
Sejak mengalami kecelakaan beberapa bulan lalu, dan rambutnya dibabat habis karena operasi, mulai kini Audi memutuskan untuk Istiqomah memakai hijab. Bukan lagi karena malu kepalanya botak, sekarang tujuan Audi ikhlas karena menjalankan salah satu kewajibannya sebagai seorang muslimah.
Ternyata, hal tersebut membuat hati Audi lebih tentram dan nyaman. Ia berpikir, kenapa tidak dari sebelum-sebelumnya ia menutup aurat. Padahal Ibra juga sudah lama menginginkan perubahan Audi.
Rambut Audi kini sudah perlahan tumbuh, namun Audi tetap memutuskan melindungi kepalanya dari pandangan siapa pun. Tak pelak keputusan itu membuat Ibra juga keluarganya turut senang bukan kepalang, terutama Tante Safa yang memang Beliau sudah berhijab sejak muda.
Hijrahnya Audi juga membawa pengaruh baik bagi sang mama. Lalisa yang sampai beberapa waktu lalu masih enggan mengenakan jilbab, setelah melihat Audi nyaman dengan penampilan barunya, ia pun turut mencoba, dan alhamdulilah sampai sekarang pun sang mama masih bertahan.
Suara tepukan tangan yang meriah menggema menyapu pendengaran. Audi dan Ajeng baru saja selesai menggunting pita di toko kosmetiknya yang sebentar lagi akan beroperasi.
Hati Audi terenyuh melihat hasil kerja kerasnya selama ini. Ia baru menyadari penghasilannya sangatlah besar ketika menjadi youtuber dan selebgram, usai melihat lagi isi rekeningnya tadi siang.
Mama dan papanya benar, dulu Audi terlalu keras dan senang bekerja sampai tak terasa pundi-pundi mengumpul tanpa limit. Sekarang Audi mau mencoba dunia barunya dalam bisnis. Ia berharap usahanya bersama Ajeng bisa berkembang dengan baik.
Ajeng tersenyum lebar penuh raut bahagia, begitu pula Audi. Lalisa dan Dava pun turut bertepuk tangan haru, sama seperti Safa dan Edzar yang juga merasa bangga atas pencapaian keponakan mereka.
Morgan yang baru-baru ini Audi ketahui berpacaran dengan Ajeng ikut hadir dalam acara launching tersebut. Pantas, Audi memang sudah curiga sejak mereka datang bersama ke rumahnya. Syukurlah, Morgan tak lagi gengsi menyatakan perasaannya pada Ajeng. Padahal sebelumnya mereka berdua hampir tak pernah akur dan sering bertengkar.
Memang, hanya Tuhan yang paling mampu membolak-balikkan hati manusia. Audi jadi penasaran dengan nasib instruktur olahraga yang membantu Ajeng menjalani proses diet. Kok, bisa-bisanya Ajeng malah pacaran dengan Morgan setelah menjalin TTM-an dengan pria kekar itu.
Keluarga Ajeng juga turut menghadiri gunting pita, mereka berbaur dengan baik bersama keluarga Halim karena Ajeng dan Audi memang sudah bersahabat sejak lama, jadi mereka juga sudah saling mengenal satu sama lain karena sebelumnya sering silaturahmi.
Lanjut pada acara berikutnya, para tamu dijamu di salah satu tempat makan yang berdekatan dengan toko retail Audi. Sebelum ini Audi tentu sudah berkoordinasi dengan pihak owner supaya mereka mau bekerjasama menampung semua tamu dan menyediakan menu yang dipesan sebagai prasmanan.
Audi berdiri, menatap semua orang sambil tersenyum sepenuh hati. Pikiran buruk akan pandangan orang berhasil terbantahkan begitu ia mendapati sambutan semuanya begitu baik. Mungkin, karena yang diundang juga orang-orang berkelas sekelas Om Edzar dan orang tuanya, sosialita muda dan kalangan lain dari lingkup selebgram yang Audi kenal dekat.
Semuanya berjalan lancar dan sempurna. Sayangnya, sepanjang acara ada setitik rasa kecewa yang terselip di hati Audi. Apa lagi kalau bukan Ibra yang tidak turut hadir. Padahal, ini hari pertama Audi muncul sepenuhnya ke publik, bisa dibilang ini salah satu hari paling penting dalam hidup Audi. Harusnya Ibra berada di sampingnya, mendukung dan menyemangati sebagaimana layaknya seorang kekasih.
Tapi ini, malah membuat kesal saja. Tanpa sadar Audi merengut sedih hingga ia merasakan sebuah tepukan ringan di pundak.
Audi menoleh, ia mendapati Tante Safa dengan senyum manis yang khas. "Kamu lagi mikirin Ibra?"
Audi mengangguk lesu membenarkan. Hal itu membuat Safa tersenyum lagi menatap calon menantunya.
"Sabar, dulu Tante juga pernah mengalami hal yang sama kayak kamu. Tante pernah kesel banget sama Om kamu karena malah sibuk kerja saat acara tasyakur aqiqah Ibra. Tapi balik lagi kita sebagai pasangan harus tahu kapan harus mengerti dan memaklumi. Saat itu Om kamu sedang sibuk-sibuknya menangani kasus besar. Tapi alhamdulilah nya ia bisa tetap datang meski acara sudah hampir selesai, yang penting masih kebagian potong rambut Ibra lah, haha."
Audi terdiam, turut tersenyum mendengarkan kisah masa lalu sang tante dan suaminya. Secara tidak langsung Tante Safa menyuruh Audi untuk turut memaklumi Ibra yang saat ini tengah perjalanan ke luar kota sebagai anggota partai.
Memang, perjalanan tersebut sebelumnya tak direncanakan. Ibra sudah berjanji akan menemani Audi di acara gunting pita, tapi mendadak tadi pagi pria itu ada panggilan.
Ya sudahlah, toh semuanya juga berjalan lancar tanpa hambatan. Audi juga dikelilingi orang-orang tersayang yang tak henti mendukung langkahnya.
Di saat hatinya sudah mulai ikhlas akan ketidakhadiran Ibra, tiba-tiba saja suasana berangsur hening tanpa alasan. Audi sampai mengernyit ketika orang-orang mulai berhenti bicara satu sama lain, dan herannya lagi mereka semua menatap ke arah Audi. Tentu Audi yang belum sepenuhnya keluar dari rasa minder langsung kembali grogi.
Audi tergagap di tempat. Ada apa? Apa ada kesalahan dari acaranya? Atau Audi sendiri yang salah di mata mereka?
Ia menoleh cemas pada sang tante di sampingnya. Akan tetapi wanita itu menatap ke arah lain, lebih tepatnya sesuatu di belakang punggung Audi. Audi yang penasaran sontak mengikuti arah pandang sang tante, dan betapa terkejutnya ia begitu mendapati sosok yang sedari tadi bergulat dalam pikirannya.
Ibra berdiri beberapa meter tak jauh dari Audi dan Safa. Ia tersenyum lebar, mempesona dengan ciri khasnya. Belum lagi kemeja batik membalut pas tubuh kekarnya. Sungguh, Audi paling senang melihat penampilan formal Ibra yang seperti ini.
__ADS_1
Di tangannya terdapat sebuah bucket bunga besar yang cantik. Audi berkedip, sesaat berusaha mencerna situasi yang membuatnya bingung.
Bagaimana tidak, sesaat lalu ia sempat berkirim pesan dengan Ibra, dan lelaki itu berkata masih di luar kota. Kenapa sekarang justru berdiri di depan Audi?
"Mas Ibra?" bisik Audi, setengah tak percaya.
Masih dengan senyumnya, Ibra perlahan mendekat, matanya menatap Audi teduh. "Selamat, Sayang. Maaf Mas agak telat," ucapnya ketika sampai di hadapan Audi.
Audi masih bergeming dengan raut bodohnya, sampai-sampai Ibra terkekeh dan menjawil hidungnya gemas. "Selalu aja lucu kayak gini responnya."
Mengerjap, Audi tergagap memandang Ibra. "Mas Ibra ... kok bisa ada di sini?"
"Bukannya Mas udah janji mau dateng?" Ibra mengangkat alis jenaka.
Seketika Audi kesal. "Tapi barusan bilangnya masih di luar kota."
Untuk hal ini Ibra langsung menggaruk alis sambil meringis. "Bohong dikit, hehe, biar surprise," ungkapnya jujur.
Audi merengut, namun ia tak bisa menolak senyum manis Ibra serta bunga cantik yang dibawanya. Audi mencium wangi bunga tersebut sambil terpejam, dan tiba-tiba saja ia merasa beberapa orang mendekat, mereka adalah Mama dan Papa Audi, Om Edzar yang merangkul Tante Safa di samping Audi, serta Ajeng dan Morgan.
Audi menatap keenam orang tersebut dengan tatapan heran. "Kalian kenapa? Kok lihat aku begitu?"
Tatapan rumit orang-orang itu seakan merencanakan sesuatu di belakang Audi. Mereka seolah menyimpan satu hal yang tidak Audi ketahui. Jangan-jangan, Audi tengah dibohongi di sini? Jangan-jangan mereka tahu Ibra sudah kembali?
"Di, terima, ya." Tiba-tiba Morgan menyeletuk disertai cengiran menyebalkan.
Ia lalu menoleh lagi pada Ibra, dan betapa Audi terkejut ketika mendapati lelaki itu sudah berlutut di hadapannya. Ibra juga membuka sebuah kotak bening mengkilap berisi cincin berlian yang beberapa waktu lalu pernah ia tunjukkan.
Audi menutup mulutnya dengan tangan. Ibra benaran mau melamarnya dengan cara seperti ini? Waktu itu Audi sempat protes karena lamaran Ibra menurutnya kurang keren. Masa ia melamar Audi saat pertama kali dibuka perban operasi, kan tidak lucu. Boro-boro memikirkan lamaran, yang ada Audi berkutat dengan rasa sakit karena pemulihan luka.
"Mas Ibra?" Audi menatap sekitar yang sepenuhnya memandang ke arah mereka. Bahkan sebagian memvideokan momen manis ini.
"Cla, Mas sudah lama menyimpan niat ini untuk kamu, bahkan sebelum kamu lulus kuliah. Namun nyatanya takdir memberi kita jeda beberapa saat. Mungkin waktu itu memang belum saatnya Mas jadikan kamu sebagai istri. Tuhan memberi kamu dan juga Mas untuk berkembang dulu dalam karir, mengenal segala emosi dan penyiapan diri yang matang."
"Kita mengenal dari masa kanak-kanak sampai sekarang, dan Mas sudah menanti ini sejak bertahun-tahun lamanya. Claudia, Mas sudah suka kamu sejak kecil. Bukan waktu yang sedikit bagi Mas untuk kita saling berbagi, melindungi, membantu satu sama lain. Kamu benar-benar mewujudkan impian Mas yang ingin memiliki adik. Namun lebih dari itu, Mas cinta kamu lebih dari apa pun. Mas sayang kamu, Mas memuja kamu sebagai wanita paling indah dan satu-satunya yang tertanam di hati. Kamu begitu sulit Mas lupakan meskipun Tuhan sempat memisahkan kita. Kamu adalah semangat Mas ketika berada di medan perang, dan kamu juga alasan yang membuat Mas berani melepas pengabdian."
"Claudia, setelah semua pembuktian yang Mas lakukan, maukah kamu menikah dengan Mas? Menerima semua tumpahan rasa yang telah lama Mas pendam, berbagi suka duka bersama, menjalani rumah tangga yang Insya Allah sakinah, mawaddah, warahmah. Maukah kamu menjadi istri Mas?"
Setelah semua tutur kata panjang dari Ibra, Audi terdiam dalam kebisuan. Suasana turut hening dengan beberapa detik terasa menegangkan bagi Ibra. Lelaki itu menanti Audi mengucap sepatah kata sebagai jawaban. Ibra tidak takut malu seandainya Audi menolak, ia hanya takut kecewa karena sudah berkali-kali wanita itu hempaskan.
Ini bukan pertama kali Ibra melamar Audi, mengajaknya menikah yang selalu Audi tolak dengan berbagai alasan. Ibra benar-benar berdoa kali ini Audi dapat menerima lamarannya yang mungkin tidak sesempurna bayangan gadis itu.
Lama suasana digigit sunyi, akhirnya Audi membuka suara juga. Jantung Ibra serasa deg-degan menunggu kalimat yang akan keluar.
"Mas Ibra lamar aku?"
Haruskah Audi bertanya? Apa Ibra masih belum cukup jelas bicara?
Meski begitu Ibra tetap mengangguk. "Iya. Kamu ... mau, kan?"
__ADS_1
Semuanya tampak greget ketika Audi berpikir. Lalisa bahkan sampai ingin maju dan mewakili putrinya yang seakan-akan mendadak bisu.
"Aku ... gak tahu," cetus Audi, membuat harapan Ibra perlahan runtuh kembali. Apa kali ini ia akan ditolak lagi?
Audi mengendik. "Aku gak tahu seandainya menolak, apa Mas akan memutuskan mencari wanita lain untuk dinikahi?"
"Maksud kamu?"
"Mas kayaknya udah gak sabar banget pengen nikah, ya?"
"Mas gak sabar karena kita udah lama bersama, Cla."
Audi mengangguk. "Iya, Audi juga gak sabar."
"Ya?" beo Ibra.
"Audi juga gak sabar pengen nikah sama Mas," ulangnya lagi sembari tersenyum.
"Mas udah berkali-kali lamar aku tapi kutolak, semua karena aku ingin memantaskan diri dulu untuk Mas Ibra. Minimal aku sembuh sepenuhnya dan membangun kembali title supaya kebersamaan kita enggak jomplang."
"Mas Ibra lelaki dengan latar dan pekerjaan sempurna, tentu dengan keadaan sebelumnya aku harus mempersiapkan diri agar bisa mendampingi Mas secara maksimal."
"Tapi ... karena sekarang aku sudah cukup merasa pantas, ayo kita menikah," cetus Audi tak terduga.
Ini hampir membingungkan. Antara Ibra yang melamar Audi atau Audi yang malah sedang melamar Ibra?
Ibra mengerjap sesaat. Sekarang giliran dirinya yang dibuat tergagap. "Cla, kamu ... sebentar, kamu lamar Mas balik? Bukan bukan, intinya ... lamaran Mas diterima?"
Suara Ibra terdengar rikuh. Audi mengangguk sambil mengulum senyum manis, tingkahnya terlihat imut ketika memeluk bunga pemberian Ibra.
"Iya, aku mau nikah sama Mas Ibra."
Semuanya sontak bersorak mendengar jawaban final Audi. Ini terasa mimpi bagi Ibra. Sekian lama penantian akhirnya cintanya bersambut jua.
Ibra berdiri dengan wajah penuh haru. Ia menoleh sesaat pada Dava yang juga tengah menatap mereka sambil berangkulan dengan Wa Lisa.
Dengan mata yang hampir menangis Ibra pun meminta izin. "Wa, boleh?"
Dava mengangkat alis. Ibra memberi isyarat sebuah pelukan untuk Audi. Dan Dava pun lantas mengangguk yang spontan membuat Ibra langsung membawa gadis itu dalam dekapan erat penuh cinta.
"Makasih, Cla. Makasih karena sudah mau jadi bahagianya Mas."
Audi tersenyum membalas pelukan lelaki itu. "Sama-sama, Mas Sayang. Makasih juga karena sudah jadi bahagianya Audi," ucapnya tak kalah manis.
Romansa tersebut turut menguar haru di hati para pengunjung dan juga keluarga. Terlebih mereka tahu betul bagaimana perjuangan Audi untuk terlepas dari bayang-bayang kelam usai kecelakaan yang merenggut segalanya. Memang, Tuhan selalu memiliki rencana sendiri untuk masing-masing makhluknya.
Termasuk Ibra dan Audi yang meskipun sudah bersama sejak lama, mereka tetap melewati segala lika-liku penuh perjuangan untuk mencapai bahagia yang sebenarnya.
Segala sesuatu ada hikmahnya. Dari berbagai ujian yang kita lewati, segala macam pendewasaan terbentuk dengan sendirinya.
__ADS_1