beranjak dari duduk begitu melihat Audi.


"Udah? Tumben cepet?"


Audi merengut. "Lama diomelin, cepet malah diheranin. Terus Audi harus gimana?"


Ibra terkekeh pelan. Tangannya terangkat mengusap sekilas rambut Audi yang tergerai. "Gak gimana - gimana, Sayang. Udah bagus kamu bisa cepet, hehe."

__ADS_1


"Bilang aja gak mau nunggu lama," cibir Audi.


Ibra kembali mengelus kepala Audi. "Udah, jangan ngambek-ngambekan, mending kita jalan sekarang. Yuk?"


"Ya udah, ayo," sungut Audi.


Ibra mengangguk tersenyum. Ia berjalan mendahului Audi sebelum kemudian berhenti karena gadis itu menghentak keras. "Ih!"


Ibra menoleh bingung. Ternyata bukan hanya sedang datang bulan Audi bersikap labil begini, sedang puasa pun tak kalah membingungkan. "Kenapa lagi, Cla?"


"Mas Ibra tuh gak ada romantis-romantisnya. Punya pacar bukannya digandeng malah jalan duluan!" sentak Audi.


Ibra mengerjap. Saat mengerti, ia pun lekas balik lagi menghampiri Audi. "Ya udah, ayo. Maaf, ya? Lagian kamu gak bilang kalau mau digandeng," ucap Ibra geli.


"Harus banget segala sesuatu dibilangin dulu? Perhatian itu datang dari kesadaran sendiri, bukan orang lain."


"Iya iya ... Mas minta maaf," tutur Ibra, lembut.


Ia lalu membukakan pintu mobil untuk Audi. "Silakan, Tuan Puteri," ucapnya seraya membentangkan tangan mempersilakan.


Dengan senang hati Audi pun masuk dan duduk manja di sana. Ia menatap Ibra genit. "Sabuk pengamannya."


Lagi-lagi Ibra terkekeh. "Siap, Puteri." Ia beralih memasangkan Audi sabuk pengaman. Setelah itu Ibra menutup pintu, lalu berputar memasuki kursi kemudi di samping Audi.


"Siap berangkat?"


"Yuhuuuu kita berburu takjiiiilll ...!!"


Ibra tertawa sambil menggeleng-geleng. Ia mulai menarik tuas dan memutar kemudi meninggalkan pelataran villa.


Tanpa mereka sadari, sebenarnya Dava sudah pulang sedari tadi. Hanya saja dia memang tak menggunakan mobil lantaran kendaraan tersebut tengah mendapat service di bengkel. Dava pulang diantar sopir kantor.

__ADS_1


"Papa lihat, Ibra itu sayang banget sama Audi. Dari kecil sampai sekarang dia selalu mengutamakan Audi ketika bersama. Apa yang begitu saja masih membuat Papa ragu? Ibra itu beda dari teman-teman loreng yang Papa kenal. Kelasnya aja udah beda. Ibra ini pasukan elite presiden, lho. Yakin, Papa gak akan bangga seandainya dia jadi menantu kita?"


__ADS_2